PASTUR MENUDUH SANTRI MENJAWAB


Di edarkan oleh : Rahamanhadiq

Judul asli :  Liman Dzaa Anan Muslimin?

Oleh : Abdul Muta’al As-Sa’idy

Penerbit :  Maktab Al- Adab – Jammazat Cairo

Kata pengantar

Segala puji bagi Allah swt yang telah menurunkan nikmat dan karuniaNYA kepada hambaNYA yang mau mengikuti petunjuk.  Salam dan shalawat kita panjatkan pada junjungan kita Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul. tak lupa doa’ kita panjatkan pada hamba-hambanya yang tetap berpegang pada kitab suci Al Qur’an dan Sunnah Nabinya. Semoga petunjuk diberikan kepada hamba-hambaNya yang mau mencari petunjuk, dan tiada petunjuk kecuali atas izin-Nya.
Sesungguhnya kebenaran Islam dan kemurnian agamanya telah mengundang perhatian dari kalangan non Islam untuk turut mempelajarinya. Sayangnya mereka mempelajari seluk-beluk kitab Al Qur’an dan sejarah Nabi bukan untuk mencari kebenaran , namun hanya untuk meniupkan api keragu-raguan kepada umat islam sendiri. Mereka gunakan agama islam yang dikiranya mengandung kelemahan, untuk digunakan sebagai senjata makan tuan.
Kedengkian mereka jauh-jauh hari sudah diperingatkan Allah dalam firmannya ;
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka . katakanlah. Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) (QS Al Baqarah 2:120)
Semoga kita semua dijauhkan dari keraguan-keraguan dan semoga Allah memberi petunjuk pada yang mau tetap bepegang pada pentunjuknya.

PENDAHULUAN
Memperkenalkan dua pelaku dialog  Pastur Z (nama selengkapnya Patur Zwimer, Pent) adalah seorang pendeta Nasrani yang mempelajari islam dengan maksud tidak terpuji. Ia mempelajari islam tidak untuk mencari kebenaran. Ia meneliti islam tidak dalam kedudukannya sebagai seorang Pastur Nasrani yang baik, tetapi ia bermaksud untuk memperoleh bahan yang dapat menimbulkan  keraguan-raguan seorang muslim terhadap agamanya, dengan mengemukakan beberapa hal yang dianggap kabur dan mengajukan pemikiran yang kontras. Seandainya dia mempelajari islam untuk memperolah pandangan yang benar, niscayalah hal-hal yang masih kabur itu gampang dimengerti dan tentu tidak akan senang mereka mengajukan hal-hal yang kabur tersebut terhadap seorang muslim agar timbul keraguannya terhadap kebenaran agamanya , sehingga ia menghadapi agamanya dengan rasa menghina, karena sifat remeh dan sepele masalahnya.
Sedangkan Muhammad Muhktar , salah seorang penduduk Kairo , adalah seorang anak yang oleh ayahnya sejak kecil dididik dalam suasana keagamaan. Ia telah hafal Al Qur’an, mengerti aqidah-aqidah agamanya secara benar, bersopan santun secara baik menurut islam dan berkepribadian terpuji.  Pada waktu ia berumur sepuluh tahun , ia dimasukkan sekolah dasar Amiryah . Ia tergolong murid rajin , sehingga setiap tahun memperoleh derajat bintang kelas. Setelah menamatkan sekolah dasarnya, oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah lanjutan Pertama di Amiriyah. Di sinipun ia memperoleh keberhasilan seperti ketika di Sekolah Dasar , sehingga ayahnya sangat mencintainya dan menjadi anak yang memperoleh perhatian besar . Setiap tahun dibawa oleh ayahnya berlibur ke kota Iskandaryah untuk menghabiskan waktu liburan di musim panas dan untuk menghilangkan ketegangan belajar selama setahun. Ketika tiba musim panas tahun 1345 H, atau 1926 M , ayahnya berangkat lebih dahulu ke kota Iskandaryah, sedangkan Muhammad ditinggal untuk mengikuti ujian dan supaya ia menyusul nanti.
Tatkala Muahammad telah menyelesaikan ujiannya, lalu dia berjalan-jalan menelusuri separuh kota Iskandaryah. Ia menumpang kereta api pagi hari yang berangkat di kota Kairo ke Iskandaryah. Ia mengambil tempat duduk di dalam kereta api bersebelahan dengan Pastus Z, yang pada hari itu juga  berpergian menuju kota Iskandaryah dalam tugas misionaris Nasrani. Sang Pastur ini dengan teman-temannya sesama misionaris Nasrani mencurahkan seluruh hidupnya untuk kegiatan misi Kristen,  sehingga kesempatan sekecil apapun pasti mereka gunakan sebaik-baiknya dan tidak pernah berhenti baik ketika dalam perjalanan maupun di kampung halaman. Demi misinya ini, mereka bertebaran di berbagai kota dan desa, di rumah-rumah dan jalan-jalan, di tempat pertemuan umum maupun khusus, tidak pernah mau merasa jenuh maupun letih, dan tidak pernah memperdulikan kesulitan dan rintangan apapun. Sekalipun demikian toh mereka tidak memperoleh sukses dakwah di negeri-negeri islam. Ketidak suksesan ini bukanlah lantaran usaha mereka yang kurang , tetapi hanyalah karena kekuatan aqidah Islam. Aqidah yang kuat semacam ini seandainya berada di tangan para da’i yang memiliki semangat dan aktivitas yang ada pada kaum misionaris Nasrani tersebut , niscayalah berduyun-duyun manusia menjadi muslim. Islam seperempat abad setelah munculnya, telah berhasil menyebar ke sebagian besar  daerah di belahan bumi ini, padahal tidak memiliki sarana dakwah yang terorganisir seperti yang dipergunakan oleh kaum misionaris Kristen. Maka betapalah jadinya keadaan sekarang kalau islam memiliki sarana-sarana lengkap seperti itu dan dalam pengembangan dakwahnya menggunakan berbagai jalan seperti tersebut yang menyediakan dana yang tidak terbatas seperti yang dilakukan oleh golongan Nasrani.
Tak seberapa lama Muhammad duduk disamping Pastur Z yang lihai tersebut, sudah muncullah semangatnya  untuk menjadikan  Muhammad sebagai mangsa dan Muhammad terpedaya oleh gaya pakaian Eropahnya. Sang Pastur mengira anak kecil ini tidak mengerti apa-apa tentang agamaya .

Ia merasakan menemukan jalanan yang beruntung,  karena duduk disamping seorang pemuda  belia yang dapat dijadikan umpan menanamkan pengaruhnya dan menimbulkan keraguan didalam agamanya.
Sang Pastur berpaling kepada Muhammad seraya  berujar ;
Partur (P) : Mari, silahkan Affandi (bahasa jawanya sama dengan “Mas”)
Muhamamd (M) : Terima Kasih Mr.
P : Saya bukan Mr, tetapi saya Pastur Z, penginjil di Mesir ini. Lalu dia menanyakan nama sang pemuda
M: Nama saya Muhammad
P: Jadi anda seorang Muslim?
M: Ya , saya Muslim
P: Adakah anda mengafal sesuatu ayat al-qur’an yang  diturunkan kepada Muhammad Nabi anda?
M: Saya hafal semuanya
Sang Pastur nampak sekali terkejut. Sebab ia belum pernah mengenal anak seumur Muhammad ini yang menaruh kesungguhan dalam menghafal al Qur’an. Lalu sang Pastur  berkata kepadanya.
P : Golongan nasrani mendapat pujian yang baik di dalamAl Qur’an surat Al Maidah 82-85;
“ Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri (82). Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan keNabian Muhammad saw.) 83. Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”84. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS Al Maidah 5: 82- 85). “
M; Benar Pastur. Ayat itu memuji kaum nasrani dan melebihkan mereka dari kaum Yahudi. Secara keseluruhan umat Nasrani lebih dekat rasa kecintaannya kepada kaum muslimin dibandingkan dengan umat Yahudi.  Karena kaum Nasrani agamanya diikuti oleh berbagai macam bangsa,  bangsa Romawi , bangsa Mesir, Habsy dan lain sebagainya, sedangkan agama Yahudi hanya diikuti bangsa Yahudi saja. Jadi mereka punya fanatisme keagamaan dan kebangsaan sekaligus. Disamping itu mereka punya anggapan sebagai bangsa pilihan dan memandang bangsa lain dengan penuh kebencain dan penghinaan. Mereka sangat berbangga diri dengan agamanya sebagai bukti Tuhan melebihkan mereka dari bangsa-bangsa lainnya. Sikap ini membuat mereka menaruh jarak dengan bangsa-bangsa lain dan tidak mau  menyempaikan dakwah kepada orang luar untuk masuk agamanya. Karakter ini mereka bawa sampai zaman kita sekarang. Selain itu dapat pula dilihat betapa besarnya pengaruh-pengaruh islam di Negara-negara Nasrani dan sambutan rakyat kepada agama ini, sehingga dapat menjadi agama mayoritas. Sebaliknya dengan bangsa Yahudi mereka menjauh diri dari Islam dan lebih senang diusir dari negeri arab yang beriman kepada islam. Umat islam tidaklah berbuat jahat karena mengusir Yahudi dari negari mereka tetapi hanyalah mengembalikan  mereka ke tanah air mereka semula, yakni negri syam (Syria) yang sejak  mereka terusir dari bangsa Romawi dilarang menetap dinegri ini, bahkan negri mereka digusur.
P: Tetapi kami melihat Al Qur’an anda memuji umat Nasrani di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian di ayat-ayat lain mencelanya. Celaan itu diantara lain terdapat juga dalam surat al Maidah 72-73;
“ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun 72. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS Al Maidah 5:72-73)”.
Bagaimana Al Qur’an anda ini, sekali memuji tetapi  kali ini mencela umat Nasrani di dalam surat yang sama pula, serta caci maki dan berdebat secara tidak sehat dan tidak sanggup menerima kritik terhadap agamanya, sehingga seolah-olah ia memaksa kehendaknya kepada orang lain dan bukan bermaksud membuat lawan bicaranya menerima dengan penuh rasa hormat.
M:  Al Qur’an kami mengajarkan kepada kami cara-cara bertukar pikiran di dalam urusan agama . Kami diperintahkan untuk bertukar pikiran secara lemah lembut dan berlaku baik. Allah berfirman di dalam surat Al Ankabut  29:46 ;
“ Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri ( QS Al Ankabuut 29:46)”.
Boleh jadi , wahai Pastur , anda sepakat dengan saya bahwa cara untuk memperoleh kebenaran agama yakni dengan melakukan pembahasan tentang pokok-pokok agama. Sedangkan cara yang anda tempuh dengan menaburkan keraguan disana sini tidaklah akan dapat memperoleh kebenaran dan hanya bertujuan memasang duri di tengah jalan menuju kepada tidakbenaran yang membuat manusia menjadi bingung memikirkan masaalahnya.
P : Wahai Muhammad, kalau demikian tidak ada lagi peluang baik terhadap anda kecuali menyetujui apa yang anda sebutkan tadi , tetapi saya melihat anda menyia-nyaikan waktu begitu banyak dengan urusan-urausan  kecil agama anda. Anda telah mengabaikan usaha di dalam urusan keduniaan anda sehingga anda hanya mengikuti undang-undang buatan manusia. Tetapi anehnya saya melihat anda ini tetap bersikap fanatik memegang prinsip-prinsip keislaman yang begitu hebat.
Cobalah anda katakan kepadaku , wahai Muhammad; apa sebabnya anda menjadi seorang muslim? Padahal perintah Islam telah abaikan dan anda sibuk melaksanakan hal-hal sepele dari ajaran islam.
M: memang , wahai Pastur. Akan saya terangkan kepada anda mengapa saya menjadi muslim? Mengapa keislaman kami tetap bertahan sekalipun kami berlebih-lebih melaksanakan hal-hal yang sepele. Akan saya terangkan kepada anda batapa kuatnya prinsip-prinsip islam yang menyebabkan orang-orang tetap bertahan dengan cara yang mengangumkan itu, padahal mereka begitu berlebih-lebihan dalam soal-soal yang sepele dan tersita perhatiannya  pada hal-hal yang remeh tersebut.
Sementara itu Kereta Api sudah pun telah masuk kota Iskandarya. Kedua orang ini sepakat mengadakan dialog-dialog di dalam masaalah agama ini  dengan mengundang banyak orang  bertempat di gedung Seminary di kota Iskandariayah ini.
Lalu kedua orang ini turun dari Kereta Api dan saling mengucapkan  selamat berpisah, setelah menyepakati waktu dan tempat untuk melakukan dialog-dialog yang akan datang. Muhammad kemudian pindah ke tempat yang akan menuju ketempat ayahnya berlibur musim panas di daerah Ramal  kota Iskadaryah. Ketika ia sampai ditempat,  ayahnya menayakan apa yang ia kerjakan selama ujian. Ia menjawab telah dapat mengerjakan sola-soal dengan baik. Ayahnya merasa sangat gembira dan berdoa semoga ia lulus dan berhasil. Lalu Muhammad bercerita kepada ayahnya kejadian yang dialami selama dalam perjalan dalam Kereta Api dengan seorang Pastur. Ayahnya semakin bergembira  dan memberinya semangat untuk melaksanakan dialog-dialog tersebut agar dia bisa  tergolong  sebagai pembela-pembela di jalan Allah dan memperoleh keridlaan Allah di dunia dan akhirat.
ooOoo

Dialog ke satu:
TAUHID DALAM ISLAM, YAHUDI DAN NASRANI

Muhammad dan ayahnya telah menghabiskan waktu beberapa hari untuk menikmati udara kota Iskandaryah yang sejuk. Setiap pagi mereka pergi ke Laut. Mereka berjalan-jalan menelusuri pantai yang indah menawan. Kota ini memiliki ciri menarik yang merupakan karunai Allah kepadanya.
Sebelum tiba saat yang disepekati , sebagaimana tertera dalam undangan dari kantor Seminary Iskandaryah, Mahammad telah tiba dikota tersebut. Pada saat yang telah ditentukan , ia bersama ayahnya dan saudara perempuannya serta beberapa orang teman kerabatnya dan sejumlah besar umat Islam kota Iskadaryah datang ke kantor Seminary tersebut. Di sana ia melihat sebuah ruangan besar yang memang disediakan untuk dialog-dialog semacam ini. Di ruangan ini kursinya tertata rapi. Rombangan Muhammad masuk  dan mengambil tempat di ruangan tersebut, kemudian Muhammad ditemui oleh Pastur Z seraya memberi salam. Kedua orang ini kemudian mulai berbincang-bincang tentang keadaan masing-masing setelah berpisah  beberapa hari sesudah pertemuan pertama.
Selanjutnya pastur mengajukan pertanyaannya.
Pastur: Bagaimana pengertian anda mengenai ajaran tauhid menurut islam?
M: Ajaran Tauhid di alam agama islam berpedoman kepada Al qur’an yang  menjelaskannya sejak 13 abad yang lalu. Kami umat islam meyakini bahwa  bahwa Al Qur’an sungguh-sungguh berasal dari Allah bukan buatan seorang Nabi yang buta huruf yang nota bene tidak pernah belajar agama-agama manusia. Sedangkan pengetahuan bangsa Arab saat itu belumlah sampai ke tingkat pendapat seperti, menurut anggapan dari penganut agama Yahudi dan Nasrani berkata serupa dengan keyakinan orang-orang kafir sebelumnya.
Seorang muslim harus berpendirian dengan aqidah yang murni ,  tentang keesaan Allah dengan sikap gagah, argumentatif dan penuh keberanian terhadap kaum peng-ingkar  yang tidak mengakui  ujud  Tuhan, dan terhadap  penyembah berhala yang menyembah patung dan batu, serta terhadap ahli kitab  yang ternyata ajaran  aqidah agamanya terpengaruh dengan ajaran dari sebagaian kepercayaan politeisme.
Seorang muslim bila berhadapan dengan seorang Atheis  maka dia akan menyodorkan secara telak  bukti alam yang mengagumkan dengan segala tatanan yang begitu rapi dan kokoh. Alam semacam ini tidak mungkin muncul secara kebetulan  lagi membabi buta seperti anggapan kaum atheis  itu. Sekiranya bukti alam  yang semacam ini tidak mampu meyakinkan si Atheis , maka keyakinannya tentang adanya Tuhan berguna bagi dirinya , kalau ia bersunguh-sungguh dalam keyakinannya dan ia tidak merasa rugi seandainya salah di dalam keyakinan ini. Tetapi bagi si Atheis  dengan tidak percaya kepada Allah membuat kerugian buat didrinya sendiri, jika keyakinan itu tidak benar. Sebab si Atheis kelak akan mendapatkan murka dan sama sekali tertutup dari kesempatan memperoleh pahala. Maka keyakinan seseorang terhadap adanya Allah itu menjadi kekuatan penyelamat bagi dirinya , menguntungkan nasibnya di kemudian hari. Karena itu ia seharusnya lebih mengutamakan keyakinannya ini dari yang lainnya.
Adapun seorang Nasrani , kalau berhadapan dengan seorang Atheis tidak sanggup memberikan kepuasan kepadanya dalam memberikan pengertian tentang Trinitas atau Yesus sebagai putra Allah. Sebab Yesus adalah manusia biasa yang butuh makan seperti manusia lainnya dan minum sebagaimana orang lain minum. Yesus lahir dari seorang ibu dan keluar dari perut ibunya seperti bayi-bayi lain. Kepercayaan semacam ini menurut agama Nasrani adalah suatu perkara yang tidak dapat dinalar sesuai akal, sebab isinya kontradiktif. Karena itu merekapun mempercayainya tidak dengan rasa kepuasan rasional dan argumentasi yang nalar. Tetapi mereka terima keyakinan ini secara membeo. Aqidah yang seperti ini bagi si Atheis sama sekali tidak berguna. Sebab ia hanya percaya kepada akal semata-mata, tidak mau tunduk kepada keterangan –keterangan yang tidak argumentatif.
Bila seorang muslim berhadapan dengan seorang Nasrani yang berkeyakinan Trinitas, maka ia mampu menunjukkan dan memaparkan kesalahannya dengan menggunakan ayat-ayat suci kitab mereka senidri, yang diakuinya telah diturunkan Tuhan kepada Nabinya dari sejak Nabi Adam sebagai bapak  manusia sampai Nabi Isa As. Kitab Taurat yang berada ditangan bangsa  Yahudi , tidaklah dirasakan sebagai halangan bagi seorang muslim untuk menggunakannya sebagai argumentasi dalam masalah Tirnitas ini ketika berhadapan dengan Nasrani, sebaliknya si Nasrani tidak dapat melarikan diri dari kitab sucinya sendiri, sebab dia percaya kepada Taurat sebagaimana ia percaya kepada Injilnya.
P; Tetapi bagaimana seorang muslim bisa rela berargumentasi dengan ayat-ayat Taurat , padahal ia meyakini adanya pemalsuan kitab suci tersebut?
M: Sekalipun seorang muslim percaya bahwa Taurat telah dipalsukan , namun tidak berarti bahwa setiap ayat-ayat Taurat mesti palsu. Sebab kepercayaan tentang keesaan Allah tetap tercantum di dalam Taurat dan banyak lagi masalah-masalahh lain yang masih terjaga kemurniannya. Islam tidak melarang seorang muslim untuk menggunakan nara sumber Ahli Kitab selagi ini mendukung kebenaran. Banyak terdapat di dalam ayat-ayat Al Qur’an mengenai persoalan ini dan antara lain terdapat dalam surat Yunus : 94 ;
“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu (QS Yunus 10:94)”.
Dengan demikian kami ridha untuk bersama-sama dengan penganut Nasrani bernara sumberkan agama Yahudi di dalam masalah keesaan Allah. Karena umat yahudi adalah Ahli Kitab terdahulu yang masih ada sampai sekarang. Tidak disangsikan lagi jika kami menggunakan mereka  sebagai nara sumber dalam keEsaan Allah ini sama saja halnya dengan sikap kami bernara sumber  kepada agama Nasrani. Sebab mereka semua sepakat dengan kami di dalam kepercayaan monotheis, dan menolak kepercayaan adanya Tuhan berputra maupun Trinitas.
P: Sekalipun agama Yahudi menolak kepercayaan Trinitas, namun mereka punya keyakinan Tuhan berputra. Qur’an anda sebagaimana ayat terdahulu telah menerangkan bahwa mereka berkeyakinan Uzair sebagai putra Allah dan siapa yang berkeyakinan Tuhan berputra, tentulah dia berkeyakinan Trinitas.
M: Mayoritas umat Yahudi tidaklah berkepercayaan Uzair sebagai putra Allah. Hanya minoritas tidak terkenal lagi terkucilkan yang berkeyakinan seperti itu. Ibnu Hazm di dalam bukunya “ Mila wan-Nihal” menulis bahwa di dalam setiap setiap agama tidaklah akan pernah terlapas dari adanya sekelompok kecil penyelewengan. Di dalam islampun ada sekelompok kecil yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib itu seperti halnya Isa As di dalam kepercayaan umat Nasrani. Adanya kelompok-kelompok kecil penyelewengan ini tidaklah boleh dijadikan dasar penilaian aqidah agama yang bersangkutan. Tetapi yang dijadikan dasar penilaian adalah mayoritas pengikutnya. Yang serupa dengan kepercayaan tentang Uzair sebagai putra Allah pada lingkungan minoritas Yahudi adalah satu kepercayaan yang diikuti oleh seluruh umat yahudi, bahwa mereka adalah putra –putra Allah dan kekasih-kekasih Allah, sebagaimana Allah kisahkan di dalam Al Qur’an surat Al Maaidah 18, baik tentang umat Yahudi maupun umat Nasrani ;
“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu) (QS Al Maidah 5:18)”.

Ini berarti bahwa Uzair sebagai putra Allah bukanlah dalam pengertian hakiki, tetapi dengan pengertian sebagai kekasihNYa, sehingga dia  dipandang tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan.
P: Kalau begitu hai Muhammad., aqidah tauhid kami sama dengan aqidah tauhid Yahudi. Lalu dimana letak kelebihan kamu dari mereka di dalam  masalah tauhid? Lalu apa bedanya antara agama kamu dengan agama mereka kalau ketauhidan sama?
M: sekalipun kami sepaham dengan agama Yahudi di dalam satu prinsip , namun pada prinsip-prinsip lain berbeda. Banyak masalah –masalah cabang yang tidak sama. Contohnya, mereka mendustakan Nabi Isa As. Namun kami meyakini kebenarannya, mempercayai kerasulannya. Kami menolak anggapan keji terhadap diri beliau dan diri ibundanya. Disamping itu kami menyatakan umat yahudi itu sebagai umat kafir karena ketidak percayaannya itu. Namun sayang tuan tidak membalas kami dengan kebajikan. Dan dengan serbuan tuan itu, diperoleh suatu hasil gemilang dalam menghancurkan umat islam, yang tidak pernah didapat oleh Yahudi hasil seperti itu dari tuan.
Sampai pada pembicaran ini para hadirin merasa cukup berkepanjangan jalannya dialog, lalu mereka minta kepada kedua pembicara agar dicukupkan sampai disini dahulu untuk hari ini dan besok dapat dilanjutkan kembali.
Kedua pembicara memperkenankan permintaan  hadirin. Merekapun bubar dan meninggalkan tempat dialog untuk kembali lagi mengikuti acara beriutnya besok pagi.
ooOoo

Dialog kedua:
PANDANGAN ISLAM , YAHUDI DAN  NASRANI TENTANG RASUL ALLAH

Telah tiba saat dialog kedua. Muhammad dan teman-temannya pergi ke gedung Seminary dan disana ruangan telah penuh dengan para peserta. Semua orang menunggu kedatangannya untuk dapat mendengarkan dialog yang penting ini. Mereka sangat tertaik oleh sikap anak remaja  yang tenang dan pemikirannya yang jernih, tutur katanya yang baik, dan logikanya yang kuat pada dialog kemarin. Kemudian ia , dan Pastur lawan bicaranya menuju ke tempat yang tersedia. Pada dialog pertama telah dibicarakan tentang prinsip-prinsip islam, kemudian pada kesempatan kali  ini akan dilanjutkan dengan prinsip yang lainnya yaitu “ Mengakui kebenaran semua Rasul”
Pada dialog kali ini Muahammad memulai pembicaraan berkisar pada prinsip kedua ajaran islam, yaitu mengakui kebenaran semua rasul.
M: Prinsip yang kedua ini mencakup pula pengertian mempercayai segala ajaran yang dibawa oleh para Rasul, baik berupa iman kepada malaikat, kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Rasul, hari akhirat dan prinsip-prinsip serta bagian-bagian iman lainnya. Dalam hal ini islam telah mengakui semua umat memperoleh pengiriman Rasul. Karena Al Qur’an menyatakan bahwa tidak satupun umat yang dibiarkan tanpa mempunyai Rasul Allah, sebagaimana firmanNYa pada surat Fathir :24
“ Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (QS Fathir 35: 24)”.
Adapun umat Yahudi dan Nasrani tidaklah mengakui adanya pengiriman rasul Allah kepada segala golongan umat manusia. Mereka hanya mengakui bahwa Rasul Allah itu tidak keluar dari lingkungan bani Israel. Adanya pengakuan islam sepeti ini menjadikan islam sebagai agama toleran dan memperlakukan semua bangsa dengan baik. Hal ini berbeda dengan Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan bangsa-bangsa lain tidak sebaik dari pengakuan islam. Sebab mereka beranggapan bangsa-bangsa lain tidak sama dengan dirinya dalam pandangan Tuhan, seperti islam memandang nya sama. Hal ini dikatakan Al Qur’an dalam surat Al Hujarat 49:13
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujarat 49 : 24)”.
P: Islam sejalan dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal menganggap bani Israel mempunyai kelebihan kelebihan di atas bangsa-bangsa lain. Hal ini disebutkan dalam qur’an anda surat Ali Imran 33

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (QS Ali Imran 3:33)”

M: Yang dimakasud oleh Al Qur’an tersebut adalah mengakui kelebihan para Nabi dan Rasul dari keturunan Adam, Nuh, Ibrahim dan Imran di atas orang-orang lain, bukan pengakuan tentang kelebihan bani Israel atas segala bangsa-banga lain. Karena islam tidak mengakui kelebihan atas bangsa-bangsa terhadap bangsa lain, kecuali karena taqwa dan amal kebajikannya. Allah melebihkan kaum muslimin dari umat yang lain dalam pengertian kelebihan karena kemanusiaan dan kebangsannya, tetapi kelebihannya semata-mata berdasarkan norma-norma sebagaimana tersebut di dalam surat Ali Imran : 110 ;
“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS Ali Imran 3:110)”.
Manusia sekarang dapat dikatakan tergabung di dalam tiga agama monotheis (Islam, Kristen dan Yahudi). Permusuhan dan perperangan yang berjalan sesama mereka titik pangkalnya pun pada pertentangan ini.
Sekiranya sesame mereka berhasil diperoleh satu kesepakatan untuk berpegang kepasa satu agama saja , niscaya permusuhan  dan perperangan bisa dihindarkan, dan tidak diragukan lagi islam akan merupakan agama yang paling tepat untuk merealisasikan tujuan akhir yang diperjuangkan oleh para pembela islam pada abad kita ini. Seruan ke arah perdamaian ini, telah  jauh lebih dahulu diketengahkan oleh AL Qur’an pada surat Al Baqraah 208 :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu                        (QS Al Baqaraah 2:208)”.
Islam agama yang paling andal merealisasikan tujuan ini, karena ia memandang semua bangsa dengan pandangan yang telah lama berjalan, percaya kepada Isa As yang menjadi Rasul umat Nasrani di samping percaya kepada rasul-rasul yang lainnya. Maka kalau orang Yahudi dan Nasrani menjadi Muslim, ia telah menemukan adanya pengakuan yang sama terhadap kebenaran rasul-rasul mereka sendiri dan islam akan menyambut mereka di tengah jalan dengan baik sebagaimana mereka akui sendiri.
Adapun Yahudi , walaupun beragama, namun mereka mendustakan Isa dan Muhammad. Dengan sikap seperti ini kaum Nasrani dan Muslim tidaklah akan bisa menyatu ke dalam agama mereka , karena adanya jarak perselisihan di dalam masalah keimanan ini antara mereka dengan pemeluk kepada agama tersebut.
Adapun umat nasrani, walaupun beragama, namun mereka mendustai Nabi Muhammad saw, sehingga tidak mungkin umat islam bisa menyatu ke dalam agama mereka.
Umat Yahudi dan Nasrani bersifat ekstrim terhadap Isa As. Umat Yahudi menuduh beliau sebagai anak zina. Sedangkan umat Nasrani mempercayai beliau sebagai putra Allah. Adapun umat islam percaya bahwa beliau adalah Ruh dan kalimat Allah yang ditiupkan ke dalam diri Maryam As. Beliau adalah salah seorang hamba Allah dan sama dengan hamba Allah lainnya. Adapaun beliau lahir tanpa ayah, hal ini berbeda dengan proses penciptaan Adam As, yang diciptakan hanya dari tanah tanpa ibu-bapak sebagaimana tersebut dalam surat Ali Iman 59;
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia (QS Ali Imran 3:59)”.
Tidak ada keraguan mengenai pendapat umat islam tentang diri Nabi Isa as, bahwa dengan pendapat seperti itu ketiga agama monotheis ini pasti bisa sepakat. Sebab islam bersikap moderat antara sikap agama Yahudi yang rasialis anti Isa dan sikap umat Nasrani yang cinta secara fanatik kepada beliau.
Sebagian  misionaris Nasrani di dalam sebuah bulletin menyebutkan bahwa pengertian Isa sebagai putra Allah ialah dalam arti kata Isa sebagai kekasih-Nya. Dalam pengertian seperti itu tidak bertentangan dengan islam, ialah Isa Al Masih sebagai kekasih Allah tidaklah diingkari oleh agama ini. Al qur’an telah menyebutkan di dalam banyak ayatnya kata-kata yang mempunyai pengertian kiasan.
Kami muslim memberikan arti dengan mudah pada kata-kata kiasan seperti itu sejalan dengan akal mengenai ke Maha sempurnaan Allah seperti firmannya pada surat Thaha :5 ‘
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS Thaha 20:5)”
Bila umat Nasrani sepakat dengan perubahan arti kata Isa purta Allah dengan pengertian kekasih Allah, maka ia padat memasuki tahap baru dalam masalah ini dan dapat  diperoleh kesepakatan antara kami dengan mereka.
P: Wahai anak muda , apakah kalau kami menerima perubahan pengertian Isa sebagai putra Allah dengan arti sebagai kekasih Allah, lalu kalian  bisa bersama-sama kami memeluk agama nasrani?
M: Wahai tuan Pastur yang terhormat, seharusnya andalah yang bila sudah menerima perubahan pengertian keputraan Isa dengan arti seperti itu,  untuk masuk kedalam islam. Karena tindakan seperti  ini berarti kalian mengakui pandangan Islam tentang diri Isa sebelum terjadinya takwil yang baru ini. Bila Isa sebenarnya sebagai kekasih Allah , maka hal ini sesungguhnya sama dengan Ibrahim yang juga menjadi kekasih Allah , atau Musa yang menjadi orang yang dapat berdialog langsung dengan Allah. Dengan demikian keyakinan Trinitas menjadi batal. Sebab pada hakekatnya tidak ada bapak atau anak dalam hubungan dengan Allah. Padahal keyakinan Trinitas merupakan salah satu keyakinan utama dalam agama Nasrani. Jika keyakinan ini batal, maka ajaran-ajaran keyakinan nya tidak berhak dinilai sebagai suatu agama yang memiliki keistimewaan dari agama –agama  yang lain.
Selanjutnya , islam tidak pernah memaksa umat Yahudi atau Nasrani yang sudah mengakui Allah sebagaimana semestinya, kecuali mereka harus mengakui kerasulan Muhammad.saw,  terhadap hal ini mereka tidaklah dipaksa secara membuta atau untuk menerimanya dengan mengenyampingkan akal atau merugikan mereka. Untuk mengakui kerasulan Muhammad saw, cukuplah dengan memperhatikan sejarah kehidupan  beliau tanpa mempedulikan mukjizat-mikjizat yang mengokohkan kebenaran beliau, sepeti yang diterima oleh rasul-rasul lainnya. Bila umat Yahudi dan Nasrani mau menyadari hal ini, niscaya mereka mau beriman kepada Muhammad, Nabi umat islam, sebagaimana  umat Musa percaya kepada Musa, Nabi umat Yahudi, dan kepada Isa , Nabi  umat Nasrani. Bila mereka ini berbuat demikian, maka seluruh umat manusia hidup dalam persaudaraan yang diliputi penuh ketenangan dan keselamatan, dan terhindar dari perperangan dan permusuhan.
Tidak diragukan lagi, bahwa inilah satu-satunya cara untuk mempersatukan semua bangsa-bangsa di dunia ini. Sebab selama agama berbeda-beda tentu kata sepakat yang jujur tidak akan  diperoleh. Karena setiap pemeluk agama berkeyakinan merekalah yang kelak di akhirat yang menjadi golongan yang selamat, sedangkan yang lain akan mengalami siksa. Maka kalau mereka bersatu dalam agama , nisaya akan dapat menghilangkan rintangan yang menghalangi terwujudnya persatuan mereka.
P: Wahai Muhammad, kami telah mengikuti perubahan pengertian Isa sebagai putra Allah. Namun kalian ternyata tetap menolak peristiwa penyaliban orang-orang Yahudi terhadap beliau. Padahal Taurat mengesankan hal ini pada kami. Penyaliban bukan semata-mata soal keagamaan, tetapi merupakan soal keagamaan dan sejarah sekaligus. Peristiwa penyaliban telah diterangkan dalam buku sejarah-sejarah modern. Kepercayaan terhadap penyaliban merupakan salah satu kepercayaan kaum Nasrani yang penting.
M: Tuan telah menjadikan masalah penyaliban Isa sebagai suatu kepercayaan agama. Tuan katakan bahwa beliau mempersembahkan dirinya ditiang salib untuk menebus dosa-dosa manusia yang diwariskan dari bapak mereka, yaitu Adam As. Ia berdosa sehingga diusir dari syorga. Padahal tidaklah diragukan bahwa perbuatan ini dilakukan oleh Adam As, tidaklah pada tempatnya anda anggap sebagai persolan yang dominan, sebab bila Adam telah berbuat salah,  maka tidaklah dengan sendirinya anak cucunya turut melakukan kesalahannya itu. Karena seseorang tidaklah dapat dibebani tanggungjawab atas kesalahan orang lain. Penyaliban Isa sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesalahan Adam, sehingga Isa dijadikan sebagai alat penebusnya. Umat Nasrani mengakui hal seperti ini dalam keyakinan penyaliban. Soal penyaliban ini bagi mereka sama dengan kepercayaan Trinitas yang bersumber pada sikap menerima secara membabi buta. Sebab soal penyaliban merupakan bagian ajaran iman yang tidak dapat dinalar sebagai tak ada gunanya dipikirkan. Sikap yang seperti ini oleh manusia pada jaman kita ini tidaklah dapat disetujui.
Demikianlah nilai kepercayaan penyaliban Isa dari aspek kefahaman menurut penilaian islam. Adapun dari aspek sejarahnya, islam tidaklah menyangkal bahwa peristiwa penyaliban itu pernah terjadi, namun terjadinya bukan pada diri Isa As. Tetapi orang yang disalib itu adalah seseorang yang berwajah persis dengan beliau, yaitu Yudas Asharit, yang semula menjadi petunjuk jalan musuh untuk menangkap Isa. Yudas ini telah mati pada malam hari, saat mana orang menganggap sebagai waktu penyaliban Isa. Maka orang yang disalib itu sebenarnya adalah Yudas setelah mengalami perubahan wajah menyerupai Isa. Lalu dia disalib oleh  musuh-musuh Isa, dan mereka berkeyakinan telah berhasil menyalib Isa itu sendiri. Kejadian luar biasa ini adalah suatu hal biasa yang dialami Nabi Isa As. Sebab beliau banyak mengalami mukjizat yang lebih besar dari pada itu. Masalah ini dikabarkan oleh seorang Rasul Allah, yaitu Muhammad saw. Para rasul adalah manusia yang lebih tahu dari kita tentang masalah-masalah seperti ini.  Bila mereka mengabarkan sesuatu masalah ghaib sudah  tentu tidak ada seorangpun yang dapat membantahnya, atau mengatakan , bahwa peristiwa terjadi atau tidak terjadi. Sebab Allah telah menjadikan Yudas berwajah persis Isa as. Adalah suatu kejadian tanpa memeperlihatkan kepada siapa pun. Oleh sebab itu , manusia bukan Rasul tentulah tidak akan dapat memberikan sanggahan yang meyakinkan.
Selanjutnya dapatlah kami mengatakan bahwa penyaliban Isa As  hanyalah semata-mata soal sejarah. Kami dapat menyatakan bahwa yang menjadi kepentingan sejarah hanyalah menjelaskan bahwa pada malam itu terjadi penyaliban. Sejarah tidak menganggap suatu yang istimewa, apakah korban penyaliban itu Isa atau orang lain yang persis dengan beliau. Sebab masalah ini berbeda di luar objek pembicaraan sejarah.
Sampai disini Muhammad melihat para pendengarnya agaknya ingin mengakhiri pembicaraan pada hari ini  sampai di sini saja. Lalu ia mengumumkan berakhirnya pertemuan dan diharapkan bisa kembali untuk ikut mendengarkan pada dialog ketiga besok pagi.
ooOoo

Dialog ketiga:
PRINSIP MENGUSAHAKAN KEMASHLAHATAN DAN MENOLAK BAHAYA
Esok harinya Muhammad datang ke asrama para misionaris Nasrani. Ia disertai ayahnya , saudara-saudaranya dan teman-temannya. Sesampai di sana ia menuju ruang dialog, lau mengambil tempat berdampingan dengan sang Pastur Z. Selanjutnya kedua pembicara melanjutkan dialognya tentang prinsip islam yang ketiga yaitu;
Prinsip mengusahakan kemashlahatan dan menolak bahaya
M: Dua prinsip sebelumnya adalah dua prinsip tentang aqidah islam, yang keduanya merupakan pondasi seluruh aqidah. Sedangkan prinsip-prisisp islam tentang masalah syari’ah berpangkal pada satu dasar yang menjadi pondasi seluruh masalah hukum, yaitu prisip ; “ mengusahakan kemashlahatan dan menolak bahaya”. Prinsip ini merupakan dasar utama yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Sebab manusia butuh kemashlahatan dunia dan kemashlahatan akhirat. Begitu pula, manusia butuh kemashlahatan khusus dan kemashlahatan umum. Masing-masing kemashlahatan ini menjadi perhatian agama islam dan kepada masing-masingnya diberikan perhatian secara tepat. Ketentuan-ketentuan islam mengenai  prisip ini tersebut dalam sabda rasululah saw;
Tidak boleh menimbulkan bahaya dan membalas dengan cara berbahaya”
Dan dalam al Qur’an dinyatakan pada surat Qashas 77;
“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS Al Qashas 28:77)”.
Di dalam ayat ini terdapat  celaan terhadap orang-orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan masyarakat yang juga tercantum , di dalam firman Allah surat At Taubah :58
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah (QS At Taubah 9 : 58”.

P: Di dalam persoalan ini agama islam,  sebenarnya tidak berbeda dari agama–agama lain. Karena agama pada hakekatnya segala ketentuan hukumnya bertujuan mengupayakan kemashlahatan dan menolak bahaya.
M: Itu tidak benar. Karena syareat agama Yahudi dan Nasrani tidak sama dengan Islam , di dalam aspek ini. Sebab kedua agama tersebut mengadakan perbedaan kebangsaan. Tetapi Islam universal untuk semua bangsa, tidaklah  membedakan bangsa atau dengan lainnya dalam aspek kemashlahatan. Agama Yahudi di satu agama yang khusus untuk bani Israel dan  semata-mata memperhatikan kemashlahatan bangsa ini, akibatnya  bangsa Yahudi mencintai dirinya sendiri begitu rupa dan mengutamakan kepentingan materi untuk dirinya sendiri di atas bangsa lain. Akibatnya kemashlahatan agama dan kebangsaan menjadi satu kesatuan bagi mereka. Mereka begitu mencintai  materi dan kesengan lebih besar daripada mencintai rohani dan budi-budi yang luhur. Sebab mencintai rohani dan budi-budi luhur merupakan dorongan kemanusiaan secara universal. Dan pandangan sebagai bangsa pilihan di atas bangsa lain.
Agama Nasrani datang dan menerima sikap ekstrim yang berlawanan dengan pandangan bangsa Yahudi terhadap materi. Agama Nasrani mengutamakan aspek rohani dan mestrerilkan hubungan satu pola tertinggi bagi mereka dan suatu citra yang paling ideal bagi pemeluknya. Mereka mencurahkan segenap pikiran untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Agama Nasrani tidak memperhatikan hukum keduniawian secara patut. Karena itu dalam urusan hukum agama Nasrani berpegang pada ketentuan Taurat yang telah ada sebelumnya. Padahal hukum Taurat khusus untuk bangsa Yahudi bukan untuk bangsa-bangsa lain di dunia ini. Jadi hanya Islam sajalah yang merupakan jalan tengah dalam memperhatikan kemashlahatan kehidupan manusia, tanpa mengabaikan yang satu dan melebihkan yang lain. Agama Nasrani telah membawa hukum cinta kasih, yang timbul sebagai reaksi  terhadap sikap permusuhan yang terpendam di dada bangsa Yahudi terhadap bangsa-bangsa lain. Namun hukum cinta kasih seperti itu hanyalah merupakan aturan moral, sedangkan sebaliknya cinta kasih di dalam Islam merupakan ketentuan hukum dan moral sekaligus
Dialog ketiga ini terjadi pada hari ahad. Para peserta yang ada di gedung  Seminary tidak menginginkan diperpanjang lebih lama dari waktu pembicaraan tersebut. Maka diberhentikanlah pembicaraan sampai disini dan ditunda pada dialog berikutnya pada hari senen besok.
ooOoo

Dialog ke empat :
FAKTOR-FAKTOR WAKTU DAN TEMPAT MODERAT

Dialog kali ini diadakan tepat waktunya. Muhammad dan sang Pastur duduk di tempat yang telah disediakan kemudan kedua pembicara mulai memasuki pokok pembicaraan prinsip ke empat dan kelima dari ajaran –ajaran islam.
Prinsip ke empat : faktor waktu dan tempat.
M: Hukum Islam yang berprinsip “ mengusahakan kemashlahatan dan menolah bahaya”. Maka selanjutnya dari prinsip ini muncul dua prinsip baru yang saling berkaitan atau dapat dikatakan kedua prisnsip ini merupakan cabangnya. Namun disamping itu kedua prinsip baru ini pun termasuk diantara prinsip-prinsip islam yang utama. Jadi kalau kedua prinsip baru ini kita tambahkan pada prinsip-prinsip sebelumnya, maka ia akan merupakan prinsip ke empat dan kelima.
Prinsip ini yaitu faktor waktu dan tempat. Hukum hubungan antara pinsip ini dengan ke tiga ialah bahwa kemashlahatan ini berkaitan dengan waktu dan tempat. Islam tidaklah merupakan sesuatu hukum untuk bangsa tertentu dan waktu tertentu sehingga kemashlahatan tempat atau waktu ini menjadi pokok perhatian bagi bangsa tertentu. Akan tetapi Islam merupakan syariatnya untuk semua bangsa dan sepanjang masa. Karena itu sudah tentu prinsip ke empat ini menjadi perhatian Islam agar kemashlahatan yang ingin diwujudkan dapat terealisir di  segala waktu dan tempat.
Agama Yahudi dan Nasrani menolak prinsip yang dibawa oleh islam ini. Sebab agama Nasrani dan Yahudi menolak adanya penghapusan hukum ilahi yang telah ada sebelumnya dan mencela tindakan agama Islam dalam soal penghapusan hukum ini.  Disamping itu kedua agama tersebut menolak adanya sifat berangsur-angsur di dalam penetapan hukum ilahi, dimana sesuatu hukum ditetapkan pada jaman dan tempat yang selaras dengan tuntutannya. Tatkala umat Yahudi dan Nasrani mencela adanya penghapusan hukum yang diakui oleh Islam, maka Allah telah berfirman di dalam Al Baqaraah 106:
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS Al Baqaraah 2:106)”.
Dengan adanya prinsip ke empat ini, maka terbukalah pintu ijtihat dalam Islam dan akan terus berlaku sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah. Karena itu pintu ijtihad tidak tertutup karena wafatnya Nabi saw. Bahkan terus terbuka untuk segenap ulama Islam. Agar mereka dapat menggariskan hukum sesuai dengan waktu dan tempat dan tidak mengalami satu kesulitan pelaksanaan hukum seperti yang pernah membelenggu kehidupan umat Nasrani dan Yahudi dahulu.
Karena itu pembinaan hukum Islam mempunyai sifat luwes dan fleksibel, sehingga hukum Islam tidak mengalami kesulitan untuk menerima pembaharuan yang bermamaat kepada pelakunya. Adapun agama Yahudi dan  Nasrani tidaklah memiliki sifat keluwesan dan  fleksibelitas di dalam hubungannya sebagai suatu penghapusan dan penggantian hukum-hukum Tuhan. Sebagai akibatnya hukum agama mereka menjadi belenggu dan beban berat pada pemeluknya, serta tidak bisa dilaksanakan dengan baik. Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam suarat Al A’raf 157;
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Al A’raf 7 : 157)”.
Seharusnya umat Yahudi dan Nasrani menyambut baik agama Islam yang menyelamatkan mereka dari sikap keagamaan yang kolot, melepaskan mereka dari kebekuan dan belenggu yang menghambat mereka. Namun mereka ternyata tidak dapat menghargai nikmat Islam kepada mereka seperti ini bahkan mereka mulai meributkan penghapusan hukum oleh agama islam dan menyerang Allah serta beranggapan bahwa adanya penghapusan hukum berarti bukti kebodohan Tuhan, padahal Tuhan suci dalam urusan ini ataupun yang lainnya. Sebenarnya masalah bagi mereka adalah sebagaimana kata penyair ;

Masa-masa datangnya ujian
Sesorang akan tersingkap
Sehingga bisa terjadi
Barang buruk terlihat baik
Barang baik terlihat salah

Prinsip ke lima  Moderat, tidak mengutamakan materi, tetapi tidak pula mengabaikan materi.
M : Prinsip ke lima ini merupakan salah satu dari prinsip-porinsip ajaran islam yang sudah tercakup pada prinsip kemashlahatan diatas. Karena cara  yang moderat mempertemukan kepentingan–kepentingan  manusia pada berbagai tingkat dan keadaan untuk selamanya. Islam menuju adanya sikap tengah-tengah dan moderat dalam segala urusan. Allah  menjadikan umat Islam sebagai umat yang moderat di tengah  umat-umat yang lain, sebagaimana difirmankan NYa di dalam surat Al Baqaarah 143;
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia (QS Al Baqaraah 2 : 143)”.
Karena itu Islam memperhatikan aspek rohani dan jasmani di dalam setiap ketentuan hukumnya.  Begitu pula aspek duniawi dan ukhrawi. Sebab hukum Islam dibuat untuk tujuan mendidik jiwa agar dapat mengontrol emosi. Ini adalah merupakan pokok hikmah yang praktis. Jadi sikap tengah-tengah adalah merupakan tuntunan ajaran islam di dalam tiap urusan, walaupun dalam bidang ibadah. Sebagai suatu contoh, diriwayatkan bahwa Nabi melihat seorang laki-laki sangat tekun dalam ibadah sampai matanya sembab. Lalu Nabi bersabda kepadanya : “islam ini agama yang kokoh. Maka lakukanlah dengan penuh rasa sayang. Orang yang memaksakan dirinya , takkan bumi ditembus, takkan punggung dapat menahan”.
Sikap mengabaikan yang satu dan melebih-lebihkan yang lain dalam hal papun dicela oleh Islam, sebagaimana hal seperti ini dicela dalam hikmah praktis. Atas dasar prinsip inilah Islam membenarkan setiap muslim untuk berusaha mendapatkan dunia dan perhiasan sesuai dengan haknya, asalkan tidak berlaku berlebih-lebihan, sebagaimana Tuhan firmakan pada surat Al A’raf 31;
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS Al A’raf 7 : 31)”.
Islam jelas bertentangan dengan agama Yahudi dalam prinsip ini. Karena umat Yahudi berlebihan dalam mencintai materi dan mengabaikan akherat.
Kemudian, setiap muslim juga dibenarkan bersikap mengambil jarak dengan kesenangan dunia dan kebutuhan materi dengan tidak berlebih-lebihan. Sikap seperti ini bertentangan dengan ajaran Nasrani yang menuntut cara hidup kependetaan begitu rupa , memutuskan diri kesenangan duniawi dan menyendiri di gereja jauh dari kegiatan duniawi.
Pernah seorang laki-laki datang kepada Nabi saw menawarkan diri untuk memupus syahwatnya (dikebiri) supaya tidak punya selera pada wanita. Lalu Nabi saw bersabda kepada nya ; ” Islam tidak kenal kependetaan”. Sebab sikap hidup kependetaan tidak sejalan dengan fitrah manusia dan tidak akan dapat memenuhi tuntutan membangun kesejahteraan hidup. Dan ternyata peradaban modern muncul kepermukaan dunia  dengan sikap memerangi cara hidup kependetaan. Karena itu bagi peradaban modern, islam sejalan pandangannya dari pada dengan pandangan agama-agama sebelumnya. Dalam masalah materipun Islam bersikap moderat, Islam mengharamkan cinta membuta kepada harta, sehingga melahirkan sifat bathil. Hal ini berlawanan dengan sikap umat Yahudi yang sangat rakus terhadap harta sampai mau menghalalkan segala cara, sehingga membolehkan riba, asalkan dilakukan terhadap non Yahudi. Islam pun melarang  mempergunakan harta secara boros, sebagaimana Allah menyebutkan di dalam surat Al Isra’ 27;
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS Al Isra’ 17: 27)”.
Kemudian Islam menyuruh bersikap moderat antara bakhil dan boros sebagaimana firman Allah tersebut di dalam ayat sesudahnya ( Al Isra’ 29) ;
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (QS AL Isra’ 17 : 29)”.
Sebagai realisasi Islam telah menentukan adanya infaq (derma) untuk hal-hal kebaikan dan juga penetapan wajib zakat. Orang yang mau melaksanakan kewajiban ini terhadap harta yang dimiliknya , maka ia akan selamat dari sikap-sikap ekstrim yaitu sikap bakhil dan boros. Dengan demikian ia tidak menjadi seorang yang bakhil atau seorang pemboros. Karena pemborosan bukanlah hal terpuji dan  ia hanya merupakan bagian dari pelampiasan duniawi.
Islampun menentukan sikap tengah-tengah mengenai masalah wanita. Islam tidaklah merendahkan wanita seperti yang dilakukan oleh agama-agama lain. Tetapi juga tidak menyamakannya dengan laki-laki secara mutlak, seperti yang dilakukan oleh beberapa aliran lain. Namun islam menyamakan hak dan kewajiban wanita dengan laki-laki selaras dengan kodratnya., bahkan Islam dalam beberapa hal melebihkan laki-laki sesuai dengan fitrah dan tuntunan kehidupan sosial sebagai mana diisyaratkan oleh firmanNya pada surat An Nisa’ 34;
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS An Nisaa’ 4 : 34)”.
Syariat agama Yahudi dan agama-agama yang lain tidak membenarkan wanita memperoleh warisan, dan hanya laki-laki yang berhak menjadi pewaris. Sedangkan beberapa undang-undang menyamakan laki-laki dan wanita dalam memperoleh warisan. Tindakan seperti ini tidak selaras dengan kaedah kehidupan soaial, karena laki-laki lebih banyak menerima tanggung jawab daripada wanita, disamping adanya kecendrungan pada pemberi waris untuk melebihkan laki-laki dari wanita. Kecendrungan seperti ini adakalanya berlebih-lebihan, sehingga diantara mereka melarang wanita mewarisi hartanya. Dalam hal ini islam bukan semata-mata menempuh jalan tengah antara kedua macam hukum yang berlawanan tersebut, tetapi islam menentukan wanita memperoleh hak waris setengah dari laki-laki. Ketentuan ini  adalah adil tanpa wanita merasa dizalimi atau laki-laki dirugikan.
Demikianlah dalam setiap hukum islam bersikap tengah-tengah, sehingga kaum muslimim mempunyai kodifikasi hukum yang tidak tersamai oleh hukum-hukum lain dalam kekayaan pemikiran hukumnya, aliran pikirannya, perbedaan-perbedaan ketetapannya, sekalipun pada masa-masa umat islam menghalami kemegahan. Umat islam dapat berbangga diri berhadapan dengan kedua hukum agama langit sebelumnya, yang senantiasa berlomba untuk menyainginya. Sebab di dalam kedua agama itu tidak terdapat pembinaan hukum yang luas, sehingga pemeluknya tidak merasa perlu hukum yang lain.
Perhatikanlah bangsa-bangsa Kristen dewasa ini yang berada pada masa kemegahannya, tetapi ternyata mereka mempergunakan perundang-undangan modern Eropah yang kini sebenarnya sedang berjalan mendekati syariat Islam. Bahkan banyak hukum barat yang jujur mengakui bahwa hukum barat modern menyadur dari fiqih islam.
P: Wahai anak muda , saya rasa sudah cukup anda menerangkan prinsip-prinsip Islam yang anda inginkan. Saya telah bersabar untuk memberikan kesempatan kepada anda sehingga dapatlah apa yang anda kehendaki tercurahkan sepenuhnya. Sikap sopan santun dan keterangan anda memberikan pengaruh yang besar terhadap rasa kesabaran saya untuk mendengarkan anda.
Karena itu bersediakah anda utuk bersama pindah kepada beberapa hal pokok pembicaraan tentang Islam yang akan kami sodorkan? Maukah anda bersabar seperti kesabaran yang saya lakukan kepada anda? Dan  maukah anda melanjutkan dialog yang tenang sampai  kita selesai?
M; anda berhak untuk itu wahai Pastur. Saya sangat berterima kasih atas pujian anda. Saya memohon kepada Allah semoga saya diberi hidayah untuk memperoeh keridhaannya dalam kesempatan ini, apa yang tuan inginkan , waktu nya akan tiba pada dialog berikut nanti.
ooOoo

Dialog ke lima :
POLIGAMI DAN POSISI WANITA

Pengunjung pada dialog kali ini lebih banyak dari sebleumnya , karena Pastur  Z sebelumnya telah mengumumkan akan mengajukan beberapa gugatan keras terhadap ajaran Islam. Sebab itu banyak orang yang ingin mendengarkan sanggahan-sanggahan Pastur tersebut dan bagaimana jawaban-jawaban Muhammad
P:  Mengapa anda berpendapat bahwa islam berlaku adil kepada wanita, bukan menghinanya? Padahal Islam membenarkan Poligami. Sedangkan Poligami ini besar bahayanya terhadap mereka dan menciptakan pertengkaran di dalam kehidupan suami-istri. Padahal seharusnya kehidupan antara suami istri  berjalan penuh kerja sama secara ikhlas. Sedangkan keikhlasan dapat tercipta bila  berada dalam satu ikatan baik rumah, kekayaan maupun anak-anak.
M: Anda terlalu ekstrim melihat poligami di dalam Islam. Seolah-olah Islam membenarkan apa yang dilarang agama-agama sebelumnya, seperti zina atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Seolah-olah perbuatan-perbuatan tersebut tidak dibenarkan oleh Islam padahal oleh agama –agama sebelumnya dibenarkan. Juga seolah-olah Islam tidak menertibkan dan tidak membolehkan lebih dari 4 istri. Padahal poligami pada agama –agama sebelumnya tidak mempunyai batas, sebagaimana pembatasasn itu dilakukan oleh islam.
Islam menetapkan kebolehan poligami bukanlah sebagai sesuatu yang wajib atau sunnah, melainkan hanya suatu ketetapan mubah. Ketetapan mubah dalam Poligami merupakan hukum yang sungguh terpuji, karena sesuai dengan sifat Islam sebagai agama universal, yang berlaku untuk segala masa dan tempat serta segala macam bangsa. Sebab hukum mubah tidaklah sama dengan empat ketentuan yang lainnya (wajib, sunat, haram dan makhruh). Dengan demikian mubah dapat diterapkan pada kebanyakan hukum, sehingga pihak pemerintah  dapat melakukan perubahan atau menggantikannya sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Poligami dalam islam termasuk kategori hukum yang elastis, sehingga hukum poligami  berlaku menurut tuntutan kebutuhan. Jika ternyata dengan poligami ini menimbulkan hal-hal yang merusak  dapatlah diadakan larangan. Sekiranya Islam mengharamkan poligami secara mutlak, niscaya manusia akan mengalami kesulitan sepanjang jaman, misalnya keadaan sesudah perang yang pada umumnya jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki dan umat tersebut sangat membutuhkan pertambahan penduduk setelah masa perang. Keadaan seperti ini memerlukan system poligami. Karena poligami adalah satu-satunya cara terbaik mengantisipasi perzinaan. Walaupun di dalam sistim poligami ini terdapat hal-hal yang negatif padahal sebenarnya kenegatifan ini ada pada  pelaksanaan, bukan pada hakekat poligami, namun toh negatifnya jauh lebih kecil daripada perzinaan yang selamanya berbahaya dan menimbulkan kerugian besar terhadap kesehatan tubuh, keluarga dan lingkungan kehidupan umat, serta membuat yang bersangkutan menjadi proaktif bila membiarkan dikuasai oleh dorongan seksual kebinatangan.
Islam tidaklah melupakan adanya bahaya poligami karena penyalahgunaan. Karena itu islam menetapkan syarat-syarat yang ketat, yaitu poligami hanya dibenarkan bagi orang yang yakin dan mampu berlaku adil sesama istrinya, agar kehidupan rumah tangga terajaga dengan baik, penuh rasa ihklas, penuh keterbukaan dan kejujuran antara istri dan suami, antara anak-anak, ayah dan ibu mereka. Poligami ini penetapan hukumnya tercantum dalam firman Allah suara an nisa’ 3
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya                   (QS An Nisaa’ 4 : 3)”.

Dan firman Allah dalam surat An Nisaa’ 129
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( QS An Nisaa’ 4 : 129)”.
Maksud ayat ini adalah sikap adil yang menjadi syarat kebolehan poligami adalah tidak dapat dipenuhi oleh seseorang secara tuntas. Karena itu seseorang agar lebih selamat kepentingan agamanya hendaknya ia tidak bermonogami, ini berarti bahwa poligami pada dasarnya dipandang makhruh, karena kebolehan ini tidak begitu saja boleh dilaksanakan dan terlepas dari sifat makhruh, tanpa adanya suatu keperluan yang mendesak. Poligami yang kebolehannya bersyarat bukanlah timbul oleh serangan-serangan terhadap hukum poligami pada zaman kita ini, akan tetapi seorang ulama besar bernama Syihabudin Ahmad bin Muhammad bin Ali Rabi’ dalam bukunya “ Sulukul malik I fadbiril mamalik”, menegaskan kepada para suami untuk memenuhi enam tugas kepada istri dan tugas kelimanya ialah sebaik-baiknya bermonogami sejauh dirasakan cukup bagi dirinya. Sebab monogami lebih mampu menegakkan ketertitaban rumah tangga. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa beliau beranggapan berpologami itu  makruh seperti pendapat saya,  beliau berbeda dengan kalangan mayoritas  ulama karena ia berpendapat pada dasarnya hukum poligami tidak mubah.
P: Saya ingat bahwa poligami adalah cara yang terbaik untuk mengantisipasi perzinaan. Namun kenapa umat Islam yang membolehkan poligami ini tetap terdapat perzinaan seperti yang terdapat di tengah masyarakat Nasrani, yang notabene melarang poligami?

M: Saya hanya mengatakan bahwa poligami hanya salah satu cara , bukan satu-satunya cara untuk mengantisipasi perzinaan. Bila yang menjadi soal adalah pemberantasan perzinaan itu sendiri, maka poligami semata-mata tidak cukup memberantas penyakit sosial ini. Tetapi ia sudah pasti memerlukan perangkat-perangkat lain, seperti hukuman terhadap pelaku zina di dunia ini dan lain sebagainya. Semua cara-cara ini hanyalah bertujuan untuk memperkecil penyakit-penyakit sosial yang menimpa kehidupan masyarakat. Sebab menghilangkannya sama sekali adalah tidak mungkin . tetapi suatu kenyataan yang tidak dapat diragukan lagi, perzinaan yang terjadi di negri-negri islam jauh lebih sedikit dibandingkan dengan negeri-negeri lain. Terutama sekali pada saat hukum-hukum islam itu berlaku di negri mereka sendiri dan bukan di saat umat islam di bawah cengkraman penjajah Kristen. Sebab penjajahan ini memaksa untuk diperbolehkannya perzinaan dan minuman keras secara terbuka. Hal-hal seperti ini sudah merupakan suatu perbuatan yang tersebar di  negeri-negeri islam dibawah kekuasaan penjajah.
P: Wahai anak muda, kalau anda beranggapan poligami pada dasarnya makhruh, maka mengapa Nabi anda membolehkan hal itu untuk dirinya sendiri? Mengapa beliau membolehkan  dirinya sendiri untuk berpoligami dalam jumlah yang lebih dari yang diperbolehkan untuk penganutnya? Beliau telah beristrikan sembilan orang dan bukan sampai batasan 4 orang, sebagaimana yang diberlakukan kepada orang-orang lain untuk mencukupkan diri beristri 4 orang saja?
M: Baiklah wahai Pastur yang mulia, tidaklah benar jika Nabi kami hanya membolehkan dirinya sendiri berpoligami dengan sejumlah istri, yang beliau sendiri melarang orang lain untuk berpoligami sejumlah yang beliau lakukan. Perlu diketahui bahwa ketentuan berpolohami turun pada akhir tahun 8 hijrah. Padahal Nabi telah berpoligami dengan sejumlah istri beliau sebelum tahun tersebut dan istri beliau yang terakhir ialah Maimunah putri Harits Al Halaliyah, janda yang terakhir pamam beliau yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib pahlawan perang Uhud, dan juga bibi Abdullah bin Abbas. Perkawinan ini terjadi pada saat beliau melakukan Umratul Qodho’ (tahun 7 Hijriah). Nabi tidaklah mencampuri istrinya ini terkecuali setelah keluar dari Mekkah yaitu di kampung Safir. Tatkala hukum poligami ini turun dan dilarang beropoligami lebih dari empat istri, maka Nabipun dilarang untuk kawin lagi lebih dari jumah istri-istri beliau yang sudah ada. Berkenaan dengan ini Allah menurunkan firmanNYa pada surat Al Ahzab : 52;
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu     (QS Al Ahzab 33 : 52)”
Dalam masalah poligami tidaklah ada perlakuan istimewa terhadap diri Nabi, terkecuali beliau dibolehkan untuk tetap meneruskan poligami dengan sembilan istrinya  dan tidak disuruh untuk menceraikan yang lebih dari empat istri, sedangkan orang lain disuruh menceraikan istrinya bila istrinya berjumlah lebih dari 4. Pengertian seperti ini adalah untuk kemasylahatan istri-istri Nabi. Karena mereka tentu tidaklah rihdo untuk menerima orang lain sebagai gantinya, karena kedudukan Nabi tidak sama dengan orang-orang  lain.  Maka kemashlahatan di dalam pengecualian tersebut bukanlah demi kepentingan Nabi, tetapi untuk kepentingan istri-istrinya. Sebab itu isti-istri Nabi tidak dihalalkan untuk diambil orang lain sepeninggal beliau, sehingga mereka tetap menyendang gelar “ibu-ibu Mukmin” sampai wafatnya. Jadi beliau tidak dibenarkan untuk menceraikan salah seorang istrinya.
Sang Pastur nampaknya berharap bahwa pembicaraan yang belum selesai ini bisa diteruskan pada dialog berikutnya, karena itu dialog kelima  ini ditutup sampai disini.
ooOoo

Dialog ke enam :
THALAQ DAN HAK WANITA

Jumlah pengunjung tidaklah berkurang dibandingkan dengan jumlah sebelumnya. Pastur  Z mulai mengajukan gugatan-gugatan dan Muhammad memberikan jawabannya;
P:  Masih terdapat persoalan tertinggal yang dapat kita bicarakan mengenai islam ini, yaitu soal Thalaq.  Islam telah memberikan senjata yang kejam kepada laki-laki untuk membunuh sang istri, menghancurkan ketenangan hidup berkeluarga dan tidak memberikan suasana kehidupan bersama kepada sang  suami yang penuh kasih sayang, tetapi penuh ketakutan bukan suasana penuh kebahagiaan dan ketenangan.
M: Persoalan Thalaq pada agama kami sama dengan persoalan poligami. Islam tidak membenarkan dengan begitu saja, padahal agama-agama sebelumnya mengharamkannya, tetapi Islam membolehkan  sesuatu yang agama-agama sebelumnya juga  dibolehkan.  Jadi dalam persoalan Thalaq agama Islam tidaklah melakukan hal-hal yang tercela. Anda mengetahui bahwa hukum mubah termasuk dalam kategori  eksperimen diantara hukum-hukum yang lima. Mubah ini merupakan suatu ketentuan hukum yang mudah karena mengingatkan kondisi dan situasi, sehingga ia terkadang tetap mubah dan terkadang bisa dilarang, terkadang tanpa syarat dan terkadang terikat oleh syarat-syarat. Dengan demikian hukum melakukan Thalaq bisa selalu sejalan dengan segala jaman dan tempat dan selaras pula dengan hukum –hukum lainnya dari agama islam yang universal ini.
Sebab islam tidaklah memberikan kebolehan melaksanakan Thalaq secara bebas begitu saja. “ perbuatan halal yang paling dibenci oleh Aklah adalah “Thalaq”. Jadi sebenarnya kebolehan Thalaq hanyalah karena keadaan sangat mendesak. Jika tidak ada tuntutan yang sangat mendesak hukumnya makhruh, dan kalau tidak ada alasan apa-apa maka hukumnya haram. Sebab thalaq adalah tindakan kelaliman  kepada  istri dan berbuat zalim adalah haram dalam urusan apapun.
Selain itu Islam tidaklah melupakan bahaya Thalaq dan adanya penyalahgunaan sehingga mengakibatkan kecaunya tatanan keluarga dan bahaya besar yang menimpa umat. Thalaq dibolehkan dengan syarat adanya tuntutan kepentingan yang menguntungkan dan demi mengatasi kerusakan hubungan suami istri yang tidak dapat didamaikan. Jadi thalaq bukan seenak hawa nafsu untuk melaksanakannya .  Bahkan islam mendorong sang suami untuk tetap melangsungkan ikatan dengan istrinya, walaupun rasa cintanya sudah pudar dan keinginan suami pada istri, tidak tumbuh lagi. Jadi Thalaq ini hanya boleh dilakukan kalau hubungan suami istri rusak dan tidak harmonis, segala jalan sudah buntu untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah di dalam surat An Nisa’ 19 ;
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS An Nisaa’ 4 : 19)”.
Thalaq di dalam Islam di atas untuk tujuan –tujuan yang menjadi tuntutan hidup manusia, antara lain ; karena adanya hubungan suami-istri yang buruk akibat kepribadian yang tidak cocok dan sebagainya. Pada saat seperti ini bercerai adalah lebih baik daripada meneruskan kehidupan rumah tangga yang buruk, sebab akibatnya merusak akhlak dan pendidikan anak-anak disamping nama cemar dan riwayat hidup yang jelek. Sebelum melakukan Thalaq Islam menyuruh agar sang suami lebih dulu melakukan upaya mendidik terhadap istrinya dan janganlah baru bertindak (untuk mendidik) setelah terjadi krisis. Tindakan yang tepat  adalah menasehati dan pisah ranjang. Juga suruh  agar suami mengupayakan perdamaian dengan istrinya lewat bantuan keluarga masing-masing, jika tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Hal ini Allah Firmankan dalam surat An Nisaa’ 34-35
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar 34. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS An NIsaa’ 4 : 34-35)”.

Jika semua ini ternyata tidak berhasil, maka Allah mengizinkan dilakukan Thalaq. Thalaq satu kali bukanlah Thalaq untuk berpisah selamanya, melainkan sebagai tenggang waktu yang ada kemungkinan rujuk kembali. Thalaq ini tidaklah hanya diizinkan sekali untuk selama-lamanya, tetapi sesudah itu dibolehkan untuk rujuk kembali kepada istrinya, bila hal-hal yang menyebabkan perpecahan sudah hilang. Bahkan Islam memperbolehkan Thalaq sampai tiga kali. Sesudah yang pertama dan yang kedua suami masih boleh kembali. Sebab dua kali percoban ini dipandang cukup bagi kedua belah pihak untuk saling mengoreksi diri. Tetapi dilarang untuk rujuk setelah Thalaq ke tiga. Hal ini dimaksudkan agar perkawinan tidak menjadi permainan dan tidak menyia-nyiakan sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat. Allah telah menyatakan ketentuan Thalaq ini di dalam surat Al Baqaraah 229 ;
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang lalim (QS Al Baqaraah 2:229)” .

Dengan uraian ini tidaklah dapat disangsikan lagi bahwa Thalaq dalam hukum islam adalah suatu ketentuan yang adil dan suatu cara yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat manusia. Telah cukup banyak bukti pada pemerintah-pemerintah Kristen , baik di Amerika maupun Negara-negara Eropah sekarang telah mulai memberlakukan hukum perceraian sesuai menurut syariat Islam, padahal agama Kristen sama sekali melarangnya.
P: Kenyatan-kenyataan tersebut tidaklah dapat dijadikan argumentasi untuk menyalahkan kami. Sebab pemerintah-permerintah tersebut, ternyata membolehkan perzinaan dan perbuatan tercela lainnya yang dilarang oleh agana Nasrani (Kristen). Jadi masalah bolehnya thalaq di negara tersebut, sama halnya dengan membolehkan zina dan lainnya.
M: Wahai Pastur, sungguh amat jauh berbeda antara soal Thalaq dan zina. Karena apa yang saya uraikan tentang langkah pemerintah-pemerintah anda di dalam soal membolehkan perceraian itu bukanlah suatu masalah yang pada hakekatnya negarif, terlepas dari bagaimana pemerintah-permerintah tersebut menjadikannya.
Sampai disini Muhammad dan Pastur bersepakat untuk menghakhiri dialog kali ini pada masalah yang sudah dibicarakan dan akan dilanjutkan besok pada dialog berikutnya.
ooOoo

Dialog ke tujuh:
PERBUDAKAN DAN HARKAT MANUSIA

Dialog yang lalu berakhir dengan rasa puas para hadirin , tentang betapa sikap adil hukum islam mengatur wanita. Pembicaraan dalam dialog kali ini berpindah dalam mengatur wanita. Pembicaraan dalam dialog ini pada masalah perbudakan dalam islam. Inilah masalah yang sekarang akan dijadikan topik dan banyak dibicarakan oleh orang.
P: Wahai  anak muda, anda mengatakan bahwa Islam memandang semua manusia itu sama, tidak ada kelebihan antara bangsa  Arab dengan bangsa lain, kecuali karena taqwa. Tetapi mengapa Islam mengakui perbudakan dan menjadikan  sebagian orang laksana barang dan binatang yang dapat diperjual belikan dipasar, lalu dibebani kerja paksa dan penghinaan sebagai budak selama hidupnya. Fakta ini tidaklah mungkin dapat dianggap bahwa semua manusia itu sama dan martabatnya  dihadapan Allah.  Kami , umat Kristen  telah berjuang mati-matian pada abad ini dengan perjuangan yang terpuji untuk menghapus perbudakan manusia sehingga seluruh permukaan bumi telah merasakan hasil perjuangan kami  dari  bangsa-bangsa di segenap penjuru dunia menikmati kemerdekaan.
M:  Islam di dalam membenarkan adanya perbudakan  sebenarnya tidaklah membolehkan sesuatu  yang oleh agama-agama sebelumnya diharamkan. Sebab dalam agama Yahudi dan Nasrani yang ada sebelum Islam dan perundang-undangan yang ada sesudahnya membenarkan adanya perbudakan. Umat Kristen dalam perjuangan modernnya untuk menghapuskan perbudakan bukanlah suatu hal yang dapat dianggap kebajikan utama, tetapi justru kami memandang sebagai  suatu perjuangan yang cacat. Kami melihat upaya pembebasan perbudakan tidak mempunyai makna penting.
P : Anak muda, mengapa anda menolak anggapan kebajikan utama dari perjuangan semacam ini?
M:  Memang saya menolak anggapan kebajikan dari perjuangan semacam itu, wahai Pastur yang mulia. Anda  memang dapat dimaafkan karena tidak bisa merasakan apa yang kami rasakan , orang –orang timur pada umumnya, kaum muslimin khususnya merasakan perbudakan yang anda paksakan kepada kami. Padahal kami , sebelum anda datang menjadi tuan di tengah kaum muslimin dan orang-orang yang berkemajuan. Namun setelah anda menjajah kami, semuanya menjadi budak anda, darah kami  begitu saja dialirkan sia-sia, harta benda kami dirampok, kemerdekaan kami ditumpas. Wahai sang pastor, tidak ada perbudakan keji dari pada yang kami derita sekarang. Karena memperbudak bangsa-bangsa lebih tercela dari pada memperbudak individu.
Wahai sang Pastur, anda telah mengabaikan begitu rupa kata perbudakan, ketika anda menyangka telah berjuang melakukan penghapusan perbudakan di jaman ini. Padahal perbudakan pada hakekatnya belumlah terhapuskan., selama belum berhenti perperangan antar manusia. Selama masih terjadi perperangan selama itu masih ada tawanan, dan selama ada tawanan, niscaya ada perbudakan. Karena perbudakan merupakan konsekwensi adanya tawanan. Perbudakan akan tetap ada selama ada perperangan. Seseorang tertawan tidak memiliki dirinya sendiri di tangan penawannya. Ia tidak memiliki kemerdekaan dan kemauan sendiri. Jika perperangan tidak berhenti dengan perdamaian antara kedua belah pihak, lalu para tawanan dibebaskan dan memperoleh kemerdekaannya kembali, maka selama itu pula para tawanan menjadi budak di tangan mereka.
Perbudakan Islam bukanlah pengertian seperti ini (tawanan perang), yang akan selalu terus berjalan. Para budak dalam Islam adalah para tawanan perang yang bisa lepas bila dibebaskan secara gratis atau melalui penebusan dengan perdamaian. Islam tidak mengakui perbudakan yang dilakukan dalam bentuk perampokan dan perampasan terhadap orang-orang merdeka. Bahkan perbudakan semacam ini adalah bathil dan memperjualbelikan budak semacam ini termasuk dosa besar. Para tawanan yang hidup ditengah umat islam, yang tidak berhasil untuk memperoleh pembebasan dirinya secara damai tidaklah diragukan lagi bahwa kepentingan yang lebih luas memang menuntut adanya penguasaan mereka di bawah umat islam. Karena itu tidaklah mereka berhak diberi kemerdekaan untuk bergerak ditengah umat islam. Sebab mereka bersikap permusuhan terhadap islam. Dengan ditempatkan mereka dibawah penguasaan umat islam, maka mereka tidak dapat menimbulkan bahaya terhadap  kaum muslim dan melakukan kegiatan mata-mata untuk musuh. Jika masa perbudakan sudah berjalan cukup lama dan dirasakan cukup aman keadaan mereka, karena masuk Islam atau lain sebagainya, maka Islam menganjurkan pada umatnya untuk membebaskan manusia.
Islam dengan keras merangsang umat Islam menghapuskan perbudakan yang telah ditetapkan beberapa cara untuk membebaskan ini. Barang siapa membebaskan seorang budak di dalam masa hidupnya ini, dengan harapan memperoleh pahala dari Allah demi memperhatikan akhiratnya dengan sebagian hartanya akan merupakan penebusan dosa dan mendapatkan pahala yang tidak terhitung banyaknya.
Selanjutnya kami katakan bahwa pada dasarnya Islam tidak membenarkan perbudakan. Karena perbudakan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Perbudakan dapat disamakan dengan kasus  Thalak dan sejenisnya, yang dibolehkan hanya karena darurat.
Perbudakan di dalam islam tidaklah mempunyai tempat. Hanya sedikit sekali hukum yang membicarakan perbudakan ini. Sebagian dari perbudakan ini adalah sebagai pernyataan belas kasihan terhadap budak, sebagaian lagi pembicaraan tantang budak yang timbul sebagai kasus yang memang sudah ada si tengah-tengah masyarakat. Padahal sebenarnya para budak dan orang-orang merdeka adalah sama di hadapan Allah. Bahkan mereka bisa mempunyai kelebihan dari orang-orang merdeka, bila bertaqwa dan beramal saleh. Islam memandang para budak bersaudara dengan orang-orang merdeka. Orang-orang merdeka tidak boleh melanggar dan menempatkan diri mereka di atas para budak, baik dalam soal makan, minum, pakaian dan lain-lainnya. Tidak boleh bersikap kasar kepada mereka atau merendahkan martabat mereka. Perbudakan di dalam pandangan Islam telah memperoleh kedudukan sedemikian terhormat yang tidak pernah diberikan oleh agama lain. Diantara para budak ada yang memperoleh kedudukankan sebagai Raja,  Gubernur, Menteri, Politikus, Jendral  serta Panglima Perang dan lain-lainnya. Dan Nabi saw ada diriwayatkan sebuah sabda beliau yang menyatakan : “ dengarkanlah dan taatilah, walaupun yang memerintah kamu seorang budak habsy kecil lagi hitam.”
Bila demikian halnya, islam menangani soal perbudakan ini berarti Islamlah yang pertama kali berupaya untuk menghapuskan perbudakan , dengan syarat dilakukan untuk mencari keridaah Allah dan jangan sampai setelah menghapuskan perbudakan secara induvidu-induvidu justru memaksakan perbudakan atas suatu bangsa. Islam sama sekali tidak memberikan hak untuk melakukan perbudakan. Islam hanya memberikan ketentuan mubah yakni sebagaimana yang telah disebutkan,  adalah suatu persoalan yang diserahkan pada kebijakan pemimpin-pemimpin umat islam untuk mempergunakan atau tidak sesuai dengan tuntutan kepentingan dan dibenarkan menjalankan sesuai dengan situasi dan kondisi.
Sampai disini sang Pastur meminta kepada muhammad untuk menghentikan pembicaran dan tanpa memberikan komentar apapun. Kemudian para hadirin bubar untuk kembali lagi besok, guna mendengarkan dialog selanjutnya.
ooOoo
Dialog kedelapan:
NABI MUHAMMAD DAN PARA RAJA SERTA  PENGUASA DUNIA

Ketika esok hari tiba , dialog diadakan tepat pada waktunya. Muhammad dan Pastur sepakat pembicaraan kali ini ialah perang dalam Islam.
P: Nabi anda dalam pandangan kami adalah seorang raja, bukan seorang Nabi. Kerena sepanjang hidupnya menyerupai kehidupan raja-raja. Beliau menjalankan urusannya dengan perang dan menggunakan pedang. Pola dakwahnya tidaklah bersifat damai dan bersih seperti yang dilakukan oleh Nabi yang lain, yang bertopang kepada mukjizat –mukjizat ketuhanan dan tanda-tanda Ilahiyah yang biasa digunakan rasul-rasul Tuhan sebagai alat pendukung. Orang  yang mau beriman kepada tanda-tanda tersebut, mereka akan selamat, sedangkan yang mengingkari akan dihukum oleh Tuhan baik di dunia maupun di aklhirat. Di dalam hal ini tidaklah ada hak bagi seorang Nabi untuk memerangi atau membunuh manusia yang  menjadi objek dakwahnya. Karena Tuhan mengutus para Nabi sebagai penyuluh yang memberikan kabar baik dan ancaman bukan untuk menjadi raja-raja penakluk.  Namun agama anda memberikan hak kepada pemeluknya untuk melakukan penaklukan, sehingga terkenal pedang mereka di tengah-tengah umat manusia dan menjadikan seluruh  dunia sebagai medan peperangan yang kejam lagi lestari. Dengan demikian agama anda hanya mempunyai kesan ditengah –tengah masyarakat dalam bentuk kekerasan, karena agama anda ditegakkan dengan perperangan dan jihad dianggap sebagai salah satu kewajiban yang ditekankan.
M: sabar sebentar, wahai Pastur yang mulia. Anda telah melepaskan tuduhan tidak benar. Saya akan manyampaikan jawaban tersebut kepada anda satu persatu.
Pertama anda menuduh bahwa Nabi kami menurut pandangan anda seorang raja, bukan seorang Nabi. Karena kehidupan beliau menyerupakan pola hidup raja daripada kehidupan para Nabi. Ini berarti anda punya anggapan, bahwa antara keNabian dan raja tidak bisa di satu tangan. Anggapan anda ini sama sekali tidak mempunyai nilai kebenaran. Sebab antara keNabian dan jabatan raja sama sekali tidak saling bertentangan. Sebab beberapa Nabi sebelum Nabi kami Muhammad saw. Ada yang memang menjadi Nabi saja, tetapi ada sebagian yang menjadi Nabi juga raja; misalnya ; Nabi Daud , beliau memegang jabatan raja di tengah bangsa mereka yang pertama. Contoh lain ialah Nabi Sulaiman, beliau menjadi raja sepeninggal Nabi Daud. Beliau menjadi pewaris raja seperti yang berlaku pada kerajaan-kerajaan lain. Namun demikian Nabi kami bukanlah seorang Nabi yang menjadi raja. Tidak seorangpun dari kerabat beliau yang menggantikan sebagai raja setelah beliau wafat. Ada sebagian gubernur di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz ingin memungut pajak kepala dari sementara orang-orang yang masuk islam sebagai siasat mengelak dari pengutan pajak kepala, tetapi khalifah Umar menolaknya dan melarang memungut pajak tersebut dari mereka khalifah berkata; “ Allah mengutus Muhammad saw untuk menjadi penyuluh kebenaran dan bukan sebagai penarik pajak”.
Kedua ,  anda menuduh bahwa islam ditegakkan dengan perang, dan dahwah Islam tidaklah dihalangkan secara damai lagi bersih, seperti agama-agama lainnya. Tuduhan seperti ini adalah tidak benar, sebab dahwah Islam berjalan dengan damai lagi bersih seperti agama-agama langit lainnya. Nabi saw di dalam menyamapaikan dakwah diperkuat dengan berbagai mukjizat seperti halnya yang berlaku kepada Nabi-Nabi lain. Bukankah umat islam seharusnya menempuh jalan kepada perdamaian seperti firman Allah dalam surat Al Baqaraah 208 ;
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu                    (QS Al Baqaraah 2:208)”.
Kemudian islam , menyuruh kepada para pengikutnya agar bersikap mengutamakan perdamaian bila musuh-musuh merekapun bersikap serupa, sekalipun mereka itu tidak melakukannya secara ikhlas. Hal ini Allah nyatakan dalam surat An Anfal 61-63;
“ Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui 61. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min 62, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana                            (QS Al Anfaal 8:61-63)”.
Islam tinggal di Makkah selama 13 tahun dan selama itu dakwah dilakukan secara damai, bersabar menerima siksaan yang tiada terperikan penderitaannya, sampai tiba saat golongan musyrik berkomplot untuk membunuh Nabi saw, disaat itulah beliau meninggalkan cara ini untuk bertahan dan membalas serangan mereka. Perang terhadap mereka bukan untuk mengajak mereka masuk Islam, tetapi untuk mencegah berlanjutnya permusuhan mereka  terhadap islam,  sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam surat Al Hajj, 39-40
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu 39. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (QS Al Hajj 22 : 39-40)” .

Dan surat Al Baqaraah 190-191
“ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas 190. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir (QS Al Baqaraah 2:190-191)”.
Bilamana merupakan suatu keharusan berdakwah secara damai, maka juga merupakan suatu keharusan penegak dakwah diberi hak mempertahankan diri,  sebab hak seperti ini merupakan fitrah yang tidak boleh diingkari. Kalau hak fitrah seperti ini tidak ada ditengah masyarakat niscaya rusaklah kehehahteraan hidup dan tatanan sosial, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 251;
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (QS Al Baqaraah 2:251)”.
Ketiga , anda menuduh islam memberikan hak kepada pemeluknya untuk mengadakan penaklukan, sehingga pedang mereka menjadi begitu terkenal di seluruh penjuru dunia dan selalu melakukan perang yang tiada berkesudahan. Padahal sebenarnya Islam tidak memberikan hak seperti ini sedikitpun kepada pemeluknya. Sebab Islam bertujuan menegakkan keadilan dari tengah-tengah umat manusia   dan menghapus pemerintahan yang didasarkan pada penindasan dan pengrusakan. Kaum muslimin telah menaklukkan negeri Parsi dan Romawi tanpa melakukan penyerangan kecuali kepada fihak-fihak yang terlibat, tidak pula mereka menimpakan diri sebagai golongan istimewa di kalangan para penduduk, bahkan bergabung menjadi satu dengan penduduk, mengikuti sebagian besar tradisi-tradisi mereka, melakukan perkawinan dengan mereka  dan lain sebagainya, sehingga fihak penguasa menyatu kepribadiannya kepada rakyat dan menjadi suatu bangsa baru tanpa perbedaan penguasa dengan rakyat. Realitas semacam ini bukanlah sebuah penaklukan suatu golongan atas suatu bagsa. Tetapi yang sebenarnya terjadi ialah upaya pendekatan antar bangsa dan melenyapkan faktor-faktor pertentangan  yang dapat menimbulkan perpecahan antar mereka. Hal seperti ini tidak dapat diragukan lagi merupakan maksud yang mulia dan tujuan yang paling utama.
Islam sama sekali tidak memberikan hak kepada pemeluknya untuk melakukan penaklukan, kecuali dalam rangka memperthankan diri dalam menyampaikan kebenaran. Bila dirasakan aman menyampaikannya kepada suatu kaum, maka tidaklah akan dilakukan perang terhadap mereka atau bermaksud merampas negeri dan harta mereka. Kaum muslimin tumbuh di negeri mereka, di jazirah Arab. Sebagian dari negeri ini dikuasi oleh imperium Parsi dan  sebagian lain dikuasai oleh Romawi tatkala kaum Muslimin jaya di negeri Arab , mulailah mereka meminta kepada imperium Parsi dan omawi mengembalikan  wilayah dan menyampaikan seruan masuk Islam secara damai lagi bersih. Namun mereka bersikap menentang dan bermusuhan sehingga terjadilah perang antar dua golongan dan terjadilah berbagai  penaklukan-penaklukan Islam dan kekuatan iman berhasil mengalahkan perlengkapan dan jumlah militer yang lebih kuat, sehingga Kaisar dan raja Romawi yang congkak menjadi terhina, sedangkan Abu Bakar dan Umar yang begitu rendah  hati menjadi perkasa dan jaya.
Apa yang dicapai oleh Islam di dalam bidang ini samalah dengan yang diperoleh umat Yahudi dalam masa perkembangan di Mesir. Kemudian umat Yahudi pergi ke tanah yang dijanjikan yakni Palestina dan Syria untuk ditaklukkannya dan mendirikan Negara Yahudi menggantikan Negara paganism yang telah berdiri sebelumnya di sana. Dalam kasus seperti ini sudah merupakan sunatullah bahwa hamba-hamba yang shaleh akan memperoleh kekuasaan di atas buminNYa, sebagaimana firmanNYa pada Al Anbya’ 105 ;
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh ( QS Al Anbiyaa’ 21:105)”.
Golongan orang-orang baik yang datang mensejahterakan dunia ini, merubah tanah tandus menjadi  subur, suasana ketakutan menjadi aman, dan kekacauan menjadi ketentraman, sehingga masyarakat dapat berdaya guna dan warga masyarakat memperoleh kesejahteraan dan kebajikan,.
Lalu sang Pastur berkata kepada Muhammad , “cukupklah samai disini dulu wahai anak muda dan besok akan kita lanjutkan dialog berikutnya.
ooOoo

 

Dialog ke Sembilan ;
MU’JIZAT PARA NABI SEBELUM MUHAMMAD
DAN MU’JIZAT NABI MUHAMMAD

Pastur Z melihat argumentasi Muhammad selalu kuat di dalam segala persoalan yang telah diketengahkannya. Maka dalam dialog kali ini sang Pastur ingin mengungkapkan persoalan yang menurut anggapan Muhammad tidak akan mampu mengutarakan argumentasinya, sebagaimana berjalan pada persoalan-persoalan sebelumnya. Kali ini Pastur mengajukan topik pembahasan mukjizat Al Qur’an;
P: Suatu risalah keNabian tidaklah dipandang benar bila tanpa mukjizat. Allah senantiansa mengutus seorang rasul dengan disertai mukjizat yang membuktikan kerasulannya. Misalnya Nabi Nuh punya mukjizat angin topan, Nabi Ibrahim punya mukjizat tidak termakan oleh api yang membakarnya. Nabi Isa As punya mukjizat menghidupkan orang mati dan lain sebagainya. Tetapi Nabi anda tidak mempunyai mukjizat seperti Nabi-Nabi sebelumnya. Kaum beliau menuntut mukjizat-mukjizat seperti itu, namun beliau tidak pernah membuktikannya, bahkan beliau berkata kepada kaumnya seperti yang di nyatakan dalam surat Al Israa’ 59 ;
“ Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti (QS Al Israa’ 17 : 59)”.
dan pada ayat berikutnya 90-91 ;
“ Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami 90, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya (QS Al Israa’ 17 : 90-91)”,
M: Sesungguhnya Nabi kami , Muhammad saw punya mukjizat yang besar dan jika boleh dikatakan dan terabadikan sepanjang zaman, yakni Al Qur’an. Kaum beliau telah ditantang sebagaimana Nabi-Nabi yang lain ditantang kaum mereka dengan mukjizat-mukjizatnya, sebagaimana tersebut di dalam firman Allah pada surat Hud 13;
“ Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”(QS Hud 11:13).

Kemudian di dalam surat An Nisaa’ diumumkan kelemahan manusia dan jin untuk bisa menyambut tantangan ini, sebagaimana firmanNya dalam surat al israa’ 88
“ Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”( QS Al Israa’ 17:88)”.
Dengan demikian sempurnalah mukjizat beliau dan setelah terbukti kebenarannya, kami tidak lah maksudkan sekedar segi kesusasteraannya yang ternyata membuat lawan-lawannya tidak berdaya atau menarik perhatian orang dan lain sebagainya. Yang orang katakan sebagai keunggulan Al Qur’an ini.
P: Jika seperti itulah mukjizat Nabi anda, apa artinya ayat-ayat yang saya sebutkan kepada Nabi anda tadi, yakni ayat yang dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan tidak mengirim sesuatu tanda sebagaimana yang telah dikirimkan kepada para Nabi sebelumnya.
M: Kata-kata “tanda” yang dimaksud oleh tuhan di dalam firmanNYa, Al Israa’ 59 ; adalah dengan arti azab yang membinasakan kaum “ad”, Thamud, kaum Nuh dan lain sebagainya, yang telah mendustakan rasul-rasul mereka. Karena risalah Nabi Muhammad saw adalah misi rahmat bukan misi azab. Sebab itu Allah memilihkan mukjizat Al Qur’an yang bersifat langgeng, agar kaumnya dapat menerima dengan rasa puas bukan dengan rasa penuh ketakutan, dan tetap ada harapan bagi mereka untuk mengimani mukjizat (Al Qur’an) karena lestarinya tanpa pernah putus dan jangan sampai mereka di jatuhi azab dunia seperti yang menimpa umat-umat sebelumnya, sesudah putusnya mukjizat kepada mereka dan mereka mendustakannya. Sebab sudah tidak ada harapan mereka untuk beriman setelah putusnya mukjizat.
Tuduhan anda wahai Pastur yang mulia bahwa kerasulan tidak dapat diakui kebenarannya bila tanpa mukjizat adalah tidak benar, mukjizat itu dibutuhkan untuk membuktikan kerasulan seseorang. Pada umumnya sikap seperti ini hanyalah tumbuh karena kebodohan dan keingkaran orang-orang yang tidak mau menggunakan akal. Mereka hanya mau percaya berdasarkan apa yang tertangkap oleh indra mereka. Iman semacam ini adalah kerdil , tidak akan lestari. Iman model ini dilakukan oleh bani Israel  pada waktu di  Mesir. Allah telah memperlihatkan kepada mereka mukjizat-mukjizat yang hebat sebagiaman mereka dapat menyaksikan, mereka diselamatkan dari kezaliman firu’n yang selama ini menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak –anak perempuan mereka. Kemudian diantara mereka ini Allah telah sebutkan perangainya di dalam surat Al A’raf 130;
“ Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran               (QS Al A’raf 7 : 130)”.
Begitulah juga sebagaian bagi Allah telah sebutkan karakternya di dalam surat Al Maidah, yang karakter ini menjadikan salah satu faktor mereka mengalami penderitaan di padang Tursina yang disebut dalam ayat 20-26;
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-Nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain”20. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi 21. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.22”. Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”23. Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja 24.” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu 25” Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS Al Maidaah 20-26)”.

Inilah kadar iman bani Israel kepada Nabi Musa setelah berlalunya mukjizat-mukjizat yang bersifat indrawi. Hal ini tidaklah dapat disebut sebagai suatu perbandingan bila dihadapkan dengan keimanan kaum muslimin kepada mukjizat Al Qur’an. Mereka menerima Al Qur’an dengan sifat argumenatif dan memuaskan akal. Nabi saw pernah mengalami sesuatu kejadian ketika perang Badar seperti kejadian Nabi Musa dengan kaumnya. Lewat seorang juru bicara bernama Miqdad bin AL Aswad para sahabat Nabi berkata kepada Nabi; “wahai rasululah teruskanlah melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepada tuan. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada tuan sperti bani Israel kepada Musa ; “ Pergilah engkau sendiri dan Tuhanmu lalu berperanglah engkau berdua, sedangkan kami akan duduk disini saja”. Namun kami berkata; ”pergilah tuan dan Tuhan tuan untuk berperang bersama kami menyertai tuan berdua. Demi Allah sekiranya tuan memberi kami berjalan sampai daerah Baequl Ghamat niscaya kami menyertai tuan dengan sabar untuk kepentingan itu sehingga kami sampai di tempat itu”.
ooOoo

 

Dialog ke sepuluh;
ISI AL QUR’AN YANG SALING BERTENTANGAN
SATU SAMA LAINNYA

Muhammad datang ke gedung Seminary ketika terjadi dialog kesepuluh dan ia dapati sang Pastur sudah menunggunya disana. Kemudian terjadilah dialog antara keduanya.
P: Wahai Muhammad, mukjizat Al Qur’an tidaklah cukup membuat bangsa Arab lemah untuk menandinginya jika sekedar mengenai aspek gaya bahasa dan susunannya yang indah. Tetapi disamping itu haruslah Al Qur’an mempunyai sifat tidak terjamah oleh kebathilan baik semasanya maupun kemudian hari, sebagaiman disebutkan pada beberapa suratnya. Sekiranya Al Qur’an benar dari Tuhan , tentulah tidak ada saling bertentangan di dalamnya atau kesalahan di dalam menyebutkan kejadian sejarah atau keterangan asal-usul keturunan  dan lain sebagainya.
M:  Kami umat islam , mengakui apa yang anda katakan itu wahai Pastur dan kamipun mempercayainya. Hal seperti itu Tuhan sendiri telah memfirmankan di dalam surat Fushilat 42;
“ Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Ash Fushilat 41:42)”.
Hal ini menurut kami sudah termasuk dalam bagian kemukjizatan Al Qur’an. Karena kalau Al Qur’an ini buatan manusia sudah tentu akan mengalami kekeliruan dan kelupaan sebagai bagian dari sifat manusia.
P: Wahai Muhammad, saya tidaklah mengatakan sesuatu secara ngawur. Saya mengatakan sesuatu itu dengan dengan fakta-fakta dan akan saya sebutkan contoh-contohnya.
Al Qur’an menyebutkan Nasab Maryam , ibu isa , kepada Imran, bapak Musa dan dikatakannya sebagai saudara Harun. Padahal Musa jauh lebih dahulu adanya dari Isa yang kurang lebih 1600 tahun yang lalu. Sedangkan bapak Maryam namanya adalah Haali atau Aali, keturunan Nabi Dawud dan Daud keturunan Lawi bin Ya’qub. Sedangkan Musa  dan Harun kerutunan Lawi bin Ya’qub.  Karena itu bagaimana Al Qur’an bisa menyebutkan Imran sebagai bapak Mmaryam dan harus sebagai saudaranya? Padahal yang sebenarnya rasal-usul keturunan Maryam seperti saya sebutkan tadi.
Asal-usul keturunan Maryam ini dikatakan dari Imran , tersebutkan di dalam surat Tahrim 12;
“ dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat (QS At Tahrim 66:12)”.
Dan surat Ali Imran 33-36
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) 33, (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui 34. (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”35. Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”(QS Ali Imran 3 : 33-36)”.
Lalu dalam hal ini apa yang hendak engkau katakan wahai Muhammad?
M: Saya akan jawab  masalah ini kepada anda, bukan sekedar cukup soal itu saja sekalipun bagi orang yang mau berpikir jernih ayat-ayat tersebut sudah cukup jelas. Sebab nampaknya anda ingin memperoleh suatu pengesahan untuk mencela Al Qur’an sekiranya terdapat kesempatan pembenaran Al Qur’an terhadap segala isi yang ada di dalam kitab-kitab suci anda, tetapi ternyata oleh   Al Quran tidak diterima kebenarannya. Bahkan terdapat banyak ayat Al Qur’an yang menjelaskan adanya pemalsukan yang anda masukkan di dalam kitab suci anda. Dengan dimikian Al Qur’an merupakan korektor terhadap kitab-kitab suci itu dan tidak sebaliknya, yakni kitab-kitab suci tersebut menjadi korektor terhadap Al Qur’an, sehingga dapat dijadikan suatu alasan untuk mencela Al Qur’an.
Tidaklah diragukan dengan keterangan ini apa yang anda sebutkan secara tidak kritis dan tanpa penelitian menjadi batal. Karena anda tidak mungkin membantah suatu dalil naqli secara provokatif, bila tidak diketahui sampai di mana akuratnya penukilan tersebut seperti yang telah diakui oleh ilmu pengetahuan dan perdebatan.
P: Uraian ini cukuplah merupakan jawaban wahai Muhammad. Namun tidaklah dapat memuaskan hati terhadap apa yang sudah saya sebutkan tadi. Lebih-lebih orang yang tidak mengakui kebenaran kitab kamu dan kitab kami dan ia hanya bersandar pada anggapan  bahwa ayat-ayat kitab suci itu hanya bathil karena adanya saling bertentangan di dalam dirinya sendiri.
M: Memang , wahai Pastur, terkadang orang-orang yang memusuhi agama menggunakan hal-hal seperti itu untuk mencela agama. Namun menurut saya bahwa jika apa yang sudah saya jawab itu tadi tidak cukup untuk membuktikan batalnya apa yang anda katakan,  akan saya tambahkan jawaban lain yang dapat diterimanya kebenaran isi dari kitab-kitan suci ini.
P: Wahai Muhammad, kalau anda dapat menyetujui apa yang ada pada kitab suci kamu dan kitab suci kami, seperti yang anda katakan maka berarti kita peroleh kesepakatan tuntas. Dan dengan demikian anda telah mempunyai pandangan baik terhadap kitab-kitab suci kami dan kitab suci anda.
M: Memang tidak ada salahnya, kalau Imran yang disebutkan sebagai asal-usul Maryam di dalam Al Qur’an itu adalah Imran ayah Musa. Karena dalam hal ini beliau seperti halnya Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan para leluhur yang syah sebagai asal-usul keturunan setiap orang Yahudi, karena mereka popular dan dihormati ditengah-tengah bangsa Yahudi. Di dalam Bible disebutkan  Isa duduk di atas kursi ayahnya , yakni Dawud. Padahal masa antara beiau dan Nabi Daud berjarak lebih dari sepuluh keturunan. Nabi Ya’qub pun berkata kepada Yusuf putranya di alam surat Yusuf 6;
“ Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari takbir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Yusuf 12:6)”.
Padahal Ibrahim adalah kakek tingkat kedua dan Ishaq kakek tingkat pertama.
Anda , wahai Pastur , jika mau meneliti kembali ayat-ayat yang anda kutip dari surat Ali Imran, dengan jelas anda akan menemukan bahwa Imran yang tersebut di dalam ayat-ayat ini orang satu. Karena nama tertentu kalau kembali lagi di sebutkan berarti orangnya itu-itu juga. Dan tidak diragukan bahwa Imran yang tersebut pada surat Ali Imran 33 adalah Imran ayah Musa.
Ibu Maryam namanya Hannad Putri Faqudza, saudara perempuan dari Isyasa (Ali Shabat) yang menjadi istri dari Nabi Zakaria. Keduanya keturunan Nabi Harun bin Imran. Dengan demikian Imran ini adalah kakek  dari ibu Maryam. Maka adalah benar jika dikatakan bahwa Maryam putri dari Imran, karena kakek yang sama  seperti yang juga disebutkan  di dalam Lukas 1 : 5 pada kitab Bible.
5Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. 6Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. (Lukas 1:5)
P:  Wahai Muhammad, apakah Imran ini sama dengan Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan nenek moyang bangsa Yahudi yang dahulu sehingga dipadang benar menghubungkan keturunan tiap-tiap orang  Yahudi kepadanya?
M: Imran sama dengan Ibrahim dan nenek moyang bangsa Yahudi terdahulu. Dan cukuplah untuk dikatakan bahwa anak keturunannya disebut bersama-sama dengan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang Allah beri kelebihan di antara manusia seluruh alam seperti yang disebut di dalam surat Ali Imran diatas. Mengapa Imran dan keluarganya boleh dianggap sama dengan Ibrahim dan keluarganya? Bukankah Musa dan Harun yang merupakan kedua putra Imran adalah orang-orang yang mengangkat derajat bani Israel, menyelamatkan mereka dari perbudakan di negeri Mesir dan membawa mereka ke tanah yang dijanjikan bagi mereka sehingga mereka menjadi  bangsa yang penting dan termasuk salah satu Negara besar.
P: Wahai Muhammad sekiranya saya bisa menerima keterangan mu bahwa Maryam boleh dikatakan sebagai putri Imran dalam pengertian seperti itu. Namun bisakah dibenarkan bahwa ia adalah saudara perempuan Harun, purta Imran. Mengapa anda mengatakan ia sebagai saudara perempuannya, bukan saudara perempuan Musa, yang menjadi saudara  laki-laki Harun?
M: Wahai Pastur,  soal ini mesti kembali kepada sejarah bani Israel, yang Nabi kami Muhammad saw, tidaklah mengetahui soal itu karena beliau buta huruf. Namun beliau adalah rasul Allah. Beliau mendapat ilmu dari Allah apa yang tadinya tidak pernah diketahuinya. Di dalam Al Qur’an disebutkan kepadanya tentang masalah ini dan lain sebagainya sebagai bukti bahwa keterangan tersebut bukan dari beliau sendiri.
Para pendeta Yahudi adalah anak keturunan Harun, para dukun bani Israel adalah penerima warisan mereka. Mereka menjadi pelayan baitul Maqdis seperti halnya bangsa Arab yang terdapat di dalam golongan yang menjadi pelayan di Ka’bah. Ketika Hanna, ibu Maryam menjadi dewasa , namun belum punya anak , lalu berdoa kepada Allah agar dikarunia anak laki-laki. Iapun bernazar untuk menyerahkan purtanya berkhidmat di Baitul Maqdis untuk menjadai salah seorang pendeta dan pelayanNYa. Allah mengabulkan permintaanyanya, sehingga kemudian ia mengandung Maryam. Ketika Maryam lahir, suaminya sudah meninggal dunia. Tatkala bayi perempuan itu lahir, ibunya membungkusnya dalam sebuah kain dan dibawanya ke Baitul Maqdis, lalu ia titipkan pada salah seorang pendeta keturunan Harun. Para  pendeta ini bersaing, siapakah yang memelihara bayi perempuan ini? Lalu mereka mengadakan undian dan yang keluar dari undian ini sebagai pemenangnya adalah Zakaria, suami bibinya Isyasa. Beliau sangat meperhatikan pendidikan si Maryam. Tatkala Maryam tumbuh sebagai seorang gadis, beliau membangun sebuah Mihrab di Baitul Maqdis untuk kepentingan Maryam. Bangunan ini pintunya ditengah. Untuk masuk kedalamnya harus memakai tangan dan tidak ada orang yang bisa masuk kedalam tempat  Maryam ini selain dari Zakaria sendiri.
Dengan  pendidikan seperti ini akhirnya Maryam menjadi salah seorang pendeta Yahudi, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat At Tahrim 12 ;
“ dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat (QS At Tahrim 66:12)”.
Di atas telah disebutkan bahwa para pendeta Yahudi adalah keturunan Harun, Sebab beliaulah  asal usul  Kakek yang pertama bagi mereka. Dalam hal ini dapat disamakan dengan kakek dari Qabilah-qabila bangsa Arab, suku Quraisy  Tamin, Qais, dan lain sebagainya. Antar suku Arab satu dengan yang lainnya memanggil dengan sebutan “ saudara Quraysi “ tersebut. Dengan ini dapatlah dikatakan bahwa adalah benar pengilan terhadap seseorang pendeta Yahudi dengan “saudara Harun”  bagi yang laki-laki begitu pula bagi perempuan yang mengikuti jejak  kependetaan ini, dipanggil dengan “saudara perempuan Harun”.
Ketika Maryam mengandung isa, kaumnya mencuriagainya berlaku serong dan mereka berkata kepadanya sebagaimana disebutkan di dalam surat Maryam 28;
“ Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, (QS Maryam 17:28)”.
Kaumnya memilih penggilan seperti itu kepada Maryam, karena seorang wanita seperti dia,  yang akan menjadi pendeta adalah tidak patut melakukan perbuatan yang menurut anggapan mereka dilakukan oleh Maryam. Tidaklah diragukan bahwa hal ini juga menunjukkan adanya pembenaran untuk menyatakan Maryam sebagai Putri Imran, ayahnya Harun. Karena kalaulah benar, menyatakan Maryam sebagai  “saudara perempuan Harun “  berarti dibenarkan juga menyatakannya  sebagai “ putri dari ayah Harun”.
P: Wahai Muhammad , keterangan ini baik sekali. Tetapi sayang , di dalam kitab-kitab tafsir dan kitab ulama anda yang terdahlu tidak saya temukan keterangan seperti itu.
M: Wahai Pastur, berapa banyak peluang yang ditinggalkan orang terdahulu bagi angkatan kemudian. Tetapi saya ingin mengingatkan anda  untuk selanjutnya , bahwa telah berselisih tentang nama ayah Maryam. Didalam injil  Ya’qub, sekalipun anda tidak mau mengakuinya,  bahwa ayah Maryam ialah Yahwi Yaqim, sebagaimana disebutkan Ibnu Khaldun, yang sama artinya dengan Imran ( dalam bukunya Al-bar hal 144).
Di  dalam injil Lukas  , namanya disebut Haali atau Thaali. Kata Lukas : ketika telah Yesus telah menginjak umur kurang lebih 30 tahun, beliau ini dianggap oleh masyarakat sebagai putra Yusuf ibnu Halali bin Minsat ( edisi Bible  Indonesia =   anaknya Yusuf, anaknya Eli dan anaknya Matat) . Hal ini jelaslah bahwa Haali adalah ayah Yusuf bukan ayah Maryam.
” 23Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, 24anak Matat, (Lukas 3:23)
Tetapi Injil Matius  menjelaskan asal keturunan Yesus sebagai putra Yusuf bin Ya’qub bin Matan. Maka jelaslah bahwa ayah Yusuf adalah Yaqub bukan Halii ;
“ Matan memperanakkan Yakub, 16Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus (matius 1: 15-16)”
Ketika para pendeta menemukan pertentangan-pertentangan antara sesama Injil, maka mereka mendakwakan bahwa Haali  adalah ayah Yusuf dari pihak Maryam ( saudara tiri), padahal ayah Maryam tidak mempunyai anak laki-laki. Lalu didalam injil Lukas dinisbatkan Yesus kepada Yusuf sesuai dengan apa yang sudah  terkenal di kalangan bangsa yahudi.
Dialog ini berhenti sampai disini. Para pengunjung bubar untuk hadir kembali besok mendengarkan dialog berikutnya.
ooOoo
Dialog ke sebelas;
BENARKAH AGAMA MUHAMMAD
KELANJUTAN AGAMA SEMUA NABI?

Para hadirin dalam dialog kali ini telah berkumpul pada waktunya,  dan Pastur Z menyampaikan beberapa tuduhan kepada Muhammad.
P : Wahai Muhammad anda beranggapan, bahwa islam adalah agama Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq dan para Nabi-Nabi dahulu, seperti tersebut pada surat Al Baqaraah 132 ;
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS Al Baqaraah 2:132)”.
Bagaimana anda bisa dikatakan mengikuti agama para Nabi dahulu? Padahal para Nabi itu kiblatnya di Baitul Maqdis, sedangkan kalian berkiblat ke Ka’bah. Sekiranya agama anda sama dengan mereka, tentulah kiblat anda ke Baitul Maqdis seperti mereka.
M: Tuduhan semacam ini telah pernah dikemukanan orang Yahudi di masa hayat  Rasullulah. Namun Al Qur’an telah membantahnya dengan menyatakan bahwa kiblat bukanlah persoalan pokok agama. Sebab pada dasarnya agama dapat dilihat dari ciri-ciri prinsip-prinsip yang benar, hukum-hukum yang adil dan aturan akhlak yang mulia yang menjadi materi dakwahnya. Sedangkan Kiblat bukanlah merupakan pokok persoalan yang permanen dalam agama, karena Tuhan berfirman dalam surat Al Baqaraah 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS Al Baqaraah 2:177)”.
Selanjutnya Kiblat dipergunakan sebagai arah di dalam shalat tempat manusia menghadap dirinya kepada Tuhannya. Sedangkan Allah tidak bertempat di sesuatu arah yang khusus sebagaimana disebut di dalam firmannya di surat Al Baqaraah 115;
“ Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS Al Baqaraah 2 : 115)”.
Batul Maqdis baru dibangun pada masa Nabi Sulaiman dan hanya sejak saat itulah dijadikan Kiblat . Jadi Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Nabi-Nabi sebelumnya tidak menghadap ke Baitul Maqdis.
P:  Tidak disangsikan lagi , bahwa Baitul Maqdis lebih baik dari Ka’bah. Karena yang membangun adalah salah satu Nabi Allah, sedangkan Ka’bah merupakan salah satu tempat pemujaan berhala. Dimana patung dan area mereka tidak patut menjadikan Ka’bah sebagai kiblat dan bersekutu dengan kaum penyembah berhala dalam menghormati tempat tersebut.
M : Sejarah membantah keterangan anda tentang Ka’bah itu, wahai Pastur. Karena tempat ini dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismael. Ibrahim telah diwajibkan untuk melakukan haji sesudah selesai membangun . Ibrahim memohon kepada Allah supaya Makkah dijadikan sebuah kota yang aman. Penduduknya dilimpahi penuh rezki, buah-buahan dan umat manusia dijadikan hatinya selalu tertarik kepadanya. Dengan demikian Ka’bah merupakan rumah suci yang lebih tua dari pada Baitul Maqdis. Bahkan rumah tertua yang pernah dibangun oleh manusia untuk tempat beribat menyembah Allah, sebagaimana tersebut di dalam  surat Ali Imran 96;
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia                          (QS Ali Imran 3:96)”.
Jadi Ka’bah lebih baik dari Baitul Maqdis ,  karena pendirinya ialah Ibrahim , bapak para Nabi, rumah pertama yang dibangun oleh manusia untuk tempat beribadat. Setiap yang kuno memiliki  nilai kehormatan dan kesuciannya. Jika bangsa Arab mengotori Ka’bah ini dengan patung dan berhala-berhala, maka kesalahannya bukanlah menjadi tanggung jawab Ka’bah, tetapi pada mereka yang menempatkan berhala dan patung tersebut serta orang yang menyembah dan menjadikannya alat mediator beribadah kepada Allah. Maka tugas orang yang berdakwah kepada tauhid berjuang membersihkan Ka’bah ini dari kekotoran tersebut. Islamlah yang telah melaksanakan perjuangan suci ini sehingga dapat mengembalikan Ka’bah kepada pangkuan agama Tauhid, menjadikannya kiblat kaum muslimin dan diakui kelebihannya yang oleh agama-agama lainya tidak pernah mengenalnya.
P: Kami tidak dapat menerima keterangan anda , wahai anak muda, bahwa ka’bah hasil dari pembangunan Ibrahim dan Ismael , karena kedua orang ini belum pernah ke kota makkah dan tidak pula ada hubungan dengan penduduknya. Di dalam  Taurat disebutkan, bahwa Ismael dan ibunya tatkala keluar dari rumah Ibrahim, mereka  tinggal di daratan Paran, yakni daratan Sina, yang terletak antara Mesir dan negeri Tsamud, yang jauhnya puluhan kilometer dari Mekkah.
M: Sudah saya terangkan kepada anda , wahai Pastur, bahwa Taurat tidaklah menjadi suatu argumentasi yang benar dalam penilaian kami. Sebab tidaklah setiap yang tertera di dalamnya dapat kami terima kebenarannya. Jadi hal ini sudah cukuplah sebagai bantahan atas tanggapan anda tentang Ismael yang katanya tidak pernah tinggal di kota Makkah dan ia bersama bapaknya tidak pernah membangun Ka’bah.
Di dalam Taurat disebutkan bahwa Hajar dan putranya, Ismael, ketika keluar dari rumahnya Ibrahim, mereka menuju kesatu daratan bersama Bi-ir Saba’. Di  sini sang bayi hampir binasa karena kehausan. Kemudaian mereka tinggal di daratan Paran. Tidaklah disangsikan bahwa daratan Bi-ir Sab’ yang dimaksud adalah  daratan Sinai itu sendiri. Jadi sesudah daratan Paran adalah Makkah dan Hijaz. Ahli-ahli gelogi menerangkan bahwa daratan Paran itu terletak di antara Makkah dan Sinai. Paran adalah sebuah gunung  di daerah Hijaz.
Hal ini mudah dimengerti, karena bangsa Arab pendatang  di dalam Taurat dan kitab-kitab suci lain dikenal sebagai golongan Ismael. Sedangkan bangsa  Arab pendatang ini menisbatkan silsilahnya kepada Adnan, yakni nenek dari bangsa Quraysi yuag pertama, yang tinggal di Makkah. Di dalam Kitab Kejadian pada Taurat disebutlkan bahwa ; “ (Allah) aku telah mengabulkan permintaan Ismael, seorang yang aku beri berkah, aku besarkan dan aku beri karunia yang banyak, sehingga ia melahirkan dua belas tokoh dab Aku jadikan dia suatu bangsa yang besar.
Seandainya suku Quraisy dan bangsa-bangsa Arab pendatang lainnya bukan merupakan keturunan Ismael, berarti keterangan Taurat itu tidak benar dan injil Allah kepadanya tidak dipenuhi, padahal Allah tidak pernah menyelahi janjinya. Karena di Makkah tiada keturunan Ismael yang Allah beri berkah dan diperbanyak keturunannya serta tidak ada suatu bangsa besar di penjuru manapun di bumi ini yang syah dinisbatkan kepada beliau. Maka kalau hal ini tidak benar, lalu dari mana asal-usul bangsa beliau tersebut jika mereka bukan bangsa Arab pendatang? Dimana tempat mereka itu bermukim, agar janji Tuhan yang tidak pernah menyalahi janjiNYa itu menjadi suatu kenyataan dan kabar gembira terujud, karena tiadalah kebohongan dengan kabar tersebut.
Di samping itu bahasa Arab pendatang ini dekat sekali dengan bahasa Hibru (Yahudi) , yang merupakan bahasa kebangsaan Yahudi. Adanya persamaana-persamaan antara dua bahasa ini tidak mungkin timbul jika tidak ada hubungan silsilah antara kedua kelompok ini. Sejarah telah menerangkan adanya hubungan tersebut. Diriwayatkan bahwa bangsa Arab bersilsilah kepada Ishaq bin Ibrahim. Disini ilmu sejarah dan ilmu bahasa sejalan di dalam menegaskan kebenaran adanya hubungan dan cukup sebagai dalil kebenaran.
P: Jika kedudukan Ka’bah bagi anda seperti itu halnya, mengapa anda dahulu ragi-ragu menjadikan Ka’bah sebagai kiblat anda? Karena sebelumnya anda telah menjadikannya kiblat yakni sebelum Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Tetapi kemudian anda  berpindah ke Baitul Maqdis pada masa awal-awal anda tinggal di Madinah.  Lalu anda kembali lagi ke Ka’bah dan menjadikan Kiblat di dalam shalat anda serta tempat  tujuan Haji pada bulan-bulan Haji.
M: Saya akan terangkan kepada anda rahasia masalah ini, wahai Pastur yang mulai. Islam menjadikan Ka’bah sebagai kiblatnya pada masa-masa awal munculnya. Karena Ka’bah lah merupakan kiblat fitrah bagi agama kami. Sebab setiap agama punya Kiblat yang dijadikan arah pemeluknya di dalam shalat, tempat mereka berkumpul setiap tahun untuk berhaji, adalah menjadi kepentingan setiap pemeluk agama mempunyai Kiblat  khusus demi menghindari kekisruhan dan pertentangan. Bila telah sepakat mereka menghadap ke satu Kiblat untuk berhaji atau yang lain dapat diharapkan kekisruhan dan pertentangan mereka dapat dihindari sebagaimana firman NYa dalam surat Al Baqaraah 148;

“ Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al Baqaraah 2:148)”.

Umat islam telah menggunakan Kiblat ini pada masa-masa mereka tinggal di Makkah. Tatkala mereka Hijrah ke Madinah wawasan dakwah Islam semakin luas, sebab di sana terdapat bangsa Arab, Yahudi, dan Nasrani yang ingin dijadikan sasaran dakwah Islam dan bertujuan menghimpun mereka dalam satu agama guna mengibarkan paji perdamaian di tengah mereka, memupus perperangan menyebarkan panji perdamaian pada semua manusia dan memupus perperangan antar bangsa-bangsa seluruhnya.
Namun umat Yahudi dan Nasrani sulit menerima Ka’bah sebagai kiblat mereka, bahkan menyebabkan mereka salah faham terhadap  dakwah islam. Mereka menyangka Islam merupakan dakwah  politik kebangsaan demi politik bangsa Arab, mengajak bangsa-bangsa lain ke arah Ka’bah dalam shalat dan haji agar nantinya dapat menjadi pemimpin mereka semua, pasar-pasar mereka supaya laris setiap tahun karena datangnya orang-orang haji ke tempat itu. Islam ingin menghapus prasangka buruk seperti ini dari benak mereka, bersedia mengorbankan kiblatnya  bergabung dengan kiblat mereka sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak beriman kepada agama baru ini. Alangkah ringannya untuk berkorban, sekiranya memang akan memberikan hasil positif kepada diri mereka dan semua manusia menjadi satu saudara di dalam agama ini, tidak ada fanatisme kebangsaan maupun golongan , tidak ada perang maupun permusuhan. Sebab islam tidaklah menganggap kiblat sebagai perkara yang dominan dibadingkan dengan nilai kepentingan mempersatukan umat manusia di dalam satu wadah islam. Islam juga tidak bermaksud untuk mengarahkan manusia ke Ka’bah atau Baitul Maqdsis atau ketimur, maupun ke barat sebagaimana maksudnya,  membawa manusia pada tujuan yang luhur dan cita-cita yang lebih tinggi karena semua arah adalah milik Allah. Kemanapun orang menghadap, maka dihadapkannya ia  dapat menemui Allah. Karena yang utama di dalam agama, ialah kita semua memasrahkan diri kehadapanNYA, kita bersatu di dalam wadah, satu agama yang menghimpun kita semua dalam satu wadah. Memupus perpecahan kita, memberikan hak-hak yang sama kepada semua manusia dan memandang manusia sama derajat.
Tatkala pengorbanan islam seperti ini tidak membuahkan hasil apa-apa, Bangsa Yahudi dan umat Nasrani tetap fanatik dalam agamanya, maka Islam kembali kepada Kiblat asalnya, yakni ke Kiblatnya sendiri satu-satunya, dan umat Yahudi punya kiblat sendiri begitu juga Nasrani. Pemecahan masalah semacam ini akan lebih dekat kepada upaya menciptakan perdamaian daripada memaksa mereka menerima satu kiblat. Sebab mereka adalah golongan yang keras kepala memusuhi Islam, fihak yang sangat suka membenci. Maka menaruh jarak dengan mereka di dalam persolan ini adalah lebih selamat dan setiap agama memiliki Kiblatnya sendiri yang lebih bisa mendorong kepada suasana menciptakan perdamaian.
ooOoo

Dialog ke duabelas;
BENARKAH ISLAM SUATU AGAMA UNIVERSAL?

Pada dialog kali ini Muhammad datang terlambat seperempat jam. Karena Trein yang ditumpanginya mengalami kerusakan kecil. Para pengunjung telah menanti-nantinya. Kemudian mereka duduk laksana seorang sedang kehausan menanti air. Sebab diaolog-dialog yang telah berjalan menarik perhatian mereka sepenuhnya, sehingga mereka setiap hari selalu merasa dituntut untuk mengikutinya.
Ketika Muhammad hadir mengambil  tempat di samping sang Pastur,  sesudah lebih dahulu menyampaikan permintaan maaf kepada hadirin atas keterlambatannya yang terjadi diluar kemampuannya. Kemudian Pastur mulai melanjutkan tuduhan-tudahan lainnya. Dan sebagaimana biasanya , Muhammad pun mulai menjelaskannya.
P: Wahai Muhammad, anda telah menyebutkan bahwa islam adalah agama universal untuk semua bangsa. Setiap bangsa dalam pandangan Islam adalah sama. Islam bertujuan menyatukan manusia dalam satu agama, tiada kelebihan satu bangsa dengan yang lainnya. Bahkan dalam kebijaksanannya mempunyai pandangan kemanusiaan universal, bukan pandangan nasionalistis , seperti yang diikuti oleh Negara-negara kuno sebelumnya atau Negara-negara modern sekarang.
Adakah pandangan ini sesuai dengan ciri yang telah berjalan pada Negara islam yang bercorak Arab? Sebab yang menjadi bahasa penghubungnya adalah bahasa Arab, pemiminnya juga orang Arab, sehingga bangsa Arablah yang memimpin Negara mereka ditengah bangsa-bangsa bukan Arab. Bahasa Arab mendominir bahasa-bahasa lain. Hal ini telah berjalan di masa Nabi anda, khalifah yang empat sesudah beliau ( Abu Bakar, Umar, Utsman, dan  Ali ) , pada masa dinasti Ummmayah dan di nasty Abbasiyyah. Negara anda tidaklah mengalami perubahan dari bentuk semacam ini sampai datangnya bangsa-bangsa lain yang merampas kekuasaan dari bangsa Arab , sehingga tumbuhlah Negara Turki Utsmani dan Negara-negara lain yang tidak lagi bercirikan Arab.
M: Wahai pastur yang terhormat, Islam menghendaki menyatukan semua manusia dalam satu agama, bukan satu Negara dan bukan satu bangsa maupun satu bahasa. Allah , Tuhan pencipta umat manusia , telah menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Sekiranya Allah berkehendak menjadikan mareka satu bangsa saja , niscaya terjadilah, namun tidaklah demikian yang menjadi kehendakNya, sebagaimana firmanNya pada surat Hud 118;
“ Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (QS Hud 11 :118)”.
Jadi islam tidaklah mempersoalkan pentingnya lestarinya bangsa-bangsa dan suku-suku ini, ciri-ciri bahasa , dan tradisi mereka masing-masing. Tetapi yang menjadi kepentingan Islam, ialah untuk menimbulkan saling mengenal antar bangsa-bangsa dan bukan saling bertengkar, saling mencintai dan bukan saling membenci, agar yang lemah dapat hidup dengan aman di samping yang kuat dan yang kuat tidak mempunyai nafsu rakus menjarah tanah air bangsa yang lemah, mengintai harta kekayaannya, menghalangi usaha mencapai tujuannya, sehingga bangsa-bangsa yang lemah selamat dari penderitaan dan terhindar dari kekafiran. Inilah Qur’an kami yang ada di hadapan anda, wahai pastur. Anda tidak akan menemukan satupun ayat yang menyatakan agar berupaya membangun sebuah Negara Arab, menjadikan bangsa Arab mendominir bangsa-bangsa lain dan menjadikan bahasa Arab di atas bahasa yang lain. Sikap seperti itu hanyalah tumbuh karena fanatisme kebangsaan yang justru hendak dipupus oleh Islam, baik fanatisme antar bangsa ataupun antar suku di dalam satu banga.
P: Adakah saya boleh memahami apa yang anda ucapkan itu , wahai Muhammad, menyatakan bahwa Islam tidaklah berupaya untuk mendirikan suatu Negara, misalnya sepertri Nasrani yang didalam perkara seperti ini tidak menaruh kepentingan kecuali hanya dimaksudkan untuk memperbaiki akhlak manusia atau mengurus akhirat semata-mata.
M: Tidak begitu , wahai pastur. Kalau islam ini seperti agama Nasrani di dalam masalah kenegaraan, tentulah tidak punya makna apa-apa Islam ini sesudah agama Nasrani. Islam sebenarnya muncul untuk mengatur ketertiban masalah dunia dan akhirat, sehingga ia menjadi sebuah agama yang utuh lagi sempurna dan merupakan penutup risalah langit ke bumi. Jadi islam berupaya untuk mendirikan sebuah Negara ideal di bumi ini , guna menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat umat manusia, menegakan keadilan, yang mencakup golongan fakir maupun kaya, golongan lemah maupun kuat, golongan Muslim, Yahudi , maupun Nasrani, bangsa Arab, Parsi maupun Romawi. Dengan demikian jadilah Negara Islam kemudiannya sebagai satu Negara untuk segenap umat manusia atau beberapa Negara untuk beberapa bangsa, yakni satu Negara untuk bangsa Arab, satu Negara lagi untuk bangsa Parsi, satu Negara lagi untuk angsa Romawi dan setiap Negara untuk setiap bangsa. Akan tetapi semua Negara-negara tersebut dipayungi rasa perdamaian dan terhimpun pada ikatan persaudaraan, kesatuan  dan kasih sayang.
Islam tidak melarang misalnya satu Negara untuk bagsa Arab atau beberapa Negara untuk bangsa Arab. Iapun tidak melarang bangsa Parsi punya satu atau beberapa Negara. Begitu pula dengan bangsa-bangsa lain. Karena Islam suatu agama universal yang tidak mungkin mengutamakan bangsa Arab sehingga menjadikan suatu negara untuk mereka dan memaksa kepada bangsa lain untuk menerimanya.
Nabi saw pernah mengirimkan utusan menyampaikan surat-surat dakwah  kepada para raja di zamannya. Beliau tidak pernah berusaha merampas kekuasaan dari salah seorang diantara mereka. Tetapi beliau hanya mengajak mereka masuk  islam dan membiarkan kekuasaan itu ditangannya, asalkan mau masuk islam. Namun isi nya tidak menyimpang dari pengertian ini. Beliau tidak meminta pada raja-raja  Arab, Parsi, Romawi maupun Habsy , kecuali hanya  permintaan masuk islam dan tiap –tiap raja dibiarkan tetap dalam kedudukannya. Islam sedikitpun tidak merampas kekuasaan itu dari tangan mereka. Sebagai contoh, inilah surat Nabi kepada raja Harits nbin Abi Syamr.
” Dengan nama Allah yang pengasih lagi penyayang. Dari Muhammad rasulluah  kepada raja Harits bin Abi Syamr. Selamatlah orang yang mau mengikuti petunjuk, beriman kepada Alla  membenarkan-NYa. Aku mengajak anda untuk beriman kepada Allah semata-mata Tuhan yang tiada bersekutu. Anda akan tetap di dalam kedudukan anda”.
Raja Haruts adalah merupakan gubernur raja Hercules, pengguasa Romawi, berkedudukan di Damaskus. Nabi tidaklah berusaha mencabutnya dari kekuasaannya. Beliau hanya meminta kepadanya untuk masuk islam saja. Begitu pula isi surat-surat beliau yang lainnya kepada para raja lainnya.
Negara idealis dalam Islam mempunyai karakter universal, bukan berkarakter Arab, atau Parsi, atau Romawi dan lain sebagainya. Kepala negaranya Arab atau Parsi atau Romawi dan lain sebagainya. Tetapi seorang kepala Negara adalah seorang Muslim, apapun bangsanya. Karena Nabi saw telah bersabda ;      “ dengarkanlah dan patuhilah pemimpin kamu sekalipun yang memerintah kamu seorang budak Habsy yang kecil lagi hitam.”
Umar bin Khatab telah mengangkat Syuhaib Ar-Rumi untuk menjadi Imam shalat jamaa’h sepeninggal beliau sampai terpilihnya seorang Khalifah baru. Dan Syuaib tetap mengimani shalat jamaah  mereka  sampai terpilihnya Utsman bin Affan menjadi Khalifah. Dengan demikian Umar telah memberikan contoh kepada kaum muslimin bahkan hukum mereka memandang semua manusia  sama, tanpa melebihkan yang Arab dari bangsa-bangsa lain.
P: Tetapi memngapa bangsa Arab dominan dalam Islam sampai kekuasaan itu kemudian terlepas dari tangan mereka? Apakah hal ini merupakan ketentuan agama atau dari mereka sendiri
M: Sepeninggal Nabi saw , agama islam menyebarkannya masih hanya di tengah-tengah bangsa Arab sendiri. Jadi wajarlah kaumn muslimin memilih khalifahnya dari kalangan mereka itu sendiri. Mereka memilih seorang Arab yang ada di waktu itu dan orang-rang non arab hanya beberapa orang, tidak lebih dari sejumlah jari-jari tangan, misalnya : Salman al Farizi, Syahaib Ar Rumi dan Bilal al Habsy. Dengan sendirinya bangsa Arab tidak mau mengenyampingkan orang semacam Abu Bakar, Umar dan Ali sebagai tokoh yang akan memimpin mereka. Sebab tidak ada orang lain yang mempunyai kesanggupan untuk memerintah seperti tokah-tokoh tersbut, tidak ada pula orang lain yang mempunyai kesanggupan untuk membangun Negara yang baru tumbuh selain mereka itu. Padahal bangsa Arab baru saja melewati periode jahiliah. Karena itu tidak mudah bagi mereka untuk menerima kepemimpinan orang  lain seperti Salman, Syahaib dan Bilal ini.
Kemudian silih bergantilah peristiwa demi peristiwa dan bangsa Arab terlihat dalam berbagai perperangan yang terus menerus dengan bangsa Parsi, Romawi, dan lain sebagainya. Perperangan-perperangan semacam ini sudah tentu menjadi faktor penentu mengapa Negara islam hanya terpegang di tangan bangsa arab, sehingga dinasti bani Ummayah benar-benar bercorak Arab saja. Tetapi tatkala dinasti Abbasyah dapat berdiri dengan bantuan bangsa Parsi, mulailah muncul golongan dalam menggalang kekuasaan Negara dan peranan Arab mulai melemah. Kelemahan bangsa Arab ini terus berjalan sampai saat runtuhnya kerajaan Bani Abbasyah. Kemudian muncullah di belahan timur Negara turki Utsmani yang dapat menyebarkan kekuasaannya ke sebagian besar Negara-negara Islam di Timur maupun di barat. Kaum muslimin akhirnya merasa lebih dekat kepada Turki dari pada bangsa Arab dan lain-lainnya. Sebab dalam Islam pemerintahan itu bukanlah khusus di tangan satu bangsa saja, tetapi dapat dipegang oleh siapaun yang mendapat persetujuan kaum muslimin untuk menjadi penguasa baik dari kalangan Arab maupun yang lainnya.,
ooOoo
Dialog ke tigabelas
SIKAP ISLAM TERHADAP ILMU DAN FILASAFAT

Pada dialog kali ini kedua pembicara sepakat untuk mengambil tema tentang pandangan Islam dan Kristen terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat sebagai objek dialog kali ini. Karena itu banyak kalangan terpelajar yang hari ini berlomba hadir guna mengikuti dialog, agar dapat mengetahui pandangan  agama pada umumnya terhadap ilmu dan filsafat dan khususnya agama Islam dan agama Nasrani. Kali ini pastur Z memulai pembicaraannya.
P: Islam bersikap permusuhan terhadap ilmu dan filasafat. Pandangan semacam ini terlihat terhadap kaum muslimin yang tidak mau mengupayakan kemajuan ilmu dan filsafat, seperti yang pernah dilakukan oleh Negara-negara lain sebelumnya dan oleh Negara-negara Nasrani dewasa ini, padahal di dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang menganjurkan untuk menuntut ilmu, diantaranya ialah surat Thaha 114 ;
“ Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”(QS Thaahaa 20:114)”.
Tetapi sayang , yang dimasksud dengan ilmu di dalam ayat ini ialah ilmu agama, seperti fiqih ilmu aqaid, dan lain sebagainya.
M: Pertama kali, wahai pastur, saya ingin agar anda mengetahui pandangan agama terhadap ilmu dan filsafat. Jika hal ini telah anda ketahui, selanjutnya akan saya terangkan kepada anda pandangan islam terhadap kedua hal tersebut dan bagaimana pula pandangan agama Kristen.
Tujuan agama adalah untuk dapat mengetahui kebenaran dengan melalui wahyu. Sedangkan ilmu dan filsafat bertujuan mengetahui kebenaran dengan melalui nalar dan akal. Kadi keduanya sama dalam tujuan tetapi berbeda caranya. Dengan cara yang berbeda ini tidaklah mungkin untuk menetapkan bahwa yang satu memandang yang lain sebagai musuh. Karena tujuannya satu, terkadang dengan dua cara tersebut, masing-masing dapat mencapai tujuan yang sama itu, tetapi  terkadang harus ditempuh dengan beberapa cara. Berbagai cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang sama ini dapat saling bekerjasama dan saling melengkapi. Agama mengakui bahwa akal adalah salah satu alat untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu dan filsafat juga mengakui bahwa wahyu merupakan salah satu alat untuk mendapatkan  pengetahuan. Karena itu tidaklah benar agama mempunyai sikap permusuhan terhadap ilmu dan sebaliknya ilmu serta filsafat bersikap perusuhan terhadap agama, baik dipandang dari segi tujuan mapun caranya.
P: Wahai Muhammad, saya sepakat dengan anda bahwa demikian itulah seharusnya sikap agama terhadap ilmu dan filsafat, tetapi bagaimana pandangan islam terhadap kedua hal tersebut?
M: Sekarang saya hendak terangkan kepada anda padangan –pandangan ini. Catatan-catatan ini akan berguna kelak ketika menerangkan sikap agama Nasrani terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat. Untuk menjelaskan pandangan Islam terhadap ilmu dan filsafat, maka terlebih dahulu perlulah diberi penjelasan arti kata “filsafat” dalam bahasa Yunani. Kedua , perlu penjelasan arti kata ini menurut filosof sendiri. Asal arti kata filsafat di dalam bahasa Yunani terdiri dari dua kata yaitu Phelos dan Sophia. Phelos artinya mengutamakan atau mencintai . Shopia artinya kenajikan. Jadi kata filsafat berarti mencintai kebajikan. Kata ini setelah digabungkan dalam satu kata yang ringkas (filsafat) lalu dalam bahasa arab bermakna “hikmah”. Dan menurut kalangan filosof sendiri, filsafat berarti mengetahui hakekat sesuatu menurut kemampuan manusia.
Al Qur’an terkadang menyebut hikmah dengan arti ilmu, sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqaraah 269;
“ Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS Al Baqaraah 2:269)”.
Begitu pula Allah menyebutkan ihwal beberapa orang ahli hikmah di dalam Al Qur’an, misalnya Luqmanul Hakim sehingga di dalam Al Qur’an dicantumkan satu surat dengan namanya . Dan terkadang Al Qur’an menyebut kata ini dengan arti hikmah itu sendiri sebagaimana firman NYa pada surat Luqman 12-19;
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”12. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”13. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu 14. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan 15. (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui 16. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) 17. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri 18. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (QS Luqman 31 : 12-19)”.
Tidaklah diragukan lagi hikmah masuk dalam kategori akhlak yang merupakan hikmah praktis, yaitu hikmah yang berada di dalam jangkauan kemampuan manusia merealisasikannya.
Begitu pula Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah memberikan hikmah kepada Yahya bin Zakaria semasa kanak-kanak sebagaimana tersebut di dalam surat Maryam 12;
“ Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (QS Maryam 19:12)”,

Hukum dimasukkan di dalam ayat ini ialah hikmah yang diberikan kepada nya sebelum diberi keNabian. Karena keNabian diberikan kepada seseorang setelah lewat umur tiga puluh.
Allah pun memberikan kepada beberapa orang NabiNya kenabian dan hikmah sebagaimana tersebut pada surat An Nisa’ 54;
“ ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar (QS An Nisaa’ 4:54)”.
Dengan demikian maka hikmah telah tercakup di dalam ruang ajaran yang disampaikan oleh Nabi saw, sebagaimana tersebut di dalam surat Al Jumu’ah 2;
“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS Al Jumu’ah 62:2) “,
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa hikmah sudah tercakup di dalam ajaran risalah Nabi saw. Untuk memupus kebodohan bangsa arab, agar dinatara mereka timbul kelompok terpelajar yang mampu membaca dan menulis, mengerti ilmu-ilmu agama dan dunia. Karena kata-kata “mengajarkan kitab kepada mereka” mengisyaratkan pengertian ilmu dunia. Sebab itu hikmah ini diberikan kepada Yahya semasih umur kanak-kanak sebelum menjadi Nabi. Dengan demikian menjadi jelas pula ilmu hikmah mempunyai cara yang berbeda dari cara wahyu, yaitu cara nalar dan akal. Sebab Yahya telah diberi hikmah ini sebelum beliau memperoleh wahyu. Berarti hikmah beliau sebelumnya hanya masih berupa akal dan nalar.
Dengan demikian sikap islam terhadap ilmu dan filsafat bukanlah sikap bermusuhan, tetapi merupakan tujuan yang dicari dan barang-barang yang hendak ditemukan kembali. Sebab itulah ada beberapa riwayat sahabat disebutkan “ hikmah adalah barang  orang mukmin yang hilang, karena itu hendaklah ia dicari dimanapun dapat diperoleh”. Maksudnya, hendaklah seorang mukmin menutut hikmah dari siapapun sekalipun dari orang kafir dan di negeri manapun, sekalipun diluar negeri islam. Jadi hikmah bukanlah ilmu agama. Sebab ilmu agama tidak bisa dicari dengan cara seperti itu, dan hanya bisa dicari melalui cara khusus.
P: Bila semacam itulah sikap islam terhadap filsafat, mengapa sebagaian ahli fiqih berjuang memeranginya?
M: memang sebagian ahli fiqih berjuang memerangi filsafat sesat, karena tidak didasari dengan nalar yang sehat. Sebab filsafat semacam itu tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh agama, bahkan berlawanan, sehingga manusia yang berfilsafat terjerumus di dalam jahil murakkab (bodoh membabi buta). Dia menyangka dirinya intelek padahal sebenarnya bodoh. Bodoh semacam itu sungguh sangat tercela. Namun ada sebagian ahli fiqih memerangi filsafat kerena kebodohannya terhadap filsafat dan hakekat islam itru sendiri. Ahli fiqih semacam ini boleh dijadikan alasan untuk menyalahkan agama kami.
P: Adakah sikap islam terhadap ilmu dan filsafat berlainan dengan sikap agama Nasrani terhadap keduanya?
M: Memang berbeda antara sikap Islam dan Nasrani terhdap ilmu dan filsafat. Sebab ajaran islam tidak ada yang bertentangan dengan akal dan fitrah yang sehat. Tetapi agama Nasrani, ajaran-ajarannya, seperti Trinitas , penyaliban dan penebusan dosa bersifat doktrin (mesti diterima tanpa boleh dipikirkan) dan menolak penalaran dan pembahasan. Dengan demikian maka sikap agama Nasrani sudah tentu bermusuhan dengan ilmu dan filsafat. Sebab filsafat hanya bisa diterima dengan pembahasan dan berdasarkan nalar.
P: Penjelasan anda ini tidak cukup menjelaskan sikap Nasrani terhadap ilmu dan filsafat. Maka untuk menjelaskan sikap agama Nasrani kehadap keduanya haruslah berdasarkan ayat-ayat Taurat atau  Injil yang memberikan uraian secara jelas, sehingga dapat dibuktikan adanya sikap permusuhan tersebut bukan sekedar sikap kesesuaian.
M: Wahai pastur, kalau anda memang  bersabar sudah barang tentu akan saya sebutkan ayat-ayat yang anda minta itu. Saya akan nukilkan kepada anda ayat-ayat sepeti itu yang telah termaktub di dalam buku “ bahaya pengajaran Taurat dan  Injil” yang ditulis oleh Charles Watt. Buku ini diterjemahkan dari bahasa inggris kepada bahasa Arab oleh Abdul Wahhab Salim At Tannir.
Di dalam buku ini disebutkan bahwa di dalam Taurat tersebut: “ hikmah adalah suatu pokok. Karena itu ambillah”. Kemudian disebutkan pula : dengan banyaknya  berhikmah( fislsafat) , berarti banyak kesedihan”. Kemudian disebutkan lagi; “ hikmah orang alim berarti kebodohan”. Inilah salah satu kutipan dari Perjanjin Lama.
Adapun perjanjian baru , dalam surat Paulus disebutkan ( hal ini merupakan catatan tertulis) : “ aku akan menghancurkan hikmah para filosof dan kutolak pikiran orang-orang yang mengerti”.
Tersebut pula didalam surat Paulus kepada penduduk negeri Kolose; “ Perhatikanlah, supaya tidak seoprang pun, yang karena tingkah filsafat kamu dan tipu daya kebathilan karena membeo orang banyak, mengikuti syarat-syarat orang pandai, tetapi bukan mengikuti Al Masih”.
Di dalam kitab suci tersebut memang tidak terdapat nash-nash yang lebih keras pernyataan sikapnya terhadap ilmu-ilmu dan filsafat dari pada nasih-nash ini. Dan tidak dapat diragukan lagi nash-nash seperti inilah yang mengilhami tokoh-tokoh gereja pada abad pertengahan untuk mendirikan pengadilan-pengadilan guna melakukan seleksi pemikiran ilmu dan filsafat ,  yang oleh sejarah dikenal dengan pengadilan-pengadilan yang sangat kejam. Pengadilan-pengadilan ini telah menjatuhkan hukuman mati terhadap orang-orang yang terbukti menekuni pekerjaan ilmu-ilmu dan filsafat. Diantara orang yang dijatuhi hukuman seperti ini  ialah Galileo, sarjana kosmografi, karena berpendapat matahari merupakan pusat alam raya dan bukan bumi.
P: Wahai Muhammad, anda telah menerangkan bahwa ada sebagaian tokoh agama anda memerangi ilmu pengetahuan dan filsafat karena kebodohan. Karena itu mengapa tidak boleh dikatakan bahwa apa yang terajadi dikalangan kamipun karena kebodohan pemuka-pemuka Nasrani di abad pertengahan.
Cobalah anda perhatikan bangsa-bangsa Nasrani didataran Eropah maupun Amerika sekarang menekuni ilmu dan filsafat dan tidak seoerang pun tokoh agama Kristen yang menentang atau memerangi mereka yang berkecimpung di dalam ilmu dan filsafat, seperti yang terjadi pada abad pertengahan.
M: Wahai pastur, tidaklah mungkin hal seperti itu dianalogikan , antara sikap tokoh-tokoh gereja Nasrani dengan beberapa ulama Islam itu. Sebab kami mempunyai keterangan-keterangan ayat suci yang mengetengahkan pujian terhadap masalah hikmah, menganjurkan menggunakan penalaran sebagai salah satu cara mencapai kebenaran. Sehingga orang yang menemukan kebenaran diberi pahala dan orang yang mengalami kekeliruan diampuni. Adalah suatu keharusan dalam mencari kebenaran itu dengan menunjukan dalil yang memuaskan penalaran. Maka bila sebagai ulama islam melanggar garis ketentuan ini membuktikan kebodohannya mengenai sikap agama mereka terhadap ilmu dan filsafat. Sebab itu tidaklah islam dapat disalahkan karena kebodohan mereka.
Adapaun tokoh-tokoh gereja Nasrani pada abad pertengahan mereka berpegang pada ayat-ayat Taurat dan injil yang mengencam orang-orang yang berkecimpung di dalam filsafat. Sebab orang yang tekun dengan filsafat akan tertimpa malapetaka besar, banyak sedihnya dan penderitaannya. Kemudian dinyatakan bahwa seorang yang berfilsafat berarti melakukan kebodohan. Kitab suci Nasrani menganjurkan membinasakan hasil filsafat para filosof dan menolak pikiran-pikiran orang yang mengerti. Maka dengan demkian tidaklah dapat dikatakan bahwa sikap mereka terhadap ilmu dan filsafat yang bermusuhan itu timbul karena kebodohan terhadap agama mereka. Jadi keadaan mereka tidak sama dengan sikap sebagian ulama islam yang bermusuhan terhadap ilmu dan filsafat.
Adapun bangsa-bangsa Nasrani pada zaman kita ini tidaklah dapat dijadikan satu alasan  untuk menilai sikap agama Kristen yang menekuni kedua hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dasar bagi sikap agama Kristen terhadap kedua hal tersebut. Sebab agama Kristen telah mereka kesampingkan dan ilmu serta Filsafat mengungguli kehidupan mereka dan menghancurkan kekuasaan tokoh-tokoh gereja serta pemerintahan-pemerintahan umat Nasrani yang sekarang adalah pemerintah duniawi yang sama sekali tidak menggunakan agama sebagai dasar. Selain itu sikap mereka terhadap ilmu dan filsafat pada hakekatnya tidaklah menjelmakan apa yang  menjadi sikap agama Nasrani terhadap keduanya. Karena itu adanya sikap mereka ini tidaklah dapat dikaitkan degan agama Nasrani. Adapun Islam telah memberikan sokongan terhadap ilmu-ilmu filsafat yang dilakukan oleh para Raja-rajanya yang bertanggung jawab terhadap agama , misalnya khalifah Makmun dari kerajaan Abbasyiah, Khalifah  Yusuf bin Abdul Mukmin dari kerajaan Muwahhidin.
Dengan demikian tidaklah benar adanya tuduhan yang menyatakan bahwa kaum muslimn tidak pernah membagun ilmu dan filsafat seperti yang dilakukan oleh umat-umat lainnya.
ooOoo

Dialog ke empatbelas;
NERAKA DAN SYORGA BERSIFAT ROHANIAH BUKAN MATERIAL

Pokok pembicaran dalam dialog ini ialah soal akhirat yang oleh Al Qur’an telah diberi gambaran visualitas tentang adanya pahala di syorga dan siksa dineraka.  Setelah Muhammad dan pastur mengambil tempat masing-masing, mulailah sang pastur mengajukan tuduhan-tuduhannya.
P: Wahai Muhammad , kami beranggapan bahwa kenikmatan akhirat dan siksanya bersifat abstrak (rohaniah). Dalam hal ini para ahli ilmu dan filsafat yang kuno maupun yang modern sejalan dengan kami. Kenikmatan bersifat rohaniah adalah kenikmatan sempurna yang selaras bagi kehiduan di akhirat. Kenikmatan materi adalah kenikmatan tidak sempurna, bahkan tidak dianggap sebagai kenimatan bagi orang-orang yang berjiwa suci. Karena bagi mereka yang dinilai sebagai kebahagian adalah terletak pada ilmu dan pengetahuan dan keberhasilan mencapai derajat tinggi disisi Tuhan.
Namun Al Qur’an telah menjadikan soal nikmat dan siksa neraka sebagai soal yang amat dirasakan. Syorga dinyatakan sebagai tempat makan dan minum yang juga memiliki sungai –sungai terdiri dari madu dan khamar. Saya tidak mngerti, mengapa di dunia ini Islam melarang minum khamar tetapi di akhirat kelak diperbolehkan. Penjelasan ini tersebut di dalam surat Muhammad 15;
(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya? (QS Muhammad 47:15)”.
Apakah hakekat sungai-sungai di dalam syorga itu? Dari mana bersumber alirannya dan sampai dimana berakhir muaranya? Lalu apa faedahnya?
Di dalam Al Qur’anpun disebutkan bahwa di dalam syorga terdapat gadis-gadis cantik yang sangat menyenangkan para penghuninya, sebagaiman yang tersebut di dalam suarat Ar Rahman 70-74;
“ Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik 70. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan 71? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah 72. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan 73? Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin (QS Ar Rahmaan 55: 70-74)”.
Di dalam Al Qur’an disebutkan pula bahwa di dalam syurga terdapat tempat-tempat dengan pelayanan gadis-gadis muda belia yang mengitari para peminum, sebagaimana tersebut di dalam surat Al insane 15-19;
“ Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca 15, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya 16. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe 17. Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil 18. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan (QS Al Insaan 76 : 15-19)”.
Apakah hakekat tempat-tempat minum di syurga? Bagaimanakah dengan gadis-gadis muda belia yang mengedarkan minuman disana? Apakah kesenangan-kesenangan seperti itu sama degan kesenangan  yang ada di dunia ini?
M: Wahai Pastur , sabar sebentar. Anda anda telah berbicara dengan gaya retorik yang sama sekali tidak ada gunanya dalam pembicara yang bersifat analisis dalam dialog ini. Pembicaran anda menjadi musnah di hadapan penalaran yang benar dan argument yang bertumpu pada keyakinan, sehingga apa yang anda utarakan  secara retorik itu tidakalah menjadi pengaruh.
Anda telah mengatakan bahwa kenikmatan dan siksa diakhirat, menurut islam bersifat materil (dapat dirasakan) bukan bersifat rohaniah (moril). Kenikmatan dan siksa akhirat menurut islam dikenakan  pada badan dan roh sekaligus. Ini merupakan pandangan mayoritas umat islam, bukan semua umat islam. Karena beberapa filosof muslim dan akhli-ahli tasawufnya berpendapat bahwa keterangan Al Qur’an tentang nikmat dan siksa akhirat yang divisualisasi  dimaksudkan sebagai perumpamaan. Karena mayoritas manusia tidak akan sanggup memahami kenikmatan rohani. Karena itu lalu diberikan gambaran bersifat materi.
P: Wahai anak muda, apakah anda mengingkari bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan rohani?
M: Mayoritas kaum muslimin tidaklah beranggapan sebagai suatu hal yang menyalahi akal kalau kenikmatan dan siksa akhirat dikenakan kepada roh dan jasad. Tetapi disamping itu mereka berpendapat bahwa kenikmatan rohani lebih tinggi tingkatannya, sebagai firman Tuhan di dalam surat Taubah, 72.
“ Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar (QS At Taubah 9:72)”.
Disini keridhaan Allah, suatu yang bersifat rohani, dikatakan lebih besar dari kenikmatan jasmani yang tersebut sebelumnya. Pandangan seperti inilah yang sesuai dengan suatu agama yang mempunyai sifat tengah-tengah antara rohani dan jasmani, tidak melebihkan tuntutan rohani di atas kepentingan jasmani seperti yang dilakukan umat Nasrani. Kerena Nasrani merupakan agama zuhud, pengekangan diri dan kependetaan. Tatkala cara seperti ini yang ditempuh oleh Nasrani di dalam kehidupan dunia, maka masalah akhirat pun dipandang nya seperti ini, sehingga menjadikan segala sesuatu tentang manusia ini baik dunia maupun di akhirat diangap hanya punya sifat rohani. Pandangan ini seperti menyalahi sikap tengah-tengah dan karena itu dinilai tidak terpuji.
Wahai pastur yang terhormat, menurut saya kebahagiaan rohani memang merupakan kebahagiaan yang sempurna. Tetapi saya tidak sependapat dengan anda bahwa kebahagiaan semacam itu adalah kebahagiaan yang hakiki. Karena kebahagiaan itu terdapat pula diluar rohani, walaupun kebahagian itu tidak sempurna. Sebagai manusia yang hidup di dunia ini ada yang tidak dapat menghadapi kebahagiaan rohani. Maka bagi mereka ini yang dianggap kelezatan adalah yang bersangkutan dengan syahwat dan naluri, bukan yang bertalian dengan potensi akalnya. Maka kesenangan semacam ini tidaklah dipandang oleh akal sebagai hal yang tidak dapat diterima kalau ada  di akhirat kelak. Sebab kemampuan manusia itu berbebda-beda seperti halnya di dunia ini. Bilamana orang di akhirat kelak sama tingkat kesempurnaannya, niscayalah tepat sekali bila kenikmatan disana hanya bersifat rohaniah. Tetapi keadaan seperti ini tidak benar. Yang benar ialah  setiap orang akan dibangkitkan kembali sesuai dengan kondisinya ketika di dunia ini.  Ia akan menerima nikmat atau siksa akhirat sesuai dengan kondisinya. Ia akan memperoleh kenikmatan sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan jasmani dan rohaninya. Jika ia tidak memperoleh apa yang menjadi tuntuannya tentu ia merasakan suatu penderitaan, karena tidak dapat mencapai kehendaknya. Sedangkan syorga adalah merupakan tempat kesenangan tanpa ada sedikitpun penderitaan dan halangan. Oleh karena itu di dalam syorga ini menyediakan apa yang menjadi keinginan hati dan yang menghibur mata sehingga setiap orang mendapatkan apapun yang menjadi kesenangannya dan sedikitpun tidak akan merasakan penderitaan karena terhalang maskudnya.
P: Seorang terkadang menginginkan kesenangan yang seharusnya tidak boleh untuk dinikmati. Adakah di syorga nanti seseorang memperoleh apa saja kesenangan yang diinginkannya?
M: Seseorang yang menikmati kesenangan yang sebenarnya tidak boleh dinikmatinya hanyalah terjadi di neraka bukan di syorga. Di syorga hanyalah terdapat orang—orang yang berjiwa baik yang hanya menginginkan sesuatu kesenangan di bolehkan saja.
P: Mengapa begitu yang terjadi di dalam syorga, padahal disana ada tempat minum khamar?
M: Bukan begitu wahai Pastur yang mulia. Di Syorga tidak ada tempat-tempat minum khamar atau tempat-tempat hiburan terlarang. Khamar di syorga bukanlah khamar sebenarnya, tetapi cuma nama karena warnanya serupa dengan khamar di dunia atau yang sejenisnya, yang berasal dari perahan anggur. Tetapi tidak memabukkan seperti khamar di dunia. Khamar di dunia di cela karena memabukkan bukan karena warnanya ataupun asalnya yang berasal dari perahan anggur. Karena khamar syorga tidak memabukkan, maka dengan sendirinya bukan perbuatan dosa ditempat-tempat minumnya ini bukan merupakan hiburan tercela. Hal ini Allah nyatakan di dalam surat Al Waqiqh 17-19;
“ Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda 17, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir 18, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (QS Al Waqia’ah 56 : 17-19)”.
Jadi maksudnya mereka tidak sampai mabuk atau kehilangan kesadaran. Dengan demikian memperkuat penegasan ayat sebelumnya yaitu mereka itu tidak merasa pening karena minum khamar.
Hal ini tersebut pula dalam surat At-Thur 22-24
“ Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini 22. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa 23. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan             (QS At Thuur 52:22-24)”.
Namun anda , wahai pastur yang terhormat, telah menilai secara berlebih-lebihan terhadap khamar syurga yang tidak ada dosa untuk meminumnya. Padahal anda lupa bahwa anda tidak mengharamkan khamar di dunia yang ternyata menjadi sumber segala kejahatan. Bahkan anda membolehkan untuk golongan awam sampai elite, maupun pemuka-pemuka agama anda, sampai-sampai Paulus mensyaratkan di sidang supaya mereka menjadi pecandu khamar, sebagaimana ia katakan di dalam suratnya yang pertama kepada Timotius pada pasal ke tiga; “ Demikianlah pembela sidang haruslah bersikap tenang bukan bersikap seperti orang-orang yang berlidah dua, yang tidak banyak merindukan minuman khamar dan tidak menyenangi mendapat laba yang kotor.” Selanjutnya di dalam fasal ke lima dari suratnya ia berkata; “ Janganlah engkau menjadi orang yang senang minum air tetapi gunakanlah khmar sedikit demi perutmu dan kelemahanmu yang besar itu.”
Di dalam fasal kedua dari injil Yohana disebutkan ; “ pada hari ke tiga adalah perkawinan terjadi di Qana dan disana ada ibu Yesus. Diundang juga Yesus dan muridnya keperkawinan ini. Setelah habis meminum khamar ibu Yesus berkata kepadanya;” Tidak ada lagi pada mereka khamar”.Yesus berkata kepadanya ; “ Wahai perempuan, lalu bagaimana aku dengan engkau? Waktuku belum datang lagi.”
Di dalam fasal ke tujuh dari injil Lukas disebutkan : “ Bahwa Yahana Ma’madamu datang ke tempat perkawinan” tidakmau makan roti dan minum khamar. Karena itu lalu kamu mengatakan kepadanya setan. Datang seorang anak manusia makan dan minum, lalu kamu mengatakan kepadanya inilah manusia yang gemar makan dan minum khamar, gemar kepada pemetik hasil pertanian dan pembajak sawah.”
Kemudian Lukas berkata: “ kegemaranmu kepada khamar itu tidak terbatas Cuma di sini saja. “ Bahkan di dalam injil Matrius disebutkan; “ sesungguhnya kamu akan meminum khamar ini juga didalam kerajaan Tuhan”.  Disini disebutkan khamar yang sifat-sifatnya tidaklah mempunyai pengecualian sebagaimana khamarnya  yang disebutkan di dalam islam, yaitu sebagai khamar yang tidak menyebabkan orang berbuat dosa dan menimbulkan kelalaian, dan peminumnya tidak merasa pening dan menjadi mabuk.
Bahkan di dalam fasal 26 injil Matius disebutkan keterangan sebagai berikut ;”29Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku “.
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa di dalam syurga itu ada minuman khamar. Karena itu mengapa anda kemudian berpendangan bahwa syorga itu hanya bersifat rohani. Tidak bersifat jasmani. Padahal ayat tersebut seperti itulah  isinya? Dan mengapa pula anda , wahai pastur berbicara tentang khamar syorga yang ada pada agama kami dengan gaya bicara retorika yang memukau seperti itu? Padahal khamar syorga tersebut sama sifat-sifatnya seperti khamar di syorga anda. Khamar syorga hanya sekedar nama dan bukan khamar sesungguhnya.
Sampai disini dialog ke empat belas ini selesai. Para hadirin bubar utuk kembali lagi besok mendengarkan dialog selanjutnya.
ooOoo

Dialog ke lima belas;
PERKAWINAN NABI MUHAMMAD
DENGAN ZAINAB, BEKAS ISTRI ZAID

Pada dialog kali ini pokok pembicarannya ialah sejarah perkawinan Nabi saw dengan Zainab putri Jahsy. Dengan topik ini sang Pastor bermaksud menggiring Muhammad mengamati  kasus ini dari berbagai buku yang membahas persolan ini. Sang pastur menceritakan bahwa telah menelaah berbagai tulisan tentang sejarah kasus ini, tetapi tidak ada yang memuaskan hatinya dan ia berkeinginan untuk meneruskan dialognya ini dengan topik tersebut. Lalu sang pastur mulai pembicarannya.
P: Para periwayat dari kalangan anda menyebutkan bahwa Zainab putri Yahsy tadinya adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dahulunya menjadi anak angkat Nabi anda. Suatu ketika Nabi masuk kerumahnya untuk sesuatu keperluan lalu terlihat olehnya Zainab dalam pakaian kerudung, berparas putih cantik dan merupakan wanita Quraisy yang paling sempurna. Nabi merasa tertarik dan menganggumi kecantikannya. Saat itu beliau mengucapkan kata-kata ; “ maha suci tuhan yang mengendalikan hati.” Kemudian beliau pergi.
Tatkala suaminya datang di rumah, Zainab menceritakan kepadanya apa yang ia dengar dari Nabi anda. Maka diapun marfum dan mengerti maksudnya, saat itu timbul ketidak senangan di dalam hatinya kepada istrinya. Lalu ia datang kepada Nabi anda dan menceritakan keinginannya untuk berpisah dari Zainab. Lalu beliau bertanya ;” sesuatu apakah yang membuat engkau menjadi cemburu kepadanya?” jawabnya ;” tidak ada. Saya hanya melihat kebaikan semata-mata pada dirinya. Tetapi dia begitu menyombongkan dirinya kepadaku  karena kemuliaanya dan suka menyakiti hatiku dengan ucapannya”. Lalu beliau bersabda kepadanya ;” tetap peliharalah istrimu itu. Bertaqwalah kepada Allah di dlam mengurusinya”. Tetapi kemudian  ia menceritakannya karena ia mengerti bahwa Nabi anda berkeinginan kepadanya. Di dalam kasus ini kemudian turunlah firman Tuhan dalam surat Al Azab 37;
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi (QS Al Ahzab 33:37)”.
M: Wahai pastur yang mulai. Qur’an kami merupakan dasar pokok bagi kami. Sedangkan hadis-hadis dan riwayat di dalam agama kami hanya bisa diterima dengan syarat sesuai dengan Qur’an. Tetapi kalau tidak sesuai maka harus di tolak, tidak boleh diterima. Pada setiap agama akan mengalami noda karena sekelompok orang-orang bodoh yang memahami agamanya dengan tidak semestinya, atau karena tingkah laku orang-orang munafik yang membuat berita palsu dan memasarkannya di tengah-tengah orang-orang bodoh itu, sehingga laris di kalangan mereka. Merekapun mengambilnya sebagai bagian dari ajaran agama padahal sama sekali bukan ajaran agama. Jadi sebab-sebab seperti itu kiranya riwayat yang telah dicampurkan oleh beberapa ahli riwayat tentang sebab turunya ayat tersebut.
P: Kalau begitu apa sebenarnya sebab turunnya ayat tersebut , wahai Muhammad?
M: Kisah perkawinan Nabi dengan Zainab putrid Jahsy bukanlah berawal dari saat Zaid menceraikannya. Tetapi sebenarnya bermula jauh sebelum  saat Zaid mengawinanya. Dari sinilah awal pelacakan kita yang bisa mengantarkan kita untuk mencari kebenaran kasus ini dan terbuktinya kebohongan cerita yang telah anda ceritakan sekitar sebab turunnya ayat diatas.
P: Mengapa justru demikan wahai Muhammad?
M: Zainab putrid Umaimah , putri Abdul Muthalib , kakek Nabi saw sendiri adalah putri yang dipinang oleh Nabi untuk Zaid bin Haritsah, bekas budak beliau. Karena Nabilah yang telah membelinya pada kaum jahiliyah, lalu memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak. Ketika Nabi meminangnya untuk diri Zaid itu, Zainab mau menerimanya karena menyangka bahwa Nabi sendiri yang akan menikahinya. Tetapi tatkala ia tahu bahwa pinangan tersebut adalah untuk Zaid , ia enggan menerima dan berkata kepada Nabi ; “ Saya adalah Putri Bibimu, wahai Rasullullah, aku tidak rela diriku untuk dia”. Begitu pula saudara laki-lakinya, yaitu Abdullah bin Jahsy yang juga tidak menyukainya.
Dalam kasus ini kemudian turunlah firman tuhan dalam surat al ahzab 36;
“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (QS Al Ahzab 33:36)”.
Apa gerangan pentingnya kasus Zaid dan Zainab, sehingga Allah dan RasulNya justru yang campur tangan mengurus perkawinannya? Jika campur tangan ini dimaksudkan menghormati kedua pasangan itu, maka sebenarnya masih banyak orang-orang mukmin laki-laki maupun perempuan yang lebih utama dari kedua orang ini dan lebih patut mendapatkan kemuliaan seperti ini.
Mengapa Allah dan RasulNya mengharuskan Zainab kawin dengan Zaid , padahal ia tidak senang kepada suaminya? Bukankah perkawinan dalam islam hanya syah berdasarkan saling ridha dan pilihan bebas kedua belah pihak. Karena perkawinan termasuk fakta perjanian antara kedua belah pihak dan syarat syahnya fakta perjanjian ialah keridahaan dan pilihan bebas (kemauan sendiri).
Mengapa pada kali ini Nabi saw mengawinkan Zaid dengan Zainab, putri bibinya yaitu Umaimah? Padahal martabat dia lebih tinggi dari pada Zaid dan termasuk kalangan atas suku Quraisy , padahal pernah dahulu beliau mengawinkan Zaid dengan ummu Aiman bekas budak perempuannya dan ia melahirkan seorang putra Zaid yang bernama Usamah.
P: Pertanyaan-pertanyaan tadi sungguh bernilai sekali di dalam topik pembahasan ini, wahai Muhammad . Lalu apa jawaban anda terhadap pertanyaan-pertanyan tadi.
M: Wahai pastur, sebenarnya Zainab ini tidaklah pernah dipilih untuk menjadi istri Zaid yang sebenar-benarnya. Namun ia sesungguhnya terpilih untuk orang lain dengan maksud tersendiri.
P: Kalau begitu soal ini tidak mudah dipahami, wahai Muhammad yang kami ketahui ialah bahwa seseorang istri hanya lah dipilih untuk suaminya saja.
M: Sebenarnya Zainab ini sejak awalnya dimaksudkan untuk Nabi saw. Tetapi sebelum menjadi istri Nabi ia dipilih untuk menjadi istri Zaid lebih dahulu.
P: Kalau Zainab dipilih sejak awal untuk Nabi, bukan untuk Zaid, mengapa tidak dari awalnya saja beliau mengawininya? Apa hikmah beliau lebih dahulu mengawini dia dengan Zaid?
M: Hikmahnya ialah Allah hendak menghapuskan adopsi baik pada diri Zaid maupun yang lainnya yang telah menjadi kebiasaan bangsa Arab, sehingga anak angkat bisa menjadi pewaris sama seperti anak kandung. Tiap-tiap keluarga mempunyai hak atas harta pemberi waris. Maka tidak syah anak angkat menerima harta waris  dengan alasan sebagai anaknya, lalu sipewaris mengharamkan warisnya sendiri mewarisi hartanya. Perbuatan semacam ini jelas-jelas suatu kezaliman dan kebohongan yang tidak dapat diterima. Dalam hal ini Tuhan berfirman pada surat Al Azab 4-5;
“ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar) 4. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al Ahzab 33:4-5)”.

Adat adopsi sudah begitu kokoh dikalangan bangsa Arab dan Nabi saw berkepentingan untuk menjadi pelopor di dalam menghancurkan kebiasaan ini. Maka beliau memilih Zainab untuk secara formal dikawinkan dengan Zaid, padahal beliau sendiri menaruh hati padanya. Langkah ini beliau ambil, sebab beliau tahu bahwa kelak Zainab akan menjadi salah seorang istrinya. Karena itu beliau kawinkan dia kepada Zaid, walaupun tidak senang kepada calon suaminya. Lalu turunlah ayat Al Qur’an yang menentapkan perkawinan Zainab dengan Zaid sebagai langkah pendahuluan untuk menghapuskan adat adopsi dan dipilihkan dari  orang yang punya hubungan nasab dekat dengan Nabi sendiri.
Tatkala ia telah dikawinkan dengan Zaid ternyata pergaulan suami istri tidak baik. Zaid mengadukan halnya kepada Nabi. Tetapi beliau menyuruh dia tetap menjaga istrinya itu, padahal beliau tahu bahwa Zainab tidaklah diperjodohkan dengan Zaid melainkan bahwa kelak kemudian hari akan diperjodohklan dengan beliau sendiri. Maka dengan perkawinan  Nabi dengan Zainab itu nanti adat adopsi akan dihancurkan. Sebab sebenarnya seorang bapak tidak boleh mengawini bekas menantunya. Maka kalau terjadi nanti perkawinan beliau dengan Zainab setelah bercerai dari Zaid, maka dengan sendiri keanak-angkatan Zaid dengan menjadi batal. Dan Nabi menyuruh Zaid agar tetap menjaga istrinya itu adalah untuk menghindarkan omongan kaum munafik dan lain sebagainya yang akan menjadikan hal tersebut sebagai suatu cercaan. Selain itu beliau khawatir mereka akan mengencam Nabi karena mengawini perempuan bekas istri anak angkatnya.
P: Mengapa beliau takut hal-hal seperti itu, padahal sudah tahu hal tersebut sebagai perintah Allah?
M: hal seperti ini sudah lumrah bagi manusia dan tidak dapat dihilangkan. Dalam hal ini jelas Zaid tidaklah mengerti maksud tindakan tersebut. Maka adalah suatu yang semestinya bila kemudian Zaid menempuh hukum cerai sebagaimana adatnya dan Nabi tetap menasehatkan kepadanya untuk tetap menjaga istrinya sampai keadaan tidak mungkin lagi untuk meneruskannya.
P: Bila inilah yang merupakan pokok kisah perkawinan Zainab ini, lalu apakah artinya menyangkal cerita semula?
M: Masalah ini sudah jelas wahai pastur. Karena kalau Nabi saw sejak awal nya sudah tahu bahwa Zainab bukan dijodohkan dengan Zaid melainkan untuk tujuan kemudian hari akan diperjodohkan dengan Nabi setelah bercerai dari Zaid, maka cerita yang anda bawa itu tidaklah ada artinya. Sebab dari cerita anda itu berarti Nabi baru berpikir untuk mengwini Zainab setelah melihat nya lalu hatinya merasa tertarik.
Padahal Nabi sudah melaihat Zainab sebelum ia kawin  dengan Zaid. Sebab ia putri Bibinya. Maka tidaklah benar kalau dikatakan bahwa Nabi tertarik kepadanya pada penglihatan pertama di rumah itu. Padahal sebenarnya Zainab telah menaruh hati kepada Nabi ketika beliau meminangnya untuk Zaid. Dan kejadian meminang ini merupakan rangsangan yang jauh lebih besar untuk kawin dari pada sekedar peristiwa melihat itu. Sebab ketika peristiwa melihat itu tidak terpengaruh tentang keinginan Zainab kepada beliau, karena sedang rencana , yaitu Zainab dengan Zaid lebih dahulu.
P: Wahai Muhammad, ini merupakan satu pengertian baru anda terhadap kisah peristiwa tersebut. namun saya belum pernah tahu ada seseorang ulama anda sebelumnya punya pengertian seperti ini.
M:  Wahai pastur yang terhormat, sebenarnya amat banyak apa yag ditinggalkan generasi dahulu untuk gernerasi kemudian. Sesungguhnya amat banyak rahasia-rahasia besar di dalam agama kami yang baru dapat diungkapkan oleh akal yang dahulunya tidak dimengerti oleh generasi tua, dan tidak senang generasi pelanjut hidup secara taklid.
Bagi saya , wahai pastur, kalau anda menerima berita bathil yang anda sampaikan, niscaya anda, golongan nasrani yang lain yang percaya kepada berita tersebut,  kemudian akan mengecam Nabi saw. Sebab anda berani melakukan tuduhan kepada Nabi anda sendiri dengan hal-hal yang lebih berat dan berbahaya. Dari berita yang ada kemukakan itu tidak lain hanyalah  menceritakan kejadian melihat, lalu beliau merasa tertarik, kemudian Allah mempersiapkan  jalan baginya untuk kawin. Cobalah anda perbandingkan dengan apa yang anda tuduhkan kepada Nabi Daud as, karena beliau melihat seorang wanita bangsa Aria , lalu jatuh cinta. Kemudian terus menerus beliau membawa perempuan ini ketempat-tempat berbahaya di dalam perperangan, sehingga beliau membunuhnya padahal sebenarnya dipersiapkan untuk beliau kawini kemudian hari. Kami kaum muslimin, membersihkan diri Nabi Daud dari perbuatan keji seperti itu. Dan kami pun membersihkan para Nabi yang lain  dari tuduhan-tuduhan yang anda lemparkan kepada mereka, seperti halnya kasus ini yang terdapat di dalam Taurat anda dan kitab-kitab suci anda  lainnya, maka begitu pulalah kami mensucikan nama Nabi Muhammad saw dari segala tuduhan anda.
Dialog kelima belas ini berakhir disini. Para pengunjung kemudian pulang untuk kembali besok untuk mendengarkan kelanjutan dialog.
ooOoo

Dialog ke enambelas;
KASUS NABI MUHAMMAD DENGAN PARA ISTRINYA

Pokok pembicaraan yang dibahas dalam dialog ini ialah kasus Nabi saw menjauhi istrinya selama satu bulan. Kasus ini membuat para ahli tafsir dan  ahli sejarah kebingungan. Mereka menyebutkan berbagai riwayat mencela Nabi saw. Pastur Z dalam dialog ini mengambil tema pembicaran ini.
P:  Wahai Muhammad,  mungkin anda sudah menelaah keterangan para ahli tafsir dan ahli sejarah tentang sebab-sebab turunnya beberapa ayat pada permulaan surat Tahrim 1-5;
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang 1. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana 2. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” 3. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula 4. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan (QS At Tahrim 66:1-5)”.
Sebagian ahli menerangkan sebab turunnya beberapa ayat tersebut ialah karena Nabi anda bila sehabis shalat Ashar mendatangi istri-istrinya lalu tinggal pada salah seorang  di antara mereka. Kemudian beliau masuk kerumah Zainab putrid Jatsy, lalu tinggal di tempat itu lebih lama dari waktu semestinya. Karena itu Aisyah menjadi cemburu terhadapnya. Ia kemudian bertanya apa sebabnya beliau bertahan lama disana. Lalu kepadanya dijawab; “ ada salah seorang perempuan kaumnya menghadiahkan kepadanya sepanci madu lalu ia menghidangkan kepada beliau sekedar satu minuman”.  Maka Aisyah dan Hafsa kemudian sepakat untuk menyindir beliau kalau datang kepadanya dengan kata-kata; “ mencium bau maghafir ( sejenis jenang manis tetapi baunya tidak enak semacam buah kemudu). Maka sewaktu Nabi masuk kerumah mereka  ini, keduanya mengatakan hal itu kepada beliau. Dan beliau bercerita kepada mereka, bahwa tadi minum minuman bercampur madu di rumah Zainab. Lalu keduanya bertanya; “ Apakah engkau telah makan lebah madu?” kemudian Nabi bertekad mengharamkan dirinya meminum madu dan beliau katakan hal ini kepada Hafsa seraya menyuruhnya untuk merahasiakan. Namun kemudian Allah mencela tindakan beliau ini dalam firmannya pada ayat-ayat diatas.
Sebagaian ahli menceritakan bahwa sebab turunnya ayat tersebut ialah karena Hafsah meminta izin kepada Nabi anda untuk mengunjungi ayahnya , yaitu Umar bin Khatab, yang bersamaan waktunya dengan beliau bergilir diantara istrinya. Tatkala Hafsa keluar, beliau mengirim kepada Mariah Al Qibtiyah utusan, kemudian ia datang kerumah Hafsah dan beliau tinggal bersamanya disitu. Ketika Hafsah pulang pintunya rumahnya didapati tertutup. Lalu ia duduk sambil menangis di luar rumah, sehingga beliau keluar dengan wajah bercucur keringat. Kemudian Nabi bertanya ; “ Mengapa engkau menangis? Jawabnya; “ Engkau mengizinkan aku pergi hanya untuk bisa berbuat seperti ini. Engkau telah memasukkan kerumahku budak perempuan. Engkau telah bergilir dengannya pada hari giliranku dan diatas tempat tidurku”. Lalu beliau menjawab; “ Bukankah ia budak perempuanku yang Allah halalkan buat diriku. Diamlah engkau. Untuk seterusnya aku haramkan diriku berkumpul dengannya tetapi janganlah engkau beritakan kejadian ini kepada siapapun dari mereka “ (istri-istri Nabi). Kejadian inilah yang membuat beliau mendapat celaan karena mengharamkan sesuatu bagi dirinya padahal sebenarnya halal.
Mengapa Nabi anda mengharamkan madu untuk dirinya sendiri , hanya karena berita bohong yang disampaikan orang kepadanya? Mengapa beliau memutuskan sesuatu hukum berdasarkan berita bohong ini? Mengapa diturunkan ayat Al Qur’an  bertalian dengan berita yang sebenarnya tidak bernilai ini?
Mengapa Nabi anda mengharamkan Mariah untuk dirinya, padahal beliaulah yang tadinya mengirimkan utusan kepadanya dan si wanita tidak mau menolak dirinya terhadap permintan beliau? Mengapa beliau membuat hal seperti itu pada hari giliran Hafsah? Padahal hari ini merupakan haknya sendiri dan tidak boleh saat giliran ini sedikitpun diberikan kepada orang lain sebelum ada izin dari dirinya.
Mengapa kasus kecil semacam ini menyebabkan beliau menjauhkan istri-istrinya sebulan penuh? Bahkan beliau mengancam mereka untuk menjatuhkan Thalaq lalu mengambil ganti istri-istri baru yang lebih baik dari mereka?
Mengapa kaum muslimin disibukkan oleh kasus semacam ini, padahal  satu kasus rahasia rumah tangga beliau, yang sebenarnya tidaklah patut diketahui oleh orang lain selain para istrinya?
M: Wahai pastur, saya akan paparkan kepada anda di dalam dialog ini mengenai penerimaan agama tuan terhadap kedua berita, satu dengan lainnya saling bertentangan. Dengan cara ini kita akan memecahkan dua masalah tersebut. Tetapi lebih dahulu  di dalam dialog ini saya akan paparkan kepada anda tentang penerimaan kebenaran dua berita yang saling bertentangan oleh agama anda, kemudian selanjutnya saya akan jelaskan kepada anda mana yang sebenarnya menjadi sebab dari turunnya ayat-ayat tersebut diatas.
Bilamana kita dapat menerima kebenaran sikap agama anda terhadap dua berita yang saling berentangan, maka dalam berita pertama paling jauh kita mengatakan bahwa Nabi saw telah berbuat keliru dalam mengharamkan dirinya meminum madu. Kekeliruan serupa ini tidaklah sampai merupakan suatu tindakan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Tetapi yang  beliau lakukan ialah mengharamkan untuk dirinya sendiri sesuatu yang mubah. Setiap orang Allah beri kebebasan dalam hal-hal mubah boleh ia gunakan kalau mau dan boleh ia menjauhkan dirinya jika tidak menyukainya. Bila seorang melakukan hal seperti ini tanpa ada alasan yang syah, tidaklah dianggap melakukan suatu pelanggaran yang syah, tidaklah dianggap melakukan suatu pelanggaran yang bertentangan dengan pemberian kebabasan. Dan kami berpendirian tidaklah dipandang salah Nabi melakukan perbuatan seperti itu. Paling jauh hikmah nyata yang dapat dipetik dari peristiwa Nabi tersebut ialah larangan terhadap sikap berlebihan. Dan dengan kejadian ini membuktikan secara konkrit bahwa beliau adalah seorang manusia yang bisa mengalami kesalahan dan berbuat benar. Jadi terhadap diri Nabi kami tidak bersikap berlebih-lebihan seperti yang anda lakukan terhadap Nabi anda, sehingga anda mengangkat dirinya dari martabat kemanusiaan kepada martabat ketuhanan. Bila Al Qur’an membicarakan kasus seperti ini dan lain-lainnya yang serupa maka ia mengandung faedah yang berharga dan hikmah yang tinggi.
Begitu pula dengan berita yang kedua tentang sebab turunya ayat-ayat tersebut, hanyalah berarti semata-mata beliau beranggapan Hafsah pergi untuk melakukan sesuatu kebutuhan dan beliau bersama dengan Mariah akan menyelasaikan keperluannya sebelum datang Hafsah dan Mariah tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.  Sedangkan Hafsah hanyalah berhak memperoleh giliran dari beliau yang jatuh pada hari nya selama dia memang dirumahnya. Tetapi kalau sudah keluar, tentulah beliau bebas mengatur keperluannya sendiri. Karena seorang istri tidaklah berhak untuk mengendalikan suaminya baik ia ada bersamanya ataupun tidak, diwaktu sehat ataupun sakit, dikala senang ataupun tidak. Maka seorang suami tidaklah dianggap melakukan perbuatan dosa, terkecuali melanggar hak istri. Maka dalam kasus inipun terkandung hikmak seperti tersebut diatas. namun sayangnya berita versi kedua ini lemah (tidak akurat) sebab di dalam tafsir Khazin disebutkan bahwa kisah Mariah ini tidak ada dasar sumbernya yang syah.
Saya tidak mengerti mengapa kalian mengambil contoh hal seperti ini untuk mengkritik pribadi Nabi saw? Padahal kasusnya tidaklah sampai kepada bentuk pelanggaran terhadap hak istri, bahkan mengandung hikmah seperti yang saya sebutkan di atas. Sementara itu anda sendiri telah berani menyebutkan bahwa  Nabi-Nabi anda telah melakukan dosa-dosa besar sebagaimana  anda tuduhkan kepada mereka , sebagai satu contoh tersebut di dalam Taurat mengenai abi Luth. Disana disebutkan bahwa kedua Putri beliau menghidangkan minuman khamar sehingga beliau selama  dua malam terus menerus mabuk kemudian menggilir setiap putrinya semalam-semalam sehingga menjadi hamil, lalu lahirlah seorang anak. Luth melakukan perbuatan ini karena kuwatir punahnya keturunan Luth setelah terjadinya rencana yang Allah turunkan kepada kaumnya sebagai hukuman kedurhakaan mereka.
Kami menjauhkan Nabi Luth dari tuduhan keji seperti ini. Begitu pula dengan Nabi-Nabi lainnya yang dituduh melakukan doasa-dosa besar. Kamipun membersihkan kitab-kitab Allah dari dongeng-dongeng yang mengisahkan dosa seperti ini. Sebab dongeng seperti ini berarti menyebarluaskan perbuatan keji di tengah umat manusia dan membangkitkan keberanian melakukan dosa. Namun kami  membersihkan para Nabi itu dari kemungkinan melakukan perbuatan-perbuatan salah karena kekeliruan. Sebab soal seperti ini adalah hal yang lumrah dan bukan suatu perbuatan merusak yang dikatirkan berakibat buruk kepada masyarakat. Karena itu perbuatan karena keliru mengandung faedah seperti keterangan diatas yang sekaligus untuk membuktikan bahwa mereka adalah manusia juga, sehingga para pengikutnya  jangan berlebih-lebihan dalam menghormati mereka dan jangan sampai memperTuhuhkan mereka.
P: Wahai Muhammad , anda telah menjealskan bahwa dua berita yang menjelaskan sebab turunnya ayat-ayat di atas saling bertentangan. Hal ini menyebabkan anda menjelaskan ketidakterikatan kedua berita teresebut dapat menjelaskan sebab turunnya ayat-ayat tadi. Nah, apakah anda punya keterangan lain yang menjelaskan sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
M: Ya , saya mempunyai keterangan lain tentang sebab turunnya ayat-ayat itu. Sebab beberapa ayat lain dalam surat Al Ahzab menjelaskan sebab Nabi menjauhi istri-istrinya. AIlah dalam Al Qur’an yang menyebutkan sebab-sebab tindakan menjauhi ini, maka kami tidak lagi memerlukan keterangan yang tertera di dalam dua berita anda yang tercela itu.
Inilah keterangan yang dimaksud itu di dalam surat Al Ahzab 28-34;
“ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik 28. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar 29. Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah 30. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia 31. Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik 32, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya 33. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui (QS Al Ahzab 33:28-34)”.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para istri Nabi meminta kepada beliau harta kekayaan dunia dan tambahan belanja. Padahal kaum laki-laki Quraisy pada zaman jahiliah biasa menekan istrinya. Ketika mereka hijrah ke Madinah, mereka melihat penduduk Madinah justru dikendalikan oleh para istri. Dari sini mulailah wanita-wanita Muhajirin berorientasi kepada wanita-wannita Madianah sehingga mereka mulai berani melawan suami mereka kalau dimarahi. Sikap seperti ini mendapat dukungan dari  Islam, karena untuk menaikan martabat mereka dan menambah hak-hak mereka. Demikianlah keadaan berjalan terus sampai peristiwa yang menimpa Nabi saw dan Allah memberinya berbagai kemenangan serta umat islam berhasil maraih dunia. Karena itu lalu para istri Nabi setelah melihat bertambahnya kemakmuran dan kemajuan berkeinginan hidup bagaikan istri para  raja dan para penguasa. Mulailah mereka punya pikiran tertarik kepada keuntungan-keuntungan dunia yang didapat oleh kaum Muslimin, yaitu menikmati kesenangan dunia yang dapat mereka ambil dan bermegah-megah seperti yang dilakukan oleh kaum wanita pada zaman jahiliah dahulu. Sikap mereka itu membuat Nabi marah, sebab beliau tidak punya apa-apa. Yang ada di tangan baliau adalah kekayaan kaum Muslimmin guna membiayai kepentingan mereka dan sama sekali beliau tidak boleh menggunakannya bagi  kepentingan para istri nya untuk sesenangan dunia ini. Selain itu beliau tidak menghendaki para istrinya dan wanita-wanita muslimat mengejar kepentingan dunia semacam ini dan berpakaian bermegah-megah semacam ini.
Ketika Nabi  marah kepada mereka , tetapi merekapun terus menerus menuntut kepada Nabi, lalu Nabi menjauhkan diri dari mereka dan bersumpah tidak akan mendekati mereka sebulam penuh. Nabi kemudian mengasingkan diri dari mereka ke sebuah kamar sehingga tidak lagi dekat kepada mereka. Pelayan beliau, si Rabbah duduk di depan lorang masuk untuk menjaga dan tidak boleh seseorang masuk kedalam itu tanpa izinnya.
Demikialah sebenarnya tindakan Nabi didalam mengharamkan berhubugan dengan istrinya, padahal sebenarnya sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Tindakan beliau ini dicela oleh Allah karena telah melakukan penekanan terlalu keras kepada dirinya. Maka kemudian Allah berfiman; “wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan kepadamu “(At tahrim 1).
Tindakan ini beliau lakukan terhadap istri-istrinya adalah dimaksudkan memaksa mereka ridha menerima belanja sebagaimana biasanya dan membuang angan-angan memperoleh kekayaan dunia. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah : “ Karena engkau ingin mencari kerihdaan istri-istrimu” (At tahrim 66:1)”.
Boleh jadi Nabi berbiccara kepada beberapa istrinya secara rahasia mengenai sesuatu bencana yang akan menimpa kaum muslimin karena keinginan meraih kesenangan-kesenangan dunia. Inilah yang dimaksud dengan firman tuhan ; “dan ingatlah ketika Nabi berbicara secara rahasia kepada beberapa istrinya, mengenai sesatu peristiwa”. (At tahrim 2).  Adalah Aisyah putrid Abu Bakar dan Hasfah putri Umar bin Khatab yang melakukan agitasi ditengah istri-istri beliau. Inilah yang dimaksud dengan  firman Allah ; “ jika kamu berdua taubat kepada Allah, maka hatimu condong menerima kebenaran”. (At Tahrim)
Jadi dalam kasus ini sebabnya bukanlah beliau mengharamkan madu untuk dirinya sendiri atau kasus Mariah , sekiranya itu benar, juga bukan karena cemburu para istrinya kepada beliau. Tetapi sebab sesungguhnya kasus ini jauh lebih besar dari itu semua, yaitu karena para istri baliau punya keinginan untuk mendapat bagian dari harta kekayaan umat Islam dan menyalahi garis agama islam di dalam sikap tengah-tengah di dalam urusan dunia ini, maka perintah tersebut berlaku secara umum, terkena kepada semua kaum  muslimin di segala zaman dan mesti mereka laksanakan dimana dan kapanpun mereka berada, sekalipun dunia ini tertumpah penuh kepada mereka. Untuk hal seperti inilah patut ayat-ayat Al Qur’an diturunkan guna memberikan bimbingan dan hendaknya pelajaran Al Qur’an ini benar-benar  dibaca oleh umat manusia sepanjang masa.
Setelah satu bulan lewat, maka pertama kali Nabi menemui Aisyah seraya berkata kepadanya; “ saya ingatkan kepadamu satu hal. Janganlah kamu tergesa-gesa  memutuskan sebelum kau berunding dengan ibu-bapakmu. “ kemudian beliau membacakan ayat Al Azab 28-34.

 

Lalu ia menjawab  ; “ Apakah untuk soal ini aku perlu berunding dengan Ibu-Bapakku? Aku mengingini Allah dan rasulNYa serta kampung akhirat.”
Kemudian hal seperti ini beliau lakukan pula kepada istri-istri nya yang lain dan mereka pun menjawab sama.
Peristiwa ini suatu pelajaran besar yang dapat memelihara islam dari terjerumus ke dalam pola kehidupan mewah yang telah menghancurkan umat-umat sebelumnya. Sebab kemewahan mendorong orang berbuat fasik dan dosa, menyebarkan kemelaratan dan penyakit-penyakit sosial, yang menjadi sumber kehancuran masyarakat. Karena itu Allah memperingatkan di dalam surat Al isra’ 17; 16 .
Sampai di sini dialog diakhiri. Para pengunjung kemudian bubar untuk kembali lagi besok guna mengikuti dialog berikutnya.
ooOoo

Dialog ke tujuh belas;
PANDANGAN ISLAM TERHADAP TAKTIK TIPU DAYA DAN KEBOHONGAN

Pastur z telah berpikir-pikir dalam menghadapi pemuda ini, Muhammad. Ia dalam dialog ini  beranggapan tidak akan dapat memperdaya  sang pemuda dalam setiap tuduhan yang disampaikan kepadanya. Padahal dia sebagai Misionaris Nasrani bersama dengan teman-temannya telah menghabiskan umurnya untuk membangkitkan rasa ragu-ragu umat islam teradap agamanya agar dapat ditarik masuk ke dalam agama Nasrani. Karena itu sang Pastur hendak mengajukan kepada Muhammad suatu masalah yang menurut anggapannya dapat menyudutkan sang pemuda. Maka sang pastur mulai berbicara.
P: Saya ingin bertanya kepada anda wahai muhamad, apakah perbuatan tipu daya itu termasuk perbuatan tercela atau terpuji?
M: Tipu daya pada prinsipnya termasuk perbuatan tercela. Soal ini jawabannya sudah jelas. Tetapi apa yang pastur inginkan dengan pertanyaan tersebut?
P: Anda , Muhammad , telah menerangkan dimasa-masa yang sudah bahwa agama anda tidaklah ditegakkan dengan pedang, namun tidak berkeberatan melakukan tipu daya guna meraih sukses perjuangannya. Karena itu lalu Islam membenarkan perbuatan tercela itu sebagaimana halnya dengan manusia-manusia lain guna meraih sukses usaha mereka. Padahal agama harus melaksanakan perjuangannya dengan jujur. Jadi sangat jauhlah agama dari kebutuhan menggnakan cara seperti ini. Agama anda dalam  menggunakan tipu daya telah sampai begitu rupa sehingga di dalam Al Qur’an pun anda membenarkan adanya Tuhan memakai cara tipu daya. Hal ini tersebut didalam surat An Nisa’ 142;
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali                         (QS An Nisaa’ 4:142)”.
Anda  dalam hal ini telah berani membuat suatu pernyataan di dalam Al Qur’an anda bahwa Tuhan pun melakukan tipu daya (makar) , seperti tersebut dalam surat Al Anfal 30;

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al Anfaal 8:30)” .
M: Yang tersebut pada kedua ayat diatas bukanlah menerangkan  bahwa Allah melakukan tipu daya dan makar. Tetapi ayat tersebut merupakan susunan kalimat sastra yang dinamakan Musyakalah (perimbangan). Maksudnya , menggunakan kata yang sama di dalam susunanan kalimat sebagai suatu imbangan. Jadi ayat yang pertama itu, yaitu kata-kata ;” dan dia melakukan tipu daya kepada mereka ” , maknanya ialah Allah membalas tipu daya yang telah mereka lakukan. Sedangkan ayat ke dua, yaitu kata-kata “Allah membalas makar yang mereka lakukan terhadap agama Allah”  . Pada ayat pertama digunakan kata-kata “tipu-daya” dan pada ayat kedua dipakai kata-kata “ makar” adalah karena hendak membuat keseimbangan dengan kata-kata yang sudah tersebut sebelumnya. Penggunakan perimbangan kata yang sama pada sebuah kalimat adalah merupakan kesusasteraan tingkat tinggi dan dalam bahasa Arab merupakan model pembentukan kalimat yang syah.
P:  Tetapi anda pernah berkata ; “ perang adalah tipu daya”. Dan beliau menggunakan tipu daya terhadap golongan munafik yang telah memperdaya beliau.
M: Perang memamg membenarkan hal-hal yang dilarang di waktu damai. Boleh membunuh, boleh merampas harta orang tanpa memberikan ganti rugi, dan tipu daya merupakan senjata yang paling mudah dilakukan dan terkadang bisa menjadi pencegahan terjadinya pertumpahan darah antara kedua golongan yang berhadapan, sebagaimana yang terjadi pada perang Ahzab . Dengan alat tipu daya kaum musrikin dapat diusir meninggalkan tempat pengepungan kota Madinah. Sehingga dapatlah dicegah tertumpahnya darah penduduk Madinah, sebagaimana darah kaum musrykin pun tercegah pula untuk ditumpahkan di medan perang. Terkadang memang suatu  perbuatan buruk dapat mendatangkan kebaikan. Misalnya , menggunakan kebohongan untuk mendamaikan dua orang yang bermusuhan atau melindungi diri dari permusuhan orang.  Keburukan yang dapat dipakai untuk kepentingan kebajikan bukanlah keburukan yang tercela, melainkan justru dapat diterima sejauh mempunyai tujuan baik di dalam hal ini politik Islam berbeda sekali dengan politik Machiavelli, orang Itali itu. Sebab bagi politikus ini yang pokok ialah tujuan menghalalkan segala cara, sekalipun tujuan tersebut tidak benar. Sedangkan agama islam tidak membenarkan sesuatu cara yang buruk sekali untuk maksud mencapai tujuan yang mulia.
Lalu apa tercelanya Islam bila membenarkan menggunakan tipu daya diwaktu perang dan melarang di waktu damai. Nabi sendiri diwajibkan untuk melakukan pengumuman lebih dahulu kepada musuh jika beliau berkehendak membatalkan perjanjian dengan mereka dan dilarang memerangi mereka sebelum melakukan pemgumuman lebih dahulu kepada mereka. Di dalam surat An Anfal 58 Allah berfirman;
“ Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat (QS Al Anfal 8: 58)”.

Apa tercelanya apabila Islam menggunakan tipu daya di dalam perang? Padahal sebenarnya Nabi diwajibkan bersikap serupa, walaupun mereka hanya bermaksud sebagai tipu daya. Dalam hal ini Tuhan berfirman pada surat Al Anfal 61;
“ Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui                                    (QS Al Anfal 8: 61)”.
Adapaun Nabi terhadap kaum munafik, beliau tidak pernah melakukan tipu daya kepada mereka seperti yang biasa mereka lakukan kepada Nabi. Tetapi Nabi hanya menghadapi tipu daya dan kemunafikan mereka dengan kewaspadaan dengan melihat bukti-bukti lahir yang tampak pada diri mereka. Beliau tidak  menghukum mereka  di dunia ini karena sikap mereka merahasiakan kekafiran. Beliau hanya mencela mereka dengan keras dan menerangkan adanya siksa terhadap mereka di akhirat dengan siksa yang pedih. Hal ini seperti firman Alllah di dalam surat An Nisa’ 145-146 ;
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka 145. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar      (QS An Nisaa 4 : 145-146)”.
Jadi Nabi mencela mereka secara umum kepada mereka yang munafik , tanpa menyebutkan nama-nama secara khusus dan tidak mencela hal-hal lain diluar kemunafikan ini. Dengan ini cukuplah dipandang sebagai larangan terhadap mereka untuk bersikap munafik. Nabi tidak melakukan pengintaian terhadap keyakinan-keyakinan mereka sebagai konsekwensi mereka menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya mereka simpan di dalam hati. Sebab langkah memata-matai keyakinan tidak dibenarkan. Di dalam islam tidak ada pengadilan-pengadilan terhadap kasus-kasus kepercayaan seseorang seperti  yang ada di dalam agama  Nasrani. Tidaklah disangsikan bahwa perlakuan Islam terhadap kaum munafik yang semacam ini sama sekali bukan langkah tipu daya, tetapi langkah mulia sesuai dengan sifat kemurahan agama islam dan mempunyai nilai tinggi di tengah-tengah agama-agama lain.
P: Wahai Muhammad, mengapa anda mengaku bahwa islam tidak membenarkan mempergunakan tipu daya kepada manusia di masa damai, padahal Nabi anda menganjurkan kepada  para pemeluknya untuk melakukan kelicikan terhadap rumah-rumah sementara anggota masyarakat. Karena itu mereka biasa melakukan tipu daya dan kelicikan terhadap golongan musuh sehingga sampai merasa keadaan aman. Bila telah tercapai keamanan, lalu terhadap merekapun dilakukan tipu daya lagi.
Sebagai contoh dari tindakan ini apa yang terjadipada diri Ka’ab bin Asyraf, seorang tokoh Yahudi. Nabi anda telah menganjurkan kepada Muhammad bin Maslamah untuk mengatur tipu daya terhadapnya. Lalu Muhammad ini memilih beberapa orang untuk membantunya. Mereka bertanya; “Wahai rasullullah, kami mesti mengingatkan sesuatu “. Lalu Nabi menjawab;” katakanlah apa yang baik menurut pendapatmu. Lalu beliau mengijinkan mereka untuk mempergunakan kebohongan dan tipu daya menurut kehendak mereka. Lalu Muhammad pergi kepada Ka’ab kemudian berkata kepadanya; “ laki-laki ini (maksdnya Nabi anda) telah meminta kami menyerahkan zakat. Padahal kami tidak mempunyai makanan. Namun dia tetap memaksa kami, lantaran itu aku datang kepadamu untuk mencari pinjaman”. Ka’ab menjawab kepadanya ; “ dan demi Allah kamu juga sungguh-sungguh jemu kepadanya”. Muhammad menjawab; “ Sungguh tadinya kami menajdi pengikutnya. Tetapi kami tidak menginginkan untuk membiarkannya sehingga kami menantikan sesuatu yang dapat merubah keadaannya? Ka’ab menjawab: Belumkah sampai waktu nya bagi anda untuk mengetahui kebathilan dia?” Muhammad terus menerus melakukan usahanya ini sampai Ka’ab mau menerima penggadaian senjatanya untuk memperoleh pinjaman sekantong atau dua kantong makanan. Demikianlah orang-orang yang berkomplot terhadap Ka’ab melakukan tipu dayanya. Kemudian mereka datang lagi pada malam hari lalu memanggilnya sehingga Ka’ab turun menemui mereka. Setelah itu mereka berbincang-bincang kurang lebih satu jam. Kemudian mereka meminta untuk keluar besama mereka dan sesampai di tempat jauh dari bentengnya, mulailah mereka melakukan tipu dayanya. Kemudian mereka memenggal lehernya kemudian memasukkannya ke dalam kantong mereka  lalu membawanya kepada Nabi anda.
Mengapa Nabi anda membenarkan langkah beberapa orang yang melakukan tipu daya di masa damai, bahkan lebih jauh lagi melakukan tipu daya kepada kaum wanita, seperti yang terjadi terhadap diri Ashma’ putrid Marwan. Orang yang melakukan tipu daya terhadap perempuan ini ialah Umair bin Auf. Laki-laki ini ditengah malam mendatangi rumahnya sampai berhasil masuk kedalam. Pada saat itu dia dikelilingi beberapa anak-anaknya yang kecil sedang tidur, bahkan ada yang masih disusui. Umair ini penglihatannya kabur. Lalu ia menggunakan tangannya untuk meraba dan tertumbuk pada anak kecil yang sedang disusuinya. Lalu anak ini disingkirkan dari ibunya. Kemudian wanita tersebut dadanya ditusuk dengan pedang sampai menembus punggungnya.
M: Ka’ab dan Asma adalah dua orang yang mengobarkan perperangan terhadap islam. Kedua orang ini tidak mau ikut dalam perdamaian bahkan diapun terus melakukan tipu daya. Ka’ab tidak mau turut ambil bagian dengan Yahudi-Yahudi lain didalam pakta perjanjian damai dengan umat islam, bahkan ia mulai melancarkan permusuhan terang-terangan terhadap islam dan menganjurkan segenap suku-suku bangsa Arab memeranginya, agar terus dapat dipertahankan kejahilan dan kesyirikan, perpecahan lagi permusuhan, saling bunuh membunuh, saling rampas merampas dan jangan mau menolong agama islam yang  kini membangunkan mereka  dari kelalaiannya dan memerangi orang-orang semacam Ka’ab  yang merampok harta kekayaan mereka dengan cara riba yang keji dan perdagangan-perdagangan yang penuh dengan tindakan-tindakan dosa. Maka islam tidak merasa keberatan untuk membinasakan orang-orang seperti ini. Karena ia selalu berusaha untuk menghancurkan seluruh umat agar kekayaan hanya menumpuk ditangannya sendiri dan berpesta pora diatas kemiskinan dan penderitaan umat. Karena itu silahkan Ka’ab pergi untuk kepentingan hidupnya suatu bangsa dan silahkan pula orang-orang lain yang menjadi penindas kejam binasa. Sebab orang-orang semacam ini menganggap kemakmuran masyrakat sebagai bahaya bagi dirinya. Karena ia hanya mengenal kepentingan diri sendiri. demikian pula halnya dengan Asma’ putrid Maewan. Selalu mencela islam dan mengobarkan semangat permusuhan terhadap Nabi.
P: Sekiranya memang Ka’ab telah melakukan kejahatan mengobarkan semangat anti islam, maka adalah suatu keharusan menghadapkan dua kepengadilan, bukan dengan tipu daya seperti itu.
M: Wahai Pastur, bagaimana caranya mengadili penjahat perang? Pengadilan hanyalah dipergunakan terhadap orang-orang yang mengakui adanya pengadilan dan kekuasaan yang menjalankan pengadilan itu. Padahal Ka’ab sama sekali tidak mau mengakui Nabi dan kekuasan beliau di dalam menjalankan pemerintah. Maka kalau terhadap Ka’ab dilakukan pengadilan, niscaya pengadilan semacam itu menjadi sasaran kritik. Sebab tidaklah dapat diterima seseorang musuh melakukan pengadilan terhadap lawannya.
P: Jika pengadilan terhadap Ka’ab tidak mungkin , maka haruslah dia ditindak secara terus terang. Tidak boleh melakukan penghukuman terhadap dirinya secara tipu daya seperti yang dilakukan itu.
M: Karena Ka’ab ini orang yang melancarkan perang hasutan dan tipu daya, maka dia dapat dihukum dengan ara apapun yang mungkin untuk dilaksanakan. Dan cara yang ditempuh terhadap dirinya jauh lebih aman dan lebih sesuai , karena telah ada perjanjian damai antara kaum mislimin dengan golongan-golongan yahudi. Sebab kalau Ka’ab diperangi secara terbuka, maka akan muncul perang lawan perang dan kemunngkinan sebagian orang yahudi akan bergabung kepadanya. Karena itu perjanjian yang sudah dibuat yang ternyata dapat mencegah pertumpahan darah antara kedua belah pihak menjadi batal dan akibatnya banyak darah yang tertumpah yang tidak dapat diperkirakan berapa jumlahnya.
Adapun langkah tipu daya terhadap Ka’ab yang semacam itu menjadikan bangsa Yahudi menghadapi realitas kongkrit , yaitu adanya politik yang bijak yang mudah diterima dan gampang disetujui serta tidak mengakibatkan perperangan dan membatalkan perjanjian. Lebih-lebih orang yang melakukan tipu daya sendiri tidak mengakui tipu dayanya. Maka yang timbul ditengah-tengah masyarakat hanyalah dugaan-dugaan celaan tanpa diketahui secara yakin siapa sebenarnya yang melakukan tipu daya .
P: Tidaklah disangsikan lagi bahwa tindakan semacam itu merupakan kebijiaksaaan yang manusiawi, bukan wahyu ilahi sama sekali, sedangkan para Nabi seharusnya melaksanakan urusan mereka berdasarkan wahtyu Tuhan kepada mereka dan bukannya berjalan sendiri yang terkadang bisa salah.
M: Wahai pastur yang terhormat, memang langkah tersebut adalah kebijaksanaan manusiawi. Sebelum nya sudah saya terangkan kepada ada, bahwa sudah tentu Nabi itu di dalam hal-hal tertentu bersikap dan bertindak seperti manusia biasa lainnya, agar dapat menjadi bukti bahwa dia tetap sebagai manusia biasa sekalipun menjadi utusan Allah. Dengan demikian para pengikutnya tidak bersikap berlebih-lebihan terhadap dirinya dan tidak pula berkepercayaan bahwa dia sebagai Tuhan atau Putra Tuhan.
Anda harus mengetahui , wahai pastur yang terhormat, bahwa penggunaan tipu daya di dalam Islam hanya dibenarkan dalam keadaan – keadaan sangat memaksa dan kejadiannya pun dapat dihitung tidak lebih dari sejumlah jari tangan.
Muhammad selanjutnya berkata kepadanya; ” dalam dialog ini kita cukupkan sampai disini saja, supaya besok dapat kita lanjutkan pada diaolog ke delapan belas”.
ooOoo

Dialog ke delapanbelas;
SYARI’AT ISLAM SEBAGIAN BESAR BERASAL DARI
TRADISI BANGSA ARAB
Patur z pada dialog ini melepaskan tuduhannya terakhir menuju sasaran yang tepat. Dia beranggapan dapat menjatuhkan iman Muhammad dan mengambil keuntungan dari dialog ini , sebab pada dialog-dialog sebelumnya ia merasa gagal mencapai maksudnya. Karena itu, pada kali ini ia mencoba menggunakan buku “Tanwirul Afham fi Mashaadiril Islaami” sebagai alat untuk meruntuhkan iman anak muda ini. Buku tersebut karya Dr. Single Bar Tysdal,  untuk mendukung pandangannya bahwa Islam adalah sebuah agama acuan dari beberapa adat Arab Jahiliyah , beberapa adat istiadat penganut Shabi-I dan agama purbakala lainya, bukan turun dari Allah, sang Pastur memulai Pembicaraannya dengan kata-kata ;
P: Wahai Muhammad , saya akan ketengahkan dalil yang kuat kepada anda bahwa sebagaian ayat Al Qur’an dan ketentuan-ketentuan Islam berasal dari agama –agama lain dan kitab-kitab suci yang telah ada di masa hidup Nabi anda, yang hingga sekarang kitab-kitab tersebut masih ada.
M: Wahai Pastur yang mulia, silahkan anda ketengahkan apa yang ada pada anda itu. Karena maksud kita berdialog disini adalah mencari kebenaran dan bukan untuk tujuan-tujuan lain.
P: Islam banyak sekali mengambil adat kebiasaan Arab jahiliah, lalu menjadikannya sebagai syari’at yang turun dari Tuhan. Itulah sebabnya maka mereka tidak mau kawin dengan ibu dan putri-putrinya, menganggap sangat tercela memadu dua saudara perempuan, mencala seorang yang kawin dengan bekas Ibu tirinya yang mereka namakan perkawinan dlaizan. Mereka pergi haji dan berumrah ke Baitulah, berihram, Thawaf , Sa’I dan Wukuf di tempat-tempat tersebut, melempar jumrah, mandi janabat, berkumur-kumur, mencucui hidung, mengusap kepala, bersiwak, cebok, memotong kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur bulu kemaluannya dan khitan. Merekapun memotong tangan pencuri dan lain-lain lagi yang telah di ambil oleh Islam dari mereka untuk menjadi ajarannya.
M: Wahai Pastur yang terhormat, semua itu sedikitpun tidak ada kebenarannya. Apakah anda mengharapkan islam membuang tradisi yang baik agar tidak dikatakan orang secara ngawur bahwa ia tidak mengambil tradisi-tradisi tersebut dari bangsa Arab kemudian dijadikannya sebagai syari’at yang diturunkan Tuhan kepada Nabi. Adapun bila islam meninggalkan adat yang menyalahi kebaikan itu berarti bukanlah syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Sebab syari’at yang diturunkan dari Tuhan mengakui kebaikan yang telah ditetapkan oleh pihak lain dan menolak kejelekan yang telah ditolak oleh pihak lain. Jika islam berbuat berlainan dari hal yang semestinya ini berarti suatu kebodohan dan membuktikan bukan sebagai syari’at yang diturunkan Tuhan.
Memang bangsa Arab dahulu biasa menyembah patung, mengubur hidup-hidip anak perempuan, hidup dalam kebodohan dan dosa. Namun Islam tidak mau mengikuti tradisi itu dan tetap mengakui beberapa tradisi yang memang bernilai baik. Bahkan Nabi saw telah bersabda; ” aku diutus menjadi Rasul hanyalah untuk menyempurnakan akhlak terpuji”. Maka salah satu dari fungsi beliau ialah tetap mengakui kabajikan-kabajikan yang sudah ada sebelumnya dan menyampaikan seruan kepada akhlak luhur yang baru yang menjadi tujuan kerasulannya, sehingga yang baru ini menyempurnakan kekurangan yang lama dan tidak membuang begitu saja hasil akhlak utama yang telah ditimbun oleh akhlak tercela dan tidak redup cahayanya di tengah-tengah kegelapan dosa.
P: Sekelompok bangsa Arab yang berpikiran waras dan jujur memang telah menyampaikan seruan perbaikan seperti yang diserukan oleh Nabi anda, Yaitu seruan Tauhid dan lain sebagainya. Namun mereka tidak ada yang mengaku dirinya mendapat wahyu sebagaimana pengakuan Nabi anda. Bangsa Quraisy pada suatu hari raya mereka telah berkumpul di sekeliling salah satu berhala mereka, tetapi ada empat orang diantara mereka yang menarik diri dari kepercayaan kotor ini. Mereka itu ialah; Waraqah bin Naufal, Ubaidillah bin Jahsy, Utsman bin Huwairits dan Zaid bin Amr bin Nufail. Kemudian mereka berkata sesamanya; “ saling bersahabatlah dan saling merahasiakanlah dengan yang lain. Perhatikanlah, demi Allah , kaummu ini sama sekali tidak benar. Mereka telah menyesatkan agama nenak moyang, yaitu Ibrahim. Apa perlunya sebuah batu dimohoni , padahal tidak bisa mendengar dan melihat, tidak merugikan dan tidak memberikan mamfaat. Wahai kaumku , renungkanlah diri kamu. Demi Allah kalian  ini sama sekali tidak dalam kebenaran.
Mereka ini berpencar ke berbagai negeri untuk mencari jalan lurus agama Nabi Ibrahim. Adapun Waraqah, ia kemudain masuk Nasrani. Sedangkan Ubaidilah bin Jahsy tetap berpegang kepada pikirannya sendiri sempai datangnya agama islam, lalu masuk islam, kemudian ia hijrah ke Habsy, masuk Nasrani di sana. Adapaun Utsman bin Hawairits datang kepada raja Romawi  , lalu masuk Nasrani. Sedangkan Zaid bin Amr tidak masuk ke agama  Yahudi maupun agama Nasrani, tetapi meninggalkan agama kaumnya dan menjauhi berhala, makan bangkai, darah dan sembelihan-sembelihan untuk sesajen, serta melarang orang menguburkan anak perempuan hidup-hidup. Ia berkata; “ aku menyembah Tuhannya Ibrahim dan menyatakan celaan terhadap tradisi yang diikuti oleh kaumnya.
Dari tokoh-tokoh pencari kebenaran tersebutlah Nabi anda mengambil dahwahnya dan beliau hidup  sezaman dengan mereka serta mempunyai hubungan kerabat dari berbagai orang diantara mereka. Kemudian beliau mengaku mendapat wahyu , padahal mereka tidak pernah melakukan pengakuan seperti itu.
M: Amat jauh berbeda antara dakwah Nabi kami dengan dakwah tokoh-tokoh pencari kebenaran tersebut. Mereka ini mencari agama Nabi Ibrahim dengan melihat kepada masa lalu, bukan melihat kepada masa itu dan akan datang. Mereka sama sekali tidak memiliki tujuan kepada seruan yang baru dan memikirkan agama baru. Lantaran itu tiga diantara mereka merasa puas menjadi orang Nasrani dan merasa telah cukup menemukan suatu tujuan yang dekat dan puas dengan cita-cita yang terbatas. Adapun orang yang ke empat , Zaid bin Amr , merasa senang dengan dengan kemampuan dirinya untuk bisa mencapai hal-hal yang merupakan bagian dari agama Ibrahim sesuai dengan ijtihadnya. Padahal ijtihat itu tempat pijakannya adalah dugaan, belum tingkat yakin. Sebab itu ia pernah berkata kepada kaumnya ; “wahai golongan Quraisy , demi Tuhan yang menguasai Zaid bin Amr, tidak seorangpun diantara kalian ini yang menjadi pemeluk agama Ibrahaim, kecuali aku”. Selanjutnya ia berkata; “ya Tuhan, sekiranya aku tahu sesuatu jalan apapun yang lebih menjadikan kecintaan terhadap diri MU , niscaya aku akan gunakan untuk menyembahMU”. Tetapi sayang aku tidak tahu”. Kemudian ia sujud di atas tapak tangannya.
Cobalah perbandingkan hal ini dengan dakwah baru yang diserukan oleh Nabi kami. Cobalah perhatikan ajaran ini dibandingkan denga agama baru yang telah membuat seluruh dunia, timur maupun baratnya terguncang. Bahkan bagian utara dan selatannya. Agama ini telah mengancurkan kemaharajaan Romawi dan kekaisaran Parsi serta agama-agama lain menjadi lemah di hadapannya dan kebekuannya menjadi meleleh dihadapan langkah pembaharuannya.
Dakwah Zaid bin Amr terbatas di dalam hal-hal sebagai berikut;
1.    Menolak menyembah berhala
2.    Mengakui keEsaan Allah
3.    Mempercayai pahala dan siksa
4.    Melarang mengubur bayi perempuan hidup-hidup
Bagaimana keempat hal ini hendak dijadikan perbandingan dengan syari’at yang bagaikan lautan lepas jangkauannya, yang meliputi ; “Aqidah, Ibadah, dan Muamalah? Syari’at islam yang mengungguli perundang-undangan Romawi telah menyebabkan kemenangannya. Syari’at islam yang disaingi oleh filsafat Yunani, ternyata mempu mengalahkannya. Begitu pula ia disaingi oleh zaman demi zaman, namun kekokohannya tidak rapuh.
Apakah hal seperti ini merupakan kerja seseorang laki-laki yang nota bene buta huruf hidup di tengah lingkungan ynag buta huruf pula? Tidak, sama sekali tidak. Ini menandakan benar-benar wahyu Ilahi yang mengantarkannya kepada semua tuntunan luas itu dan menjadikan seluruh jagad objek dakwahnya, padahal beliau tidak mempunyai daya dan kekuatan apapun serta umatnya tidak mempunyai Negara seperti yang dimiiki oleh umat-umat lain.
P: Memang, di tengah bangsa Arab ada sekelompok penganut Shabi-i. asal kaum penyembah bintang adalah Dariu Suryani (Babilon). Mereka mengaku agamanya berasal dari Nabi Syit dan Idris. Shalat mereka ada tujuh, yang lima sesuai dengan waktu-waktu shalat muslimin, yang ke enam adalah sahalat dhuha, yang juga terdapat pada kaum muslimin. Beda shalat ini hukumnya sunat pada kaum muslimin. Yang ketujuh waktunya ialah jam enam tepat malam hari. Merekapun mempunyai shalat jenazah, tanpa ruku’ dan sujud. Mereka berpuasa sebulan dalam setahun, seperti kaum musklimin, tetapi waktunya ialah mulai perempat malam terakhir sampai matahari sampai matahari terbenam. Puasa semacam ini hampir serupa dengan puasa kaum muslimin.
Apakah persamaa-persamaan yang aneh ini terjadi secara kebetulan? Tidak sama sekali tidak. Namun sebenarnya Nabi anda telah mengambil tata cara shalat dan puasa kaum Shabi-I ini, kemudian mengaku diberi wahyu dengan kedua macam ibadah ini.
M: Wahai Pastur, harap anda ketahui adalah tidak rasionil Nabi kami datang sebagai Nabi terakhir, untuk mengoreksi syariat-syariat mereka yang telah diselewengkan, menyempurnakan yang masih kurang, dan membawa syariat baru yang sempurna, guna mengakhiri syariat-syariat sebelumnya, kemudian di dalamnya tidak terdapat beberapa persamaan dengan syariat-syariat lain dalam pokok-pokok yang sama, seperti Tauhid, Shalat, Puasa dan lain sebagainya. Karena pokok-pokok semacam ini tidaklah mungkin bisa terjadi  pergantian atau perubahan. Bahkan di dalam hal ini wajib sama. Karena itu Allah berfirman dalam surat Asy Syura 13;
“ Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (QS Asy Syura’42 : 13)”.
Maka tidak aneh shalat yang ada di dalam Islam waktunya sama dengan beberapa waktu shalat yang terdapat pada agama-agama langit sebelumnya. Tidak aneh bilamana puasa di dalam Islam dalam beberapa hal serupa dengan pada agama-agama tersebut. Dengan ini berarti lebih membuktikan bahwa benar-benar ibadah tersebut diwahyukan kepada beliau. Sebab kalau beliau hanya berpura-pura mengaku mendapat wahyu, niscayalah hal-hal semacam ini berusaha disembunyikan. Karena seorang pendusta berusaha sedapat mungkin menyembunyikan kebohongannya dan tidak mau mengetengahkan sesuatu yang bisa dijadikan alat celaan kepada tindakannya.
Sesudah Nabi Musa banyak sekali Nabi yang muncul tidak terhitung banyaknya. Namun mereka tidak mempunyai syariat baru yang mereka bawa bersama kebangkitan mereka sebagai Nabi. Mereka hanya menguatkan syariat Taurat  yang telah diturunkan kepada Musa. Bahkan Nabi Isa As sekalipun datang hanya untuk memperkuat Taurat juga. Tidak ada perbedan dengan syariat Musa, kecuali dalam beberapa hal kecil. Hal yang terjadi pada Nabi-Nabi anda ini ternyata anda dapat menerimanya, wahai Pastur. Padahal syariat kami menemukan adanya syariat-syarat agama sebelumnya telah dirubah dan diselewengkan. Karena itu lalu diluruskan mana yang perlu diluruskan, ditambah mana yang perlu ditambah , sehingga tampil sebagai syariat-syariat yang sempurna berbeda dari syariat-syariat yang lain, kecuali hanya terdapat di dalam pokok-pokok yang memang tidak bisa berubah karena perubahan zaman. Adakah suatu hal yang patut kalau anda dapat menerima apa yang telah berlaku pada Nabi-Nabi anda, tetapi anda mengingkari hal yang sama pada syariat Islam? Pada hal syariat islam merupakan penutup yang tidak mungkin terlepas dari adanya kesamaan dengan agama-agama langit sebelumnya.
P: Di  dalam buku  Avista, karya Zoroaster, seorang Parsi, disebutkan manusia itu mempunyai kehidupan yang mutlak, yaitu kehidupan dunia dan memunyai kehidupan pembalasan, yaitu kehidupan akhirat. Manusia juga mempunyai buku catatan  amal. Apabila telah meninggal setelah lewat tiga hari , maka jiwanya akan merasakan kesenangan atau penderitaan. Kemudian keluarganya akan melakukan upacara keagamaan sebagai upaya mengambil hati terhadap rohnya. Selanjutnya si mayat akan dihisab, lalu ia akan berjalan diatas sebuah jembatan memanjang  di atas jurang neraka jahanam. Bila dia seorang mukmin , maka jembatan ini akan melebar sehingga yang bersangkutan bisa meniti sampai ke syorga. Tetapi kalau dia orang kafir, maka jembatan ini menyempit hingga lebih kecil dari seutas rambut, maka yang bersangkutan tidak dapat melewatinya. Bahkan ia akan jatuh ke dalam jahanam. Bila kebaikan dan keburukan seseorang sama banyaknya, maka ia akan tertahan di suatu bukit, sampai perkaranya diputuskan,  lalu ia masuk neraka atau syurga.
Ajaran ini diambil oleh Nabi anda , dan beliau mengaku mendapat wahyu semacam ini. Padahal ajaran tersebut ratusan tahun sebelumnya telah ada di dalam kitab tersebut.
M: Wahai pastur, persoalan ini sama halnya dengan persoalan tauhid, shalat, puasa dan lain-lain pokok-pokok syariat yang tidak berubah pada semua syariat-syariat langit.
P: Wahai Muhammad, apakah anda beranggapan bahwa Zoroaster itu seorang Nabi?
M: Wahai pastur, dalam agama kami tidak ada sesuatu halangan yang mengingkari adanya kemungkinan Zoroaster sebagai seorang Nabi, Allah berfitman di dalam surat Fatir 24;
Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (QS Fathir 35: 24)”.
P: Zoroaster di dalam kitab Avista menyebutkan ada dua Tuhan, Tuhan baik dan Tuhan buruk. Bagaimana dengan ajaran ini ia dapat dianggap sebagai Nabi.
M: Tuhan buruk di dalam kitab itu yang dimaksud adalah iblis. Karena kepercayaan terhadap ketuhan iblis ini merupakan tindak penyelewengan bangsa Parsi terhadap agama Zoroaster.
P: Sebagian kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur’an berasal dari sebagian buku-buku fiktif pada bangsa Yunani dan dari sebagian buku-buku agama Nasrani yang telah dinyatakan tertolak. Misalnya kisah Qabil dan Habil yang terdapat di dalam surat Al Maidah 27-31;
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” 27. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam 28.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang lalim.29” Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi 30. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal (QS Al Maidah 5:27-31)”.
Kisah ini dalam bentuk perinciannya semacam ini tidak ada di dalam Taurat. Tetapi adanya pada kitab Tarham, termasuk buku-buku fiktif Yahudi yang bernama ; Bir, Sylma dan lain-lain.
M: Buat kami tidak penting tentang adanya kisah-kisah Al Qur’an dalam Taurat anda atau Injil anda, yang anda sendiri menerimanya di lain-lain tempat. Tetapi yang penting bagi kami ialah kisahnya itu sendiri. Ada suatu standar untuk menilai kisah yang benar atau fiktif maka untuk menentukan kisah-kisah itu benar atau tidak, harus kembali kepada standar. Dan kami  bisa menerima penilaian itu dengan akal sehat.
Kisah-kisah Al Qur’an dimana pun sejalan dengan standar penilaian ini. Jadi tidak penting bagi Al Qur’an adanya kisah-kisah tersebut ada pada kitab apapun yang ada sebelumnya. Sebab tujuan Al Qur’an mengemukakan kisah-kisah itu adalah untuk memberikan nasehat yang ada di dalamnya dan tujuan yang dimaksud kisah-kisah tersebut.
Kemudian sang pasur berkata; “ kami mempunyai sebuah buku yang berjudul keprcayaan paganism di dalam agama masehi”.  Cobalah anda berikan kepada kami buku semacam ini dalam agama islam , sebab dengan demikian adanya keyakinan yang benar yang ada di dalam agma-agama  lain tidak menjadikan nya negative terhadap islam. Tetapi bila terdapat aqidah-aqidah paganisme akan menjadikannya negative seperti yang terdapat dalam agama masehi”.
Disini sang Pastur beranggapan dapat melepaskan tusukan terakhirnya untuk menghancurkan logika kebenaran yang disampaikan oleh pemuda yang cerdas dan polos  ini. Sang  Pastur memberi persolaan kepada Muhammad untuk dibicarakan di dalam dialog berikutnya.
ooOoo

Dialog ke sembilanbelas ;
MENGAPA SAYA MENJADI MUSLIM?
DAN MENGAPA SAYA MENJADI NASRANI?
Kali ini Muhammad yang mulai berbicara. Karena pastur Z telah memberikan tuduhan-tuduhannya yang terakhir pada dialog ke 18. Sebelumnya sang Pastur sering kali menghadapi Muhammad sebagai pihak penyerang, sedangkan Muhammad menempatkan diri sebagai pemberi penjelasan. Tetapi di dalam dialog kali ini kedudukannya berubah. Muhammad memulai pembicaraannya dengan pernyataan;
M: Kini telah jelas bagi anda, wahai pastur yang terhormat, mengapa saya menjadi muslim? Telah saya jelaskan kepada anda pokok dan cabang-cabang ajaran islam. Di dalam pokok dan cabang yang manapun dari ajaran islam tidak ada yang perlu dilakukan perubahan sehingga menyimpang dari dasarnya yang pokok. Tetapi kaedah-kaedah dan cabang-cabang itu sebelumnya bersifat permanen sebagaimana adanya sejak diturunkan, tanpa ada perubahan maupun penggantian. Setiap muslim pada setiap masa dan generasi menyerukan pokok dan cabang-cabang tersebut, sehingga tidak ada sesuatu alasan yang mendorongnya harus melihat kebelakang atau miring ke kanan ataupun ke kiri.
P: Wahai Muhammad, kami tidak memerlukan pembicaran seperti itu. Tetapi yang kita perlukan ialah tindak selanjutnya itu apa?
M: Saya ingin bertanya kepada anda dalam dialog ini, mengapa anda menjadi seorang nasrani, supaya masyarakat bisa mempertimbangkan dua jawaban tersebut, yaitu seorang menjadi Muslim atau menjadi Nasrani?
1.    Mengapa saya menjadi muslim?
2.    Mengapa saya menjadi nasrani?
P: Kami mempunyai sebuah buku berjudul “ Mengapa saya menjadi Nasrani?, karya Frank Kraen yantg telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Archimendirit Antonius. Disana anda Muhammad dapat membacanya apa yang ingin anda peroleh jawabannya dari pertanyaan, mengapa aku menjadi Nasrani.
M: Saya telah mengkaji buku ini. Karena itulah saya jadikan pokok bahasan pada dialog ini dan justru di dalam buku itu merupakan suatu titik balik buat anda setelah anda memperkenalkan buku tersebut kepada saya.
Penulis buku ini pada halaman 21, dibawah judul “ Mengapa saya menjadi nasrani”  berkata sebagai berikut; “ Perselisihan paham yang secara permanen menimpa berbagai golongan Kristen sepanjang generasi sama sekali tidak berpengaruh pada pikiranku. Bila anda bertanya kepadaku, apakah saya percaya kepada Trinitas atau keEsaan, sebenar nya sama saja nilainya dengan pertanyaan anda padaku apakah aku megikuti aliran paganisme atau kontra paganisme? “
Selanjutnya ia menulis;
“ Aku ingin menjelaskan sebab-sebab yang menjadikan aku mau menamakan diriku sebagai seorang Nasrani, yang dengan demikian akan dapat membantu mayoritas orang-orang Nasrani untuk bisa memahami kenasraniannya. Sebab banyak orang yang mengaku menjadi nasrani, namun perbuatannya berlawanan dengan ajaran Nasrani. Sebaliknya banyak orang yang melaksanakan ajaran nasrani, walaupun tidak menyebut dirinya sebagai seorang Nasrani”.
Kemudian ia menutup tulisannya dengan mengatakan; “ jika anda bertanya kepadaku, mengapa saya percaya kepada Trinitas atau Keesaan Tuhan, atau apakah aku Katolik atau Proterstan, atau apakah aku seorang aliran Methodis atu Mormon? Maka pertanyaan  ini sama nilainya  dengan anda bertanya kepadaku apakah saya beraliran Paganisme atau Kontra paganisme”.

Hal seperti ini ia tulis kembali pada halaman dalam buku itu ;
“ tentang pembicaraan Trinitas, apakah Tuhan itu satu  di dalam tiga oknum (tuhan Bapak, tuhan putra, dan ruhul kudus) atau hanya Tuhan yang tunggal tanpa oknum , maka persolan ini adalah suatu masalah yang tidak sanggup saya mengerti. Pesoalan ini jauh lebih tinggi dari keampuan akalku untuk memahaminya. Persoalan ini tidak berpengaruh pada kehidupanku sebagai seorang Nasrani, selagi saya beriman kepada kekuatan ilaiyah yang begitu agung di dalam semua penampilan kehidupan. Adapun orang beranggapan Tuhan akan murka kepadaku karena aku belum bisa percaya kepada suatu hal yang tidak dapat saya mengerti, menurut keyakinanku hanyalah suatu persangkaan yang tidak benar sama sekali”
Selanjutnya pada halaman 256 ia menulis ;
“ saya sungguh-sungguh sangat percaya bahwa banyak pembaca buku ini akan mengatakan bahwa penulis buku ini sama sekali tidak tepat untuk dikatakan sebagai seorang Nasrani yang punya iman. Menurut pendapatku, pembaca seperti itu telah mengklaim dirinya sendiri dan saya  sebenarnya  adalah orang yang dianggap kafir oleh mayoritas aliran dan  golongan orang yang  menyangka  dirinya sebagai orang Nasrani. Sebab saya berkeyakinan bahwa bagian terbesar dari pokok ajaran Nasrani adalah penjelmaan ajaran berhala”
Pada hal 39 di bawah judul ; “ Kepercayaanku kepada Al masih tidaklah berdasarkan keyakinan yang resmi”
Ia menulis; “ saya percaya kepada Yesus dan menganggapnya sebagai salah seorang guruku. Aku namakan diriku salah seorang muridnya.  Namun kekuatan yang mendorong  berbuat seperti ini  hanyalah semata-mata  timbul dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Yesus yang tertulis di dalam halaman-halaman Injil. Aku tidaklah percaya bahwa Yesus  sebagai putra Allah saja. Sebab ada golongan manusia mengatakan bahwa dia adalah Tuhan itu sendiri. Tetapi golongan lain mengatakan , bahwa dia hanyalah tokoh besar. Sebenarnya saya hanya  percaya  bahwa beliau adalah satu-satunya guruku. Bagi saya tidaklah ada bedanya apakah ia sebagai Tuhan yang turun dari langit  lalu menghabiskan beberapa tahun tinggal di bumi, atau ia sebagai  pemimpin diantara pemimpin-pemimpin  yang bijak dan menghabiskan umurnya sebagaimana makhluk hidup lainnya? Di dalam kondisi seperti ini saya  beranggapan bahwa apa  yang dikatakan  dan dilakukan oleh beliau sudahlah cukup  untuk memberikan pengajaran padaku dan keberuntungan kepadaku.”
Wahai pastur yang terhormat, apakah arti omongan sang penulis ini? Bukankah dengan omongannya itu , sedikitnya telah menunjukkan kelemahannya untuk membuktikan kebenaran ajaran Trinitas? Dan lebih jauh lagi bukanlah omongannya itu berarti meragukan atau mengingkari ajaran  Trinitas.
Apakah kepercayaan Trinitas itu? Bukankah Trinitas merupakan kepercayaan Kristen yang pokok? Bukankah pula merupakan ajaran yang paling penting silahkan anda menjawab pertanyaanku, wahai Pastur.
P: Memang pertanyaan seperti itu sudahlah satu keraguan dan kekafiran terhadap Trinitas. Dan dia sama sekali bukan termasuk dari kalangan Nasrani kami.
M: Pada halaman 159 dari buku yang sama dibawah judul “ Kebimbangan terhadap keselamatan” ia menulis sebagai berikut ;
“ Bagaimana orang berkeyakinan bahwa Yesus datang ke dunia untuk mempertegas penebusan dosa-dosa kita, atau dengan kata lain untuk memelihara kita?
Selanjutnya dia berkata;
“ Keselamatan yang sesungguhnya di dalam hidup adalah keselamatan yang diperoleh berdasarkan amal anda setiap hari. Adapun keselamatan yang anda impi-impikan akan anda peroleh sesudah mati, ibaratnya serupa dengan pelangi yang tampak indah dan menarik bagi anda menjelang Matahari terbenam. Ia tampak indah lantaran nun jauh di sama dari anda. Tetapi bila anda dapat dekat ke tempat itu,  akan ternyatalah hanya sebuah goresan yang gelap”.
Iapun selanjutnya berkata;
“ Di dalam agama Nasrani ini sendiri, ajarannya membuat kami tidak bisa mengerti kepercayaan penebusan dosa. Kami tidak mengerti bagaimana  supaya kami dapat memperoleh manfaat dari kepercayaan seperti itu. Kepada kami diberikan gambaran palsu   bahwa hidup ini akan berbekah , hanyalah bisa terujud  dengan baik pada diri kami sesudah kami hidup dialam akhirat. Hidup yang berbarokah adalah suatu keharusan adanya disana. Sedangkan penebusan dosa  ternyata tidak bisa menjadi satu kekuatan yang dapat menyelamatkan kami dari penderitaan di dunia ini. Bahkan ia harus menjadi suatu kekuatan yang mengangkat jiwa kami ketingkat kesempurnaan tertinggi, sehingga kami bisa hidup berlimpah dengan berkah dan kebahagaiaan “.
Iapun selanjutnya berkata ;
“ Sungguh sangat salahlah mereka yang menggunakan kata penebusan dengan pengertian menyelamatkan manusia dari siksa neraka jahanam di akhirat kelak. Karena kepercayaan seperti ini sama sekali bukan ajaran Nasrani tetapi ajaran agama  berhala kuno yang diambil dari kepercayaan fiktif bangsa Yunani dari Mesir serta merupakan kepercayaan mereka tentang alam kedua yang bersifat rahasia”.
Apa artinya dari omongan penulis ini wahai pastur? Bukankah ini suatu kekafiran terang-terangan terhadap kepercayaan penebusan dosa? Apakah sebenarnya kepercayaan ini suatu hal yang terpenting di dalam agama anda? Bukankah pengingkaran kepercayaan ini sama artinya dengan mengingkari kepercayaan penyaliban dan penebusan dosa? Apa artinya penulis bersikap meragukan adanya alam kedua sesudah mati? Benarkan alam kedua ini merupakan aqidah ajaran berhala yang bersumber dari kepercayaan bangsa Yunani dan Mesir?
P: Memang , sikap seperti itu adalah pengingkaran aqidah penebusan dosa. Dan dia sama sekali bukan dari golongan pengikut Nasrani kami.
M: Selanjutnya sebagai penutup suatu pasal yang bejudul “ kebimbangan terhadap doktrin pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas”.
Banyak orang berkata ; “ agama nasrani sepanjang masa perkembangannya, pemeluknya mengalami kekecewaan dan kegagalan” hal serupa ini pernah kami perbincangakan bersama. Tatcher Town:
“ Prinsip-prinsip ajaran Nasrani belum pernah sama sekali diuji dalam kehidupan nyata, agar seseorang berani mengambil suatu ketetapn terhadap nilai-nilainya. Tetapi apabila seluruh dunia atau bagian manapun dari dunia ini mencoba ajaran-ajaran Yesus dan prinsip-prinsipnya , maka pada  saat itu lah mereka berhak untuk mengaku sebagai Nasrani  karena telah membuktikannya. Tetapi selama kita membatasi kenasranian kita dalam bentuk menyenandungkan doa ratapan, membaca pujian, melaksanakan upacara dan adat kebesaran menurut tatacara penyembahan berhala dan tradisi  ibadah mereka, maka sama sekali kita tidak berhak untuk mengaku melaksanakan prinsip-prinsip ajaran Nasrani”.
Selanjutnya dengan kalimat yang senada dibawah  judul “ Bagaimana saya memahami agama Kristen”, halaman 201, ia menulis ;
“ Yesus datang ke dunia ini adalah untuk mengajarkan kepada manusia bagaimana cara hidup di dunia ini, bukan untuk membangun agama baru yang diatasnamakan diriNYA”
Selanjutnya ia berkata;
“ Kalau saya membicarakan agama Yesus, saya membicarakan dengan sikap penuh ragu dan bimbang. Sebab saya tidak percaya Yesus seperti seorang pengajar agama . Sebab kata “ agama” di dalam  perjanjian baru hanya dipakai satu kali saja. Padahal menurut sepanjang pengetahuan kami, Yesus sama sekali tidak pernah menggunakan kata “agama” ini. Karena itu terbayang pada diri saya, bahwa sesungguhnya beliau adalah seorang yang luas ilmunya lagi mengerti benar rahasia kehidupan ini lebih banyak daripada yang dipahami oleh siapa pun dari imam Nasrani. Beliau telah mencapai tingkat makrifat tinggi. Ia telah memahami  hakekat syariat-syariat yang agung yang mengajarkan jalan –jalan hidup di dunia ini. Namun saya sering sekali tetap ragu, bahwa beliau bermaksud untuk membangun suatu agama baru sebagaimana keraguan saya kepada maksud beliau untuk membentuk suatu kelompok yang menggunakan nama beliau.
Wahai pastur, apakah masih ada hal yang lebih keras dari pada sikap penulis ini  dalam mengingkari ajaran Nasrani? Adakah pula sikap lain yang lebih luas dari ini yang menyatakan keingkaran terhadap nasrani sebagai suatu agama? Karena itu untuk selanjutnya masih adakah suatu jawaban yang benar yang dapat digunakan oleh penganut Nasrani untuk menjawab pertanyaan; “ mengapa aku menjadi seorang nasrani?
Wahai pastur, sebenarnya isi dari kitab yang anda sebutkan itu namanya bertentangan dengan isinya. Mestinya buku tersebut dinamakan; “Mengapa saya tidak masuk Nasrani?”.
Pastur Z tidak menjawab sepatah katapun. Bahkan ia meminta kepada Muhammad agar berhenti sampai disini pembicaraan dialognya. Kemudian kedua orang ini sepakat akan mengakhiri dialog-dialog sekali lagi. Pastur Z menjanjikan kepada Muhammad untuk mengungkapkan rahasia besar kepadanya besok..
Rahasia ini menerangkan tujuan tersembunyi dari segala gerak langkah yang selama ini dilakukan misionaris Nasrani. Iapun akan menjelaskan betapa besar dana yang dibelanjakan  oleh berbagai pemerintah Eropah dan Amerika dalam kegiatan misinya, padahal pemerintah Negara-negara tersebut adalah sekuler (non agama) dan tidak  peduli dengan urusan agama.
ooOoo

 

Dialog ke duapuluh;
MENGAKUI KEBESARAN ISLAM HARUSKAH
MENINGGALKAN AGAMA-AGAMA YANG LAIN?
Pastur Z bermaksud dialog kali ini adalah terakhir. Sebab dia menghadapi Muhammad sebagai lawan bicara yang kuat argumentasinya, tepat memberikan alasan, cepat menyampaikan pikiran. Maka ia kemudian mulai pembicaraanya sebagai berikut;
P:  Kalau kita dapat menerima kebenaran agama anda, itu berarti kami harus meninggalkan agama kami untuk pindah ke agama anda. Karena Al Qur’an anda telah menyebutkan bahwa agama kami akan tetap ada sampai hari kiamat. Inilah firman tuhan dalam surat Ali Imran 55-57’
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”55. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong 56. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim (QS Ali Imran 3:55-57)”.

Karena itu silahkan wahai anak muda , anda tetap dalam agama anda dan kami tetap dalam agama kami.
M: Wahai Pastur yang terhormat. Omongan anda itu benar kalau yang dimaksudkan oleh ayat Al Qur’an tersebut itu “ dan menjadikan mereka yang mengikuti engkau” adalah pemngikut dari agama Nasrani yang sudah dipalsukan. Namun sungguh sangat jauh dari pengertian semacam itu. Tetapi yang dimaksud dengan “mereka yang mngikuti engkau” ialah kaum muslimin yang menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Adapun orang Yahudi , mereka telah mendustakan Nabi Isa As, sedangkan kaum Nasrani telah mendustakan Nabi Muhammad saw dan memalsukan kitab sucinya. Yang dimaksud dengan “mereka  yang mengikutinya” yang memiliki kekuatan argumentasi di sepanjang zaman dan segala keadaan, punya kekuasaan dan mampu menjadi pemenang di saat golongan ini muncul dan teguh berpegang pada agamanya, maka sebenarnya sifat-sifat tersebut secara tepat adalah dimiliki oleh kaum muslimin. Karena mereka inilah sebagai pengikut dalam  pokok-pokok  ajaran islam walaupun dalam cabang-cabangnya mereka menyalahi. Dapat juga kaum Nasrani di kategorikan sebagai halnya kaum muslimin di dalam mengikuti pokok ajaran tersebut sebelum datangnya ajaran islam. Sebab kaum nasrani secara garis besar telah mengikuti ajaran beliau sampai saat Islam datang. Namun, setelah islam menjelaskan kepada mereka adanya tindakan pemalsuan terhadap agama mereka, maka ciri-ciri tersebut sudah tidak lagi mereka dapati. Karena itu hanya tinggal kaum muslimin saja yang menepatinya. Sebab itu mereka lah menjadi golongan yang lebih patut dikatakan sebagai pengikut Nabi yang dikabarkan kedatangannya oleh Isa dari pada golongan Nasrani. Begitu pula adalah kaum muslimin yang lebih patut dikatakan sebagai pengikut pada Nabi Isa dari pada  umat-umat lain. Allah telah menjelaskan di dalam surat Al Baqarah apa yang dimaksud ayat-ayat surat Ali Imran di atas. Allahpun  menjelaskan bahwa kami lebih patut menjadi orang yang mengikuti Nabi isa dan Nabi-Nabi sebelumnya sebagaimana firmanNya dalan surat al baqarah 130-133;
“ Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh 130. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” 131. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”132. Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.                  (QS Al Baqaraah 2:130-133)”.

Jadi orang islamlah yang benar-benar beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi terdahulu itu. Sedangkan umat Yahudi dan Nasrani sama sekali bukan dari golongan pengikut Nabi-Nabi itu.

Allah berfirman di dalam surat Al Baqaraah 134 ;
“ Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan (QS Al Baqaraah 2:134)”.
Bila keadaan kaum muslimin benar sebagai dimaksud kan di dalam ayat tersebut dengan sendirinya merekalah yang dimaksud dalam surat Ali Imran, “ dan dialah yang menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau menguasai orang-orang kafir sampai hari kiamat”, yang lebih mirip kepada penyembahan berhala dari pada jalan lurus yang merupakan karakter pokok agama islam, Yahudi dan Nasrani.
P: Bila kami, umat nasrani telah memalsukan agama-agama kami, maka anda umat islampun telah memalsukan agama anda juga. Anda telah mengakui adanya perbuatan ini dan anda tidak pernah mengingkarinya. Apa yang selama ini menimpa anda, sehingga anda mengalami penderitaan dan musibah sebagai akibat dari pemalsuan itu. Di dalam hal ini kami dan anda tidak ada bedanya. Anda tidak berhak membanggakan agama yang telah anda sia-siakan itu. Anda akan mengalami nasib sebagai mana yang menimpa umat-umat sebelumnya, yaitu umat yang telah anda cela telah berbuat memalsuikan agamanya. Anda mengaku agama anda  datang untuk memperbaiki pemalsuan-pemalsuan yang telah terjadi pada mereka.
M: Saya tidak menyangkal apa yang anda katakan itu wahai Pastur. Kami memang telah melakukan penyelewengan agama. Hal ini menjadi sebab turunnya berbagai bencana dan kehancuran pada kami. Tetapi penyelewengan kami terhadap agama kami tidaklah patut disebut sama dengan penyelewengan agama yang  anda anda lakukan. Sebab yang anda lakukan adalah pemalsuan pada prinsip-prinsip Aqidah, sehingga menjadikan agama itu rusak. Dan juga pada kitab—kitab suci anda, sehingga yang kami lakukan tidak begitu. Karena pokok-pokok agama kami tetap seperti sedia kala dan kitab suci kami dijamin oleh Allah tidak akan mengalami perubahan apapun. Penjagaan kemurnian ini Allah janjikan kepada kami dalam surat Al Hijr 9;
“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS Al Hijr 15:9)”.
Selanjutnya kamipun selalu berjuang memperbaiki kerusakan-kerusakan kami, membersihkan agama kami dari bid’ah-bid’ah yang berjangkit di dalamnya. Isyaallah perkara ini penting lagi mudah dikerjakan. Berbeda dengan anda yang terus menerus terpaku pada langkah-langkah memalsukan ajaran agama anda. Sebab melakukan perbaikan pada agama anda berarti  menghancurklan dasar-dasar agama anda dan akhirnya memaksa anda masuk agama kami. Namun langkah seperti ini tidak anda lakukan.
P; Wahai anak muda , kalau anda sungguh-sungguh perlu melaksanakan pembahasan pada agama anda. Sebaiknya anda mulai melaksanakan dari diri anda. Semoga anda dan keluarga anda diberkati Allah.
Pastur Z kemudian mengumumkan diakhirinya dialog. Dia mengajak Muhammad masuk ke dalam kamarnya dalam gedung Seminary. Ia membisikan kepada Muhammad soal yang selama ini dirahasiakan dari oprang lain.
Ia berkata; “ wahai Muhammad telah anda ketahui apa yang telah saya sampaikan kepada anda. Sebenarnya lebih baik saya tidak pernah bertemu anda, tidak pernah membuka dialog dengan anda, sehingga saya tidak terganggu dengan pikiran macam-macam dan perasaan gelisah. Wahai anak mudaku sayang, aku ini adalah ketua misionaris  di negeri kamu ini. Kami mempunyai tujuan-tujuan politik lain yang harus kami perjuangkan disini. Tujuan-tujuan keagamaan bagi kami hanyalah sdemata-mata alat. Saya harap anda mengerti maksud saya ini, wahai Muhammad. Silahkan lah wahai anakku terus bekerja di sekolahmu. Tinggalkanlah kami untuk berjuang mencapai tujuan rahasia kami”.
Muhammad lalu meninggalkannya dan datang ke hadapan ayahnya, lalu menceritakan kepadanya rahasia yang dibisikan sang Pastur kepadanya. Sang ayah heran melihat orang-orang yang lebih mengutamakan kesenangan dunia dari pada kebahagiaan akhirat. Ia mengingatkan kepada anaknya firman Allah tentang prilaku nenek moyang mereka dalam surat Al Baqarah 146;
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui    (QS Al Baqaraah 2:146)”.

ooooooOOOooooooo

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KISAH ABRAHAM YANG MENARIK DI DALAM KITAB BIBLE

KISAH ABRAHAM YANG MENARIK DI DALAM KITAB BIBLE
Disusun oleh : Rahmanhadiq

Abraham adalah seorang yang dianggap telah melahirkan 3 agama besar dari keturunannya. Ketiga agama ini sama-sama mengklaim bahwa agama mereka yang diturunkan langsung dari Allah dengan bukti kitab yang mereka miliki. Apakah kitab PL dapat dijadikan bukti sebagai Taurat asli dari Allah SWT ?
Marilah kita buka hatinurani kita, kita buka pemikiran kita yang terbaik dan sejujurnya untuk menilai kebenaran kisah Abraham yang tertulis di dalam kitab Taurat atau Perjanjian Lama di dalam Bible. Disini kita hanya menggunakan hatinurani dan akal budi yang terdapat di dalam diri seorang manusia yang paling dalam untuk menilai sebuah kebenaran ataupun sebuah kepalsuan. Tentu saja kita tidak mungkin menerangkan secara historis, karena hal ini mustahil untuk dilacak dan kita tidak mungkin kembali ke zaman purba. Marilah kita bongkar secara logika dan hati nurani untuk membahas kebenaran ayat-ayat kitab suci Bible, lalu kita bandingkan dengan keterangan yang ada di dalam AL Qur’an. Karena kedua kitab tersebut dapat dijadikan sebagai rekam jejak yang paling otentik dan diakui oleh masing-masing penganutnya.
Saya akan coba analisa kebenaran kedua kitab tersebut dengan logika dan hati nurani saya demi untuk mendapatkan setitik kebenaran.
Kita mulai dari awal kisah perjalanan Abraham kenegeri yang dijanjikan oleh Allah sendiri.
1Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu ( Kej 12:1)
Allah menjanjikan negri (tanah) yang lebih baik bagi Abraham agar dapat melanjutkan kehidupan bagi anak keturunannya yang akan berkembang biak seperti banyaknya bintang-2 dilangit yaitu di tanah Kanaan itu ;
7Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. (kej 12:7)
17Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu (Kej 13:17).”
Kalau Ayat ini dari Allah, tentunya Allah tidak akan mengingkari janjinya, yaitu sebuah tanah yang lebih subur untuk menghidupi anakcucunya kelak. Tetapi apa yang terjadi ? Belum berapa lama Abraham menetap disana, masih belum melahirkan Istrinya Sarai, belum ada Ismael dan belum ada juga Ishaq, tenyata tanah yang dijanjikan oleh Allah tersebut mengalami bencana kekeringan dan kelaparan? Bukankah Allah sendiri yang menyampaikan perjanjiannya, bukankah tidak tertulis bahwa Abraham tidak berdo’a sebelumnya pada Allah, lalu kenapa Allah melanggar janjinya sendiri? Seorang manusia masih bisa memegang janjinya, tetapi Allah tidak konsisten dengan janjinya. Kenapa Allah memerintahkan Abraham meninggalkan tanah Leluhurnya yang lebih subur dibandingkan negeri Kanaan ini?
10Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu (kej 12 :10)”
Menurut logika dan akal budi yang baik dan benar , tidak mungkin Allah lebih rendah dari sifat manusia yaitu tidak dapat dipegang jinji-janjinya. Padahal Abraham sebelumnya tidak meminta Allah berjanji. Keterangan ayat ini seperti sebuah propaganda bagi umat Yahudi bahwa keturunan Abraham yang sudah dijanjikan tanah di daerah Kanaan itu.
Dari kitab kejadian ayat 10 diatas , maka wajar saja Abraham pergi meninggalkan tanah yang dijanjikan tersebut, karena tanah itu tidak ada harapan untuk anak cucunya. Bahkan Abraham berangkat meninggalkan negri itu, tanpa menanyakannya lagi pada Allah, tanpa meminta izin pada allah, tanpa memohon dihilangkan bencana itu. Sepertinya Abraham pergi tanpa pesan kepada Allah. Kemudian apa yang dialami oleh Abraham di negeri Mesir yang ternyata lebih kaya dan lebih makmur daripada tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham ? Menurut yang tertulis di dalam kitab Perjanjian lama yang dikira Taurat oleh Pendeta ini, ternyata Abraham melakukan sebuah tindakan yang sangat memalukan untuk ukuran seorang nabi yang akan menjadi contoh bapak dari seluruh bangsa dibumi ini.
Karena takut dibunuh oleh Fir’un, maka Abraham membuat siasat besar. Abraham menyuruh istrinya berbohong kepada Fir’un ;
12Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”( Kej 12:12-13)
Sepertinya Abraham sudah tidak punya pegangan hidup lagi sehingga dia tidak percaya lagi kepada Allah, dia ragu-ragu pada janji-janji Allah, dia menggantungkan nasibnya pada hasil siasat yang sudah direncanakannya dengan istrinya Sarai. Sepertinya Abraham lebih mementingkan jatah makanan daripada mati kelaparan. Sepertinya perjanjian lama menempatkan karakter Abraham lebih rendah dari seorang peminta-minta. Bahkan seorang pengemispun tidak akan sudi menggadaikan istrinya kepada orang lain. Apakah ini sebuah kitab suci yang menghormati seorang nabi. Apakah yang tertulis di dalam kitab perjanjian lama itu merupakan keterangan asli dari kitab Taurat?
Apakah yang dialami oleh Abraham selama di negri Mesir itu? Ternyata siasat yang dibuat oleh Abraham berjalan dengan mulus, bahkan Abraham dihadiahkan banyak hewan peliharaan , harta benda dan budak-2 laki dan perempuan.
16Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. (kej 12:16)”
Namun apa yang terjadi kemudian ? ternyata kebohongan besar Abraham sudah bocor ke tangan Fir’un, sehingga Abraham dipanggil untuk dinterograsi oleh Fir’un.
18Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: “Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? (Kej 12:18)
Kenapa Abraham baru mengaku setelah terdesak, bukankah seharusnya seorang calon bapak bangsa-bangsa tidak akan melakukan kehinaan yang memalukan tersebut? Kalau begini , apakah benar perjanjian Lama itu adalah kitab Taurat?
Lalu mengakulah Abraham , tetapi Abraham merasa tidak berdosa dan tidak melakukan penipuan. Abraham membela dirinya dengan mengatakan bahwa dia berkata benar, karena Sarai adalah adik tirinya ;
19Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? (kej 12:10)
Abraham tetap tidak bergeming untuk mengakui kebohongannya. Bagaimana seorang bapak banga-bangsa bisa bemain kata-kata serendah itu? Bukankah niatnya sebelumnya adalah untuk menghindari kematian demi mendapatkan jatah makanan dari raja manusia yang lebih ditakutinya dari pada Allah? Bagaimana keterangan ini bisa masuk kedalam Perjanjian Lama yang katanya adalah Taurat. Sepertinya perjanjian lama telah menempatkan seorang nabi sebagai karakter yang lebih rendah dari seorang pengemis, bahkan seorang perampok sendiripun tidak akan melakukan kelicikan seperti Abraham tersebut.
Tetapi ternyata raja manusia lebih baik dari pribadi seorang bapak bangsa-bangsa. Fir’un membebaskan Abraham tanpa syarat , serta menyerahkan semua barang , harta dan budak yang pernah diberikan pada Abraham. Cerita ini menempatkan Abraham sebagai manusia biasa , bukan sebagai bapak bangsa-bangsa. Kenapa kitab perjanjian lama menempatkan Abraham pada kondisi yang begitu buruk ? Jelaslah bahwa kitab perjajian lama bukan kitab taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Tidak mungkin Allah memilih Abraham sebagai nabi yang dijanjikan untuk mendapatkan kemualiaan itu, tetapi dihinakan di dalam catatan kitab PL.
Apa yang terjadi setelah Abraham tidak diterima lagi di Mesir yaitu setelah Abraham dideportasi oleh pemerintah Mesir dengan cara yang halus.
Setelah Abraham sudah kaya raya dari hasil peternakannya hadiah Fir’un, lalu Abraham bertanya kepada Tuhan kenapa dia belum juga diberi anak seorangpun ;
2Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” 3Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kej 15:2)
Keterangan ayat diatas menunjukan bahwa Abraham kuatir , apabila tidak punya anak maka hartanya yang banyak itu akan dinikmati oleh pembantu dan budak-budaknya. Abraham tidak tulus berdo’a kepada Allah, beliau hanya merasa ketakutan dan cemas kalau hartanya jatuh pada orang lain. Kemudian Allah menjawab permohonan Abraham ;
4Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.(Kej 15:4)”
Didalam keterangan ayat diatas, sudah ada ketentuan dari Allah kepada Abraham bahwa dia akan mendapatkan seorang anak, tetapi anak yang akan lahir tersebut tidak akan mempunyai hak-hak sebagai anak terhadap Bapaknya, artinya anaknya itu akan kehilangannya hak sebagai anak. Anak yang dimaksud oleh ayat ini adalah anak bibologis saja. Seorang anak tidak mempunyai hak terhadap bapaknya, sehingga kelak anak ini boleh dibuang tanpa diberikan haknya , begitulah ketentuan Allah yang berlaku untuk bapak segala bangsa ini. Sebuah ketentuan ayat yang aneh. Bagaimana mungkin Allah sendiri yang menciptakan perbedaan dalam hirarki sebuah keluarga. Artinya yang menciptakan perbedaan kasta dan perlakuan tidak adil di dalam keluarga bersumber dari Allah. Sepertinya Allah bukan merupakan sosok yang mampu berbuat adil dan memberikan contoh persamaan hak kepada umat manusia, khususnya kepada Abraham yang akan ditunjuk sebagai panutan bagi seluruh manusia. Ayat ini benar-benar ngawur. Tidak sejalan dengan pemikiran hatinurani manusia yang menyababkan perbedaan kasta di dalam kebudayaan manusia. Tentu saja umat Kristen dan Yahudi tidak mampu membantah ayat ini, karena tertulis atas firman Allah. Padahal kontek ayat ini adalah untuk menghalangi perdebatan dari umatnya. Hanya orang yang punya keberanian dan logika yang jernih mampu menentang ayat ini.
Bukankah peradaban manusia sepanjang sejarah terus berusaha memperjuangan persamaan Hak azazi? Tetapi keterangn PL ini bertentangan dengan perjuangan manusia beradab. Bagaimana Abraham memberikan contoh yang baik sebagai bapak bangsa-bangsa kalau dia sendiri tidak dapat berbuat adil di dalam keluarganya sesuai dengan perintah Allah ? jadi ketentuan ayat ini benar-benar cacat secara akal budi. Jelas bahwa ayat tersebut bukan buatan Allah , tetapi sebuah propaganda untuk membangga-banggakan sesuatu kaum.
Singkat cerita, Abraham pun mengawini seorang budak yang dibawanya sebagai hadiah dari Frir’un yang bernama Hagar. Pada masa kehamilnya , Hagar mendapat tekanan dari Sarai, istri tua Abaraham, karena tabiat hagar yang dipandang tidak menunjukan kesopanan sebagai pembantu dimata Sarai, sehingga Hagar sempat diusir. Hagar dipandang sebagai pembantu yang tidak lagi hormat kepada bekas majikannya sehingga membuat Sarai Iri dan tersinggung. Lalu Hagarpun diusir oleh Sarai ;
“4Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. ( kej 16:4)
PL tidak menjelaskan bentuk ungkapan memandang rendah yang diperlihatkan oleh Hagar kepada majikannya itu. Ketika Abraham menerima laporan dari istri tuanya Sarai, Abraham pun menyerahkan Hagar kepada keputusan Sarai ;
6Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik. (kej 16:6)
Setelah mendapat izin dari Abraham, maka Sarai langsung menindas bekas pembantunya itu ;
“6Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. (kej 16:6)
Pertanyaannya adalah ; perkataan dan penghinaan apakah yang dilontarkan oleh Sarai kepada Hagar sehingga Hagar memilih lebih baik pergi meninggalkan rumah suaminya dari pada tetap berada di tempat itu. Bukankah selama menjadi pembantu pada keluarga terhormat itu, Hagar masih mampu hidup bersama mereka? namun setelah dia dijadikan istri, Hagar justru memilih minggat dari rumah bekas manjikan tersebut. Tentu saja penindasan yang dialami Hagar lebih berat dirasakannya dibandingkan ketika dia masih menjadi budak, sehingga dia memilih lebih baik keluar saja. Bukankah seharusnya mereka memperlakukan Hagar lebih baik dari pada sebelumnya? Tetapi Abraham sebagai suami dari Hagar tidak menunjukan sifat keadilan dan kasih sayangnya sama sekali. Hal ini menunjukan bahwa Abraham dan istrinya Sarai tidak lebih baik dari manusia kebanyakan yang tidak pantas menyandang gelar Bapak dari segala Bangsa.
Bagaimana kitab perjanjian lama menceritakan kemelut rumah tangga dari seorang nabi yang tidak dapat mencerminkan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sekurang-kurangnya memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya memperlakuan seorang istri yang berasal dari kasta yang lebih rendah. Hal ini sama saja dengan penghinaan dan perbedaaan derajat dalam rumah tangga yang mulai dicetuskan oleh seorang Nabi dengan izin Allah. Begitulah yang diceritakan oleh Kitab Perjanjian Lama, sebuah kisah dongeng yang tidak menyentuh harkat keadilan dan kemanusiaan.
Ketika Hagar sudah jauh meninggalkan rumah tangisan itu, lalu datanglah malaikat Tuhan yang merasa kasihan kepada Hagar;
“9Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya (kej 16:9) “
Ternyata kedatangan Malaikat Tuhan tersebut bukan untuk menghibur kesedihan Hagar, tetapi menyuruh Hagar kembali kerumah majikannya. Kedatangan Malaikat Tuhan itu bukan untuk mencarikan jalan keluar seperti mencarikan penginapan atau tempat lain yang lebih baik. Tetapi justru menginginkan Hagar tersiksa lagi dan membiarkan saja tindakan tidak adil, dia dipaksa menerima nasibnya dengan pasrah tanpa boleh menunjukan sikap kritisnya. Nasibnya sudah ditentukan sebagai budak yang harus menerima nasib sebagi budak. Semua pihak telah merampas hak-hak seorang istri yang berasal dari kasta yang rendah. Bukan hanya Sarai saja yang memperlakukan Hagar sedemikian hina, tetapi Abraham juga, ditambah lagi Malaikat Tuhan yang tentunya sengaja dikirim oleh Tuhan untuk mencegah kepergian bekas Budak tersebut, dan ada lagi yang paling berkuasa untuk meniadakan hak-hak Sarah dan anaknya sebagai orang yang tertindas yaitu Allah, sebagaima yang telah disampaikan pada ayat di atas (kej 15:4).
Bagaimana mungkin ayat-ayat yang tidak menunjukan nilai moral yang dapat dicontoh tersebut berada di dalam Kitab Perjanjian Lama? benarkan Kitab perjanjian lama ini merupakan kitab Taurat yang asli. Sepertinya cerita ini tidak lebih dari sebuah dongeng yang tidak pantas diceritakan kepada anak didik karena akan merusak budipekerti mereka nantinya. Bahkan Malaikat Tuhan telah memberi gelar kepada calon anak Hagar itu dengan gelar “keledai liar” ;
12Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya. (kej 16:12)”
Artinya anak Hagar nantinya menjadi seorang yang suka berperang dan melakukan pertumpahdarahan, termasuk kepada saudara-saudaranya sendiri. Kitab Perjanjian lama ini menempatkan keturunan Abraham, dari Ismael sebagai keturunan bangsa penyamun yang dipandang rendah dan hina. Beginilah pandangan Kitab Suci Bibel yang sudah menanamkan bibit penghinaan dan merendahkan keturunan Abraham. Bagaimana mungkin sebuah kitab yang seharusnya tidak memberitakan sebuah bibit perbedaan ras dan bibit penghinaan kepada keturunan Abraham, ternyata benar-benar ada. Sepertinya kitab Perjanjian Lama ini merupakan sebuah propaganda untuk membangga-banggakan keturunan Abraham dari anaknya yang lain yaitu ishak. Jadi siapa sebenarnya yang menulis Kitab PL ini, kaum Yahudi atau Kaum Nasrani?
Akhirnya Hagarpun melahirkan anaknya dan diberi nama Ismael. Ketika Ismael Lahir umur Abraham sudah 86 tahun ;
15Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. 16Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.(kej 16:15-17)”

Ketika ismael berusia 13 tahun, atau ketika Abraham berusia 99 tahun, Allah datang menemui Abraham untuk mengadakan perjanjian ;
1Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (kej 17:1)”
Adapun isi perjanjian yang terpenting adalah ; seluruh keturunan Abraham yang laki-laki harus disunat pada umur 8 hari. Abrahampun menyunat anaknya Ismael pada usia 13 tahun, ketika perjanjian itu disepakati.
“13Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (kej 7:13) “
Ayat ini menampilkan sebuah perjanjian yang teguh dan kekal antara Abraham dengan Allah, yaitu perjanjian tentang disunat untuk seluruh keturunan Abraham yang laki-laki. Keterangan ayat dapat diterima sesuai dengan bukti-bukti yang ada. Bahkan Yeus pun disunat pada umur 8 hari. Tetapi ketentuan disunat ini sudah tidak berlaku lagi untuk selama-lamanya bagi penganut agama Kristen sekarang ini, padahal umat kristen masih mengaku sebagai keturunan Abraham.
2Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 3Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 4Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5:2)”
Ternyata Paulus menghapus hukum sunatan yang ada di dalam Taurat tersebut. Bahkan dia melarang hukum sunat itu dengan mengulanginya kalimatnya untuk memberikan tekanan dan ancaman sebanyak 2 kali; jika orang kristen yang bersunat maka dia wajib melaksanakan seluruh hukum Taurat sedangkan bagi yang tidak bersunat cukup Yesus menanggungnya. Begitu juga sebaliknya, jika umat Kristen mengharapkan kebenaran dengan menjalankan hukum Taurat, maka tidak ada harapan baginya untuk kembali pada kasih karunia Yesus.
Kalau umat nasrani tidak bersunat, lalu kenapa Yesus yang harus menanggung? Bukankah Yesus sendiri disunat ? bahkan Yesus menyatakan tidak melenyapkan satu titikpun hukum didalam kitab Taurat. Yesus disunat karena dia menghargai dan menghormati perjanjian Abraham dengan Allah tersebut, walaupun secara biologis Yesus bukanlah keturunan Abraham, karena Yesus lahir tanpa Bapak sehingga kelahiran Yesus akan menghapus jejak silsilah dari seluruh nenek moyangnya yaitu keturuan Abraham. Tetapi, Paulus yang tidak pernah disebutkan namanya di didalam Taurat, tiba-tiba membatalkan seluruh hukum-hukum Taurat. Sepertinya kitab pejanjian Lama dan Kitab perjajian Baru tidak dapat dipegang ketentuan-ketentuannya. Hal ini menunjukan bahwa kitab perjanjian Lama bukan Taurat dan kitab perjanjian Baru bukan pula kitab Injil.
Pada saat perjanjian sunatan itu, diwajibkan kepada Abraham beserta seluruh keturunannya, maka Allah menobatkan nama baru Abraham yang sebelumnya bernama Abram. Abraham berarti bapak sekalian bangsa. Begitu juga dengan Sarai sudah diganti namanya oleh Allah dengan Sara;
4″Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (kej 17:4).
“15Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya (kej 17:15).
Artinya Abraham dan Sara juga akan memiliki keturunan yang banyak .
Pada saat penobatan itu, pasangan dari Abraham dan Sarai masih belum memperoleh anak sama sekali. Tetapi penobatan itu sudah dilaksanakan oleh Allah. Sebuah pertanyaan yang menggelitik; kenapa Abaraham dan Sarah sudah dinobatkan sebagai bapak sekalian Bangsa padahal pada saat yang bersamaan, mereka belum punya anak sama sekali. Sebaliknya selama 13 tahun Abraham sudah menjadi Bapak dari istrinya Hagar, selama itu pula Allah tidak mengakui Abraham sebagai seorang Bapak. Sebuah perbedaan yang aneh sekali.
Sepertinya ayat ini sengaja dimasukkan dengan tujuan propaganda yang menunjukkan pengakuan yang syah dari sang pencipta. Jelas sekali ayat ini hanya menonjolkan sebuah perbedaan kasta dalam sebuah keluarga. Seolah-olah penulis kitab PL ini berlindung dibalik pengakuan Allah. Seolah-olah Tuhan sendiri yang mengakui “hanya Ishak yang belum lahir itulah anak Abraham”, sementara Ismael harus dibuang. Kenapa kitab PL banyak mengandung bibit perbedaan kasta. Apa mungkin Allah berada dibalik perbedaan kasta itu? Mustahil bukan ? Tentu saja umat Kristen dan Yahudi tidak mampu mebantah keterangan ini karena konteks ayat tersebut adalah Firman Allah.
Menjelang kehamilan Sara, Tuhan datang bertamu bersama 2 orang malaikat ketenda Abraham. Abraham menyuruh Sara dan beberapa pembantunya untuk menyiapkan hidangan yang terbaik yaitu berupa daging bakar dan roti;
“6Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!” 7Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. (kej 18:6-7)”
Setelah hidangan itu telah disajikan Abraham dihadapan tamunya, maka makanlah tamu-tamunya itu ;
“8Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan. (kej 18:8)’
Bagaimana mungkin Malaikat dan Tuhan, sama-sama menikmati hidangan yang disuguhkan oleh manusia, sementara tuan rumah hanya berdiri saja memandang tamunya sedang makan. Keterangan ini sangat sulit diterima dengan akal sehat. Apa mungkin Malakat dan Tuhan membutuhkan makanan yang dihidangkan oleh Abraham itu. Apa mungkin Malaikat dan Tuhan perlu makan agar tenaganya pulih dan segar lagi setelah makan untuk melanjutkan perjalanannya. Cerita yang tertulis di dalam Kitab perjajian Lama ini seperti sebuah cerita dongeng saja. Seperti cerita dongeng manusia zaman animisme dan primitif.
Tentu saja Al Qur’an membantah cerita khayalan ini ;
“ (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).(QS 51:28)”

Al qur’an memperbaiki cerita dongeng yang disampaikan oleh Perjanjian Lama itu. Dan menegaskan bahwa Abraham ketakutan ketika melihat gelagat dari tamunya tidak mau menjamah makanan yang disuguhkan oleh Abraham. keterangan dari Al Qur’an ini lebih masuk akal . keterangan Bible seperti dibuat-buat.
Bahkan keterangan bible yang mengatakan yang datang itu adalah Allah diantara Malaikat, diperbaiki oleh keterangan Al Qur’an. Sebenarnya yang datang itu hanyalah para malaikat saja;

” Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal (Qs Adz Dzaariyaat 51:24-25)”.

Masih banyak lagi yang tertulis di dalam Kitab perjanjian lama yang tidak realistis dan tidak bisa diterima logika berpikir sehat. Sepertinya Kitab perjanjian Lama ini merupakan catatan yang dikumpulkan dari cerita legenda yang digabung dengan cerita keagamaan.
Kita lanjutkan cerita kisah Abraham , dan kita akan temukan banyak lagi keterangan yang tidak masuk akal.
Pada saat menyantap jamuan dan hidangan bersama itu, Allah menanyakan tentang istri Abraham. Allah memberikan khabar bahwa istrinya akan hamil dan akan memperoleh anak tahun depan. Berita itu didengar oleh sarah di dalam tenda, lalu Sara tertawa merasa tidak percaya ;
“12Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua? (kej 18:12)”
Rupanya tertawa Sara terdengar oleh Allah, sehingga Allah balik bertanya pada Sara ;
“13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa? (kej 18:13)
Tetapi sara membantah bahwa dia tertawa ;
5Lalu Sara menyangkal, katanya: “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: “Tidak, memang engkau tertawa!”(kej 18:5)
Kenapa Sara menipu dirinya sendiri? bukankah Allah lebih tahu kalau Sara tertawa walau didalam hati sekalipun. Tetapi Sara menyangkalnya juga . Ini menunjukan bahwa Sara tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Tertawanya Sara bukan karena dia senang atau terkejut dengan berita kehamilan itu, tetapi Sara tidak mempercayai berita itu dan Sara mentertawakan berita dari Allah itu. Apakah karena ketidak jujuran Sara itu, maka anaknya diberi nama Ishaq (Ishaq = tertawa)? Cerita lelocon apa lagi yang dimasukkan kedalam kitab Perjanjian Lama ini. Tidak ada yang lucu ! Tetapi kenapa Sara ketawa?. Sepertinya pembaca diarahkan untuk mempercayai bahwa kata “Ishaq” artinya tertawa.
Ada-ada saja ide penulis Bible ini.
Pada acara perjamuan itu, Allah berpikir-pikir untuk menyampaikan sesuatu rencana kepada Abraham, yaitu rencana penghancuran negri Sodom dimana keponakan Abraham , “Lot” , tinggal disana.
“ 17Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?( kej 18:17)”.
Rupanya Allah bingung , seperti layaknya pikiran manusia. Tetapi anehnya lagi, kebingungan Allah ditulis didalam kitab PL. jadi siapakah yang megatakan Allah bingung ini? Atau siapakah yang menceritakan perasaan Allah di dalam kitab PL ini? Keterangan ini menempatkan Allah pada kemampuan dan tabiat yang sama dengan manusia, keterangan ini sama saja dengan melecehkan keputusan Allah. Sepertinya Allah mengalami keragu-raguan dalam mengambil sebuah keputusan. Apakah mungkin Allah bertanya dan meminta persetujuan dulu kepada Abraham? jelas cerita kitab PL merupakan hasil khayalan manusia bukan Tuhan yang membuat cerita ini.
Kemudian Allah memutuskan untuk memberitahu Abraham ;
“ 18Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (kej 18:18-19)”.
Kalau dibaca Konteks ayat diatas secara keseluruhan, maka kalimat diatas tidak menunjukan bahwa kata-kata itu berasal dari petunjuk Allah. Kelihatan kalimat tersebut merupakan pemahaman , pesan atau opini dari si penulis kitab. Kalimat “sebab Aku telah memilih dia,” ; kalimat ini ibarat kata-hati Allah yaitu Allah berkata-kata didalam pikirannya atau didalam hatinya sendiri. Padahal pada ayat sebelumnya, Allah belum menyampaikan pikirannya kepada Abraham, tetapi pembaca sudah mengetahui jalan pikiran Allah. Pembaca lebih dulu mengetahui jalan pikiran Allah dari pada Abraham. Cerita ini mirip sebuah skenario cerita detektif karangan SherlockHomes atau Nick Carter saja. Kenapa Allah harus menyampaikan sesuatu yang sudah ditetapkan sebelumnya kepada para pembaca, bukankah pembaca sudah mengetahui bahwa Allah sudah menetapkan Abraham sebagai bapak banga-bangsa dan janji-janji yang lainnya pada ayat sebelumnya?
Ini merupakan sebuah pembuktian kisah Abraham bukanlah Firman dari Allah SWT, tetapi merupakan skenario cerita yang dirancang untuk tujuan tertentu demi kebangga bangsa si penulis.
Seorang bapak bangsa-bangsa tentu saja harus memiliki sifat yang baik-baik seperti yang disampaikan oleh Allah didalam hatinya itu, seperti ; kebenaran, kejujuran, keadilan dan rasa kasih sayang. Tetapi keterangan ayat ini justru bertolak belakang dengan sifat Abraham yang kita ketahui pada ayat-ayat sebelumnya (pembohong, tidak adil pada istrinya Hagar , tidak mempunyai rasabelas kasihan pada istrinya Hagar yang lagi hamil sehingga dibiarkannya minggat, tidak melaksanakan sunatan pada orang lain selain daripada keluarga dan budak dirumahnya).
Apa yang akan disampaikan oleh Allah kepada Abraham?
20Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.”
Ternyata Allah menyampaikan berita tentang rencana untuk menghancurkan kota Sodom dan Gomora. Kenapa Allah hendak menghancurkan kota itu? Jawabannya terdapat pada tulisan ayat itu sendiri yaitu tentang gossip yang diterima Allah “banyak keluh kesah orang tentang Sodom”, sehingga Allah ingin membuktikannya sendiri “Baiklah Aku turun untuk melihat”. Apa benar Allah tidak mengetahuinya sama sekali, apa benar Allah harus turun untuk melihat langsung ke kota itu? Sepertinya keterangan ayat ini merendahkan kebesaran Allah , penulis kitab ini mengira kemampuan Allah sama saja dengan manusia. Jelas bahwa cerita ini merupakan pelecehan terhadap kebesaran Allah. Kitab perjanjian Lama tidak menghargai dan tidak menjunjung tinggi kebesaran dan keagungan Allah.
Ketika Abraham mendengar penjelasan Allah itu, maka tersentuhah hati nurani Abraham untuk menasehati Allah ;
23Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? 25Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? (kej 18:23, 25)
Ternyata ayat ini menjelaskan tentang sifat welas asih Abraham yang lebih baik dari pada Allah. Ternyata Abraham mempunyai pandangan lebih kasih dan lebih adil dari pada Allah, sehingga Abraham langsung menasehati Allah. Kenapa ayat ini mampu memperlihatkan kemampuan Abraham yang mempunyai belas kasihan kepada umat manusia? Bukankah terhadap istri dan calon anaknya sendiri dia abaikan sebelumnya? Bukankah PL menggambarkan sifat Abraham sebelumnya tidak sehebat ini? Bukankah seharusnya Allah yang lebih mengerti dengan keputusannya? Tetapi pada ayat ini Abraham lebih mulia dan adil daripada Allah. Kitab perjanjian lama ternyata tidak konsisten menggambarkan tentang karakter manusia dan kebesaran Allah. Benar-benar amburadul cerita di dalamnya.
Untuk mengurangi kemungkinan banyaknya orang baik yang ikut mati dikota itu, maka Abraham menawarkan sebuah solusi kepada Allah. Maka terjadilah peristiwa tawar menawar antara Abraham dengan Allah. Pada penawaran pertama, Allah menyatakan kalau kurang dari 50 orang di kota itu yang berbuat baik, maka Allah akan tetap menghancurkan kota itu ;

26TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (kej 18:26)
Tetapi angka itu terlau tinggi buat Abraham, maka Abraham mengajukan penawaran. Dalam hal ini Abraham berpikir keras bagaimana cara menurunkan angka hingga mencapai angka paling rendah ;
28Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Firman-Nya: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”( Kej 18:28)”
29Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.” 30Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.” 31Katanya: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” 32Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu. (Kej 18:29-32)”
Dari kontek ayat diatas, terlihat bahwa Abraham lebih pintar melakukan negosiasi perundingan dengan Allah. Abraham mengajukan penurunan secara bertingkat mulai dari 50 orang , dikurangi 5 menjadi 45, lalu dikurangi 10 menjadi 30, dikurangi lagi 10 menjadi 20 dan dikurangi lagi 10 hingga menjai 10. Maka perundingan itu menyepakati angka 10 sebagai keputusan akhir ;
32Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu (kej 18:32)
Ternyata Abraham sangat pintar mengakali jalan pikiran Allah. Abraham tidak langsung meminta penurunan angka dari 50 orang langsung menjadi angka 10 orang, tetapi Abraham mengajak Allah berdialoag sambil mengurangi angka itu sedikit demi sedikit. Kalau Abraham meminta langsung menjadi angka 10 tentu Allah akan menolaknya.
Terlihat jelas bahwa kitab perjanjian lama ini, menempatkan karakter Allah seperti seorang kakek tua jompo yang tidak pandai berhitung. Seorang kakek yang sudah pikun. Sehingga Abraham mengakali jalan pikiran kakeknya dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit.
Rasanya cerita picisan ini tidak pantas tertulis didalam sebuah kitab suci. Jelas sekali bahwa cerita ini bukan sebuah fakta, tetapi kisah dongeng dari pemikiran bangsa primitive.
Kemudian para Malaikat Tuhan sudah lebih dahulu sampai di kota Sodom. Mereka menemui keponakan Abraham disana yang bernama Lot. Ketika para malaikat berwajah elok rupa itu berjalan ditengah kota itu, kaum laki-laki yang mengidap penyakit kelainan sex (homosex) mengikutinya. Ternyata rumah Lot yang dituju. Maka berbondong-bondonglah kaum pria kota itu hendak mengambil dan berbuat tidak senonoh pada tamu Lot. Tentu saja Lot mengetahui rencana mereka yang hendak melecehkan tamunya. Lalu Lot menawarkan cara lain agar mereka tidak mempermalukan Lot dihadapan tamu-tamunya ;
7dan ia berkata: “Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. 8Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku.” (kej 19:7)
Dari diaolog cerita diatas, ternyata Lot memilih untuk menyerahkan 2 orang anak gadisnya kepada orang banyak yang ada didepan rumahnya dengan cara begitu saja. Di dalam ayat diatas tidak dijelaskan , apakah Lot mengajukan sebuah persyarat sebelum memberikan anak gadisnya kepada orang banyak itu. Kalau lot menyerahkan anak gadisnya tanpa persyaratan, berarti Lot memberikan kedua anaknya kepada segerombolan serigala yang akan melumat anak gadisnya. Rasanya tidak mungkin Lot menyerahkan kedua anaknya tanpa meyakini keselamatan anaknya terlebih dahulu. Padahal Lot mengetahui bahwa niat kaumnya adalah untuk berzina dengan tamunya. Kalau anaknya dilepas tanpa sebuah persyaratan , maka dapat dibayangkan anak Lot pun akan diperkosa secara beramai-ramai. Ini tidak masuk diakal. Artinya sama saja mencegah perbuatan maksiat dengan cara menawarkan maksiat baru, walaupun anak gadisnya rela menerima cara tersebut secara baik-baik. Tetapi mustahil anak gadis itu mau diserahkan kepada segerombol serigala rakus itu.
Singkat cerita, para malaikat pun menyelamatkan Lot dan keluarganya kecuali istrinya yang ikut mati pada bencana itu;
26Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam (kej 19:26)
Ayat ini menyatakan bahwa Istri Lot mati gara-gara dia menoleh kebelakang sehingga dia mati seperti tiang garam. Kalau istri Lot mati seperti tiang garam, bisa saja karena kedinginan atau bisa juga karena hembusan api yang sangat kencang dan panas. Tidak mungkin karena ditimpa bebatuan atau terlempar bergulingan. Besar kemungkinan kematian istri lot bukan karena dia menoleh kebelakang sehingga tidak sempat mengelak dari bencana itu. Kalau dia menoleh lalu kena lemparan batu maka dia tidak akan seperti tiang garam, tetapi tubuhnya akan hancur dan berdarah-darah. Jadi tidak bisa diterima akal sehat kalau istri Lut mati seperti tiang garam gara-gara menoleh kebelakang. Yang jelas Istri Lot tidak sempat lagi mengelak dan lari dari terpaan hujan debu panas atau api panas. Jadi bukan gara-gara terlambat mengelak karena menoleh kebelakang. Alasan ini seperti sebuah alasan yang dicari-cari untuk pembenarannya.
Kalau membaca cerita sebelumnya, penyebab kematian istri Lot tidak sesuai dengan hasil kesepakatan Abraham dengan Allah. Sebelumnya Allah telah berjanji akan menghancurkan kota sodom apabila hanya ada 10 orang saja yang baik-baik. Ternyata yang baik-baik hanyalah Lot dan 2 orang putrinya saja. Karena itu, dialah yang diselamatkan, sedangkan istri Lot tidak diselamatkan , kerana dia tidak termasuk orang yang baik-baik. Jadi jelaslah bahwa cerita Abraham didalam kitab perjanjian lama (PL) bukan merupakan kisah nyata , tetapi merupakan cerita karangan manusia yang hanya mampu mengira-ngira sesuai dengan cerita dan legenda pada masa itu. Ini dapat dibuktikan dari penjelasan di dalam cerita itu sendiri dimana satu nilai kebenaran dipatahkan oleh ketidak benaran yang lainnya, sebuah ilusi dibantah lagi oleh kebenaran yang lainnya. Jadi jelaslah bahwa kisah Abraham di dalam kitab perjanjian lama hanya rekaan pengarang atau penulisnya sesuai dengan tujuannya dan kebanggannya bangsanya semata.
Selanjutnya pergilah Lot bersama 2 orang anak gadisnya kesebuah Goa dan tinggallah mereka di dalam Goa itu.
30Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. (kej 19:30)
Alasan Lot tidak berani keluar dari goa karena dia dianggap trauma terhadap bencana yang mengerikan itu , begitu juga dengan kedua anaknya.
Tetapi kedua anak gadisnya itu mempunyai sebuah rencana masa depan yang sangat cemerlang. Dia ingin medapatkan anak, tetapi kaum laki-laki di kota Sodom sudah musnah. Anak gadis Lot juga tidak berminat lagi pada pria kota Sodom yang memiliki kelainan sex (homosex). Maka mereka berencana menggarap Bapaknya sendiri. Mereka yakin bahwa Bapaknya adalah lelaki jantan dan perkasa dibanding kaum homo di Sodom..
31Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.(kej 19:31)
Anak gadis Lot yang tertua mempunyai alasan yang cukup realistis untuk mendapatkan anak dari Bapaknya sendiri, sekaligus melanjutkan keturunan mereka juga.
Maka kedua anak perempuan itu berhasil mewujudkan impiannya untuk tidur dengan Bapaknya secara bergiliran dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun;

“34Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.” 35Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33-35)”.

Kemudian kedua anak perempuan Lot tersebut hamil dan melahirkan anak-anak bagi keduanya ;

“36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.

Kalau kita baca cerita kitab perjanjian lama ini, banyak sekali kejanggalan dan keanehan yang semuanya itu seolah-olah sudah dirancang untuk menghina dan memojokkan keturunan nabi Lot untuk kepentingan propaganda kebanggaan suatu kaum dan menghina kaum yang lainnya.

Diantara hal-hal yang janggal tersebut antara lain adalah;

– Lot dan keluarganya merupakan manusia-manusia terpilih yang diselamatkan oleh Allah dari bencana penghacuran kota Sodom akibat perbuatan sek menyimpang (homoseksual). Bahkan Lot bersedia menyerahkan putri-putrinya yang masih perawan dengan resiko apapun. Tetapi Bible mengatakan bahwa Lot dan putrinya sendiri telah melakukan perbuatan sek yang lebih menyimpang lagi dari pada kaumnya di Sodom yaitu melakukan hubungan sek dengan anak kandungnya sendiri. Keterangan Bible tersebut merupakan sebuah peghinaan terhadap nabi yang tidak mungkin melakukan hal tersebut. Sekiranya Lot melakukannya secara tidak sadar, karena mabuk habis meminum anggur, maka tentu Allah akan memberinya peringatan dan menyelamatkannya dari bencana tersebut karena Allah sudah pernah menyelamatkan Lot dari bencana yang lebih besar lagi dari itu yaitu dengan mendatangkan malaikat ke rumahnya.

– Tidak mungkin seorang pria yang sedang tertidur nyenyak sanggup melakukan hubungan sek dengan seorang wanita walau bagaimanapun seksinya wanita itu, karena setiap laki-laki terlebih dahulu harus membangkitkan hasratnya agar terjadi ereksi untuk sanggup melakukan penetrasi, apalagi bagi orang setua Lot tentu membutuhkan tenaga ektra untuk melakukannya. Lagipula menurut keterangan Bible pada kej 19:33 , Lot tidak mengetahui kalau anaknya tidur dekatnya;

“dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33) ”.

Namun selanjutnya, Bible menerangkan bahwa kedua anak gadisnya itu menjadi hamil dan melahirkan anak dan sekaligus cucu dari Lot ;

“36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.

Hal ini merupakan suatu keterangan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat dan akal budi manusia yang baik-baik.

– Lot tidak mungkin sudi bermabuk-mabukan bersama anaknya. Setelah anaknya memberi Bapaknya minuman anggur, tidak ada keterangan dalam Bible yang menjelaskan bahwa Lot menjadi mabuk dengan minuman anggur yang diberikan oleh anaknya itu, yang terjadi kemudian adalah dia tertidur dan tidak mengetahui kalau anaknya tidur bersamanya;

“ dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33)”.

Tetapi kenapa Bible mengatakan bahwa ; ““36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”. Ini merupakan skenario yang tidak dapat diterima oleh akal-budi , tetapi bisa saja ini merupakan sekedar cerita iseng dari penulis kitab PL dari penulis bangsa Yahudi, sehingga menambah urutan daftar kepalsuan Bible.
Apakah yang terjadi pada Abraham dan istrinya, ketika terjadi bencana di sosom dan gomora itu?
Pada saat bencana Sodom dan Gomora itu, terpakasa Abraham mengungsi ke tanah Negeb sebagai pengungsi .
Kembali Abraham mengulangi siasat penipuan yang sama. Mungkin Abraham tidak mempunyai siasat yang lainnya yang lebih jitu, sehingga dia menggunakan jurus lamanya untuk menaklukkan hati raja-raja.
“2Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: “Dia saudaraku,” maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. (Kej 20:2)”.
Kedatangannya ke negri Negeb bersama Istrinya yang cantik jelita menyebabkan raja dinegri negeb itu hendak mengambil Sarai sebagai istrinya.
Tetapi kembali kebohongan Abraham terbogkar, seperti biasa, raja Abimelekh meminta pengakuan Abraham. tetapi sebelumnya Abraham sudah diamankan oleh Allah. Allah menakuti-takui Abimelekh di dalam mimpinya supaya tidak mengawini istri seorang nabi.
“Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.” (kej 20:3)
Sebuah pertaanyaan yang menggelitik, kenapa Allah membela Abraham mati-matian padahal Abraham telah memberikan keterangan palsu karena takut kepada manusia dari pada Allah. Keterangan ayat ini tidak dapat diterima dengan logika akal budi. Bahkan Abimelekh merasa tertipu oleh Abraham sehingga Abimelekh membela dirinya kepada Allah padahal sebenarnya niat Abimemilekh lebih baik dari niat Abraham . Abimelekh ingin memeristri Sarai bukan menjadikannya Gundik;
“5Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.(Kej 20:5)”
Pada cerita diatas, istri Abraham berusia 85 tahun sementara Abraham 99 tahun. Secara akal budi dan logika , apa mungkin seorang raja yang terkenal dinegri Gerar yang besar, tergila-gila kepada seorang nenek-nenek. Apakah di Negeb itu tidak ada lagi wanita muda yang lebih cantik. Bukankah setelah rakyatnya mengetahui bahwa raja yang dibaggakan, ternyata kecantol pada istri seorang pengungsi. Apakah raja Abimelekh tidak merasa jatuh martabatnya setelah ketahuan jatuh hati pada istri seorang pengungsi? Secara akal budi, cerita ini bukan sebuah cerita kebenaran, tetapi sebuah cerita dongeng. Jadi tidak mungkin perjanjian lama adalah perkataan Allah yang tertuang di dalam Taurat.
Kemudian Abimelekh memanggil Abraham untuk diinterograsi.
9Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: “Perbuatan apakah yang kau lakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku (Kej 20:9).”
Dari dialog ayat tersebut diatas, dapat dinilai bahwa Abimelekh lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, ternyata Abimelekh tidak menunjukan ciri-ciri seorang raja yang jahat dan menakutkan. Tetapi Abraham lebih takut duluan kepada Abimelekh dari pada Allah sehingga dia lebih baik berbohong daripada terbunuh karena kelaparan. Bahkan dia seperti sengaja menyerahkan istrinya yang cantik sebagai umpan untuk mendapatkan hadiah sebagaimana sukses di mesir dulu.
Secara logika , tidak mungkin Abraham sehina itu sehinggga tidak berharga dimata raja Abimelekh. Ini bukan cerita yang sebenarnya sesuai dengan realita berpikir yang benar. Ini merupakan penghinaan dan fitnah kepada karakter seorang yang menjadi junjungan bagi semua umat beragama. Tentu saja seorang muslim akan menentang penghinaan kepada Nabi yang dimuliakan Allah ini. Orang musllim selalu mengucapkan shalawat kepada Abraham, tetapi kitab perjanjian lama malahan menghina Abraham. Penghinaan yang sangat biadab terhadap pribadi seorang nabi.
Selanjutnya Abimelekh meminta kejujuran Abraham dengan menyudutkan sebuah pertanyaan yang menohok kepribadiannya ;
“ 10Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: “Apakah maksudmu, maka engkau melakukan hal ini?” (Kej20:10)
Kemudian Abraham menjawab ;
“ 11Lalu Abraham berkata: “Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. (kej 20:11)”
Dari dialog ayat tersebut, ternyata Abraham sebelumnya hanya menduga gossip tentang kefasikan raja Gerar itu, sehingga Abraham kuatir kalau istrinya terbunuh karena istrinya yang cantik. Sepertinya alasan Abraham tidak masuk akal, tidak mungkin seorang nabi menjawab begitu. Sepertinya Abraham bukan seorang bapak bangsa-bangsa, tetapi seorang suami yang tidak bertanggung jawab, dia lebih mengutamakan keselamatan dirinya, sebaliknya dia menduga istrinya akan selamat karena kecantikannya. Kemudian apa selanjutnya jawaban Abraham ?
12Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. (kej 20:12)”
Dari dialog di dalam cerita tersebut, Abraham tidak mengakui bahwa dia berbohong, karena istrinya tersebut adalah adik tirinya. Apakah Abraham sebagai seorang nabi yang dimuliakan tidak memahami arti sebuah kejujuran? Ketidakjujuran adalah tidak sesuai antara niat dengan perbuatan. Walaupun Sarai adalah adik tirinya sekaligus istrinya, tetapi Abraham telah melakukan niat utama agar selamat dari dugaan yang menakutkannya. Kenapa seorang nabi harus bertindak berdasarkan dugaan-dugan yang belum tentu kebenarannya? Cerita kitab perjanjian lama tidak bisa diterima akal sehat. Cerita ini tidak lebih dari cerita dongeng belaka.
Tetapi yang lebih tidak masuk akal adalah keterangan Abraham selanjutnya dalam menyampaikan pembelaannya ;
“13Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku (Kej 20:13)”.
Ternyata yang menyuruh Abraham berkata demikian adalah Allah. Bagaimana mungkin Allah yang maha perkasa, yang semua makluknya tunduk kepadanya, seluruh alam tunduk kepada kekuasannya, ternyata didalam kisah ini, Allah memerintahkan Abraham berkata munafik kepada seorang raja. Rasa ketakutan Abraham tersebut sepertinya diperankan oleh Allah sendiri. Hal itu ini tentu tidak sesuai dengan keterangan sebelumnya yang menulis bahwa Allah juga yang datang kedalam mimpi Abimelekh supaya dia membatalkan perkawinanya dengan Sara.
Kenapa yang dituduh sebagai sutradara di dalam lakon cerita ini adalah Allah? Bukankah ini menunjukan bahwa Allah mengajarkan Abraham boleh berbuat tidak jujur dan berbuat munafik. Tentu saja ini sebuah pelajaran yang tidak baik bagi manusia untuk mencontohnya. ini benar–benar sebuah cerita fiktif yang tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Kemudian Sarai dikembalikan kepada Abraham dan mereka Abimelehk melepas kepergian mereka dengan memberi Abraham sejumlah harta berupa hewan ternak dan beberapa orang pembantu laki-laki dan perempuan ;
“4Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya (Kej 20:14)”.
Sebenarnya keinginan Abimelek memperistrikan Sarai adalah untuk mendapatkan keturunan, kerena sebelumnya raja Abimelehk tidak memperoleh satupun anak-anak dari istrinya . Maka setelah Araham dibebaskan, beliau memanjatkan do’a untuk kesembuhan rahim istri Abimelehk sehingga subur dan mempunyai anak-anak begitu juga dengan para budak-budaknya ;
“ 17Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak (Kej 20:17)”.
Sebuah pertanyaan yang menggelitik ; apakah masuk akal seorang Raja yang tidak mempunyai anak, kemudian menginginkan anak dari seorang wanita tua (nenek-nenek) yang suduh berumur 85 yang ternyata juga belum punya anak , walaupun Abimelehk tidak mengetahui Sara adalah istri Abraham? Jelas sekali bahwa cerita ini merupakan dongeng yang ditujukan untuk anak-anak sebelum mereka tidur.
Lagi pula kepergian Abraham dan istrinya Sara ke negri Negeb tersebut terjadi setelah peristiwa kehancuran Sodom, sehingga mereka sudah yakin akan mempunyai anak karena sudah menerima kabar dari Allah keteka bertamu di bahwah pohon terbantine di depan kemahnya. Tetapi mengapa Abraham begitu tega menyia-nyiakan kepercayaan Allah untuk memelihara kandungan istrinya?
Betapa teganya Abraham menggadaikan istrinya kepada Abimelehk demi mendapat jatah makan? Padahal istrinya Sara sedang hamil.
Kenapa Abraham dan istrinya masih bersandiwara sebagai kakak adik? Cerita ini benar-benar tidak masuk akal. Cerita dongeng. Apa begini kitab PL yang diklaim sebagai kitab Taurat yang dibangga-banggakan itu?
Setahun setelah bencana Sodom itu, Sara melahirkan anaknya yang diberi nama Ishaq. Ketika itu Abraham sudah berusia 100 tahun;
“5Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. 6Berkatalah Sara: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (kej 21:5)”
Menurut keterangan ayat diatas, jelaslah bahwa Sara menamakan anaknya dengan Ishaq yang berarti “ketawa” sebagai sebuah peristiwa yang tidak pernah lupa dari ingatan Sara ketika mendapat berita dari Allah dulu. Tentu saja ketika Ishaq lahir, ismael sudah berumur 14 tahun.
Ketika Ishaq sudah selesai disapih ( tidak netek lagi), maka Abraham mengadakan perjamuan dan mengundang tetangga dan orang-orang terpandang di daerah tersebut. Tentu saja acara seperti ini tidak akan pernah dinikmati oleh ismael sewaktu dia masih bayi dulu.
Namun sayang sekali, ismael bukannya menjauh dari acara agung tersebut , tetapi ismael justru mendekati ishaq dan bermain-main dengannya. Ismael dan ibunya Hagar tentu saja tidak pantas ikut bersama-sama dengan Ishaq di dalam pesta kebesaran keluarga terhormat itu. Akibat tindakan Ismael yang tidak menyadari kedudukannya, maka Sara merasa dipermalukan di depan tamu-tamunya ;
“8Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.” (kej 21:8)
Tentu saja Sara naik pitam menyaksikan anaknya Ishaq bermain-main di depan orang ramai bersama Ismael yang tidak berharga itu, lalu Sara menyuruh Abraham mengusir Hagar bersama anaknya yang dianggap sudah mempermalukan dia sebagai nyonya besar dirumahnya;
“10Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (kej 21:10)
Apabila ditanyakan kebenaran cerita itu kepada Pendeta Kriten, maka akan keluar sebuah jawaban dimulutnya bahwa “ itu adalah ketentuan yang sudah digariskan” sesuai dengan ramala-ramalan yang sudah di Firmankan Allah pada ayat-ayat sebelumnya. Ini adalah ramalan yang tepat dari kitab perjanjian Lama. Dan ramalan itu terbukti. Para ahli kitab Nasrani dan Yahudi serta para Pendeta Kristen sudah membungkam pertanyaan umatnya dengan jawaban “ramalan” dan “ketentuan Firman Allah”. Tidak seorangpun umat Kristen yang sanggup mempermasaalahkan ketentuan perbedaan kasta itu di dalam kitab PL.
Bagaimana mungkin kisah ketidakadilan itu lebih ditonjolkan di dalam sebuah kitab Suci. Jelas ini adalah sebuah propaganda untuk kemuliaan umat Yahudi dan Nasrani lalu mendiskriditkan keturunan Ismael. Tidak mungkin ayat itu berasal dari Allah yang maha pemurah , maha adil dan Maha bijaksana kepada umat manusia. Allah tentu tidak akan membeda-bedakan manusia berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat atau berdasarkan kekayaannya , tentu Allah hanya memandang nilai-nilai kebaikan seseorang.
Seharusnya PL harus menceritakan dan menulis apa kesalahan ibu dan anak itu sehingga mereka terusir, apa yang sudah diperbuat oleh ibu dan anak ini sehingga Sara dan Abraham tega memperlakukan keluarga sendiri sedemikian buruknya. Kalau tidak dijelaskan apa yang terjadi , maka ini sama dengan berbuat zalim kepada orang yang tertindas atau mengabarkan sebuah fitnah. Apakah Abraham dan Sarah mempunyai sifat begitu? Jawabannya tentu saja tidak! Jadi kenapa cerita mengharukan itu tertulis di dalam kitab suci? Jawabannya adalah karena ada tangan jahil yang mengerjakannya.
Bukan hanya Sara saja yang kesal dengan kelancangan Ismael, Abraham pun sebal ;
“11Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.(kej 21:11)
Bukan hanya Abraham dan Sara saja merasa malu akibat perbuatan anaknya, bahkan Allah setuju dengan keinginan Sara mengusir Hagar dan Ismael dari rumah mereka ;
“And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad, and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto her voice; for in Isaac shall thy seed be called (Genesis 21:12)”.
“12Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. (kej 21:12)”.
Ayat ini menunjukan bahwa Allah merestui kehendak Sara untuk membuang Ismael dan ibunya Hagar. Bahkan sekali lagi disampaikan oleh Allah bahwa anak Abraham yang sebenarnya adalah Ishaq, bukan Ismael. Kontek ayat tersebut adalah firman Allah yang menggunakan kata-kata “budakmu itu”; yang menunjukan bahwa status Hagar masih seorang budak walaupun sudah menjadi istri Abraham. Memang menyedihkan dan memprihatinkan sekali nasib ibu dan anak bekas budak itu. Mereka sudah ditakdirkan sebagai pembantu dari keluarga orang terhormat Abraham dan Sara. Benar-benar keji sekali keterangan ayat-ayat PL ini yang menempatkan cerita yang tidak dapat dicontoh untuk kebenaran dan budipekerti yang baik.
Apabila kisah ini diceritakan kepada anak-anak yang masih polos tentu mereka mengira bahwa Hagar dan Ismael adalah keluarga yang terbuang dan tidak berharga di depan Allah. Dan sampai dewasapun anak yang membaca kisah itu akan mencap keturunan Ismael sebagai keturunan orang-orang yang tidak berguna
Keesokan harinya Hagar terpaksa berangkat dari tempat terhormat itu ;
“14Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. (Kej 21:14)”
Ternyata Abraham benar-benar mengusir istri beserta anaknya sendiri. Betapa teganya Abraham melepas kepergian Hagar dan anaknya dengan harga yang sebegitu murah? , Bahkan kemudian mereka terdampar hingga ketengah gurun pasir. Apakah pantas Abraham dinobatkan sebagai bapak bangsa-bangsa? Tentu saja Allah terlibat dalam perlakuan yang tidak adil ini. Benar-benar sebuah cerita yang tidak dapat diterima oleh bangsa yang beradab.
Kemudian , menurut yang tertulis pada ayat diatas, Abraham melepas kepergian keturunannya hanya dengan sekantong roti dan sebotol air. Padahal Abraham adalah orang kaya raya yang terhormat. Jangankan dengan bekal semurah itu, bahkan dengan sepasukan kuda dan sejumlah kafilahpun dapat dibiayai oleh Bapak bangsa-bangsa ini. Padahal ketika mendengar keponakannya “Lot” ditahan oleh perampok dan dirampas hartanya, Abraham langsung menyerang penjahat itu dengan mengerahkan 318 orang pasukannya untuk membebaskan Lot ;
14Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej 14: 14,16)”.
Tetapi kenapa kepada anak dan istri sendiri diusirnya, tanpa pengawalan sama sekali, apalagi ketempat yang tandus dan gersang?
Setelah mencium anaknya, lalu Abraham meletakkan anak dan bekal itu diatas bahu Hagar. Ada tertulis “Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar “ ; Mungkin Abraham mengira anaknya masih kecil sehingga meletakkan anaknya di bahu Hagar.
Benar-benar tega Abraham melepas keluarganya pergi hanya dengan sebotol air dan sekantong roti. Tentu saja persediaan air dan bekal itu tidak cukup sehingga terpaksa Hagar membuang bayinya kedalam semak-semak;
“15Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. (kej 21:15-16)”
Ayat ini menunjukan bahwa Hagar benar-benar berangkat hanya berdua dengan anaknya. Lalu perhatikanlah kalimat “dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak “ dan “menangislah ia dengan suara nyaring “ pada ayat diatas. Ini menunjukan bahwa Ismael masih balita atau mungkin juga masih bayi.
Tetapi malaikat melarang Hagar membuang anaknya ;
“17Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. (kej 21:17) “
Perhatikan juga , ada tertulis “dari tempat ia terbaring “. Bahkan malaikat sendiri tahu anak itu masih balita. Lalu malaikat Tuhan menyuruh Hagar mengangat anaknya tersebut dari semak-semak itu ;
“18Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”(kej 21:18)
Perhatikan kalimat “angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia”. Ini berarti Ismael memang masih balita sehingga Hagar harus mengangkat dan membimbing anaknya untuk bisa berjalan lagi.
Menurut keterangan yang tertulis di dalam PL , seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pada saat Ishaq lahir, umur Ismael ketika itu sudah 14 tahun. Apabila umur Ishaq pada saat disapih adalah 2 tahun, maka pada saat diusir Bapaknya, Ismael sudah berumur 16 tahun. Apakah anak yang berumur 16 harus digendong oleh Hagar ketika dilepas oleh Abraham ? apakah anak yang berusia 16 tahun harus dibuang ke semak-semak ? apakah Hagar harus mengangkat anak yang sudah dia buangnya tadi dari semak-semak? Apakah anak berisia 16 tahun harus dibimbing oleh ibunya untuk dapat berjalan lagi?. Apa bukan sebaliknya, justru ismael yang masih kuat dan muda , membimbing ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan akibat perasaannya tertekan lahir dan bathin?
Jadi terbuktilah bahwa keterangan PL ini tidak dapat diterima dengan akal sehat, ceritanya ngawur, cerita PL tentang kisah Abraham hanya dapat disampaikan kepada anak kecil sebelum tidur, cerita PL tentang Abraham merupakan kisah dongeng yang tidak bermutu tetapi cerita jahat. Penulis Bible hanya mengarang-ngarang cerita yang tidak jelas sumbernya lalu dimasukkan secara sembarangan, sehingga manimbulkan banyak masaalah.
Sekarang kita kembali pada kisah tentang Ishaq yang sudah mulai besar , namun tiba-tiba Abraham mendapatkan perintah Allah agar dia mengobankan anaknya sebagai korban bakaran ;
“2Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.(kej 22:2)”
Kalau kita perhatikan ayat tersebut diatas, maka konteks ayat tersebut merupakan Firman Allah yang tidak dapat lagi digugat oleh umat nasrani dan Yahudi. Namun sebuah kalimat “anakmu yang tunggal”; tentu tidak dapat diterima dengan akal sehat. Apakah Allah lupa bahwa Abraham mempunyai 2 orang anak? Kalau manusia yang mengatakan Abraham hanya punya seorang anak saja, tentu hal ini dapat dimaklumi, namun kalau Allah yang berFirman , maka ayat ini sangat janggal sekali. Kalau Allah yang mengatakan bahwa Ishaq adalah anak Abraham yang tunggal , maka dugaan ayat (kej 18:32) tentang daya pikir Allah yang sudah pikun, tentu saja cocok dengan keterangan ayat ini. Artinya ayat ini mengira bahwa Allah itu seperti seorang kakek yang sudah sangat tua dan pikun sehingga dia lupa kalau Abraham sudah mempunyai anak sebelumnya. Artinya ayat ini tidak menghargai Allah yang maha kuasa, dan maha mengetahui segala sesuatu. Ayat ini benar-beanr menghina Allah sebagai sosok yang tidak tertandingi di seluruh jagat raya.
Kemudian terdapat pula kalimat “ yang engkau kasihi, yakni Ishak,”; sekali lagi hal ini membuktikan bahwa hanya Ishaq yang disayangi oleh Abraham , hanya Ishaq yang dianggap sebagai anak oleh Abraham dan Allah. Ismael benar-benar tidak berharga dimata Abraham dan Allah. Benar-benar ngawaur cerita PL tentang kisah Abraham ini. Ini bukan cerita fakta tetapi sebuah karangan untuk maksud membanggakan satu keturuan suatu kaum sedangkan yang lainnya dihina dan dilecehkan. Keterangan ini jelas bukan dari Allah SWT.
Kemudian berangkatlah Abraham bersama anaknya ishak kesebuah bukit/gunung bersama 2 orang pembantunya ;
“3Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (kej 22:3)”
Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari sampailah mereka dikaki sebuah bukit yang bernama Moria, disanalah mereka menambatkan kudanya. Abraham memerintahkan kepada pembantunya untuk menunggu di bawah bukit dengan alasan mau beribadah di atas bukit tersebut ?
“5Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”( kej22:5)
Pertanyaannya kenapa Abraham tidak berkata jujur kepada pembantunya bahwa dia akan mengobankan anaknya? Apakah Abraham takut kalau pembantunya itu akan mengatakan kepada istrinya Sara bahwa Abraham akan membunuh anaknya sendiri? kalau Abraham itu seorang nabi kenapa Abraham tidak mengajak pembantunya beribadah bersama-sama? Sepertinya Abraham tidak membawa agama apapun kepada umat Yahudi dan umat Kristen. Lalu kenapa Pendeta Kristen ini mengaku-ngaku sebagai umat nabi Abraham , apa tidak memalukan?
Suatu keanehan tambahan yang sangat menggelitik adalah, bahwa semua Pendeta Kristen yang menyatakan dirinya mengerti , memperkirakan bahwa ketika Ishaq hendak dikorbankan itu umurnya sekitar 14 tahun. Perkiraan ini cocok sekali dengan penggambaran dialog antara Bapak dan anak di dalam keterangan ayat kej 22: ayat 6 sampai ayat 9 diatas. Dari dialog ini menunjukan bahwa Ishaq berusia masih remaja, sebagaimana dia mambantu bapaknya mengangkat kayu bakaran, seperti anak yang polos menanyakan maksud pengorbanan itu, serta pertanyaan yang diajukan oleh Ishaq kepada Bapaknya yang menggambarkan bahwa dia masih tidak mengerti dan menunjukan bahwa Ishaq adalah yang baik.
Peryataan yang menggelitik adalah, ketika Ishaq berumur 14 tahun, ternyata dia sanggup berjalan jauh selama 3 hari dan 3 malam bersama bapaknya mengendarai keledai kemudian dia juga sanggup menolong bapaknya mengangkut kayu bakaran ke tempat pengorbanan ke atas gunung Moria seperti bunyi ayat berikut;
“.” 6Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.(Kej 12:6)”
Artinya ayat ini sangat kontradiktif dengan ayat sebelumnya, yaitu ketika Ibrahim mengusir anaknya yaitu Ismail beserta ibunya . Ketika itu Ismail juga sudah berumur sekitar 16 tahun. Tetapi pada saat keberangkatan Ismaill bersama ibunya, keadaan Ismail ketika itu masih seperti anak balita karena dia dibawa di atas pangkuan bahu Ibunya, serta dibuang di semak-semak lalu dia menangis dengan suara nyaring. Cerita Ismeil dan Ishaq pada usia mereka yang hampir bersamaan di dalam PL, sangat bertolak belakang dan aneh sekali. Kalau Ishaq berumur 14 tahun, maka dia sanggup membawa kayu keatas Gunung dan berjalan selama 3 hari 3 malam, tetapi sebaliknya ketika Ismail berusia 16 tahun dia tidak mampu berbuat apa-apa bahkan diceritakan kalau Ismail masih anak balita. Jangankan untuk berjalan dan mengangkut kayu mendaki gunung, untuk berjalan dari rumah saja Ismail harus dipangku diatas bahu ibunya, bahkan harus dibuang ke semak-semak. Benar-benar tidak adil dan tidak logis.
Bahkan ketika peristiwa pengorbanan yang diceritakan PL itu, usia Ibrahim sudah mencapai 114 tahun, yang sudah sangat tua bagaikani kakek-kakek. Namun di dalam cerita itu, kelihatan bahwa Ibrahim lebih kuat dan perkasa dibandingkan anak remaja remaja berusia 14 tahun. Ini terbukti dari kekuatan Ibrahim untuk mengikat Ishaq ketika hendak disembelih.
Cerita tentang perlakuan Ibrahim kepada Ismail dan kepada Ishaq sangat kontradiktif, tidak dapat diterima dengan logika yang benar, dan ceritanya benar-benar ngawur. Ini Cerita yang paling tidak masuk akal yang pernah saya baca, bahkan cerita detektif dari pengarang Sherlock-homes jauh lebih bermutu dari pada cerita fiktif murahan kitab Bible yang menjadi kitab pedoman untuk mereka yang menyatakan dirinya terhormat.
Sekarang kita lanjutkan kisah pengorbanan Ishaq di dalam PL Apa yang ada di dalam pikiran Ishaq setelah itu? Apakah Abraham akan memberitahu anaknya, kalau dia akan menyembelih dan membakar anaknya ?
Ikuti dan perhatikanlah dialog dibawah ini ;
“Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu (kej 22:6-7)
Menurut keterangan ayat diatas, ternyata Ishaq belum mengetahui juga kalau Bapaknya akan mengorbankannya.
Kenapa Abraham tidak berterus terang saja kepada anaknya ?, padahal mereka sudah berjalan beriringan selama 3 hari dan 1 hari untuk menaiki gunung itu. Jadi masih ada kesempatan Abraham untuk mendikusikan dengan anaknya. Sekiranya Abraham tidak tega mengatakan itu pada anaknya, lalu apa yang terjadi ketika Abraham akan menyembelih anaknya?
Saat-saat menjelang akan disembelih, Apakah ishaq dipaksa oleh Abraham? apakah ishaq tidak memberontak ketika Abraham akan mengikatnya? Bukankah ketika itu Ishaq bukan balita lagi, karena dia sanggup membawa kayu bakar keatas bukit dan sanggup mengendarai keledai selama 3 hari, sedangkan Bapaknya sudah berusia kekek-kekek?. Bisa saja Ishaq melakukan perlawanan kepada Bapaknya yang sudah tua dan lemah itu, karena dia tidak mengerti dan tidak mengetahui sebelumnya bahwa Abraham hendak menyembelihnya. Banyak sekali pertanyaan yang dapat diajukan apabila tidak terdapat kompromi sebelum pengorbanan itu terlaksana. Apakah pelaksanaan perintah Allah itu harus dilakukan dengan paksaan dan kekerasan?
Apakah jawaban Abraham ketika ditanya oleh anaknya ?
“8Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.”(kej 22:8)”
Kembali Abraham berkelit untuk tidak bererus terang, bahkan menyampaikan informasi yang salah. Pada ayat diatas Abraham mengatakan kepada Ishaq bahwa korban yang akan disembelih itu sudah disediakan oleh Allah. Tentu saja Ishaq senang mendengar jawaban Bapaknya.
Tetapi didalam kontek ayat ini, Abraham telah melakukan sebuah penipuan lagi. Abraham bukan tipe seorang Bapak yang dapat berterus terang dan berkata jujur kepada anaknya sendiri. Kalau sekiranya jawaban Abraham kepada ishaq bukan sebuah penipuan tetapi dia menyampaikan “apa adanya” kepada anaknya (korban itu sudah disediakan), maka itupun tidak dapat diterima dengan akal sehat. Artinya Abraham sudah mengetahui bahwa Allah hanya mencoba Abraham, Allah hanya ingin melihat kesetiaan dan kepatuhan Albraham kepada Allah. Tetapi Abraham sudah mengetahui maksud Allah itu. Abraham tidak perlu serius menghadapinya. Tidak mungkin Allah tega membunuh anak yang dijanjikanNYA sendiri. Sebaliknya Allah tidak mengetahui jalan pikiran Abraham.
Maka Abraham mengatakan kepada anaknya bahwa Allah yang akan menyediakan korban bakaran untukNYA. Hal ini berarti bahwa uji kesetiaan itu tidak berpengaruh terhadap pemikiran Abraham karena dia sudah menebak hasil akhirnya. Akibatnya Abraham akan melakukannya dengan kepura-puraan. Tetapi sebaliknya Allah tidak tahu kepura-puraan Abraham tersebut karena memang Abraham lebih pintar dari Allah. Atau setidaknya Allah tidak tahu pemikiran Abraham yang mampu menebak hasilnya.
Jadi terbuktilah bahwa kisah Abraham tentang mengorbankan anaknya Ishak, seperti sebuah cerita detektif karya Nick carter. Satu kebohongan ditutup oleh kebohongan yang lainnya. Seperti ; ketika Abraham tidak mau berterus terang kepada anaknya, maka dia terpaksa membohongi Allah dengan mengatakan bahwa Allah yang akan menyediakan domba itu untukNYA.
Artinya Abraham sudah melakukan kejahatan dosa sebanyak 6 kali berturut-turut ; pertama membohongi anaknya, kedua membohongi Allah, ketiga membohongi diri sendiri, keempat membohongi dua orang pembantunya , kelima menganggap ujian itu seperti main-main, keenam menganggap rendah kemampuan Allah.
Maka janganlah berbuat bohong karena kebohongan itu akan menambah kebohongan yang lainnya.
Selanjutnya bagaimana keadaan saat-saat penyeblihan itu? Perhatikan dialog Al Kitab Bible berikut ini ;

9Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.(kej 22:9)”

Kalau kita analisa ayat diatas, maka banyak sekali muncul pertanyaan yang menggelitik.
Pada saat Abraham dan Ishaq membuat tempat bakaran dan Mesbah, tentu masih ada waktu beberapa jam, jadi masih ada kesempatan bagi mereka untuk berdialog. Tetapi tahu-tahu Ishaq sudah diikat oleh Abraham.
Apa yang terjadi antara Abraham dengan Ishaq sebelumnya?. Apakah Abraham memaksa anaknya? Dengan cara apa Abraham mengikat anaknya? Apakah dipukul hingga pingsan sehingga mudah mengikatnya?
Kalau anaknya pasrah begitu saja , tentunya tidak mungkin, karena dia akan bertanya “ Bapak mau apa?” , dan tidak mungkin pula Abraham menjawabnya “ aku akan mengikat dan menyembelihmu” kerena Abraham sudah menjelaskan bahwa akan ada dombaNYA nanti.
Kalau sekiranya Abraham membohongi Ishaq dengan menyuruhnya berpura-pura diikat dan berkata “ kamu saya ikat dulu ya nak.. nanti Allah akan memberikan dombaNYA” ; maka Abraham kembali membohongi anaknya dan membohongi Allah. Pasti ketahuan Abraham dan anaknya main sandiwara dihadapan Allah.
Atau mungkin juga sebaliknya dimana Bapak dan anak ini Cuma berpura-pura hendak melakukan pengorbanan itu kepada Allah. Tentu akan bertambah kejahatan dosa Abraham, minimal 12 dosa lagi.
Kalau ini dilakukannya maka memang benar, bahwa Abraham adalah seorang penipu dan pembohong sehingga wajar PL menulisnya begitu.
Kemudian Abraham menyembelih anaknya dengan pisau dalam keadaan terikat. Kenyataan ini menimbulkan permasalahan baru lagi. Kalau Ishaq tidak pingsan tetapi pura-pura pingsan, maka tentu Allah akan mengetahuinya.
Atau mungkin juga Allah dapat dibohongi oleh kepura-puraan Ishaq dan Abraham.
Sebaliknya jika Ishaq tidak tahu kalau dia akan disembelih dengan pisau, maka artinya Ishaq dalam keadaan pingsan dimana hal ini menunjukan bahwa Abraham telah melakukan kekerasan sebelumnya pada Ishaq.
Apa yang terjadi setelah itu ? bacalah ayat berikutnya ;
11Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”(Kej 22:11)”
Ternyata Abraham lulus juga dari test uji kesetiaan itu. Allah tidak mengetahui apa terjadi pada pemikiran Abraham sebelumnya. Allah juga tidak menerangkan kenapa Abraham dinyatakan lulus. Apa yang menjadi penilaian bagi Allah sehingga Abraham dan anaknya dinyatakan lulus ujian besar.
Jadi jelaslah bahwa cerita PL tentang kisah Abraham bukanlah kisah nyata, tetapi cerita fiksi. Sepertinya cerita ini dibuat-buat untuk maksud yang terselubung. Tentu saja para Pendeta Kristen akan memberikan opini dan kesimpulan bahwa yang simaksud dengan “ DombaNYA” bukanlah domba yang sebenarnya tetapi “Anak ALLAH yang dikorbankanNYA” . Anak Allah itu adalah Yesus yang nantinya akan mati ditiang salib sebagai pengorbanan Allah sebagai anakNYA.
Perbedaanya peristiwa pengorbanan antara DombaNYA dangan pengorbanan anakNYA hanya terletak pada perbedan waktu dan perbedaan cara pengorbannya saja . Kalau DombaNYA dikobankan untuk Abraham, sedangkan anakNYA dikorbankan untuk orang-orang fasik yang hendak membunuhnya.
Begitulah Pemikiran Pendeta Kristen ini beropini dan berkesimpulan. Logiskah kesimpulan itu? Tentu saja tidak. Ini kesimpulan yang dibuat-buat dan dipaksakan, sehingga tidak mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan hatinurani.
Setelah kita membaca kitab Taurat versi Perjanjian lama, maka terbukalah kebohongan-kebohongan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Pendeta Kristen selama ini. Jadi benar bawa kepalsuan itu hanya bisa ditegakkan dengan kepalsuan juga.
Baru sebuah kisah yang kitab baca, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Pendeta ini, tetapi kita sudah dapat menyaksikan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan, pelecehan terhadap Umat manusia, pelecehan terhadap Nabi Besar Ibrahim, merendahkan Allah, melecehkan Allah, kisah Abraham seperti dongeng saja, cerita yang dibuat-buat untuk tujuan kebesaran suatu kaum tetapi menghina kaum yang lainnya.
Kita tidak perlu mempersoalkan kejanggalan itu, biarlah umat Kristen yang memikirkan dan menyimpulkannya sendiri.
Jadi kesimpulannya adalah kitab Perjanjian Lama bukanlah kitab Taurat seperti yang pernah diturunkan Allah kepada ustusanNYA yang Mulia Nabi Musa AS, tetapi sebaliknya Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang justru melecehkan Allah, RasulNYA dan tidak mengandung pelajaran yang baik.
Rasanya tidak akan adil kalau hanya menilai PL saja . Untuk itu marilah kita membahas kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al qur’an agar adil. Artinya saya tidak mempunyai niat untuk menjelak-jelekkan PL, tetapi hanya menyampaikan kebenaran semeta. Saya tidak mencari pembenaran tetapi berusaha mendapatkan kebenaran.
Memang Al Qur’an tidak menulis kisah Abraham sedetail PL. Perjanjian Lama menceritakan kisah Abraham sangat mendetail sehingga mirip dengan sebuah buku novel, tetapi didalam cerita itu banyak sekali kejanggalan dengan segala ketidak benarannya. Untuk itu kita tidak perlu mengisahkan kembali cerita Ibrahim itu sebagaimana detailnya kisah didalam PL.
Saya akan mengambil beberapa keterangan apakah ada keterangan di dalam Al Qur’an yang dapat membenarkan atau membuat lebih benar atau memperbaiki keterangan PL yang tidak semestinya itu.
Seperti yang sudah kita baca didalam PL, bahwa kisah Abraham banyak mengandung unsur ketidakadilan seperti membeda-bedakan keturunan Ibrahim yang berasal dari Ishaq dan keturunan Ibrahim yang berasal dari Ismael.
Ternyata al Qur’an tidak membeda-bedakan satupun diantara anak keturuan Ibrahim tersebut, semuanya sama dihadapan Allah . Hal ini diabadikan didalam surat Ali Imran ayat 84 ;
Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”(QS Ali Imran 3:184)”
Konteks ayat diatas adalah sebuah perintah yang disampaikan oleh Allah kepada seluruh umat Ibrahim melalui Muhammad bahwa hendaklah mengikuti semua ajaran Ibrhim yang diteruskan oleh anak cucu beliau. Artinya keturuan Ibrahim tersebut diperlakukan sama dihadapan Allah dan semua keturunan Ibrahim adalah pembawa petunjuk dari Allah.
Bahkan pada kalimat di akhir ayat , Allah menganjurkan umat Ibrahim dan Muhammad agar mengucapkan kalimat pengakuan sendiri supaya tidak akan membeda-bedakan atau memperlakukan keturunannya secara tidak adil.
Jadi ayat ini menekankan kepada manusia agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai persamaan hak-hak manusia. Akhirnya ayat ini ditutup dengan pernyatan agar berserah diri pada Allah. Berserah diri mempunyai cakupan yang sangat luas dan dalam. Seperti kesabaran dan keihklasan dalam menerima apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Memang ada orang yang lebih kaya, lebih makmur , lebih tinggi kedudukannya, lebih tinggi ilmunya, lebih tingi kemampuannya dan lain-lain sebagainya, tetapi itu semua tidak menjadikan kita harus iri, dengki, merendahkan seseorang atau terlalu tinggi menyanjung orang lain, tetapi serahkan semua urusan itu kepada Allah.
Hormatilah segala bangsa, suku, agama, pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Hanya Allah yang mengetahui siapa diantara orang-orang itu yang lebih baik disisiNYA. Bisa saja orang yang dipandang rendah oleh Manusia, tetapi disisi Allah mereka lebih tinggi, begitu juga sebaliknya. Ayat diatas mempunyai filsafat hidup yang tinggi nilainya kepada manusia yang beradab dan sebagai makluk yang berserah diri pada Allah.
Kembali Al Qur’an menyampaikan sebuah Ayat yang menghargai keturunan nabi-nabi terpilih kerutunan nabi Nuh, keturunan Ibrahim ( Ismael dan Ishaq) serta kepada keturunan Imran ( Maryam dan anaknya Isa As) ;
“ Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Ali Imran 3:33-34)”
Ayat diatas memperluas arti dari sebuah persamaan hak dan penghargaan kepada seluruh keturunan Nabi-nabi terpilih. Bukan hanya keturunan Ibrahim saja yang harus diperlakukan dengan adil, tetapi juga keturunan Imran yaitu Maryam yang akan melahirkan seorang Nabi yaitu Isa As. Jadi ketentuan persamaan dan penghormatan kepada semua nabi-nabi sudah diajaran di dalam Al Quran dan harus ditunaikan oleh umat islam sesuai dengan anjuran yang luhur dari ayat-ayat Allah didalam Al Qur’an.
Al Qur’an tidak pernah menceritakan tentang gossip, aib ataupun mencampuri urusan dalam rumah rumah tangga Ibrahim. Al Qur’an tidak pernah menceritakan tentang konflik yang terjadi di dalam rumah tangga Ibrahim yaitu hubungan yang tidak harmonis antara Sara dengan Hagar yang menyebabkan Hagar dan Ismail terusir dari tempat Ibrahim, seperti yang disampaikan oleh PL .
Al Qur’an menggambarkan sosok Ibrahim sebagai seorang manusia sangat peka perasaannya, dia sangat penyantun dan suka memberi apa yang dia miliki karena sifat pengiba dan rasa kasih sayang yang tulus kepada siapapun termasuk anak-anaknya bahkan Ibrahim akan selalu berdoa dan kembali ke jalan Allah ;
“ Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah (QS 11:75) “.

Al qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim adalah seorang yang dapat dijadikan panutan dan suri teladan bagi orang-orang yang bersamanya dan yang berada disekitarnya.

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ( QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Al Qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim bukanlah tipe orang yang suka berputus asa, tidak sabar , suka menyerah pada nasib ;
“ Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”55. Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat” (QS Al Hijr 15:55-56)”.
Ayat diatas merupakan dialog antara Ibrahim dengan Malaikat yang akan menyampaikan kabar gembira tentang anak yang akan lahir dari istrinya yang pertama yaitu Ishaq . Ketika Ibrahim dinasehati oleh Malaikat supaya jangan termasuk orang yang putus asa, maka secara spontan Ibrahim mengatakan bahwa orang yang tidak sabar itu adalah orang yang tersesat. Hal ini menunjukan bahwa Ibrahim bukanlah tipe seorang yang gampang menyerahkan nasibnya pada siapapun, dia temasuk orang yang sabar, setia sama istrinya dan seluruh keluarganya.
Ibrahim tidak takut kepada siapapun, Ibrahim mempunyai pendirian dan sikap yang tegas dalam mempertahankan keyakinan. Ibrahim hanya takut kepada Allah. Bahkan kepada Bapaknya, Ibrahim rela berpisah karena berbeda keyakinan ;
“ Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. (QS At Taubah 9:114) “
Ayat ini menunjukan bahwa Ibrahim bukanlah tipe seorang yang ragu-ragu pada keyakinannya dan dia rela berpisah dengan Bapaknya karena perbedaan prisip hidup. Ayat ini juga memperbaiki keterangan PL yang mengatakan bahwa Ibrahim berangkat bersama Bapaknya Terah. Sedangkan menurut Al Qur’an Ibrahim berpisah untuk selama-lamanya dengan bapaknya Aazar.
Bahkan Ibrahim tidak takut kepada seorang raja yang sangat berkuasa di dalam sebuah kerajaan ;
“ Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.( QS As Shafaat 37:97)”.
Ketika lidah api menjilati tubuhnya , Ibrahim tidak bergerming dan merasa takut sedikitpun juga. Menurut keterangan Al Qur’an, Ibrahim tidak takut kepada siapapun dalam hal mempertahankan kebenaran dan keyakinannya. Ibrahim hanya takut kepada kekuasaan dan hukuman Allah.
Bukan Allah yang mencari Ibrahim, tetapi Ibrahimlah yang menemukan Allah dengan Ilmu pengetahuannya. Ibrahim meyakini adanya sang pencipta alam semesta ini setelah melakukan survey yang cukup lama. Pada awalnya Ibrahim tidak percaya kalau berhala-berhala dan symbol-symbol ritual pemujaan di negrinya sebagai Tuhan yang diyakin oleh penduduk. Kemudian Ibrahim mencari sesuatu yang lebih berkuasa dari pada Berhala.
Bahkan pada awalnya Ibrahim menduga matahari, bintang-bintang dan rembulan lebih berkuasa dan sekaligus menciptakan alam semesta ini. Tetapi hasil penemuannya itupun tidak memberikan sebuah kesimpulan yang meyakinkan bagi Ibrahim. Akhirnya Ibrahim memperoleh kesimpulan yang tidak dapat dia bantah, bahwa seluruh alam semesta itu ada pemiliknya , ada penciptanya dan ada penguasanya yaitu Allah. Dan Ibrahim meyakini bahwa tidak ada lagi patung-patung, tidak ada lagi symbol-symbol ritual penyembahan, tidak ada kekuasaan Raja dan tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang lebih berkuasa dari sang pencipta seluruh alam beserta isinya. Dan sang pencipta itu adalah satu tidak ada lainnya, yaitu Allah SWT.
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan 78. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ((QS Al Ana’am 6:78-79)”
Keterangan ayat diatas adalah hasil akhir dari sebuah pencarian Ibrahim atas keyakinannya terhadap sang Pencipta seluruh Alam. Setelah keyakinannya mantap di dalam dadanya, maka dia menyampaikan jalan pikirannya itu kepada penduduk sekitarnya. Tetapi jalan pikiran Ibrahim tidak dapat diterima oleh seluruh warganya yang masih terkebelakang dan bodoh, mereka lebih percaya kepada Tahyul dan cerita bohong.
Begitu juga dengan Bapak Ibrahim Aazar yang tidak bisa menerima keterangan Ibrahim. Sehingga Ibrahim harus memutar otaknya , bagaimana cara menyadarkan penduduk yang sudah sangat bodoh itu. Beberapa kali Ibrahim membuat lelucon seperti ; mengajak patung-patung itu berbicara dan disaksikan oleh orang banyak lalu dia menampar dan memukul tubuh patung yang tidak mau mendengar perkataannya hingga Ibrahim kesakitan. Walaupun penduduk mengira Ibrahim melawak dan ada juga yang mengira dia gila, tetapi penduduk tetap saja menyembah patung-patung itu.
Ketika Ibrahim menyampaikan kebodohan mereka , merekapun marah dan menjawab bahwa mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh petua-petua mereka. Dan akhirnya Ibrahim mendapat ide akan menghancurkan patung-patung yang tidak berguna itu, dia ingin menyaksikan bagaimana reaksi para pemuja berhala itu apakah mereka sadar?. Maka pada saat rumah pemujaan sedang kosong , Ibrahim masuk kedalam ruangan. Disana terdapat banyak sekali patung dan ada satu yang paling besar. Kemudian Ibrahim berdiri didepan patung-patung kecil lalu bertanya ;
“ Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? (QS As Shafaat 37:91)”

Karena patung-patung itu tidak juga menjawab maka selanjutnya Ibrahim menghancurkan patung-patung itu ;
“ Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat)(QS As. Shafaat 37:93)”
Kemudian Ibrahim menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan palu dibahunya. Ibrahim ingin menguji kecerdasan penduduk. Kalau penduduk benar-benar bodoh maka mereka akan menuduh Dewa besar itulah yag memarahi dan menghancurkan dewa-dewa kecil-kecil karena ia tidak ingin disaingi. Tetapi kalau mereka mampu berpikir maka tentu mereka sadar bahwa tidak mungkin patung itu melakukannya. Atinya Ibrahim ingin memberi sebuah pelajaran dengan cara yang lain. Kenapa tuhan-tuhan dapat dihancurkan orang? Bukankah ini berarti manusia lebih berkuasa dari pada patung?.
Tetapi apa yang diharapkan Ibrahim, tidak dipahami oleh orang yang merasa lebih pintar dari patung itu. Kepintaran mereka tidak berguna bagi mereka, mereka tetap saja menyembah patung itu. Jadi siapakah yang lebih bodoh Patung atau manusia ?
Pada zaman millennium ini tidak ada lagi orang yang menyembah patung, kecuali orang gila. Tetapi model penyembahan berhala itu tetap saja terjadi hingga sekarang . Pada abad millennium ini, orang tidak menuhankan berhala, tetapi menuhankan pikiran, opini dan kesimpulan yang dibuat-buat.
Mereka memaksakan dugaan dan opininya lalu menyimpulkan menurut angan-angannya. Didalam pikirannya , mereka membayangkan Tuhan berubah menjadi Manusia, kemudian manusia itu menjema lagi menjadi Tuhan. Berarti tuhan itu tidak mungkin satu kerena sewaktu Tuhan membelah dirinya menjadi dua , maka terdapat dua tuhan yaitu Tuhan Bapak dan Tuhan anak, sehingga tuhan ini mempunyai 2 pribadi. 2 pribadipun belum cukup sebab tuhan bapak tidak berbicara yang berbicara adalah anaknya, maka ada satu tuhan lagi yaitu Firman. Selanjutnya Mereka menyimpulkan tuhan itu ada 3 unsur yaitu Bapak, anak dan Firman. Ketiga itu adalah satu tetapi tidak sama , dia memiliki 3 pribadi yang berbeda. Jadi kalau ada orang-orang yang mempercayai , meyakini dan mengikuti pendapat Pendeta ini , maka sama saja mereka telah menyembah berhala. Berhala itu bukan patung yang dapat dilihat tetapi pemikiran dan opini dari dalam pemikiran diri manusia itu. Jadi mereka sebenarnya sama saja dengan penduduk di zaman Abraham yang menyembah berhala dengan nalarnya. Patung-patung itu tidak kelihatan tetapi ada di dalam pikirannya.
Orang-orang di zaman Abraham bukannya menyadari kebodohan mereka , sebaliknya mereka membela patung-patung itu dan menghukum mati Ibrahim dengan membakar Ibrahim yang dianggap sebagai musuh berhala. Mereka merasa terhina sebab Ibrahim sudah melecehkan dan merusak sesembahan mereka.
Dengan keyakinan dan keimanan yang teguh itulah Ibrahim diselamatkan oleh Allah dari kezaliman yang dilakukan oleh Raja dan penduduk disana. Karena mukjizat itu, akhirnya Ibrahim meninggalkan kampung halamannya dengan aman tanpa gangguan. Jadi kepergian Ibrahim meninggalkan kampungnya disebabkan karena merasa bahwa beliau tidak perlu lagi berdialog dengan mereka. Maka sebenarnya ayat-ayat AL Qur’an memperbaiki keterangan PL yang mengatakan bahwa kepergian Abraham karena mendapat perintah untuk mendapatkan hadiah tanah yang dijanjikan.
Ibrahimpun berpisah dengan Bapaknya yang tidak mau ikut dengannya. Bapaknya memilih tetap bersama rakyat yang bodoh itu. Tetapi Ibrahim tidak pernah membenci Bapaknya, beliau sayang pada Bapaknya, kerena itulah dia menasehati orang tuanya. Tidak terdapat sebuah katapun yang tertulis di dalan Al Qur’an kalau Ibrahim pernah melecehkan dan menghina Bapaknya sendiri. bahkan Ibrahim memohon ampunan kepada Allah agar tidak menghukum Bapaknya ;
“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah (QS 60:4)”.
“ Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (QS 9:114) “.
Keterangan Ayat didatas menunjukan bahwa Ibrahim tetap mendo’akan Bapaknya karena dia telah berjanji, tidak akan berbuat durhaka. Tetapi setelah Ibrahim tidak mampu lagi meluruskan jalan pikiran Bapaknya, maka kata perpisahanpun tidak terelakkan. Di akhir kalimat, ayat ini menyatakan bahwa Ibrahim merupakan seorang yang mempunyai pribadi sangat peka , seorang yang penyantun, hatinya lembut dan sangat sayang kepada keluarganya. Jadi Al Qur’an melukiskan Ibrahim dengan pribadi yang sangat baik. Kepada Bapaknya saja dia sangat hormat dan santun apalagi terhadap anak istrinya. Keterangan al Qur’an ini bertolak belakang dengan penggambaran PL. Kembali al Qur’an mengoreksi keterangan PL yang mengatakan bahwa Abraham berangkat bersama Bapaknya Terah.
Akhirnya berangkatlah Ibrahim besama pengikutnya dan berjanji untuk berpisah selama-lamanya penduduk dan Bapaknya ;

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami menolak (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu karena permusuhan dan kebencianmu buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.. (QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Diawal ayat diatas , Allah memberikan arahan kepada Muhammad ( dan umat sesudah itu) bahwa kepribadian Ibrahim dapat dijadikan suri tauladan bagi orang-orang yang mau mengikutinya. Tentu saja suri teladan yang baik-baik , bukan seperti yang tertulis di dalam kitab Perjanjian Lama yang sudah dibahahas diatas. Namun di dalam prinsip ketuhanan, Ibrahim tetap teguh berkeyakinan. Beliau tidak mau menjual imannya dengan jatah makanan walaupun mati kelaparan. Ibrahim tidak perlu harus mengungsi ke Mesir , atau berpura-pura sebagai adik-kakak dengan istrinya demi takut dibunuh Fir’un dan Abimelehk.
Kemana tujuan Ibrahim selanjutnya?
“ Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (Qs Ash Shaaffaat 37:99)”.
Dari keterangan ayat diatas, kita mendapat sebuah petunjuk bahwa Ibrahim mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa Allah akan menolongnya di dalam Perjalananan nanti. Ditempat yang aman itulah Ibrahim akan menghadap (beribadah) Allah dengan membuat tempat beribadah.
Jadi Al Qur’an menerangkan bahwa kepergian Ibrahim dari kampung halamanya bukan karena diperintahkan oleh Allah kesuatu tempat yang dijanjikan. Kepergian Ibrahim terjadi akibat perbedaan prinsip dengan kebiasaan orang di kampungnya, sementara Ibrahim berada pada pihak yang mengalah sehingga dia memilih untuk mengungsi. Kalaupun Allah memberikan suatu tempat yang aman bagi Ibrahim untuk beribadah, itu bukan sebuah perjanjian yang disampaikan oleh Allah sebelum keberangkatannya.
Lain halnya dengan PL yang memerintahkan Abraham berangkat ketanah yang dijanjikanya untuk beranak cucu. PL tidak menjelaskan kenapa Abraham harus berangkat ketanah yang dijanjikan Allah tersebut. Penyebab berangkatnya Abraham tidak jelas dan tujuannya pun tidak tepat karena harus mengungsi lagi ke Mesir. Jadi sepertinya tujuan dari perjalanan Abraham yang tertulis didalam PL bernuasa kepemilikan tanah janjian yang dilatarbelakangi dengan perjanjian Allah.
Kenapa Allah harus menjanjikan Abraham tanah ke Kanan saja, bukankah bumi Allah masih cukup luas dan pada waktu itu manusia belum banyak sehingga masih banyak pilihan bagi Ibrahim mencari tempat yang baik dan aman.
Al Qur’an hanya menjelaskan bahwa Ibrahim sudah memasuki daerah yang aman dan diberkahi oleh Allah yaitu di Baitullah ;

“ Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (Qs Al Hajj 22:26) ”.
Kemudian diperkuat lagi oleh ayat berikut ;
Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia(Surat 21. AL ANBYAA’ – Ayat 71)”.
Ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan nabi Lut berangkat bersama-sama ke Baitullah tersebut. Mereka diarahkan oleh Allah menuju sebuah tempat yang aman di suatu tempat beribadah (baitullah) di Mekkah.
Ketika Ibrahim sampai disana, tempat itu masih merupakan semak belukar dan disana terdapat sebuah batu sebagai patokan untuk tempat beribadah ;
Disanalah Ibrahim mendirikan rumah ibadah (= Mezbah). Ibrahim meninggikan letak Batu tersebut sebagai tanda dari tempat ibadah tersebut. Batu itu dikenal dengan nama Asjar Aswad . Al Qur’an menyatakan bahwa disanalah rumah beribadah manusia yang pertama kali dibangun oleh Manusia ;
“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS Ali IMran 3:96)”.

Sebagai bukti bahwa Ibrahim pernah membangun tempat beribadah, di dalam Al Qur’an terdapat keterangan ;
“ Padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim (berupa telapak kaki); barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia (QS 3:97);”
Sampai sekarang bukti telapak kaki Ibrahim itu masih tersimpan dengan baik. Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan tentang kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Sementara PL tidak pernah ada tertulis bahwa Abraham pernah datang ke Mekah atau membangun Mezbah disana, bahkan tidak disertai bukti tentang mezbah yang pernah dibangun Ibrahim pertama kali sampai di negri Kanaan tersebut.
Bekas telapak kaki itu berukuran panjang 22 cm, lebar 11 cm dan dalamnya 10cm. makam itu merupakan bukti sejarah dari keberadaan Ibrahim di Baitullah Mekah ;

Jejak Telapak kaki Nabi Ibrahim di Masjidil Haram Mekah

Batu Asjar Aswad
Setelah selasai membangun rumah Ibadah tersebut dan membersihkanya, lalu Ibrahim dan rombongannya meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan Perjalanan dalam menyampaikan dakwahnya. Sementara Istrinya yang sedang hamil tidak ikut berangkat, dan Ibrahim berdoa kepada Allah semoga Allah melindungi Istrinya . adapun do’a Ibrahim ketika meninggalkan tempat Baitullah diabadikan pada sutar Ibrahim ayat 37 ;
“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS 14:37) “.
Ternyata doa Ibrahim dikabulkan Allah. Inipun telah menjadi bukti yang tidak terbatahkan hingga sekarang. Kota Mekah benar-benar menjadi pusat peribadatan untuk umat islam seluruh dunia. Puluhan Juta umat islam datang menunaikan ibadah Haji per tahunnya. Mekah menjadi kota besar yang tidak pernah sepi dari ritual ibadah dan semua persediaan makanan melimpah ruah di sana.
Kalau kita lihat kontek ayat diatas , al Qur’an memberi petunjuk “sebahagian keturunanku di lembah “ ; artinya ketika itu Ismael masih belum Lahir karena Ibrahim meningalkannya Istrinya dalam keadaan hamil dan menetap di dekat Baitullah, yang masih banyak semak belukarnya. Kemudian Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah supaya Allah melingdungi Istri dan calon anaknya. Tentunya Ibrahim meyakini bahwa Allah akan menolong dan melindungi keluarganya. Keyakinan Ibrahim tentu beralasan kuat , kerena beliau bersama rombongannya telah menyelesaikan pembangunan Baitullah tahap pertama untuk dijadikan tempat beribadah bagi pengikutnya, sehingga nantinya tentu ada musafir dan pengikut ajaran beliau yang datang mampir ketempat itu untuk beribadah. Sedangkan Ibrahim dan rombongan akan pergi mendatangi negri-negri yang berdekatan untuk menyampaikan dakwah dan mengabarkan bahwa tempat beribadah tersebut sudah ada di Mekkah. Dan memang sejarah membuktikan bahwa tempat tersebut (Baitullah) tersebut selalu dikunjungi oleh banyak musafir, kabilah, dan orang-orang yang beribadah di tempat itu.
Ayat ini memberikan petunjuk bahwa tidak ada unsur diskriminasi yang dilakukan oleh Ibrahim kepada anak istrinya dan tidak ada juga keterangan tentang kemelut rumah tangga beliau. Kisah ini berjalan seperti apa adanya dan tidak bisa direkayasa untuk maksud-maksud tertentu. Sepertinya kontek ayat ini membatasi manusia untuk merubah ayat itu sehingga ayat ini sangat kokoh untuk dimasuki cerita sisipan seperti yang tertulis di dalam PL.
Beberapa tahun kemudian Ibrahim kedatangan tamu yang ternyata adalah para malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan sesuatu ;
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?24 (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. 25 Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), 26 lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silakan kamu makan. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (QS 51:24-28) “.
Kalau kita baca keterangan ayat ini, ternyata sangat mirip dengan keterangan dalam kitab Perjanjian Lama. Hal itu menunjukkan bahwa Allah sudah menceritakannya kepada nabi sebelum Muhammad SAW. Namun kalau kita dalami terdapat beberapa perbedaan yang sangat prinsip.
– Pertama menurut Al Qur’an diantara tamunya itu tidak ada Allah , yang datang adalah untusan Allah yaitu para Malaikat sedangkan menurut PL ada Tuhan diantara tamu itu.
– Kedua Al Qur’an tidak menyebutkan jumlah malaikat sedangkan PL menyebutkan 2 orang Malaikat dan 1 Allah.
– Ketiga Al Qur’an menjelaskan tamu itu langsung menemui Ibrahim kerumahya sambil mengucapkan salam lalu dijawab oleh Ibrahim sambil mengatakan bahwa beliau tidak kenal dengan mereka , sedangkan menurut PL Abraham Tuhan dan Malaikat menampakan dirinya dari bawah pohon Terbantine lalu Abraham lari menyongsong penampakkan itu lalu meminta tamunya berkunjung ketendanya.
– Keempat menurut Al Qur’an tempat pejamuan itu di dalam rumah Ibrahim, sedangkan menurut PL pejamuan itu bertempat dibawah pohon didepan tenda tempat Abraham tinggal.
– Kelima Al Qur’an menjelaskan bahwa Ibrahim diam-diam menemui keluarganya (istrinya) supaya menyiapkan hidangan, sedangkan menurut PL Abraham meminta para tamunya makan dulu supaya segar lagi, setelah itu baru boleh berangkat. Lalu disetujui oleh Tuhan dan malaikat untuk mempersilahkan Abraham menyiapkan hidangan tersebut.
– Keenam Al Qur’an mengatakan bahwa Ibrahim hanya menghidangkan anak daging sapi gemuk yang dibakar, sedangkan menurut PL Abraham menghidangkan banyak jenis makanan sebagai hidangan yaitu roti yang diolah lengkap dengan prosedur pengolahannya (apakah dizaman itu sudah ditemukan prosedur pembuatan roti?) , dadih dan susu serta daging sapi.
– Ketujuh menurut Al qur’an Ibrahim mempersilahkan para tamumnya itu makan tetapi mereka tidak mau makan, sedangkan menurut PL hanya tamu-tamunya saja yang makan termasuk Allah sementara Abraham menyaksikan sambil berdiri.
– Ke delapan menurut Al Qur’an Ibrahim ketakutan dan merasa kuatir menyaksikan para tamunya tidak mau menyentuh makanan, sedangkan menurut PL Abraham tidak merasa apa-apa.
– Kesembilan Menurut Al Qur’an malaikat menenangkan perasaan Ibrahim supaya tidak takut karena Malaikat itu akan menyampaikan sebuah berita gembira untuk Ibrahim, sedangkan PL tidak menceritakan ketakutan Abraham pada tamunya.
– Kesepuluh Menurut Al Qur’an malaikat yang memberitakan bahwa Abraham akan medapatkan anak lagi, sedangkan menurut PL Tuhan langsung yang menyampaikannya pada Abraham.
Ternyata istri Ibrahim ikut menguping dan mendengar berita itu dari balik tirai ;
“ Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub.(QS 11:71)”.

“ Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul ( QS 51: 29) ”.

“ Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh (QS 11:72) ”.
Kalau kita baca keterangan Al Qur’an ini mirip dengan yang disampaikan pada PL. untuk membandingkannya , marilah kita baca keterangan di dalam PL ;
” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. 12Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” 13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? 15Lalu Sara menyangkal, katanya: “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: “Tidak, memang engkau tertawa!” (kej 18 :10,12,13,15)”
Kalau kita terliti lebih jauh ,maka banyak terdapat perbedan-perbedaan diantaranya ;
1. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim mendengarnya dari balik tirai di dalam rumahnya, sedangkan menurut PL dari pintu belakang tenda.
2. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim tersenyum dari balik tirai, sedangkan menurut PL istri Abraham tertawa di dalam hatinya.
3. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim datang menemui tamunya sambil berteriak dan menepuk mukanya , sedangkan menurut PL istri Ibrahim tidak datang menemui tamunya.
4. Menurut al Qur’an istri Ibrahim menemui tamu itu sambil mengatakan bahwa dirinya sudah tua begitu juga dengan suaminya dan dia juga mandul, tetapi menurut PL Tuhan yang bertanya langsung pada Sara kenapa dia tertawa .
5. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim menyatakan dirinya sendiri mandul dan sudah tua, sedangkan menurut PL Sara tidak mengakui bahwa dia tertawa mendengar berita tetapi Tuhan tahu bahwa dia tertawa, ketika ditanya baru dia mengatakan bahwa dia merasa tidak mungkin hamil tetapi dia tidak tertawa.
Setelah dibandingkan kedua ayat-ayat di atas antara Al Qur’an dengan kitab perhanjian Lama tentang dialog antara Ibrahim dan istrinya dengan tamu-tamu ita, maka kita dapat mengambil sebuah penilaian ;
1. Cerita di dalam Al Qur’an mengandung unsur kebenaran dibandingan dengan cerita di dalam kitab Pejanjian Lama.
2. Keterangan PL yang menulis adanya Allah diantara tamu itu, diperbaiki oleh Al Qur’an yang menyatakan bahwa tamu yang datang itu hanya malaikat utusan Allah kepada Ibrahim. Secara logika , tidak mungkin Tuhan harus datang untuk menyampaikan kelahiran anak Ibrahim dan tidak mungkin pula Tuhan atau Malaikat menikmati hidangan Manusia
3. Keterangan PL yang menulis bahwa istri Ibrahim tidak mengakui bahwa Dia tertawa, diperbaiki oleh Al Qur’an bahwa Istri Ibrahim tidak tertawa atau mentertawakan berita itu. Yang sebenarnya Istri Ibrahim merasa kurang yakin lalu menyatakannya kepada tamu yang datang itu. Menurut logika dan hatinurani, tidak mungkin Istri Ibrahim menipu Allah karena persoalan sekecil itu.
Setelah Ibrahim menerima berita gembira tersebut, lalu Ibrahim mempertanya- kan urusan lain yang lebih penting dari tamunya ;

“ Berkata (pula) Ibrahim: “Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan? (QS 15:57)”
“ Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut), 32 agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), 33 yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas (QS Az Zhaziraat 51:31-33)”.
Ayat diatas menunjukan bahwa para malaikat itulah yang ditugaskanoleh Allah untuk melaksanakan ketentuan yang sudah ditetap bagi mereka yang sudah melampaui batas ( perbuatan homosex ). Dan tidak ada ditemukan satu ayatpun di dalam Al Qur’an yang menyatakan telah tejadi perundingan atau proses tawar menawar antara Ibrahim dan Allah sebelum menghancurkan negeri itu. Keterangan al Qur’an lebih logis dari pada keterangan PL.
Allah (“ kata Kami”) menerangkan bahwa Dia sudah menetapkan keputusan menimpakan kehancuran pada kaum Lut ;
“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.
Allah mengatakan bahwa tidak satupun di negri itu yang beriman kecuali dalam sebuah rumah dan Allah menyelamatkan orang-orang bertawakal yang ada di dalam rumah tersebut.
Kalau kita membaca ayat ini saja seolah-olah kalimat “Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. “ ; seolah-oleh bermakna bahwa Tuhan dan Malaikat baru tahu setelah menyelidiki langsung ke tempat tersebut. Bagi orang yang tidak pernah membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang kisah Nabi Lut sebelumnya , maka tentu pikiran orang itu mengira bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa Allah baru tahu setelah datang langsung kota itu. Padahal keterangan ayat diatas adalah sebuah pernyataan pada saat-saat akhir dimana Allah memutuskan perkara hendak menghancurkan kota maksiat itu. Untuk itu marilah kita lihat keadaan kota maskiat itu sebelum kehancuran yang diterangkan oleh ayat-ayat Al Qur’an .
Kita mulai dari doa nabi Lut ;
“ (Lut berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan’ (QS Asy Sy’araa’ 26:169)”.
Perbuatan apakah yang dilakukan oleh penduduk ditempat nabi Lut ? Bahkan nabi Lut sering menasehati mereka ;
“ Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?”(Qs An Naml 27: 54)”
Perbuatan fahisyah (sejenis perbuatan maksiat) apakah yang telah mereka lakukan. Bahkan mereka melakukannya saling menyaksikan dan membiarkan?
Ternyata perbuatan Fahisyah itu belum pernah dilakukan oleh umat manusia sebelumnya ;
“ Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu , yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS Al A’raaf 7:80)”

Keterangan ayat diatas diperkuat lagi oleh ;
“ Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu”.( QS Al ‘Ankabiit 29: 28)”

Mengapa Lut berdoa kepada Allah agar keluarganya selamat dari perbuatan itu? Karena Lut tidak sanggup lagi memperingati mereka dan sebaliknya mereka mengancam Lut yang suka usil dan sok suci itu ;
“ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Lut dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” ( QS Al A’raaf 7:81-82)”
Apa yang disampaikan oleh Lut kepada mereka sehingga mereka melecehkan nasehat Lut bahkan menuduh balik beliau dan pengikut beliau sebagai orang yang pura-pura suci? Ternyata Lut memberi peringatan akan azab Allah kepada mereka ;
“ Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.(Surat 54. AL QAMAR – Ayat 36)”
“ Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih (QS Hud 11:89-90)”.
Apakah Lut tidak pernah menasehati mereka sebelumnya? Ternyata nabi Lut sering memberi nasehat-nasehat kepada mereka. Tetapi mereka benar-benar menolak dengan keras.
Ikutilah dialog dibawah ini yang mengisahkan tentang usaha Nabi Lut menyadarkan penduduk dikotanya ;
“Kaum Lut telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas( QS Asy Syu’araa’ 26:160-166)”.
“ Mereka menjawab: “Hai Lut, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir (QS Asy Syu’araa’ 26:167)”
“ Lut berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu ((QS Asy Syu’araa’ 26:168)”.
Tentu saja Lut tidak mungkin lagi menesahati mereka , maka Lut memanjatkan doa kepada Allah sebagaimana disampaikan pada surat Asy Sy’araa’ ayat 16 diatas tadi. Berkali-kali Lut menyampaikan dakwahnya untuk memperbaiki penyimpangan yang dialami oleh penduduk, tetapi mereka berbalik menyerang Lut.
Namun Lut yang masih sabar, menyampaikan pesannya yang terkahir tentang kedatangan azab yang akan ditimpakan kepada mereka apabila mereka masih begitu ;
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu (QS Hud 11:89)”.
Ayat ini menunjukan sebuah ungkapan kesabaran Lut yang sudah sampai batas, dia menyampaikan pesan , sekiranya mereka membenci dirinya lantaran pesannya itu, beliau dapat menerimanya. Tetapi kalau Tuhan yang mengutuk kelakuan mereka itu maka semuanya akan ditimpa azab oleh Allah, sebagaimana yang pernah dialami oleh umat nabi Saleh dan umat nabi Hud.
Tetapi ancaman nabi Lut itu tidak didengar oleh mereka , bahkan mereka menantang nabi Lut supaya memperlihatkan azab Allah tersebut ;
“ Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar ( QS Al An Kabuut29:29)”.
Tentu saja nabi Lut sangat sedih mendengar jawaban mereka , maka Lut memohon kepada Allah untuk disegerakan permintaan tersebut ;
“ Lut berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu (QS Al An’kabuut 29:30)”.
Tidak beberapa lama setelah permohonan Lut itu, datanglah beberapa orang Malaikat yang menyamar sebagai laki-laki berbadan bagus dan elok rupa. Mereka memasuki kota menuju rumah Lut . Benar saja ! disepanjang jalan banyak sekali mata laki-laki memandang penuh hasrat kepada serombongan malaikat yang berwajah tampan ini. Tentu saja bukan hanya laki-laki saja yang mengikuti langkah pria-pria tampan itu , jelas para wanita dikampung itu sangat ngiler untuk memiliki mereka. Lalu mereka berbondong-bondong mengikutinya menuju rumah Lut.
Begitu para malaikat itu sampai di rumah nabi Lut, beliau langsung merasa kuatir. Apakah yang dikuatirkan oleh nabi Lut ? Apakah nabi Lut mengetahui bahwa tamu yang datang tersebut adalah para malaikat? Ataukah beliau sudah berfirasat kalau para tamunya itu adalah malaikat yang akan mengabulkan doa beliau untuk menghukum orang-orang fashihah tersebut? Ternyata jawabannya ada pada ayat berikut ;
“ Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Lut, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.”(QS HUd 11:80)”
Menurut keterangan kedua ayat tersebut , berarti nabi Lut tidak mengenal para tamunya itu, yang dikuatirkan oleh beliau adalah kedatangan para tamunya yang berwajah elok rupa dan ganteng-genteng itu. Beliau kuatir kalau penduduk akan datang kerumahnya untuk mencelakakan tamu-tamunya itu.
Apa yang dikuatirkan oleh nabi Lut ternyata terjadi juga, suara derap langkah sudah mulai terdengar mendekati rumah beliau , suara langkah itu makin mendekat , suara ribut-ribut diluar rumahnya sudah jelas sekali bunyinya. Pasti mereka menginginkan tamu-tamu beliau ini. Beberapa saat kemudian pintu rumah beliau diketok . mereka ingin segera masuk . Tentu saja Lut tidak mau membuka pintunya. Maka terjadilah dialog dari rumah ke halaman;
“ Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, (QS 15:67-69) ” .

Keterangan diatas diperkuat lagi oleh surat Hud ayat 78 ;

“ Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (QS Hud 11:78)”.

Tentu saja Lut sudah mengerti kehendak mereka yang menginginkan tamu yang ada dirumahnya . Lut bertambah cemas, tetapi beliau tetap sabar. Beliau memperingati para serigala yang sudah kelaparan tersebut dan menjelaskan bahwa para pendatang itu adalah tamunya. Beliau memohon agar mereka menghormati beliau dan tamunya. Bahkan beliau masih sempat memberikan nasehat ;
“ Lut berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina (QS Al Hijr 15:68-69) “.
Tentu saja para serigala itu tidak memandang lagi terhadap Lut, mereka hanya menginginkan tamunya itu, mereka sudah kebelet bahkan mereka memperingatkan dan mengancam Lut ;
“ Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (QS Al Hijr15:70) “.
Akhirnya Lut mengajukan permohon dengan sebuah persyaratan. Lut menawarkan Anak Gadisnya untuk dikawini secara baik-baik.
“Lut berkata: “Inilah putri-putri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal) ( QS Al Hijr 15:71)”.
Tetapi dasar manusia serigala yang mengalami kelainan sex, mereka sudah tidak mampu lagi membedakan yang baik dan yang salah, yang manis dengan yang pahit, yang putih dengan yang hitam. Mereka sudah tidak dapat disadari lagi. Semua laki-laki kaum homosex itu sudah berkumpul di depan rumah beliau ;
“ Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki (QS 11:79) ”.
Jadi jelaslah bahwa mereka hanya menginginkan tamu itu. Padahal tamu yang datang itu bukanlah manusia, yang datang itu adalah roh yang berujud manusia. Tamu itu hanyalah bayangan berupa sosok manusia terindah yang belum pernah ada didunia. Sekiranya kaum homo itu mengetahui yang sebenarnya, tentu mereka akan ketakutan lalu lari berhamburan , terbirit-birit dan terkencing-kencing.
Lut merasa tidak mampu melawan orang-orang banyak tersebut dan lagi beliau merasakan kalau dirinya telah dikucilkan selama ini.
“ Lut berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan) (QS Hud 15:80).”
Bahasa yang digunakan oleh ayat ini sangat santun dan sopan sekali. Hal ini menunjukkan bahwa nabi Lut seorang yang sangat sabar dan sopan dalam berbicara. Sekiranya orang yang tidak sabar dan sering emosional, tentu kalimat tersebut tidak cocok baginya. Tentu orang itu akan mengeluarkan kata-kata kesal atau mengumpat seperti; “kalian jangan begitu ya ! Mentang-mentang kalian banyak, jangan berlaku seenak ya! Ntar aku lapor sama polisi ya ! “. Atau “ awas ya ! , nanti aku lapor sama Raja , rasain kalian nanti !”. Tetapi Al Qur’an menyampaikannya dengan cara tata bahasa yang sopan, santun dan ada kesan kesabaran dan kerendahanhatian serta ketegasan.
Maka pada saat yang genting itulah Malaikat menyampaikan sesuatu berita kepada nabi Lut ;
“ ..dan mereka (Malaikat) berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) (QS Hud 11:31).”
Mendengar pengakuan Malaikat itu, legalah perasaan beliau. Namun beliau sangat sedih mendengar penuturan tamunya, bahwa istrinya tidak akan diselamatkan. Ada apa gerangan dengan istri beliau ? Kesalahan apakah yang diperbuat oleh istrinya ?. Kenapa istrinya belum juga kembali? Mengapa malaikat ini akan meninggalkan istri tercintanya? Mengapa Malaikat ini tidak mau menyelamatkan istrinya?
Ternyata jawabannya terdapat pada surat At Tahrim ayat 10 ;
“ Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka) (QS At Tahrim 66:10)”.
Ayat diatas dapat digunakan sebagai petunjuk tentang karakter istri nabi Lut begitu juga istri nabi Nuh. Al Qur’an menyampaikannya dengan sebuah perumpamaan. Perumpamaan ini memberikan gambaran bagaimana sifat khianat seorang istri yang tidak diketahui oleh suaminya. Se-saleh apapun seorang suami belum tentu mampu merubah karakter istrinya , begitu juga sebaliknya. Seorang suami atau istri mungkin tidak tahu sama sekali bahwa pasangannya telah mengkianatinya. Dalam hal ini, Istri Lut digambarkan sebagai istri yang berkhianat kepada suaminya untuk berbuat maksiat, begitu juga dengan istri nabi Nuh. Artinya mereka hanya mampu menipu pasangannya tetapi tidak kepada Allah dan Allah yang menentukan balasan yang setimpal baginya. Dan kepadaNYa manusia berserah diri.
Surat Hud ayat 31 dan 80 memberi petunjuk bahwa pada waktu kedatangan Malaikat, istri Lut tidak berada dirumah untuk urusan yang tidak direhdhai Allah. Dan kalau dihubungkan dengan surat At Tahrim ayat 10, ternyata istri Lut termasuk kelompok pembuat dosa sebagaimana penduduk kota yang lainnya. Dan kalau dihubungkan lagi dengan surat AL A’raaf ayat 82 diatas, maka pantas saja orang-orang dikota itu menuduh Lut dan pengikut beliau sebagai orang-orang yang sok suci, karena ternyata istri beliau termasuk anggota kelompok mereka juga.
Setelah itu, malaikat menyuruh beliau segera meninggalkan rumahnya untuk pergi menyelamatkan diri besama pengikutnya dan keluarganya malam itu juga ;
Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (QS Hud 11:81)”.
Dari keterangan ayat di atas, memberikan petunjuk bahwa selagi nabi Lut menyelamatkan diri mencari tempat yang aman, para Malaikat itu memberikan hukukman dan ganjaran kepada para serigala kehausan darah itu. Pertanyaannya adalah hukuman apakah yang diberikan oleh Malaikat tersebut kepada manusia serigala yang sudah keterlaluan ini ?. Jawabannya ada pada surat Az Zummar ayat 37 yangberbunyi;.
“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Surat 54. AL QAMAR – Ayat 37)

Dengan dibutakan mata mereka semua , menyebabkan seluruh penduduk yang kesetanan itu tidak dapat keluar dari kampungnya itu hingga datanglah bencana yang sudah menunggu. Mereka hanya mampu menunggu nasib yang sudah ditentukan untuk mereka.
Akhirnya nabi Lut pergi jauh keluar kota berjarak sekitar semalam perjalanan , lebih kurang 30 – 40 Km.
Bencana itu terjadi pada saat subuh;
“Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Lut) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh (Surat 15. AL HIJR – Ayat 66)”.
Tentu saja Nabi Lut tidak membawa istrinya yang malam itu entah dimana berada dan lagi nasib istrinya sudah ditentukan mati dalam bencana itu.
Kembali kita ke surat Adz Dazaariyaat ayat 35 diatas ;
“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.
Hal ini menunjukan bahwa Lut dan pengikutnya selamat dari bencana besar itu. Pertanyaan dasar yang perlu diajukan adalah ; kenapa Allah harus memusnahkan manusia seluruh kota tersebut? jawabannya adalah karena semua orang-orang beriman sudah diselamatkan oleh Allah melalui utusanNYA yaitu Malaikat seperti pada kalimat di ayat tersebut ” Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”.
Pada malam terakhir itu , yang tinggal hanyalah orang-orang yang mengalami penyakit menular yang berbahaya bagi generasi berikutnya. Apabila orang-orang ini dibiarkan hidup lebih lama maka mereka akan menularkan sifat dan karakter mereka pada generasi berikutnya. Sehingga akan lahir generasi yang akan rusak lahir dan bathin.
Pada zaman Milenium ini, penyakit yang paling ditakuti dan berbahaya adalah penyakit menular yang disebut AIDS , penyakit ini ditularkan akibat prilaku homosex dan hubungan sex bebas. Penyakit menular ini dapat menghancurkan sistim kekebalan tubuh sehingga si penderita mudah terserang berbagai jenis penyakit lainnya dan akhirnya dia mati dalam keadaan sekarat.
Artinya; hukuman ini merupakan bentuk kasih Sayang Allah kepada umat generasi berikutnya dan supaya mereka tidak menularkan penyakit tersebut ke negeri-negeri lainnya.
Tentu kita dapat membayangkan bagaimana suasana di zaman purba itu, tentu saja ilmu kedokteran belum ada seperti sekarang ini. Apabila waktu itu berkembang wabah penyakit AIDS, spilis, Gonoore dan penyakit kelamin lainnya, maka ini benar-benar sebuah bencana yang belum ada obatnya dizaman itu.
Bukankah belum ada umat lain di dunia ini yang melakukan perbuatan terkutuk seperti itu sebelumnya ? Bukankah nanti wabah itu berasal dari kota terkutuk itu?. Kalau akibat perbuatan penduduk dikota itu sempat menghasilkan penyakit kelamin yang menular dan menyebar kebelahan negeri lainnya, maka siapakah yang akan mengobati mereka, apakah dukun-dukun zaman purba sanggup mengobati penyakit infeksi yang menular ? Bukankah pada zaman nabi Isa AS , berabad-abad setelah umat nabi Lut, wabah penyakit sampar saja tidak ada yang mampu mengobatinya, kecuali mukjizat Isa atas Izin Allah?
Bukankah dalam proses sterilisasi kuman-kuman penyakit menular (flu babi, flu burung, penyakit sapi gila dan lain-lain) , maka hewan inangnya juga harus dimusnahkan dengan cara dibakar lalu dikubur di dalam tanah?
Mungkin saja sudah mulai ada penduduk yang sakit , minimal sakit mental yaitu cinta sesama jenis yang akhirnya mereka akan punah, atau mungkin juga saat itu penyakit kelamin dan AIDS sudah menunjukkan gejala akan terjadi, kalau bukan yang berkuasa yang dapat mengatasinya lalu siapa lagi ? Mungkin jiwa Ibrahim dan kita sekalian sedih mendengar seluruh manusia didalam kota itu akan dimusnahkan, tetapi akan lebih gawat lagi apabila wabah kelainan mental dan penyakit menular berkembang dan mematikan penduduk dalam jumlah yang lebih banyak dan mengerikan.
Akhirnya penduduk yang tidak berguna itu terpaksa harus di sterilisasi secara alamiah dengan kehendak sang pencipta ;
“ Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, (QS Hud 11:82)”
Al Qur’an membantah keras pernyataan Kitab PL yang menulis bahwa Lut adalah seorang yang bejat yang telah berbuat zina dengan anaknya sendiri sehingga melahirkan anak sekaligus cucunya. Keterangan kitab PL ini benar-benar sebuah penghinaan, Fitnah dan gossip yang nyata.
Nabi Lut telah mencegah dan menentang habis perbuatan maksiat, lalu kenapa kitab PL menuduh beliau telah melakukan perbuatan yang lebih keji lagi. Benar-benar biadab tuduhan tersebut. Al Qur’an menulis bahwa Lut adalah seorang Nabi dan utusan yang sangat disayangi Allah;
“ Maka Lut membenarkan (kenabian) nya (QS AL Ankabuut 29:26)”.
Bahkan Allah mengabadikan Lut sebagai seorang Rasullullah ;
“Sesungguhnya Lut benar-benar salah seorang rasul” (QS Ash Shaaffaat 37:133).
Bahkan nabi Lut termasuk orang yang dilebihkan derajatnya diantara umatnya ;
dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya) (Qs Al An’aam 6:86)”,
Jadi banyak sekali ayat-ayat yang terdapat di al Qur’an yang dituduh mencontek kitab PL, ternyata justru memperbaiki dan membetulkan keterangan dari kesalahan yang sudah diperbuat oleh PL. Hal ini menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah hasil karya dari pegarang aslinya yang telah datang untuk merevisi keterangan-keterangan yang sudah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kita kembali kepada kisah Ibrahim. Kita akan baca bagaimana keterangan Al Qur’an ketika Ibrahim melaksanakan perintah Allah yaitu mengobankan anaknya. Al Qur’an tidak menyebutkan secara tegas nama anak Ibrahim yang di kurbankan. Hal ini memberikan kesan bahwa Al Qur’an tidak mengutamakan dan tidak mementingkan nama orang yang dikurbankan, tetapi lebih mengedepankan nilai dari pengorbanan Ibrahim kepada Allah.
Kita tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Ibrahim ketika dia diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri, apakah ini benar-benar perintah dari Tuhan? Apakah ini suara iblis? Apakah Tuhan tidak main-main dengan perintahnya? Kenapa ujian itu harus dengan membunuh anaknya yang dia peroleh ketika dia sudah tua? Bukankah selama ini dia sering memberikan kurban yang sangat banyak dari domba, unta serta keledainya kapada Tuhan? Apakah kurban yang dia berikan selama ini masih belum cukup bagi Tuhan? Bagaimana kalau sekiranya anaknya tidak bersedia dikurbankan? Bagaimana dengan Istrinya, apakah dia percaya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di dalam dada apabila kita membayangkan diri kita sebagai Ibrahim.

Al Qur’an menjelaskan bahwa, bukankah ujian yang diberikan Tuhan itu merupakan konsekwensi dari ucapan Ibrahim yang dulu pernah diikrarkannya kepada Tuhan ;

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (QS Al Baqaraah 2:131)”.

Kemudian Allah menagih janji Ibrahim untuk melaksanakan satu perintah Tuhan ;

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya (QS Al Baqaraah 2:124)”.

Dan ketika perintah itu disampaikan Allah kepada Ibrahim melalui mimpinya, Ibrahim tidak lantas membawa anaknya untuk disembelih, namun mendiskusikannya terlebih dahulu ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS 37:102)”.

Al qur’an menerangkan bahwa ujian yang dilaksanakan oleh Ibrahim benar-benar sebuah ujian yang sungguhan, bukan sebuah pembohongan atau rekayasa seperti yang disampaikan di dalam kitab PL.

Al Qur’an menjelaskannya dengan sangat serius bahwa Ibrahim benar-benar melaksanakannya dengan penuh keyakinan serta penyerahan diri yang tulus untuk melaksanakan perintah Allah ;

“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Ash Shaffaat 37:105)”.

“ Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (QS Ash Shaffaat 37:106)”.

Al Qur’an tidak menunjuk siapa anak Ibrahim yang dia kurbankan. Berbeda dengan keterangan PL yang sangat detail menguraikannya, tetapi jelas-jelas mengandung unsur kesalahan yang sangat fatal untuk diterima dengan akalbudi manusia. Keterangan kitab PL seperti sebuah propaganda menyanjung tinggi anak Abraham yang bernama ishaq, tetapi mengabaikan penalaran dan hati nurani. Al Qur’an juga tidak memberikan data umur anaknya yang dikurbankan itu, tetapi Al Qur’an memberikan sebuah petunjuk bahwa umur anak itu sekitar dia mampu membantu Bapaknya bekerja seperti; mengangkat kayu, mengambil air dan suruhan ringan lainnya.
Walaupun Al Qur’an tidak memberikan data-data pengorban anak Ibrahim dengan lengkap, tetapi keterangan Al Qur’an ini mengandung hikmah bahwa Al Qur’an tidak memberikan peluang kepada manusia untuk melakukan perdebatan atau mempersoalkannya. Al Qur’an hanya memberikan tanda-tanda terhadap siapa yang dikurbankan Ibrahim, tugas manusialah untuk menyelidikinya. Al Qur’an tidak melarang dan tidak pula menganjurkan kepada siapapun untuk menyelidiki kejadian tersebut karena makna utama dari pelaksanaan kurban itu adalah unsur ketaqwaan Ibrahim.

Mengenai siapa yang dikurbankan oleh Ibrahim, Al Qur’an hanya memberikan sedikit petunjuk penting yaitu, ketika itu anaknya sudah sanggup bekerja atau dapat membantu pekerjaan Bapaknya ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim,(QS Ash Shaffaat 37:102)”.

Seseorang boleh memprediksikan kalau seorang anak laki-laki dapat membantu Bapaknya bekerja setelah berumur 8 hingga 14 tahun. Artinya anak itu belum cukup umur untuk dikawinkan atau beristri dan dia masih dibawah pendidikan dan pengawasan Bapaknya. Kemudian Al Qur’an memberi petunjuk tambahan bahwa anaknya itu sudah dapat diajak berdiskusi.

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS Ash Shaffaat 37:102)”.

Artinya anak tersebut sudah akil baliq (pubertas) dan anak yang berumur akil baliq adalah sekitar 12-15 tahun dimana anak ini sudah mulai dewasa dan mampu menggunakan nalarnya untuk menilai sebuah kebenaran akalbudinya. Kalau anak seumur ini, biasanya dapat diajak bertukar pikiran yang ringan-ringan lalu dia dapat mengambil sebuah keputusan berdasarkan logikanya dan kebersihan hatinuraninya.
Sekiranya Ishak sudah lahir ketika itu, maka tentu saja Ishak harus sudah berumur sekitar 12 sampai 15 tahun, sedangkan Ismael akan berumur lebih tua lagi dari Ishak atau mungkin juga Ismael sudah mempunyai istri. Sekiranya waktu Itu Ismael sudah matang, dewasa atau sudah beristri, maka keterangan ayat 37:102 tersebut tidak beraku bagi Ismael.

Persoalan akan muncul apabila umur Ismael dan Ishak tidak berbeda jauh (misalnya 2-3 tahun), karena akan muncul masaalah bagi Ibrahim bagaimana menjatuhkan pilihan diantara kedua putranya itu. Sebaliknya jika selisih umur Ismail dengan Ishak terpaut 10 hingga 13 tahun atau Ishak belum lahir , maka keterangan ayat 37:102 tersebut tidak berlaku kepada Ishak karena ketika itu umur Ishak berkisar antara 1-2 tahun dimana dia masih belum bisa diajak berdiskusi oleh bapaknya dalam mengambil keputusan yang sangat rumit tersebut.

Kalau kita menilai kepribadian Ibrahim yang digambarkan oleh Al Qur’an diatas, maka kita sangat berkeyakinan bahwa Ibrahim adalah seorang Bapak yang berbudi luhur, seorang yang sangat bijaksana, seorang bapak yang penuh kasih sayang kepada keluarganya, seorang yang adil dan teguh dalam mempertahankan keyakinannya. Jadi seandainya Ibrahim sudah mempunyai 2 orang anak, kemudian datang perintah untuk mengorbankan anaknya. Maka Abrahim akan mengalami goncangan bathin yang sangat hebat. Bagaimana dia harus memilih anaknya yang akan dikorbankan , karena di dalam keterangan ayat Al Qur’an tidak ada perintah untuk memilih salah seorang anaknya. Dan tentu Ibrahim akan bertanya lagi kepada Allah, siapa anak yang harus dikurbankan?

Kalau sekiranya anak Ibrahim sudah 2 orang waktu perintah itu diturunkan maka beliau akan bertanya kepada salah seorang anaknya. Itupun tidak mungkin dilakukan kepada anak-anaknya , karena salah seorang anaknya masih sangat kecil untuk diajak bicara. Sekiranya kedua anak itu berusia hampir sama , misalkan selisih 1-2 tahun, maka dengan rasa keadilan yang dimiliki oleh Ibrahim maka tentu dia akan mengorbankan kedua anaknya tersebut. Bahkan kalau selisih umur anaknya 10-13 tahun sekalipun, beliau dengan keadilan dan ketegasannya akan mengorbankan keduanya. Ibrahim tidak akan memilih-milih diantara anaknya, karena yang penting dan paling utama bagi Ibrahim adalah menjalankan perintah Allah.

Jadi kalau kita hubungan dengan keterangan yang ada di dalam Al Qur’an dan kita hubungan dengan kecerdasan kita berpikir serta akalbudi yang kita miliki, maka ketika perintah itu turun, Ibrahim baru mempunyai anak satu orang yaitu Ismael. Karena itu lebih memudahkan Ibrahim dalam melaksanakan perintah itu dan tentu tidak akan menimbulkan pertentang dan pertanyaan-pertanyaan yang aneh aneh kalau anaknya sudah 2 orang pada persitiwa itu.

Dan sekiranya kita hubungkan dengan keterangan kitab PL, anggap saja keterangan PL tentang data-data umur Ibrahim dan kelahiran anak-anaknya benar. Maka seharusnya yang dikurbankan oleh Abraham di bukit Moria itu bukanlah Ishaq tetapi itu adalah Ismael.
Sebelumnya kitab PL telah banyak melakukan kebohongan-kebohongan tentang anak yang dikorbankan itu, diataranya tentang kalimat “anaknya yang tunggal” yang tidak dapat diterima akalbudi (kecuali kalau Ishaq belum lahir), keterangan tentang ketidakadilan Abraham kepada anak-anaknya, tentang kebohongan Abraham menyampakan kalimat “korban bakaran bagi-Nya “ dan lain-lain yang menimbulkan banyak kejanggalan dan keanehan.
Dimana kitab PL menutupi sebuah kebenaran dengan kebohongan dan terus melakukan kebohongan-kebohongan lagi, sehingga keterangan Bible tidak bisa diterima akal sehat. Keterangan yang ada di dalam kitab PL sangat berbelit-belit, seperti seorang terdakwa yang menceritakan alibinya di dalam sebuah “laporan berita acara penyelidikan (BAP)” yang disampaikannya pada acara pengadilan yang tidak adil.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga menjadi renungan dan pemikiran bagi mereka yang mempunyai hati-nurani yang bersih dan jujur. Semoga Allah memberikan petunjuk Nya. Amien.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

kisah para mualaf

AMINAH ASSILMI : DIANCAM DIBUNUH SETELAH BERSYAHADAT

PENGANTAR. Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya, diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: “Bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu.”
Berikut kisah lengkapnya seperti dituangkan dalam http://www.islamfortoday.com  .

Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.
Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya �Choosing Islam�, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.

Berawal dari kesalahan computer
Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.
“Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.
“Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.
Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu.
“Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.
Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.”Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.
Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.

Misi Kristenisasi
Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.
“Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.

“Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.
Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.

Cari kelemahan Islam
Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.
Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.

Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.
Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.
Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.

Didatangi lelaki berjubah
Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.

“Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.

Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.

Dikucilkan Keluarga
Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.

Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:
Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa�at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).

Anggota keluarga masuk Islam
Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.
Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.
Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.
Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.
“Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.

Tak malu tunjukkan identitas Islam
Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.
Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”
“Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.
Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.
Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu “alam bisshawab. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

====

PASCA 11 SEPTEMBER, BANYAK WARGA KULIT HITAM AS
YANG MEMELUK ISLAM

Pasca peristiwa 11 September, Islamofobia merebak diseluruh dunia. Warga Muslim kerap menjadi sasaran kecurigaan dan diawasi dengan ketat. Namun itu semua malah mendorong sebagian orang untuk lebih mengenal Islam.
Dan akhirnya banyak di antara mereka yang memilih masuk Islam, seperti yang dialami masyarakat keturunan Afrika di AS.
Sejumlah pakar dan imam Muslim di negara Paman Sam itu mengungkapkan, jumlah warga kulit hitam AS yang masuk Islam pasca serangan 11 September, justru meningkat drastis.
Mereka mengaku terkesan dengan disiplin umat Islam seperti yang tercermin dalam pelaksanaan sholat lima waktu, ajaran untuk berserah diri dan taat pada Allah swt serta ajaran untuk menunjukkan sikap empati bagi mereka yang tertindas.
Beberapa warga AS keturunan Afrika itu bahkan mulai curiga pada pernyataan-pernyataan pemerintah AS tentang musuh-musuh baru AS pasca serangan 11 September. Kampanye-kampanye pemerintah itu mengingatkan mereka pada pengalaman sejarah bagaimana pemerintah AS menyingkirkan tokoh-tokoh pembela hak asasi manusia dari kalangan warga kulit hitam, seperti Marthin Luther King dan Malcolm X.

Kenyataan itu membuat mereka melihat Islam sebagai pilihan alternatif setelah Kristen, yang dominan dipeluk kalangan masyarakat keturunan Afrika di AS.
Profesor bidang agama di Vassar College Lawrence Mamiya mengakui bahwa Islam adalah salah satu agama yang berkembang pesat di AS. Menurutnya, meski tidak ada data yang akurat, dipekirakan ada dua juta pemeluk Islam dari kalangan warga kulit hitam.
“Perkembangan ini tidak dianggap sebagai ancaman karena jumlahnya dianggap tidak banyak, tapi ketika perang melawan terorisme dan pencitraan negatif makin surut, Islam akan terus berkembang dan menyebar, ” ujar Mamiya.
Aminah Mc Cloud, profesor studi keagamaan di DePaul University, Chicago mengungkapkan, warga Muslim kulit hitam di AS biasanya punya masjid sendiri dan tidak berbaur dengan warga Muslim imigran lainnya.

Menurut seorang imam di Atlanta, pengawasan terhadap warga Muslim kulit hitam biasanya juga lebih longgar, dibandingkan terhadap warga Muslim dari Timur Tengah atau dari negara-negara sub-kontinen India.

Padatnya masjid di kawasan kumuh distrik West End di Atlanta saat Sholat Jumat, bisa menjadi contoh dinamisnya kehidupan warga Muslim kulit hitam di AS. Laki-laki dan perempuan duduk terpisah, mereka semua mengenakan penutup kepala, mendengarkan Ustdaz Nadim Ali yang mengisahkan tentang sejarah para budak Muslim yang dibawa dari Afrika, berjuang untuk menghadapi penindasan para majikannya.

Ali mengatakan, jika para budak itu tetap teguh keimanannya meski di bawah tekanan perbudakan, selayaknya pada jamaah yang datang hari itu mencontoh sikap mereka.
Masjid berperan besar dalam memberikan pemahaman tentang Islam pada para jamaahnya. Dalam ceramah-ceramahnya, para ustdaz di masjid yang ada di Atlanta, senantiasa menghimbau agar umat Islam bekerja untuk mencari nafkah, tidak melakukan tindak kejahatan dan menjauhi obat-obatan terlarang serta membangun kehidupan keluarga yang harmonis dan kuat.
Bagi Ustadz Ali, bukan hal yang aneh jika masjidnya banyak disusupi para informan, karena para pemuka Muslim di kawasan itu bersikap skeptis atas kebijakan pemerintahan AS pasca serangan 11 September.

Masjid lainnya yang cukup besar di Atlanta adalah Masjid al-Islam. Masjid inilah yang kerap dikunjungi Mark King-salah satu warga kulit hitam AS yang baru masuk Islam-untuk mendengarkan khutbah-khutbah Jumat. Mark King masuk Islam setelah berkunjung ke Afrika dan membaca kitab suci al-Quran untuk yang pertama kalinya di Gambia. Dari pengalamannya itu ia sadar bahwa ajaran Islam sesuai dengan apa yang diyakininya selama ini untuk melawan segala bentuk ketidakadilan.

“Bagi generasi muda keturunan Afrika di AS, ada ketertarikan untuk mempelajari tradisi yang terkait dengan perlawanan terhadap imperialisme Eropa, ” kata Mark King yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Bilal Mansa. (ln/iol/eramuslim)
=======

FENOMENA BARU DI AMERIKA SERIKAT :
WANITA HISPANIK MENCARI ISLAM

Berbeda dengan warga Amerika Latin yang kental dengan nuansa kekristenannya, wanita keturunan Hispanik di Amerika Serikat justru berlomba-lomba mencari Islam. Tak ada yang menyangka keputusan Melissa Matos untuk bermukim di Amerika Serikat membawanya kepada sebuah pengembaraan spiritual baru. Berada di tempat yang jauh dari negeri asalnya, Republik Dominika, hatinya tertambat pada agama yang semula asing baginya, Islam.
Agama ini ditemukannya melalui pencarian yang panjang. Dari kecil hingga dewasanya dalam keluarga Kristen Advent yang taat. Namun ia justru menemukan kedamaian dalam Islam. Tak perlu waktu lama untuk berpikir ulang, ia memutuskan menjadi Muslimah. Hal yang sama juga terjadi pada Jameela Ali. Wanita asal Peru ini memutuskan menjadi Muslimah setelah bermimpi berdoa di sebuah masjid yang diterangi oleh cahaya lilin. Di negeri barunya, Amerika serikat, ia bersyahadat.

Fenomena baru di Amerika Serikat
Kini, jumlah wanita Hispanik di AS yang memeluk Islam semakin banyak. Seiring waktu, jumlah mereka kini mencapai ribuan hanya dalam hitungan bulan. Meski tidak mudah dan banyak mendapat tentangan dari keluarga, para muslimah asal Amerika Latin yang kini menetap di Amerika Serikat ini tetap bertahan dengan keyakinannya.
Menurut mereka, kesulitan terbesar adalah meyakinkan keluarga bahwa pilihan yang mereka ambil merupakan sesuatu yang benar. Matoz misalnya, ia mengaku merasa terasing di tengah keluarga dan teman-temannya. ”Saya merasa sangat jauh dengan mereka,”ujarnya. Namun Matoz yang menemukan keindahan dalam Islam mengaku pengorbanannya sepadan dengan kedamaian dan kebahagiaan yang ia temukan dalam Islam. ”Mereka berpikir aku telah menolak jalan keselamatan karena tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai putera Tuhan,”ujar Matos.

Sementara Roraima Aisha Kanar yang berasal dari Kuba mengaku kesulitan meyakinkan orangtuanya dengan apa yang ia pilih sebagai kepercayaannya. ”Sangat sulit mengetahui bahwa ibuku sendiri tidak menghargai apa yang aku percayai,”ujarnya. Bahkan orangtuanya meminta Kanar dan sang suami tidak membesarkan anak-anaknya sebagai seorang Muslim. Ia menolak mentah-mentah permintaan itu.
Cristina Martino, yang berasal dari Venezuela menyebut dirinya acap kali disangka berasal dari Iran dengan pakaian menutup aurat yang kini dikenakannya. ”Banyak orang menyangka saya berasal dari Iran setelah mereka melihat pakaian saya,”jelasnya. Keanehan orang dengan pemeluk Islam dari Amerika Latin memang biasa terjadi di Amerika Serikat. Pasalnya, masyarakat hispanik memang biasanya identik sebagai pemeluk kristen yang taat. Tak heran banyak orang yang tidak percaya jika beberapa di antaranya adalah seorang Muslim.

Mereka yang beralih ini biasanya orang yang ragu pada kepercayaan mereka selama ini. Felipe Ayala, misalnya, selalu mempertanyakan konsep trinitas yang ada dalam agamanya. ”Saya selalu percaya Yesus bukanlah Tuhan melainkan seorang pembawa pesan,”ujarnya.
Jumlah penduduk Amerika Latin yang berubah keyakinan mereka di Amerika Serikat memang semakin lama semakin berkembang. Menurut data dari Islamic Society of North America, diperkirakan saat ini ada sekitar 40 ribu muslim hispanik di Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka menetap di New York, Texas, Los Angeles, Chicago, dan Miami. Di kawasan Amerika Utara sendiri, Islam menjadi agama dengan perkembangan jumlah pemeluknya yang paling cepat.

Menurut Sofian Abdul Aziz, direktur The American Muslim Association of North America di Miami, komunitas yang dipimpinnya seringkali mendapat permintaan Alquran dalam bahasa Spanyol. Beberapa tahun belakangan, jelasnya, ia sudah memberikan lima ribu terjemahan Alquran berbahasa Spanyol ke masjid-masjid dan penjara di selatan Florida. Uniknya, jumlah terbesar pemeluk Muslim di kalangan masyarakat latin justru didominasi oleh kaum hawa. Meski tidak ada catatan pastinya, namun diperkirakan dari 40 ribu muslim hispanik, 60 persennya merupakan wanita.
Menurut Juan Galvan, Direktur LADO (Latino American Dawah Organization) kawasan Texas, Islam berkembang pesat di kalangan masyarakat Amerika Latin melalui berbagai cara. Ada yang mengenal Islam karena mereka berkenalan atau menikah dengan seorang Muslim, ada juga yang melalui proses pencarian panjang dan akhirnya menemukan kedamaian dalam Islam.

Sebagian lagi mempelajari Islam pasca peristiwa 11 September yang kemudian menyudutkan para pemeluk Islam. Dari keingintahuan tentang Islam, mereka kemudian tertarik dan akhirnya menjadi seorang Muslim. Tak sedikit pula yang merasakan kehampaan dalam agama mereka sebelumnya, dan menemukan apa yang mereka cari dalam Islam. ”Agama Katolik Roma tidak pernah berhasil dengan saya. Setiap beribadah saya merasa tengah berdoa kepada malaikat dan patung. Sekarang saya benar-benar beribadah kepada Tuhan,”ujar Missy Sandoval. Ada raut bahagia di wajahnya.
Muslim Hispanik di Amerika Serikat
Tidak jelas diketahui bagaimana awalnya para pendatang asal Amerika Latin menganut Islam di Amerika Serikat. Namun Islam berkembang pesat sejak lima tahun sejak keberadaan organisasi dakwah Amerika Latin yang bernama Latino American Dawah Organization (LADO), sebuah komunitas muslim di New York City yang dimulai oleh Samantha Sanchez bersama lima kawannya.

Sanchez, yang saat itu tengah mengambil studi doktoral di bidang antropologi budaya, menjadi seorang Muslim dan tertarik untuk mencari data tentang komunitas Muslim hispanik di negara adidaya tersebut. Dengan cepat, organisasinya berkembang dan melakukan promosi untuk memperkenalkan Islam lewat pembagian Alquran dan pamflet tentang Islam. Sekarang LADO telah memiliki cabang di Austin, Illinois, Massachusets, dan Arizona.
Seiring dengan perkembangan organisasai tersebut, semakin lama penganut Islam asal Amerika Latin ini terus berkembang, terutama sejak lima tahun belakangan. ”Fenomena ini sebenarnya sudah cukup lama terjadi di seluruh Amerika Serikat,”ujar Sheikh Zoubir Bouchikhi, imam Masjid Raya Houston.
Sebuah studi tentang masjid yang dilakukan di tahun 2001 oleh Ihsan Bagby, professor di University of Kentucky, menyebutkan enam persen dari seluruh penduduk Amerika yang berpindah keyakinan berasal dari komunitas Amerika Latin. Sedang 27 persennya berasal dari masyarakat kulit putih, dan angka terbesar yaitu 64 persen, berasal dari kalangan kulit hitam.

Namun meski jumlahnya terbilang sedikit, keberadaan Muslim hispanik ini memberikan pengaruh tersendiri, terutama di dalam komunitasnya. Pasalnya, bukan hanya memeluk agama Islam, mereka juga aktif melakukan kegiatan untuk memperkenalkan Islam, dan menggelar pengajian serta belajar bahasa Arab. ”Angka stastistik sulit diterka, namun yang pasti, kaum hispanik menjadi minoritas yang cukup membawa
= = = = =

MESKIPUN PAUS VATIKAN LECEHKAN ISLAM,
3220 UMAT KRISTIANI KENYA NYATAKAN MASUK ISLAM

Sekalipun berbagai pelecehan diarahkan pemimpin spitual Vatikan, Benediktus XVI baru-baru ini terhadap Islam, namun realitasnya, umatnya sendiri menganggap kosong ucapannya tersebut dan mereka dengan berbondong-bondong malah memeluk agama Islam.!!
Kenyatan pahit bagi sang paus tersebut terjadi di KENYA di mana sekitar 3220 penganut Kristen masuk Islam di tangan para Da’i jebolan fakultas Syari’ah dan Dirasat Islamiah yang dikelola oleh Lembaga Muslim Afrika.
Seperti yang dilansir kantor berita Islam, para “muallaf” tersebut sebelumnya mengikuti training pengajaran agama Islam yang diadakan di kawasan timur Kenya, kawasan pantai dan kawasan tengah dan barat.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kota Rafha, sebelah utara Kerajaan Arab Saudi, sekitar 143 orang menyatakan masuk Islam. Keislaman para muallaf yang terdiri dari berbagai kewarganegaraan itu dimeriahkan dengan sebuah pesta kehormatan untuk mereka. Mereka masuk Islam sepanjang tahun lalu. Di kota itu sendiri, sepanjang 4 tahun yang lalu telah masuk Islam sekitar 413 orang dari berbagai kewarganegaraan.

Yang lebih pantastis lagi adalah realitas yang terjadi di Mesir di mana disebutkan, perguruan tinggi Islam tertua, al-Azhar asy-Syarif setiap harinya menerima puluhan orang yang menyatakan masuk Islam dari berbagai kewarganegaraan. Mereka telah rela menjadikan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai Rasul.
Para pemeluk Islam baru tersebut menegaskan, di bawah naungan Islam mereka baru menemukan agama yang sesuai dengan tuntutan fitrah yang suci dan akal sehat. Islam-lah sesungguhnya agama perdamaian itu.!!

Seperti diketahui, pemimpin Vatikan telah menukil ucapan-ucapan pemimpin imperium Byzantium yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang tidak datang ke dunia ini selain sebagai orang “jahat” dan tidak manusiawi. Statement yang disampaikan di hadapan jema’at ini tak ayal menimbulkan ketersinggungan umat Islam di seantero dunia. Mereka menuntut paus untuk meminta ma’af secara terang-terangan sebelum mengajak berdialog. Hingga kini, polemik ini masih terus terjadi di mana sang paus kembali menunjukkan kesombongannya untuk tidak mau meminta ma’af bahkan menuding ada pihak yang telah memelintir ucapannya.
Sumber;
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=509
http://www.islamicnews.org.sa/en/search1.php?misc=search&subaction=showfull&id=1159119998&archive=&cnshow=news&start_from
= = =  =

10 GEREJA COPENHAGEN DITUTUP AKIBAT PENGUNJUNG SEPI

Di Denmark, jumlah pengunjung gereja semakin hari semakin sedikit pada hari Minggu. Kondisi ini yang sangat terasa khususnya di Copenhagen, lalu membuat sejumlah pengurus gereja lebih memilih untuk menutup gerejanya.

Mereka membolehkan masyarakat untuk menggunakan ruang gereja untuk kegiatan apa saja, kecuali bila dijadikan masjid.

Menurut Sekretaris Umum Dewan Gereja Denmark, keputusan untuk menutup gereja memang disebabkan oleh berkurangnya para pengunjung gereja, termasuk pada hari Minggu. Ada lebih dari 10 gereja di ibukota Denmark, Copenhagen, yang sudah ditutup karena alasan itu. Nama-nama gereja tersebut antara lain: Gethsemane, Elias, Banehj, St. Andreas, Fredens, St. Paul’s, Samuel’s, Blagards, Frederiksholms, Gereja Lutheran dan Gereja David.

Dewan Gereja Denmark mengajukan saran kepada Menteri Gereja, setelah hari paskah untuk menutup gereja-gereja itu, karena gereja juga mengalami penurunan pendapatan untuk biaya operasionalnya. Asal diketahui, seharusnya seorang anggota gereja mempunyai kewajiban untuk memberi sebagian pendapatannya untuk gereja.
Ada banyak alasan yang membuat warga Kristen Denmark mulai menyusut kunjungannya ke gereja. Antara lain, orang-orang Denmark lebih suka menggunakan gereja untuk tujuan lain yang bukan untuk kegiatan keagamaan. Salah satu dari gereja yang sudah ditutup adalah Gereja Blagards yang pada tahun 1991 pernah menjadi tempat pemukiman sementara sejumlah warga Palestina selama enam bulan. Warga Palestina itu meminta perlindungan diplomatik atau dipulangkan saja ke Palestina.
Namun demikian undang-undang Denmark tidak memuat poin apapun terkait penggunaan gereja yang sudah ditutup itu untuk kegiatan lain. Gereja Lutheran misalnya, yang pengikutnya adalah para penganut ajaran Martin Luther, tidak melarang penggunaan gereja untuk kegiatan lain. Tapi Dewan Gereja mengatakan, sejumlah orang sudah melontarkan niatnya untuk membeli gereja dan dijadikan tempat aktifitas lain. Dan Kay Polman mengaku, meskipun tidak ada undang-undang yang melarang, tapi dirinya tidak mau bila gereja dibeli dan diganti fungsinya menjadi masjid.

Belakangan, majalah Christy Dobeldeit, yang dimiliki agamawan Kristen, mengatakan adanya penolakan kuat di antara penduduk Denmark untuk mengubah gereja menjadi masjid. Di Copenhagen, melalui sebuah polling pendapat hanya 28% responden saja yang setuju dengan hal itu, selebihnya menolak. (na-str/aljzr/eramuslim)
=====

PAUS LECEHKAN ISLAM KERENA 30 PENDETA VATIKAN MASUK ISLAM

Meski Paus VATIKAN Lecehkan Islam, 3220 Umat Kristiani KENYA Nyatakan Masuk Islam!!
Seorang jurnalis terkenal Arab Saudi, Isham Mudir yang dikenal memiliki hubungan yang sangat kental dengan mendiang da’i Islam terkenal, Ahmad Deedat, seorang Kristolog terkemuka menegaskan, statement-statement Paus VATIKAN, Benediktus XVI yang melecehkan Islam baru-baru ini dikeluarkan karena sejumlah besar pendeta di dalam VATIKAN yang mencapai 30 orang telah masuk Islam.!!??

Jurnalis Arab Saudi itu menjelaskan, para pendeta tersebut sekarang ini tengah disidang dan diinterogasi secara ketat guna diberikan sanksi dan pengusiran dari gereja. Demikian seperti yang dilansir Badan Penerangan Islam Internasional. Isham Mudir saat ini mengepalai sebuah Media Center yang membidangi manejemen dialog dengan barat dan pengenalan Islam. Lembaga ini didirikannya pada bulan Desember tahun 2005 pasca kasus pemuatan karikatur pelecehan terhadap Nabi SAW oleh sebuah media massa Denmark. Lembaga ini ia beri nama “Dar el-Bayyinah”.
Seperti diketahui, Paus VATIKAN telah menukil ucapan-ucapan pemimpin imperium Byzantium yang menyebut Nabi SAW sebagai orang yang datang ke dunia dengan kejahatan dan bertindak tidak manusiawi.

Isham juga menyingkap, pasca kasus karikatur Denmark yang melecehkan Nabi SAW itu, dirinya telah meminta pemerintah Denmark untuk mempertemukannya dengan para redaktur surat-surat kabar dan pemimpin media massa di sana guna berdialog seputar karikatur tersebut namun permintaannya tersebut ditolak mentah-mentah.
Sumber;
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=510
= = = =

PELAYAN TUHAN YESUS MASUK ISLAM
(Paulus F. Tengker – Rachmat Hidayat)
Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu, nama saya Paulus F. Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen yang fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita saya tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik untuk menjadi taat dalam beragama & direncanakan papa untuk menjadi penerus tradisi keluarga, menjadi Gembala Tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA saya melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Alkitab yang berlokasi di kawasan Jl. Arjuno – Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke Manado, juga merupakan salah satu kota dengan umat Kristiani yang terkemuka, banyak Gereja megah berdiri ditengah kota & pekabaran gembira Cinta Kasih Tuhan Yesus mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat Jawa Timur yang mayoritas beragama Islam fanatik.
Selama kuliah saya juga bekerja part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehemia & Gereja Pantekosta di Indonesia Timur cabang Surabaya. Saya bekerja sebagai “penyusun kisah kesaksian dari hamba-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen”. Karena kebanyakan orang-orang itu adalah orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa diantaranya bahkan sepertinya sakit jiwa, atau para pemakai Narkoba yang masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah kesaksian yang hebat untuk mereka. Saya biasa menulis cerita dengan tajuk: “Hamba Tuhan yang kembali, mantan seorang Kyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen” dsb. Kisah-kisah kesaksian palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali, bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur’an dan Hadis, saya juga tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, pondok Pesantren hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi palsu, ijazah palsu dan foto-foto palsu, untuk memberi kesan bahwa mereka itu dulunya benar-benar bekas tokoh Islam walaupun sebenarnya bukan. Bahkan saya juga mengajari mereka membaca Al-Qur’an yang akan dipakai untuk menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili dan berusaha membantah kami. Beberapa kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad itu ada, tetapi mereka tidaklah sehebat kisah kesaksiannya, jika disebut mantan Ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah di Mesir, maka yang sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu Narkoba, wanita nakal & para preman tak beragama, orang desa yang berKTP Islam tapi berbudaya animisme di desa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya Sukabumi & Blitar). Bahkan saya sering berjumpa orang-orang Islam yang dibaptis itu ternyata seumur-hidupnya hampir tak pernah shalat dan mengetahui ajaran Islam yang paling dasar. Tapi kami harus melaporkan keberhasilan ini dengan cara yang gemilang kepada para jemaat yang telah berderma.maka kami rekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat dan canggih. Tentu para domba di Gereja akan senang kalau mendengar mantan Ulama masuk Kristen, walaupun yang bersangkutan sebenarnya Cuma bekas gelandangan buta huruf misalnya.
Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat kuliah dan akhirnya saya dinobatkan sebagai pendeta muda. Karena keahlian saya ini terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga rajin membeli tafsir Al-Qur’an, Hadis dan buku-buku Islam untuk mencari kelemahan- kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan saya. Saya menemukan bahwa sikap saling berbeda pendapat namun saling menghargai sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan saya juga pernah berpura-pura belajar mengaji dan mengaku sebagai Islam dengan mengundang seorang Guru Ngaji ke rumah dinas saya, saya belajar mengaji hingga 1 tahun lebih dan Ustad itu tak pernah menyadari sampai saya tamat belajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen. Berkat pengajaran dia itu saya bahkan bisa mengaji dan hal ini ternyata berguna sekali untuk saya sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar agama Islam. Saya pun secara part time terkadang ikut misi penginjilan malam yang bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat keremangan malam di seantero kota Surabaya, kami wartakan injil kepada para pekerja seks, ABG, wanita nakal dan kaum gay. Yang kami target untuk dikristenkan biasanya adalah para pekerja seks independent, para pengunjung diskotek dan kafe yang menyambi, baik itu gadis belia maupun para lelaki muda penjaja seks untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil seleksi & pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami target, biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan.
Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi memimpin kebaktian dan lain acara rohani. Sebab kami tak mau citra Gereja rusak di mata umat yang kebetulan bertemu dengan para penginjil di tempat keremangan malam tersebut. Juga para penginjil itu tidak mengunakan seragam resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik & kafe. Selain itu juga para penginjil Gembala Tuhan di Malam Hari juga aktif dalam jaringan pengedaran narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan seorang umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka tersesat & butuh pertolongan kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila tidak terangkulpun, kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda Islam yang sering ke diskotik atau kafe.
Mungkin para pembaca posting ini sudah membaca artikel panjang tentang Jaringan Narkoba di Jakarta di harian Kompas edisi hari Minggu tgl. 11 Maret 2001, di sana diceritakan dengan gamblang betapa penyebaran dan mafia narkoba sudah menyebar sangat pesat di Jakarta dan sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI, pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung dan mafianya bekerja sama begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu dan ini sangat sulit mereka telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam jaringan & sindikat narkoba! Berbeda dengan para mafia dan Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi, Gereja terlibat semata untuk menjaring domba Kristus baru dan menyesatkan generasi muda Islam! Jujur saja, kisah kesaksian bahwa para gembala Tuhanpun banyak yang memakai narkoba untuk menunjang performance mereka itu benar adanya. Narkoba itu digunakan agar para Gembala Tuhan bisa tampil percaya diri dan kami sangat yakin, bahwa kondisi fly & sakauw adalah kondisi dimana kami bisa kontak langsung dengan Roh Kudus!
Kisah Kesaksian yang dituturkan 4 mantan gembala itu benar adanya, saya pun tahu persis karena selaku anggota tidak tetap penginjilan malam hari, sayalah yang memasok kebutuhan mereka, saya kenal banyak dengan para Bandar Besar Narkoba di Surabaya. Bahkan beberapa Bandar Besar itu adalah jemaat Gereja yang taat, donasinya bahkan ada yang melebihi nilai persepuluhan mereka. Selain menyumbang uang untuk penginjilan, mereka juga menjual Narkoba dengan harga khusus kepada Gereja untuk memasok kebutuhan para Gembala yang membutuhkan dan untuk diedarkan guna merusak generasi muda Islam. saya juga terkadang memakai ecstasy/inneks, hanya saja saya pakai ketika menjamu para tamu Gembala Tuhan dari luar kota. Kami pun biasa ketemu dan ngobrol-ngobrol di beberapa pub malam terkenal yang pasti dikunjungi para Pelayan & Gembala Tuhan bila berkunjung ke Surabaya. Kita punya private member di Kowloon, Club Deluxe & Top Ten. Saya pernah menemani pendeta terkenal seperti; KAM Jusuf Roni (yang mantan Mubaligh & tokoh Islam terkenal), Gilbert Lumoindang dan Suradi Ben Abraham di pub-pub tersebut. Kami bahkan pernah melakukan pembaptisan beberapa pekerja seks di private room salah satu pub terkenal itu sambil tripping! Setelah itu kami “dating” dengan mereka, “mandi suci bersama” istilahnya. Kalau masalah skandal seks antara jemaat dan pendeta atau penyanyi Gereja dan Gembalanya, saya tak tahu persis, tapi yang saya tahu memang sewaktu menemani para Gembala Tuhan mengunjungi pub malam, pernah mereka diantaranya ditemani beberapa wanita yang dikatakannya sebagai jemaat yang minta diurapi secara khusus.
Selain itu saya juga aktif dalam pembinaan domba-domba baru yang kebanyakan berasal dari pedesaan dan para pekerja malam. Seperti diuraikan di awal kisah nyata ini. Sayalah terkadang mengajari mereka tentang Islam, tetapi tentunya yang telah kami sortir bahwa ajaran Islam itu mengakui ketuhanan Yesus misalnya. Saya juga mengajari mereka berakting untuk menunjang penampilan mereka di acara KKR atau kesaksian di Gereja. Jangan sampai mereka tidak hapal kisah nyata hasil rekaan saya sendiri lalu melenceng ke kisah nyata mereka sendiri, yang kalau ketahuan bisa berakibat fatal bagi Gereja. Khusus untuk KKR kami melatih orang-orang untuk berpura-pura lumpuh, buta, bisu & berbagai penyakit lainnya, lalu pura-pura disembuhkan para pengkhotbah & jemaatpun akan histeris dan percaya itu mukjizat. Kami pun harus menyiapkan upacara pemanggilan Roh Kudus di tempat-tempat keramat dan angker di Surabaya sebelum acara penyembuhan Ilahi dimulai. Terkadang ada jemaat yang diluar kendali dan skenario betul-betul minta diurapi, biasanya kami akan segera menahan dia dengan mengatakan: maaf pendeta sibuk, dengan kedatangan umat yang luar biasa, lain kali saja?! Biasanya para penginjil malamlah yang bertugas untuk menahan orang- orang yang diluar skrenario acara, kami tidak pernah melibatkan pemuda Gereja karena mereka diluar gugus kendali komando kami. Memang pengakuan 4 orang mantan Gembala itu terdengar spektakuler dan sulit dipercayai, tetapi saya beritahukan kepada anda semua: SEMUA PENGAKUAN MEREKA ITU JUJUR & BENAR ADANYA, SEMUA PRAKTEK TERCELA ITU MEMANG DIJALANKAN TERUTAMA OLEH: GEREJA BETHEL; GEREJA BETHANY; GEREJA NEHEMIA; GEREJA SIDANG JEMAAT PANTEKOSTA; GEREJA ABDIEL. Bagi umat Kristiani atau para Gembala dan pelayan Tuhan pun yang tidak pernah ikut kegiatan ini akan terkejut dan sulit mempercayai kenyataan ini, tetapi saya beitahukan sekali lagi: SEMUA ITU BENAR-BENAR TERJADI! Selain 4 mantan gemabala itu, sayalah juga saksi hidup lainnya.
Mengapa saya masuk Islam? Ketertarikan saya kepada Islam bukan dari buku-buku yang saya baca, karena buku-buku itu tak pernah saya baca dengan sepenuh hati dan sampai tuntas, saya hanya mencari point tertentu saja. Saya masuk Islam bukan setelah bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu menganggap dan diajarkan oleh Gereja bahwa orang-orang Islam itu sebagai orang-orang yang hina, kotor, bodoh, terbelakang, kasar, keji, penuh tipu muslihat dan penuh dosa. Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat dan umatnya kalau tidak kita hinakan harus kita insyafkan, hal-hal inilah yang tertanam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini. Perlu semuanya ketahui ajaran kebencian kepada ajaran Islam dan umatnya ini merupakan pelajaran pokok yang diberikan kepada kader-kader umat Kristiani sejak kecil, materi ini mulai disampaikan di pengajaran sekolah minggu dan jika kita akan menjadi berminat menjadi penginjil atau Gembala Tuhan, pelajaran ini akan semakin diperdalam kembali. Saya akhirnya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi luar biasa dan beberapa kejadian dikeesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup saya menuju kebenaran sejati.
Bermula dari suatu Kamis malam, malam Jum’at tanggal 11 Januari 2001, saya bermimpi sedang berdoa di hadapan gambar Tuhan Yesus di suatu gereja yang sangat megah, lalu datanglah Tuhan Yesus menemui saya, dengan senyuman-Nya yang agung. Saya bahagia sekali, ini adalah mukjizat bagi saya! Saya pun lalu memandangi Tuhan Yesus dari ujung kaki hingga ujung rambut, sungguh mirip sekali bahkan lebih agung dibanding foto dan gambar Tuhan Yesus yang saya miliki.
Tetapi sesaat kemudian datang menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip orang Yahudi atau Israel,
dia berkata: “Kalian ini siapa?”
Saya menjawab: “Saya seorang domba yang sedang bertemu Tuhannya!”
Dia bertanya lagi : “Mana Tuhannya?”
Tuhan Yesus menyela : “Akulah Tuhan Yesus, Juru Selamat Umat Manusia dan Dunia!  Siapakah engkau wahai pria asing?”
Pria Yahudi itu berkata: “Akulah “ Isa Al-Masih dan engkau bukanlah diriku!’
Saya menyela: “Wahai engkau orang Yahudi ataukah Arab, janganlah kamu berbuat begitu di hadapan Tuhanku!”
Pria Yahudi itu berkata : “Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu adalah Yesus atau Isa Al-Masih sebenarnya!”
Tuhan Yesus berkata : “Engkau akan kujadikan domba hina karena telah menghina Tuhanmu!”
Lalu Tuhan Yesus memejamkan mata dan sungguh ajaib! Dari tangannya keluar mukjizat sinar api dan dia menyemburkannya kepada pria Yahudi itu, pikir saya pria Yahudi itu akan binasa karena berani menghina Tuhan Yesus!
Keajaiban kedua pun terjadi, pria Yahudi yang mengaku sebagai “Isa Al-Masih itu tak kurang apa pun dan dia lalu tersenyum, kemudian api itu kembali menyembur kepada Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan dan wujudnya tiba-tiba berubah! Kedua telinganya memanjang, dari mulutnya keluar gigi taring dan dari belakang tubuhnya keluar ekor, wajahnyapun berubah mengerikan! Lalu salah satu tangannya mendadak memegang sebuah tombak seperti garpu”TUHAN YESUS YANG SAYA LIHAT DALAM MIMPI INI BERUBAH MENJADI IBLIS!!! Sementara pria Yahudi itu lalu berdoa dalam bahasa seperti bahasa orang Israel, Tuhan Yesus yang telah berubah wujud menjadi Iblis itu lalu lari terbirit-birit!
Kemudian ada kejadian ajaib lainnya terjadi, gereja megah tempat saya berdoa tiba-tiba menghilang, lalu berganti dengan pemandangan seperti disebuah padang pasir yang sangat tandus. Saya yang kaget dan tak percaya melihat kejadian ini lalu dengan terbata-bata saya bertanya pada pria Yahudi ini: “Siapakah engkau sebenarnya?”
Pria itu menjawab : “Akulah “ Isa Al-Masih, hamba Allah, Rasul-Nya yang ke-24, yang oleh engkau berserta umat-umat lainnya dinyatakan sebagai Tuhan Yesus”.
Saya berkata : “Bukankah engkau telah mati di kayu salib dan telah berkorban demi menebus dosa umat manusia?”
Nabi ‘Isa Al-Masih menjawab: “Bukan seperti itu kejadiannya, engkau telah diperdaya oleh Iblis dan para pengikutnya yang telah berusaha mencelakakanku tadi dan sekarang dia telah terlihat wujud aslinya”..
Saya berkata : “Maksud tuan, Iblis tadi itu ?” jadi selama ini? “
Nabi ‘Isa Al-Masih menukas : “Sudahlah, maukah engkau tahu kebenaran Ilahi sejati?”
Saya menjawab : “Jika itu ada saya bersedia”
Nabi ‘Isa Al-Masih menjawab : “Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati itu engkau harus berkorban banyak, engkau akan kehilangan pekerjaanmu, hidup miskin, kehilangan teman-temanmu, serta dibenci banyak orang?”
Saya menjawab : “..emmmmm” (tak bisa berkata-kata)
Nabi ‘Isa Al-Masih berkata : ‘Ketahuilah akulah Nabi Isa Al-Masih sebagaimana yang telah aku katakan tadi, suatu saat nanti aku akan turun kembali ke muka bumi untuk meluruskan segalanya yang salah tentang aku. Janganlah engkau termasuk dalam golongan yang keliru itu, jika engkau ingin menemukan kebenaran sejati, engkau sebenarnya telah memiliki catatan-catatan kebenaran itu, tapi engkau tak membacanya dengan pikiran dan hatimu. Otakmu telah beku karena telah disesatkan orang-orang yang diilhami Iblis dan para pengikutnya. Kalau engkau mau mencari kebenaran, engkau akan menemukannya di suatu tempat, tepat esok hari dimana kamu ditempat itu mendapatkan suatu kesulitan!”
Lalu pria yang mengaku dirinya sebagai Nabi ‘Isa Al-Masih itu mengucap salamnya orang Islam, kemudian pergi.
Saya pun lalu terbangun, hari telah pagi, saya merenung mimpi apa itu tadi? Kesulitan apa yang akan saya alami hari ini? Hari telah tiba kembali, rupanya ini hari Jum’at tanggal 12 Januari 2001, saya pikir itu cuma sebuah mimpi saja, saya lalu ingat cerita takhayul orang Jawa, kalau Malam Jum’at pasti setan-setan itu gentayangan, mungkin saya mengalami itu barangkali.
Kemudian saya buka-buka buku-buku Islam yang saya miliki, tiba-tiba saja saya merasa menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya baca ‘betapa pikiran saya telah dibukakan tapi saya belum yakin betul. Ketika perjalanan menuju kantor saya di sekretariat Gereja, mendadak mobil saya mogok tepat di depan sebuah Mesjid di kawasan Jl. HR Muhammad – Jl. Mayjend Sungkono, Surabaya, sayapun kaget, kok bisa-bisanya mogok di depan sebuah Mesjid yang saya benci? Jangan-jangan mimpi itu betul?! Akh saya pikir ini cuma kebetulan saja jangan percaya takhayul! Namanya mogok itu bisa terjadi kapan saja pikir saya, belum hilang kaget saya, tiba- tiba ada seorang pria menghardik saya dan meminta dengan kasar dompet dan HP saya! Saya kaget, panik campur takut, lalu saya berlari ke arah masjid & masuk ke sana, minta tolong sama orang-orang di situ. Orang yang mau menodong sayapun lalu berlari menghindari massa, rupanya waktu itu jam 11.30, mendekati jamnya shalat Jum’at, saya perhatikan sekitar saya ‘orang-orang berpeci, bersarung hendak shalat Jum’at..saya ini ada di mesjid “mimpi saya” pesan orang Yahudi yang mengaku sebagai Nabi “Isa Al-Masih dalam mimpi itu”.
Saya bingung lalu saya tak sadarkan diri. Ketika tersadar..saya berada di sebuah ruangan mesjid rupanya dan ada seorang Bapak tua berpeci yang mengatakan saya tadi itu pingsan. Saya lalu berdiri, tiba-tiba hati ini ingin menangis “menjerit “ Ya Tuhan! Engkau telah menunjukkan jalan bagiku!
“ Pak Tua itu kaget dan bertanya: “ada apa nak?”, lalu saya ceritakan semua mimpi saya tadi malam dan kejadian yang saya alami, juga siapa saya dan apa pekerjaan saya..serta perbuatan- perbuatan saya dalam usaha memerangi dan memperdaya agama Islam beserta umatnya.
Bapak Tua itu berkata: “Itu suatu petunjuk dari Tuhan bagimu, boleh percaya apa tidak, saya bukanlah seorang ahli agama yang baik”.sekarang kamu teruskan perjalanan atau pulang”
Sayapun lalu pulang, menelpon Gereja bahwa saya hari ini tidak enak badan, jadi nggak masuk kerja, tapi 3 jam kemudian, sekitar jam 16.00 sore saya kembali lagi ke Mesjid itu, lalu saya melihat ada pengajian, Pak Tua berpeci itu memimpinnya, saya beranikan diri masuk dan berkata: “pak tolong yakinkan saya”.saya ingin mengetahui tentang agama Islam sebenarnya!”.
Disaksikan para jamaah mesjid itu, kemudian kami berdiskusi panjang lebar hingga malam hari, saya lalu pamitan pulang dan menyatakan pada pak tua bahwa diskusi ini belum selesai dan akan kami sambung esok pagi.
Proses diskusi ini memakan waktu seminggu lamanya, setiap pagi sebelum berangkat kerja sekitar jam 06.00 hingga jam 08.00 pagi saya mampir ke mesjid tersebut dan kami berdiskusi Islam – Kristen. Akhirnya setelah yakin dengan seyakin-yakinnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari Pak Tua, dimana setiap penjelasan balik dari saya yang sangat Ilahiah dan Alkitabiah menurut saya, ternyata dinyatakan tidak berargumen dan berdasar oleh Pak Tua dan beberapa jemaatnya yang ikut hadir dalam diskusi pagi kami, terutama setelah saya mengetahui bahwa Pak Tua ternyata fasih dan hapal beberapa bagian dari Alkitab, mengetahui sejarah Gereja dan penulisan Alkitab, yang beliau tunjukkan dengan dokumen-dokumen Kristen asli yang dia miliki yang menurut beliau pernah diberikan beberapa penginjil sekitar 30 tahun yang lalu, yang ketika saya baca, saya terkejut karena pemaparan dibuku-buku para misionaris 30 tahun lalu itu ternyata berbeda sekali dengan dokumen yang ada di Gereja sekarang yang pernah saya pelajari.
Saya jadi ragu dan bimbang, kenapa literatur agama yang dianggap sakral oleh umat Kristiani ini bisa berubah setelah 30 tahun? Terlebih setelah Pak Tua menunjukkan dan memperbandingkan versi Alkitab cetakan tahun 1960-an dengan versi Alkitab yang saya miliki (cetakan tahun 1990-an), yang mana diterbitkan oleh Lembaga yang sama, kok bisa memiliki perbedaan dan revisi di sana-sini tanpa penjelasan di edisi baru bahwa telah dilakukan revisi? Yang mana revisi itu ternyata bukan sekedar perubahan EYD atau tatabahasa saja, akan tetapi juga merubah makna dan arti ayat Alkitab itu sendiri?
Akhirnya saya yakin bahwa agama lama saya ini, Kristen memiliki banyak kelemahan dan merupakan suatu kesalahan sejarah, Islamlah agama penutup dan penggenap itu. Yang menggembirakan saya adalah agama Islam itu ternyata juga menghargai dan menghormati Tuhan Yesus sebagai Nabi Allah yang dimuliakan, mengakui keberadaan agama-agama terdahulu dan kitab-kitab sucinya.
Persamaan kisah dan sejarah agama dalam Alkitab dan Al-Qur’an, yang lalu disempurnakan oleh wahyu Allah kepada Muhammad dalam Al-Qur’an, dimana semua ajaran Kristen yang dinyatakan menyimpang itu dijelaskan dengan baik dimana menyimpangnya dan direposisi kembali ajaran wahyu Ilahi itu secara benar dalam Islam.
Penjelasan Pak Tua dan jemaatnya ini tentu tidak saya percaya begitu saja, saya juga mencoba mengajak berdiskusi teman-teman sesama Gembala selama masa diskusi ini, tetapi jawaban rekan Gembala lain sungguh sangat menyakitkan dan ketus sekali, bahkan ada yang bilang saya ini kena guna-guna dari bekas Guru Ngaji saya berikut pembantu rumah dinas saya, juga pengaruh kekuatan sihir yang tersembunyi dalam buku-buku Islam yang saya miliki. Beberapa rekan dari Gereja Pantekosta bahkan menawarkan jasa untuk melakukan upacara pengusiran roh jahat Islam di rumah saya dan akan mengurapi serta mensucikan buku- buku Islam yang saya miliki agar kekuatan sihirnya hilang!
Sikap rekan- rekan Gembala ini terasa kontras dan tidak sepadan dengan sikap Pak Tua dan jemaatnya di mesjid yang sederhana itu. Saya merasa bersalah karena telah ikut dibesarkan dan dibina oleh lingkungan agama yang sesat, saya harus segera mengambil keputusan. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang, menimbang segala resikonya. Akhirnya sudah mantap dan sudah bulat tekad saya, saya akan masuk Islam.
Di hari Minggu tgl. 21 Januari 2001, jam 10.00 pagi, saya berikrar DUA KALIMAT SYAHADAT: ASYHADU ALLA ILAHA ILALLAH WA ASYHADU ALLA MUHAMMADARRASULULLAH – SAYA BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN SAYA BERSAKSI PULA BAHWA MUHAMMAD ITU UTUSAN ALLAH.
Saya telah menjadi Islam, saya mengganti nama menjadi Rachmat Hidayat, saya tidak memakai nama keluarga Tengker lagi, karena ketika mengabarkan kepada keluarga saya di Manado bahwa saya masuk Islam, mereka murka sekali, papa menyatakan tidak akan mengakui saya sebagai anaknya, Oma bahkan mengutuk saya melarat bersama para pendosa Islam dan menyatakan bahwa saya telah disihir orang Islam. Lalu saya juga memperoleh surat dari keluarga yang diberikan oleh mantan pembantu saya di rumah dinas, bahwa keluarga saya sekarang tidak mengakui saya lagi dan menyatakan mencabut hak waris dalam marga saya dan saya tidak diperkenankan menyandang nama keluarga Tengker lagi. Bahkan dalam surat itu, papa menyatakan jikalau saya akhirnya dianiaya atau dibunuh oleh pihak Gereja, mereka gembira karena itu merupakan sarana penebus dosa saya kepada Tuhan Yesus. Naudzubillah! Ya Allah, maafkan keluarga saya ini. Mereka berkata begini karena mereka tidak mengerti hakekat ketuhanan-Mu yang sesungguhnya.

= = = =

KAUM MUDANYA “KEPINCUT” ISLAM,
PEMERINTAH BELANDA KEBAKARAN JENGGOT
Simak wawancara dgn Yassin Hartog koordinator Islam en burgerschap Belanda

Pemerintah Belanda memperingatkan akan perkembangan Islam yang demikian cepat di kalangan kaum muda Belanda. Bahkan pandangan-pandangan Islam mereka berkembang sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir ini.
Tajebe Gostra, koordinator nasional untuk pemberantasan terorisme di Belanda menyatakan, sekali pun undang-undang pemberantasan terorisme seharusnya memiliki efek jera namun situs-situs Islam di Belanda terus berkembang dan menyebar di kalangan kaum intelektual muda Muslim. Demikian seperti yang dilansir kantor berita REUTERS.
Dalam konferensi persnya dengan kantor berita “REUTERS”, Gostra menambahkan, “Di sini, Belanda, kami menyaksikan kecenderungan yang semakin kuat terhadap fundamentalisme di kalangan kaum muda. Kaum muda nampaknya begitu cepat dapat menganutnya. Fenomena ini juga terjadi di sekolah-sekolah. Sangat sulit sekali membatasi jumlah kelompok yang aktif di Belanda.”
Kami tidak tahu seberapa besar taksiran yang telah terjadi tanpa sepengetahuan kami. Akan tetapi kami berkeyakinan bahwa terdapat antara 10 hingga 20 jaringan yang sangat aktif.
Ia menyiratkan, hendaknya pemerintah Belanda bekerja lebih ekstra dalam memberantas tindakan rasis dan mengurangi peluang yang kiranya dirasakan kaum muda Muslim bahwa tidak ada tempat bagi mereka di tengah masyarakat barat. Ia menambahkan, hal itu terutama dirasakan setelah pembunuhan yang dilakukan Muhammad Buyeri, warga Muslim Belanda asal Maroko atas sutradara Theo Van Coch pada November 2004 lalu.
Upaya memberantas terorisme yang dilakukan pemerintah selama beberapa waktu telah menggiring terjadinya kekacauan dan kecemasan di kalangan penduduk. Hal yang belum pernah terjadi di Belanda yang berpenduduk mencapai 16 juta jiwa di mana 1 juta di antaranya adalah umat Islam.
Aparat keamanan Belanda bertekad melancarkan sejumlah operasi tahun depan yang membidik kalangan pelajar sekolah, khususnya guna memperingatkan mereka akan bahaya latin fundamentalisme Islam. Demikian menurut klaim mereka. Di samping itu, juga memperingatkan kaum muda agar tidak membuka situs-situs kelompok ekstrem di internet.
Aparat juga berupaya memisahkan para tersangka kasus terorisme dengan para napi lainnya guna mencegah penyebaran Islam di penjara.!!?? (ismo/AS/alsofwah.or.id)

Integrasi Islam : Benarkah sekolah Islam di Belanda hambat integrasi?
Inspeksi pendidikan Belanda menyatakan bahwa sekolah-sekolah Islam di Belanda ternyata tidak  menentang integrasi dan juga tidak mengajarkan kebencian seperti dituduhkan selama ini. Demikan tertera dalam laporannya sebagai hasil dari penyelidikan yang dilakukan di sekolah-sekolah Islam Belanda.

Sudah 15 Tahun
Sejak hampir 15 tahun di Belanda bermunculan sekolah-sekolah dasar Islam. Sekolah-sekolah ini sebenarnya tidak berbeda dengan sekolah-sekolah Belanda lainnya dari segi kurikulum dan kualitas guru mata pelajaran umum. Guru-gurunya juga harus berkualitas yang sama dengan guru-guru sekolah Belanda lainnya. Bedanya hanya pada pelajaran agama dan suasananya. Kalau di sekolah-sekolah lain pada pelajaran agama diajarkan tentang agama-agama lain, tentu di sekolah Islam diajarkan pelajaran agama Islam. Selain itu suasanya Islami. Guru dan murid perempuan berbusana Islam. Juga diselenggarakan sholat berjamaah serta hari-hari besar dirayakan bersama.

Menebar Kebencian?
Namun dalam hal ini ada perbedaan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Ada yang moderat dan ada pula yang sangat fundamentalis dan malah ekstrem. Gara-gara inilah maka muncul berita belakangan bahwa sekolah Islam itu mengajarkan kebencian terhadap Belanda dan Barat pada umumnya. Ini berarti bertentangan dengan kebijakaan pemerintah Belanda yang menginginkan integrasi kelompok imigran di Belanda. Oleh karena itu inspeksi pendidikan di bawah departemen pendidikan Belanda mengadakan penyelidikan tadi. Inspeksi itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut. Benarkah sekolah-sekolah Islam menghalangi proses integrasi? Dan laporan inspeksi ternyata positif. Sekolah Islam tidak menghalangi proses integrasi.
Mengenai hasil penyelidikan dinas inspeksi pendidikan Belanda ini, fokus akhir pekan mewawancarai Yassin Hartog, seorang warga Belanda yang masuk Islam, dari Islam en Burgerschap (Islam dan kewargaan). Terlebih dahulu ditanyakan apa itu Islam en burgerschap.
Yassin Hartog(YH): Islam en burgerschap (Islam dan kewargaan) adalah organisasi yang berusaha meningkatkan keterlibatan muslim sebagai anggota masyarakat di Belanda. Titik tolak kami bahwa Islam itu sumber yang kaya norma dan nilai yang juga bisa dijadikan bahan pendekatan terhadap orang Islam. Kami ingin menggunakan norma dan nilai Islam untuk menggalakkan partisipasi muslim sebagai warga di Belanda.
Bukan Corong Den Haag
Radio Nederland(RN): “Tapi ada orang bilang organisasi anda ini merupakan corong pemerintah Belanda. Jadi ini tidak benar ya? ”
YH: “Tidak benar. Memang pemerintah Belanda menyumbang dana, karena pemerintah menilai pentingnya keterlibatan semua warga di Belanda dan pentingnya perdebatan publik mengenai norma-norma yang dimiliki bersama. Banyak orang Belanda menduga norma-norma Islam itu sangat berbeda dengan norma-norma Belanda. Islam en Burgerschap justru ingin menekankan bahwa banyak kesamaan nilai dan norma antara Belanda dan Islam. Dan juga ingin memperlihatkan bahwa muslim bisa diaproach melalui itu. Sehingga orang Islam bisa lebih mudah tumbuh menjadi warga yang berpartisipasi penuh di Belanda. ”

RN: “Ya itu kedengarannya ideal sekali, tapi apa saja kegiatan Islam en Burgerschap? ”
YH: “Pertama-tama kami menggelar konferensi perdana pada tahun 2000. Ketika itu kami mengundang 250 orang tokoh masyarakat Islam. Dalam kesempatan itu kami meminta mereka untuk mendiskusikan masalah partisipasi muslim di Belanda dengan jemaah mereka masing-masing. Dan diskusi ini memang sudah berhasil dilaksanakan di pelbagai tempat di Belanda. Selain itu kami juga menggelar sayembara menulis essay untuk kelompok remaja. Kami juga menyelenggarakan pelbagai konferensi perempuan. Kami juga memiliki website: http://www.islamenburgerschap.nl Ya kegiatan-kegiatan semacam itulah. Kami juga pernah mencoba mengalakkan debat publik di kalangan muslim, dan juga jika perlu berdiskusi dengan masyarakat Belanda lainnya. ”

Sekolah Islam Bukan Halangan Integrasi
RN: “Sekarang saya mau kembali ke topik aktual yaitu tentang laporan kementerian pendidikan Belanda mengenai sekolah-sekolah Islam di Belanda. Antara lain tertera di laporan itu bahwa sekolah-sekolah Islam tidak menghalangi integrasi warga muslim di Belanda, seperti diduga orang selama ini. Bagaimana komentar anda? ”
YH: “Islam en burgerschap dengan senang hati mendengar hasil penelitian yang dilaksanakan oleh inspeksi pendidikan Belanda. Tahun lalu juga ada laporan dari dinas intelijen Belanda AIVD yang mengesankan bahwa sekolah-sekolah Islam di Belanda menghalangi proses integrasi dan malah dituduh mengajarkan kebencian terhadap kelompok non muslim dan terhadap nilai-nilai Barat. ”

“Dari penyelidikan inspeksi pendidikan ternyata pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar demokrasi negara hukum. Ternyata pula sekolah-sekolah itu menggalakkan integrasi. Malah kadang lebih aktif dari sekolah-sekolah Belanda biasa. Selain itu prestasi anak-anak tamatan sekolah Islam tidak ketinggalan dibandingkan dengan sekolah-sekolah Belanda yang lain. Malah ada yang lebih baik. Jadi, dapat disimpulkan, laporan itu positif bagi sekolah-sekolah Islam. Dan kami harap dengan demikian semoga citra sekolah Islam membaik. ”

RN: “Tapi ada catatan pinggir dari laporan itu, yaitu bahwa tenaga pengajar mata pelajaran agama konon keterampilannya kurang. ”
YH: “Ya itu benar. ISBO, gabungan pengurus sekolah Islam di Bealnda, menyadari itu. Makanya sekarang orang sedang sibuk menyusun metode pengajaran agama Islam yang cocok dengan konteks Belanda, bersama dengan lembaga penyusun kurikulum. Pada 2004 diharapkan akan tersusun metode pelajaran agama Islam yang berbobot. Selain itu juga akan diadakan perbaikan kualitas didaktik pedagogik bagi para tenaga pengajar. Hal ini juga akan digarap oleh ISBO tadi. ”
Diskriminasi Pasca 11 September
RN: “Saya mau berpindah kepada pertanyaan umum lagi. Banyak orang menduga warga muslim di Belanda didiskriminasi terutama sejak 11 September. Bagaiman sebenarnya duduk perkaranya? Apa memang benar demikian? ”
YH: “Di Belanda ada sekitar 800.000 sampai sejuta muslim. Setelah peristiwa September kondisi mereka memang lebih sulit. Suasana politik bertambah keras. Perdebatan juga memanas. Tapi hasil positif penyelidikan mengenai sekolah-sekolah Islam tadi menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap Islam itu ternyata dugaan belaka. Inspeksi pendidikan sudah memeriksa secara mendalam sekolah-sekolah Islam. Semuanya diperiksa. Tegel-tegel di pekarangan sekolah pun ibaratnya ikut dibongkar. ”

“Akhirnya hasil pemeriksaan itu positif. Untuk menghilangkan duga-dugaan negatif warga Belanda itu, masih banyak yang harus dilakukan oleh muslim di Belanda. Tapi muslim di Belanda lambat laun juga semakin mampu mengorganisir diri. Saat ini sedang giat membentuk badan kontak antara muslim dan pemerintah Belanda. Sehingga memiliki badan yang mewakili warga muslim untuk memberi advis kepada pemerintah tentang hal ini. ”
Demikian Yassin Hartog koordinator Islam en burgerschap. (Radio Nederland)

IBU DEWI : TAK SANGGUP KUTOLAK KEBENARAN ISLAM

Alhamdulillah, atas sumbangan pakdenono streaming ceramah mualaf muslimah Dewi Purnamawati telah kami tambahkan, artike lengkapnya pernah ditampilkan dengan jutul Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam.
Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam
Dewi Purnamawati nama saya, kelahiran Solo Th. 1962. Tahun 1971, Mase (panggilan saya kepada ayah) yang pegawai AURI pindah tugas ke P. Lombok sehingga saya besar di P. Lombok sampai lulus SLTA Th. 1981. Kemudian kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta sampai lulus Th. 1985. Sejak Th. 1986 saya kembali menetap di Solo dan mengabdikan diri sebagai guru listrik di STM Negeri 2 Surakarta yang saat ini nama-nya SMKN V Surakarta.
Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.
Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.
Dia telah sukses mengkristenkan orang satu kampung melalui cara mengajarkan dan membantu masyarakat berusaha dengan mengelola tanaman hidrophonik, sementara adik saya perempuan, aktif penginjilan di P. Madura. Obsesinya mengkris-tenkan para kiai. Sebab peluang itu ada! Kalau malam minggu dia menga-mati kiai nyebrang ke Surabaya, pakaian kiai-nya ditanggalkan dan ganti pakai celana jeans dan T.Shirt lalu asyik dalam dunia hiburan!.
Saya sendiri, suami pertama adalah aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang telah berhasil saya kristenkan, tetapi akhirnya kami bercerai juga. Memang kristen mengajarkan “Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. ” tetapi pendeta akhirnya mengijinkan kami bercerai, ia tidak punya solusi.
Anak saya sejak perceraian itu dipelihara ibu di Lombok, ia dididik ibu menjadi kristen militan. Tidak boleh saya ambil untuk saya didik di Solo, kecuali kalau saya balik ke kristen. Anak saya yang semata wayang itu, untuk mendapatkannya ibarat “toh nyowo” hampir keguguran sampai 3 kali.

Tepatnya malam 27 Ramadhan th. 2004, dengan sadar & tanpa beban telah memutuskan hubungan ibu-anak dengan saya, karena meski-pun diiming-imingi, diancam dan menanggung resiko apapun saya tetap Islam tidak mau balik Kristen. Dengar-dengar sekarang ini ia kuliah di Jawa mengambil Pastoral Konseling di sekolah theologi, dalam rangka menjadi seorang pendeta “ wallaahu a’lam.

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow”..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci “ memandang rendah “. Ya!.
Namun yang namanya hidayah, kalau Allah menghendaki maka tidak ada seorangpun yang mampu menolaknya meskipun semula ia sangat membencinya.
Saya meragukan kesempurnaan Bible, pikir saya “Kalau buku sudah benar dan sempurna tidak usah direvisi, kalau kitab Injil sudah sempurna mengapa Allah masih menurunkan Al-Qur’an ?” Itulah yang mengusik logika saya dan meluluhkan ke-Kristen-an saya.
Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.
Saya juga mulai meragukan isi Alkitab sendiri, misalnya :
Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Imamat 10:9

Dalam ayat tersebut Allah melarang minum anggur dan mabuk tetapi kenapa dalam Injil karangan Yohanes 2:7-10 dikisahkan Mukjizat Yesus malah mengubah enam drum air menjadi anggur yang memabukkan ?
Kenapa kisah porno dan cabul bertebaran di “Kitab Suci Bible” misalnya di dalam kitab Kitab Kidung Agung misalnya :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur KA 1:2

Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, Tangan kanannya memeluk aku. KA 2:6

Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu  Seperti dua anak rusa buah dadamu,  Seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput  Di tengah-tengah bunga bakung. KA 4:3,5

Pusarmu seperti cawan yang bulat, Yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung. Seperti dua anak rusa buah dadamu,
Seperti anak kembar kijang. KA 7:2-3

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan Buah dadamu gugusannya.7
Aku ingin memanjat pohon korma itu dan Memegang gugusan-gugusannya.
Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan Nafas hidungmu seperti buah apel KA 7:7-8

Kenapa Allah Yang Maha Esa diakui terdiri dari 3 unsur tuhan tetapi dipaksakan dikatakan satu (trinitas/- tritunggal)? Seabreg kemusykilan dan seabreg masalah yang jauh dari akal sehat dan tidak selaras dengan nalar.
Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur’an dan ketika teman meminjami buku berjudul “Akhlahk Islam” masya Allah saya begitu ta’jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.
Beberapa bulan berikutnya saya menikah untuk kedua kalinya dan yang mengantarkan saya pada Islam. Tetapi teman-teman saya yang mayoritas Islam tidak berusaha mendakwahi saya, entah karena tidak PD atau tidak paham bahwa Islam itu agama luar biasa, sempurna!. Tetapi justru saya yang getol menyampaikan Kristen kepada mereka.
Setelah keislaman saya, beberapa ujian datang dari teman-teman/tetangga yang Kristen atau orang Islam yang mencurigai ke-Islam-an saya, usaha saya bangkrut ditipu kyai yang berkedok membimbing saya, saya sempat terperosok ke dalam aliran Islam sesat, suami saya yang staf manajer mengundurkan diri karena diskriminatif. Ketika semangat Islam saya baru bersemi suami meninggal dan saya sakit keras dan sedihnya uang di dompet tinggal Rp.10.000,-.
Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan “Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya” Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.
Inilah sekelumit perkenalan saya dan liku-liku hidup saya dalam menerima dan mempertahankan hidayah Al-Islam (al-islahonline)

=====

KABAR DARI NEW YORK : KEKAGUMAN KATHERINA WESLEY
KDNY (Kabar Dari New York)

Awalnya, ia hanya ingin meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan hukum Islam. Tapi, ia mengaku “jatuh cinta” pada Islam. Sejak dua bulan terakhir ini, the Forum for non/new Muslims membahas tafsir S. Al-Hujurat Al-Quran. Rupanya metode pembahasan dengan menjelaskan kata per kata cukup menarik bagi banyak peserta. Memang di antara peserta itu sudah ada yang pernah mengambil kursus bahasa Arab. Sehingga pembahasan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan “kata per kata” dan mendalami makna ayat-ayatnya dengan mendalami makna dari setiap kata menjadi daya tarik tersendiri.

Hari pertama saja, ketika saya menjelaskan kata ‘aamanuu’ pada ayat “yaa aayuhalladzina aamanuu laa tuqaddimuu”, “dst”, mengambil waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua makna yang terkait dengan kata itu.
Dimulai dari kata “amina-ya’manu-amnun” yang berarti “aman”, hingga “aamana-yuuminu-I’maan wa amaanah” yang berarti “amanah” atau kepercayaan.
Duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang gadis bule. Wajahnya putih bersih dan penuh senyum, tapi menampakkan sikap pemalu. Sesekali gadis itu menyelah seolah-olah membenarkan penjelasan saya, atau menguatkan argumentasi-argumentasi yang saya berikan.

Saya memang agak terkejut. Apalagi gadis ini belum saya kenal dengan baik. Maka, dalam sebuah sesi hari Sabtu itu saya Tanya, “may I ask you?”

“Yes sir!” jawabnya sopan.

“Do you speak Arabic?”, tanyaku.

“Oh no!”, katanya malu-malu. “But I took some course on Arabic”, lanjutnya.
“Di mana anda mengambil kursus Arab, dan bagaimana tingkat bahasa Arab mu?” tanyaku.

Dengan sedikit tertawa dia mengatakan, “Jujur saya malu mengatakannya. Saya baru pemula.”

“Saya juga pemula! Jawab saya sambil bercanda.
Menjelang akhir kelas, dua Sabtu lalu, Katherine, demikian dia mengenalkan diri, seperti ingin sekali mengatakan sesuatu tapi sepertinya sangat malu, atau sepertinya berat untuk disampaikan. Sesekali ingin mengatakan sesuatu, namun setiap kali saya pancing untuk berbicara, jawabannya “am..amm never mind!”, seperti gaya anak remaja yang cuwek.
Setelah kelas bubar, barulah Katherine mendekat dan meminta waktu untuk berbicara. Oleh karena waktu saya singkat, saya katakan, apakah dia perlu waktu panjang?
“Tidak, hanya perlu waktu anda beberapa menit saja,” katanya.
Saya kemudian meminta izin untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu saya selesaikan. Beberapa saat kemudian saya memintanya untuk masuk ke ‘conference room’. Katherine masuk ke ruang conference dan berencana menutup pintu, tapi saya memintanya untuk tetap pintu terbuka. “It’s fine, don’t close it”, kata saya.
“Alright Katherine! Adakah hal yang bisa aku bantu?”, saya memulai percakapan siang itu.
“Iman (maksudnya Imam), are you familiar with Imam Latif?”, tanyanya.
“Latif yang mana yang anda maksudkan? Aku mempunyai beberapa nama Latif dalam memori ku”, kataku merujuk kepada kenyataan bahwa saya mengenal beberapa teman yang kebetulan bernama Latif atau Abdul Latif.
“I think he is the Imam at the NYU”, jawabnya.
“Oh yeah, he is the Muslim Chaplain at the NYU and as well the Muslim Chaplain for the NYPD”, jelasku.
Saya kemudian bertanya, ada apa dengan Imam Khalid Latif (nama lengkap Chaplain yang dimaksud) itu. Barulah kemudian saya tahu kalau Katherine itu adalah mahasiswa S3 di NYU, yang ternyata sedang menulis disertasinya dalam perbandingan madzhab Maliki dan Syafi’i.
“Aku telah menghadiri sebagian dari ceramah kuliah dan kutbahnya.” (maksudnya Khutbah)”, katanya mengenai Imam Latif.
Saya kemudian bertanya, kenapa ingin berbicara ke saya siang itu? Dari percakapan itu ternyata Katherine sudah meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan fikih dalam hukum Islam. “For me, it’s simply amazing!” (bagiku itu benar-benar mengagumkan), katanya mengenai diskusi-diskusi atau perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara pada ulama Islam. Menurutnya, semakin dia dalam perberdaan pendapat para ulama itu, semakin sadar bahwa Islam itu begitu menjunjung tinggi ilmu dan semangat pencarian (inquiries). Dia bahkan mengetahui betul bahwa semangat inilah yang pernah menjadikan Islam jaya dalam segala lini kehidupan manusia.
“And so, what I can do for you?”, tanya saya. Maksud saya, barangkali ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan disertasinya. Atau mungkin ingin mengklarifikasi tentang sesuatu dalam penelitian yang dilakukannya.
Katherine terdiam dan bahkan menunduk beberapa saat. “Saya berfikir untuk memeluk Islam,” katanya seraya meneteskan airmata.
Tanpa terasa saya hanya langsung mengucapkan “alhamdulillah!”. Bagi Katherine tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi. Mendengar itu dia hanya tersenyum seraya mengusap airmatanya.

“Are you sure, Katherine?”.
“Yes, I am sure. Pada dasarnya, saya telah memikirkan tentang dalam waktu yang cukup lama,” katanya.

Saya kemudian mencoba menjelaskan kembali makna berislam. Bahwa beislam itu bukan sekedar mengetahui kebenaran ini, tapi dari itu merupakan komitmen hidup untuk melakukan perubahan internal maupun eksternal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Saya memang tidak berpanjang lebar lagi berbicara kepada Katherine. Saya tahu Katherine sebenarnya tahu banyak tentang Islam, dan bahkan mungkin lebih banyak tahu dari ‘average Muslims’ yang terlahir dari orang tua Muslim. Apalagi memang dia telah meneliti hukum Islam, khususnya mengenai fikih Islam.

“Are you ready?”, kembali saya tanya.
“Yes!”, jawabnya tegas.
Saya meminta ke resepsionis untuk mencarikan dua orang saksi. Setelah saksi hadir di ruang pertemuan itu, saya memulai menuntun Katherine mengikrarkan:
“Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah”.
Diikuti pekik Allahu Akbar, saya mendoakan semoga Katherine dikuatkan dan bahkan menjadi da’iyah di jalanNya. Alhamdulillah! [www.hidayatullah.com]
New York, April 18, 2008
====

WAHYU SOEPARNO PUTRO (DALE ANDREW) :
HIDAYAH ADZAN SUBUH

Awalnya, suara adzan Subuh adalah “musuh” bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf — seorang pemeluk Islam.
Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu. Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias — walau kadang dengan berkaca-kaca — menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta.
Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan.
Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.
Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari.
Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ”Ini yang membuat saya heran,” katanya. ”Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.”

Di tengah proses menemukan ‘hidayah’, Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam.
Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk ‘ikut-ikutan’ berpuasa. ”Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,” kata dia. ”Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,” sambungnya dengan penuh bangga.
Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ”Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,” katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.
Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno.

”Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,”Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu’,” kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.
Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ”Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,” kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ”Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,” ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.
Di saat hasrat di dalam diri semakin ‘merasa’ Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ”Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,” kata dia kepada Soeparno. ”Tetapi bagaimana caranya,” sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.
Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi ‘hijrah’ itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap “mengganggu” tidurnya…. (RioL)

Dale Andrew Collins Smith
Nama sekarang: Wahyu Soeparno Putro
Lahir : Skotlandia, 28 Juli 1963
Pendidikan:
Centre for the Performing Arts (Adelaide Australia)
Victorian College of the Arts (Melbourne Australia)
Profesi : Pemain Sinetron dan Presenter .
= = = =

MANTAN PENDETA MASUK ISLAM :
YAHYA YOPIE DAN KELUARGANYA

Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.
Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.
“Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,”  jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.
Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.
Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.
Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.
Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.
Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.
“Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.
Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.
Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.
Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.
Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.
Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.
Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.
Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.
Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin, “ cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.
PAK Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.
Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika, ”  katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.
Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.
“Kepada saya si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya, “ cerita Yahya.
Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.
Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya, ” cerita Yahya, yang ditemui di rumah kontrakannya.
Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.
Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila, “ katanya.
Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu.  “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar, “ ujar Yahya mengisahkan.
Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu, ” cerita Yahya.
Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Mutmainnah.
“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya, ” tutur Yahya.
Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah.  “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak, “ tandasnya.
Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya.  “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain, “ pungkasnya.
sumber: http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935

= = = = =

14.200 WARGA KULIT PUTIH INGGRIS MASUK ISLAM

14.200 Warga Kulit Putih Inggris Masuk Islam, Kebanyakan Para Elit
Journey to Islam Oleh : Redaksi 27 Feb 2004 – 2:38 pm.
Image Jonathan Birt putra Lord Birt, dan Emma Clark, cucu perempuan bekas PM Herbert Asquith, hanyalah dua di antara hampir 14.000 elit Britania (Inggris) yang menyatakan diri masuk Islam. Inilah hasil studi yang jarang dipublikasikan, bahwa Islam telah menjadi agama paling diminati dan paling cepat berkembang (the fastest growing religion) di negeri Tony Blair itu.

Sebuah studi cukup kompeten pertama kalinya tentang fenomena orang-orang baru Islam itu, dilakukan oleh harian Sunday Times pada 22 Februari lalu. Koran itu mencatat sederetan nama-nama beken elit terkenal Inggris, mulai dari konglomerat, selebritis, hingga keturunan tokoh-tokoh establish senior Inggris, menyatakan diri masuk Islam setelah mereka mengaku kecewa dengan nilai-nilai Barat yang menjemukan.
Studi baru yang dilakukan Yahya (sebelumnya bernama Jonathan) Birt, putra Lord Birt  ‘ bekas Direktur Jenderal BBC, dia menyusun data-data valid yang pertama kali tentang fenomena sensitif itu. Bahwa telah terjadi gerakan orang-orang Kristen masuk Islam yang cukup signifikan. Yahya merujuk pada angka sesus terbaru Inggris, lalu merincinya. Akhirnya dia menyimpulkan temuannya, bahwa tak kurang 14.200 warga kulit putih Inggris masuk Islam.
Berbicara untuk pertama kali di hadapan publik tentang keyakinan barunya itu pekan ini, Birt menyebutkan alasannya masuk Islam. Bahwa dia terinspirasi dengan kejadian yang mirip figur Muslim hitam AS terkenal Malcolm X. Menurut Birt, seperti kejadian di AS, demikianlah yang terjadi di Inggris, dimana orang-orang Inggris berbondong-bondong masuk Islam.
“Anda perlu figur-figur transisi yang besar untuk memindahkan Islam ke dalam kehidupan lokal kita, “  ujar Birt. Birt meraih gelar doktor dari Oxford University dengan tesisnya soal kehidupan kaum Muda Muslim Inggris, seperti dikutip Sunday Times (ST).
“Gambaran Islam yang diproyeksikan oleh gerakan politik Islam sangat tidak menarik, “ tukasnya mengenai alasan pemilihan objek tesis doktornya.
Sebelumnya Birt pernah mengatakan, dia tidak memiliki alasan kenapa dia masuk Islam. “Namun dalam perenungan lebih lama, saya pikir Islam merupakan ajaran lengkap, seimbang, dan integral seluruh aspek ajarannya. Kehidupan spiritual orang-orang Islam juga menarik saya masuk Islam, “ akunya.

Sementara itu, pekan ini juga seorang tokoh Inggris terkenal masuk Islam. Dia adalah Emma Clark, cucu perempuan bekas PM Inggris, Herbert Asquith.
Kakek Emma, PM Herbert Asquith, yang ikut melibatkan Inggris dalam perang dunia pertama mengatakan;  “Kita semua adalah satu ras. Saya berharap fenomena ini bukan seperti musim yang segera berlalu. “
ST menyebutkan, Emma Clark adalah seorang arsitek taman yang ikut membantu desain sebuah taman Islam bagi Prince of Wales, Highgrove, di rumahnya di Gloucestershire. Saat ini Emma juga ikut membantu membuat taman serupa bagi sebuah masjid di Woking, Surrey. (stn/iol/eramuslim)

sumber;http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1554_0_4_0_m
http://fay-ahmed.blogspot.com/2007/02/senengnya-baca2-berita2-islam-di-great.html
PENDETA YANG MENDAPAT HIDAYAH DARI ALLAH :
ABRAHAM DAVID MANDEY
Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan (satpam) di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.
Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.
Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.

Menjadi Pendeta.

Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja “P” (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.
Di Gereja P (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.
Dilema Rumah Tangga
Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagai pendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara, kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.]
Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tentu saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.
Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.
Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.
Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.
Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.
Mencari Kedamaian
Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.
Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?
Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.
Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yang diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan.
Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.
Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.
Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukan konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.
Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.
Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.
Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.
Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengani jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan diri saya yang sejati.

Menghadapi Teror
Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.
Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.
Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan mengirim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.
Saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.
Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan menerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.
Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit karir saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.
Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.
Sumber ; http://www.mualaf.com/index.php/kisah-a-pengalaman/muallaf-rohaniawan/16-kisah-rohaniawanbudayawan/111
= = = =

WILLIBRORDUS SOMANUS LASIMAN :
APA AGAMA YESUS ?

Ketika beragama Katolik, Lasiman bernama baptis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi. Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.

Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980, Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin berdakwah dari kampung ke kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok kampung di kaki Gunung Merapi.

Untuk memenuhi nafkah keluarganya, Willi mengajar di sebuah SMP Negeri di kota Gudeg. Sedangkan ilmu Kristologi yang dimilikinya sejak jadi misionaris, membuatnya menjadi rujukan jamaah untuk bertanya tentang perbandingan Islam dan Kristen. Ustadz Wahid alias pak Willi, adalah mubaligh tangguh yang mahir dalam Kristologi.

Untuk memuluskan dakwahnya, Willi menyusun buku-buku dan VCD untuk kalangan sendiri, berisi kisah nyata perjalanan rohaninya. Hal ini membuat agama lain cemburu pada dakwahnya yang agresif. Tabloid Sabda, media milik Katolik di Jakarta, pernah menyorot Willi di rubrik utama dengan judul cover “Gereja katolik Kembali Difitnah Mantan Misionaris Willibrordus Romanus Lasiman (Ustadz Drs Wachid Rasyid Lasiman)”.

Yang dimaksud Sabda adalah uraian Pak Willi dalam buku Yesus Beragama Islam. Dalam bukunya itu, Willi menyatakan, Yesus sebenarnya bukan beragama Kristen atau katolik, melainkan seorang Muslim. Pemred Tabloid Sabda, Peter, menulis artikel berjudul “Kok berani-beraninya Ustadz Wachid Rasyid Lasiman Meng-Islamkan Yesus”.

Kemarahan Peter dalam tulisannya ini, tampak nyata. Sang Pemred ini menggunakan kata-kata kasar dengan menyebut Willi sebagai orang “ngawur, konyol, naif, melancarkan fitnah dan lainnya. Sementara, di akhir tulisan, Peter mengimbau pembacanya, “Bagi umat Kristian, menghadapi fenomena seperti ini sebaiknya dengan kepala dingin saja. Tidak usah emosi karena tidak ada manfaatnya sama sekali.”

Sementara itu, dalam menghakimi pendapat Willi, peter menulis, “Kalaupun diperbolehkan menyebutkan Yesus itu agamanya Apa? Maka tentu lebih masuk akal mengatakan Yesus beragama Katolik atau Kristen daripada mengatakan Yesus beragama Islam. Tapi, Yesus sesungguhnya bukan pengikut atau penganut agama Kristen Katolik atau Kristen Protestan, melainkan dialah Kristus sang juru selamat manusia dan dunia. Itulah iman orang Kristen,” (hlm 4).

Jadi, apa agama Yesus? pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi yang hangat dan menarik. Jika dijawab Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia, maka dia tak perlu agama dan tak beragama. Maka, pernyataan ini bisa dipahami bahwa Yesus tak beragama, artinya Yesus itu ateis. Menurut Yossy Rorimpadel, dari Sekolah Tinggi Teologi “Apostolos”, Yesus itu beragama Yahudi. Lalu, mengapa pengikutnya tak beragama Yahudi?

Jika Yesus beragama Katolik, mana dalilnya? kapan Yesus memproklamirkan dirinya beragama Katolik? Jika dinyatakan, Yesus beragama Kristen Protestan, lebih tidak masuk akal lagi, Sebab, Protestan lahir pada abad ke-16, saat bergulirnya pergerakan Reformasi gereja yang dimotori oleh Martin Luther dan John Calvin.

Pendeta Yosias Leindert Lengkong dalam buku Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan menyebutkan, istilah “Kristen” muncul di Antiokhia pada 41 Masehi. Dan, yang mengucapkan kata “Kristen” atau “Kristianos” bukan murid Yesus atau orang terpercaya, tapi justru orang-orang luar (hlm.77). Pendapat ini cukup beralasan, karena dalam Alkitab, Yesus tak pernah bersinggungan dengan kata “Kristen”.

Kata ini, muncul pertama kali di Antiokhia setelah Yesus tidak ada. (Lihat Kisah Para Rasul 11:26). Jelaslah, Yesus tak beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Riwayat penyebutan “Kristen” tidak mempunyai asal-usul dan persetujuan dari Yesus. Label dan penamaan Kristen diberikan pada pengikut (agama) Yesus, setelah bertahun-tahun Yesus tidak ada.

Tudingan Peter bahwa Willi “meng-Islamkan” Yesus pun tidak tepat. Karena, yang menyatakan Nabi Isa beragama Islam itu bukan Pak Willi alias Ustadz Wachid, melainkan Allah SWT sendiri. Dalam al-Qur’an disebutkan, satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam (QS Ali Imran: 19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya disebut muslim (QS Ali Imran:84). Islam telah diajarkan oleh paran Nabi terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pun beragama Islam (QS al-Maidah:111, Ali Imran :52).

Semua Nabi beragama dan berakidah sama, yakni Islam. Perbedaan mereka hanya pada syariatnya (QS al-Hajj:67-68). Rasulullah saw bersabda: “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia dan akhirat. Dan semua Nabi itu bersaudara karena seketurunan, ibunya berlainan sedang agamanya satu (ummahatuhum syattaa wa dinuhum wahid),” (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).

Islam tak mengklaim sebagai agama baru yang dibawa Nabi muhammad ke Jazirah Arabia, melainkan sebagai pengungkapan kembali dalam bentuknya yang terakhir dari agama Allah SWT yang sesungguhnya, sebagaimana ia telah diturunkan pada Adam dan Nabi-nabi berikutnya.

Satu-satunya kitab suci di dunia yang mengungkapkan agama Yesus, hanya al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan, Nabi Isa sebagai Muslim, sedangkan Bibel tidak menyebutkan Yesus beragama Kristen atau Yahudi. Kok, berani-beraninya Peter menuduh Willi ngawur. Lalu, mengatakan lebih masuk akal, jika Yesus beragama katolik atau Kristen daripada Yesus beragama Islam. (sabili/al-islahonline.com)

= = = =

GEREJA ITU AKHIRNYA BERALIH MENJADI MASJID
Di tengah dinginnya malam musim dingin tahun ini, sebuah kota kecil yang sangat terpencil di pedalaman Inggris sepakat untuk mengizinkan beralih fungsinya sebuah bekas gereja Kristen menjadi sebuah masjid.

Pemungutan suara terbatas, yang diadakan oleh pemerintah daerah setempat ini, menandai akhir perjuangan sengit komunitas kecil umat Islam untuk mendapatkan tempat ibadah. Dengan mengubah sebuah gereja Metodis menjadi sebuah masjid. Gereja ini sebelumnya sudah beralih fungsi menjadi pabrik, sejak ditinggal kabur jemaahnya 40 tahun lalu.

Pertarungan ini menandai kegelisahan warga Inggris terhadap minoritas Islam, khususnya mengenai akan masuknya kelompok teroris. Ketaatan umat Islam pada agama telah memicu meningkatnya sikap sekuler orang Inggris.

Inggris boleh saja terus mengaku sebagai negara Kristen. Tapi kenyataannya, jumlah umat Islam yang taat beragama mengungguli jumlah umat kristen yang sudi datang ke gereja. Demikian survei yang dilakukan Chirstian Research, lembaga yang khusus mendokumentasikan umat Kristiani di Inggris.

Jumlah umat Islam di Inggris sekitar 1.6 juta jiwa, atau sekitar 2.7 persen dari jumlah total penduduk. Sedang populasi di Clitheroe 14.500 jiwa.

Di Clitheroe, kota kecil di utara Manchester, pergulatan ini melibatkan para profesional muda keturunan Pakistan yang penuh gairah berhadapan tradisi ketat warga setempat. Di kota ini istana Norman dan gereja Anglikan sudah berdiri sejak 1122.

“Kami sudah 30 tahun berusaha untuk mendapatkan tempat ibadah,” kata Sheraz Arshad (31), pemimpin komunitas Muslim setempat. Arshad adalah warga keturunan Pakistan. Ayahnya bernama Muhammad Arshad, imigran dari Rawalpndi yang datang pada 1965 untuk bekerja di pabrik semen di pinggir kota. Arshad sendiri bekerja sebagai manejer proyek di British Aerospace.

Masyarakat di sini menganggap diri mereka sebagai penghalang terakhir berdirinya masjid yang menjadi fenomena tersendiri di kota industri ini. Tekad kuat Arshad untuk membangun masjid di Clitheroe jelas tidak mulus.

Ayahnya yang wafat pada 2000 lalu, mewarisi perjuangan untuk mendirikan masjid bagi sekitar 300 warga muslim di sana, dan Arshad siap melanjutkan perjuangan.

“Saya pikir, kenapa saya diperlakukan tidak adil. Seperempat gaji saya untuk membayar pajak. Dari sini saya tergerak untuk berjuang mendirikan masjid,” kata Arshad.

Hingga kini, Arshad dan ayahnya telah delapan kali mengajukan permohonan pendirian masjid, bahkan pernah berencana membeli sebuah rumah di pinggir kota untuk dijadikan masjid. Bahkan katanya dia pernah berusaha membeli tanah dari dewan kota, tapi ditolak mentah-mentah.

Arshad sering mendapati cemoohan pada pertemuan dengan dewan kota. “Pulang kau, Paki!,” kenang Arshad sedih.

Pemda setempat beralasan, pendirian masjid ini dikhawatirkan akan menarik para pendatang – khususnya muslim – untuk pindah ke Clitheroe. Sebuah surat pembaca di suratkabar lokal, The Clitheroe Advertiser dan Times mengatakan, meningkatnya populasi umat Islam di dua kota tetangga Blackburn dan Preston juga akan terjadi di Clitheroe.

Menanggapi hal ini, Arshad tergerak untuk membuktikan dirinya seorang muslim moderat, yang bersedia ambil bagian di setiap kegiatan kota tersebut. Dia membentuk kelompok pramuka antaragama, bernama Beaver Scouts, yang menghargai berbagai acara keagamaan termasuk acara agama Tao dan tahun baru Yahudi.

Arshad juga mendirikan Pusat Pendidikan Islam Madina, sebuah kelompok antaragama bagi orang dewasa.

Dia juga melakukan persuasi kepada Pemda setempat untuk mendirikan sebuah komite, dan mengadakan sejumlah kuliah berseri tentang konflik global yang menarik para tokoh akademisi penting.

Pada malam pemungutan suara 21 Desember lalu, gedung dewan disesaki 150 orang. Polisi siap siaga di luar gedung. Suara untuk Masjid unggul 7 banding 5, dan tidak ada aksi kekerasan.

“Saya berpikir akan mengundurkan diri, jika faktanya kita akan kalah,” kata Arshad. “Tapi hasil akhirnya sangat mengharukan”.

Menurut rencana tata kota, gereja hanya boleh difungsikan sebagai tempat ibadah. Itulah sebabnya dewan kota menginzinkan untuk mengalihkan fungsi gereja tua tersebut menjadi masjid. Demikian dikatakan Geoffrey Jackson, Ketua Eksekutif LSM Trinity Parnership, seorang Metodis yang turut mendukung perjuangan Arshad.

Jackson juga memuji sikap/kelakuan Arshad. “Dia seorang pria yang unggul, punya aksen Lancashire (logat Inggris pedalaman yang kental-red), lahir dan besar di sini, dan mengenyam pendidikan di Clitheroe,” ungkap Jackson.

Tapi perjuangan belum berakhir. Di balik kesepakatan tadi, masih tersimpan dendam di antara mereka yang kontra. Buktinya adanya hal itu, adalah perusakan beberapa kaca jendela gereja (masjid) tersebut.

Di jalan utama Clitheroe, meskipun Pemda setempat mengizinkan berdirinya masjid, pengaruh perkembangan Islam masih dikhawatirkan warga setempat.

“Terdapat begitu banyak perlawanan,” kata Robert Kay, seorang sopir bayaran. Tapi Kay mengatakan, orang-orang yang berjuang atas masjid adalah orang yang gigih, yang tidak menyerah begitu saja.

Pada 1960an Gereja Metodis Gunung Zion berubah fungsi menjadi pabrik (ukiran/kerajinan kayu) yang diekspor ke timur tengah. Masa mulai menurunnya jumlah umat kristiani yang pergi ke gereja.

Saat ini, Kristen Metodis Inggris yang taat beragama kurang dari 500,000 orang. Sedang umat Kristen, hanya sekitar 6 persen saja yang masih rutin datang ke gereja. Demikian diungkapkan Peter Brierly, Direktur Eksekutif Christian Research. Meski belum didapat angka pasti, banyak kalangan sepakat, bahwa umat Islam Inggris lebih sering datang ke masjid dibanding umat Krisrten yang datang ke gereja.

Gangguan simbolik terhadap Islam di puncak kekuasaan Inggris sudah selesai. Di universitas Oxford, warga kota baru-baru ini, menentang pembangunan Pusat Studi Islam, tapi aksi mereka tidak sukses. Sebelumnya umat Islam tidak mempunyai wakil di Majelis Pewakilan Tinggi, tapi sekarang ada 7 orang wakil umat Islam di sana. Ini terjadi sejak satu dekade berkuasanya Partai Buruh di Inggris.

Di deaerah pemukiman buruh, kesenjangan terlihat jelas antara pribumi kulit putih dengan imigran muslim Asia, dari bekas negara jajahan Inggris, Pakistan dan Banglades pada 1970an. Warga kulit putih tidak begitu suka menikah, anak-anak yang lahir lebih banyak dari hasil hubungan luar nikah. Berbeda dengan umat Islam, hal demikian jelas bertentangan.

Tingginya konsumsi alkolhol oleh warga kulit putih memperlebar jarak kedua komunitas ini. Di Blackburn dan Preston meningkatnya jumlah umat Islam membuatnya jadi eksklusif. Berkembangnya pengaruh sekolah Islam “Wahhabi” jelas terlihat pada wanita-wanita pakaian hitam lebar yang menutupi seluruh tubuh mereka kecuali mata saja.

Di Blackburn terdapat sekitar 30,000 muslim dari 80,000 total populasi. Terdapat sekitar 40 masjid yang berdiri berdampingan dengan gereja kuno. Hal inilah yang ditakutkan para oposisi pembangunan masjid di Clitheroe.

Arshad kini berencana untuk merenovasi gereja tersebut, di sisi lain umat Kristen Clitheroe kekurangan pengunjung gereja. Di gereja Maria Magdalena yang didirikan pada abad 12, jemaah yang hadir turun drastis jadi sekitar 90 orang saja pada tiap Minggu.

“Para pengunjungnya rata-rata berusia 75 tahun”kata Pederi (pendeta wakil paus) Anglikan, Philip Dearden. Kata Philip, upacara pembabtisan atau pemberian nama sudah jarang dilakukan. Bahkan Philip hanya mencatat 7 pernikahan tahun ini.

“Lancashire adalah tempat terakhir untuk melihat sekularisasi di Inggris,” cetus Dearden, pria berusia 64 tahun.

“Sangat drastis kita melihatnya. Orang-orang tidak peduli lagi dengan agama, mereka tidak datang lagi.”

Di Kendal, kota kecil tetangga Clitheroe, seorang paderi Anglikan bernama Alan Billings menulis sebuah buku berjudul, “Secular Lives, Sacred Hearts: The Role of the Church in a Time of No Religion” (Kehidupan Sekuler, Hati yang Suci: Peran Gereja di Saat Tidak Adanya Agama).

Katanya meningkatnya aksi oposisi terhadap masjid di antara warga kulit putih adalah refleksi kegelisahan warga Inggris yang semakin menjadi-jadi sejak aksi bom bunuh diri pada Juli 2005 lalu.

“Sering kali diekspresikan dalam penolakan yang samar seperti, akan bertambahnya mobil, bertambahnya penduduk,” jelas Billings yang juga kontributor tetap program keagamaan di BBC ini. “Tapi itu benar-benar kegelisahan mendalam terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Rasa takut tentang apa yang akan terjadi terhadap kebudayaan dan rasa kecintaan terhadap Inggris.

Pada pertemuan tiap hari Sabtu, hanya terkumpul sekitar 50 jemaah saja, hampir semuanya beruban (usia senja). Billings menegaskan bahwa gereja sedang dalam tekanan. Islam sekarang telah menjadi alternatif selain Kristen.

Pada Minggu belakangan ini, hanya ada satu anak saja yang hadir sekolah minggu. Buku cerita, kertas, dan pensil tergeletak begitu saja, hanya ada seorang guru dengan seorang murid usia 6 tahun. Ruangan lainnya kosong melompong.

Kontras sekali dengan Shamim Ahmad Miah (26) ustad keturunan Pakistan di Accrington, kota sebelah Clitheroe. Di sini Miah mengajar bahasa Arab dan al-Qur’an pada 30 orang murid, usia 5-15 tahun, tiga kali sehari.

Di sini Miah mengajar 10 murid sekolah dasar, duduk di kursi dengan meja terang gedung pertemuan setempat, dia mengajar baca tulis Arab. Dia membagikan sejumlah kertas pada setiap murid untuk menulis beberapa huruf. “Pelan-pelan, ini adalah sebuah seni,”kata Miah.

Arshad berencana untuk mengundang Miah menjadi imam di Clitheroe. “Dia seorang progresif,” puji Arshad.

Tidak akan ada perombakan besar-besaran terhadap bangunan gereja, sekedar menurunkan salib yang masih terpampang di atas.

Para wanita dibolehkan untuk shalat di ruang utama, “tidak di pojokan,” kata Arshad.

“Kita tidak memasang kubah. Itu (kubah) akan terlihat cantik di Mesir dan Turki, tapi di Inggris malah akan terlihat seperti bawang raksasa. Adzan juga tidak akan dikeraskan ke luar masjid. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di dalam,” katanya. [nytimes.com/Surya/cha/hidayatullah]

= = = =

PERJALANAN IBU DEWI KE ISLAM :
AKHIRNYA KUTEMUKAN KEBENARAN

Saya terlahir dari keluarga Nasrani. Ayah saya yang tadinya muslim pun menjadi nasrani ketika menikah dengan seorang wanita kristen ibu saya. Keluarga saya termasuk kristen militan yang menuntut anak-anaknya untuk turut dalam misi penginjilan. Misi yang pertama dilakukan saat kita pindah di Lombok, itu sekitar tahun 1997.

Hidup itu tiada henti bertanya akan segala sesuatu. Tapi dalam Kristen, ketika benak penuh pertanyaan hal janggal, tak satupun terjawab kecuali dengan jawaban, “Ya” lalu kemudian “Amen”, kemudian “Amen” dan “Amen”.

Saya mengalaminya pertama kali saat saya SMP. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya-tanya dan mulut saya pun melontarkannya.  “Yesus itu Tuhan, kan? Sedangkan Tuhan itu Maha Segalanya, tapi kenapa mata manusia mampu menangkapnya? “, tanya saya ke guru di sekolah Katolik tempat saya belajar.

Pertanyaan-pertanyaan tak berhenti begitu saja. Saya juga menanyakan tentang kenapa Yesus muncul dalam berbagai versi dan wajah. Ada versi yang berwajah Barat, Nigeria, Indonesia bahkan India. Tapi tetap saja tak ada jawaban yang memuaskan. Bahkan bisa dibilang tak pernah ada jawaban.

Sementara, hati kecil tetap tak mau berhenti berontak. Hingga saya menginjak dewasa, saya tetap tak bisa memasukkan dalam kotak nalar benak saya, tentang apa yang namanya misi penginjilan yang mengajak orang-orang beragama di luar Kristen agar masuk Kristen. Bahkan, saya pernah menolak untuk jadi penginjil. Di dalam Kristen, ada ajaran, “Jadilah kau pengail orang, kalau turutku (Tuhan Yesus)”. Saya lalu berdalih, bukan menentang ajaran ini, tapi menentang tafsiran bahwa mengailnya juga di kolam yang sudah terbentuk sementara lautan luas masih belum tunduk. Debat saya akan verse ini pun sia-sia. Saya masih harus tetap menjalankan ini semua mengkristenkan orang yang sudah beragama. Menjadi misionaris.

Saat hati bergejolak penuh pertanyaan, saat itu juga hati kagum dengan ketaatan orang-orang Islam yang berbondong-bondong ke masjid ketika ada panggilan Adzan. Ketika kita terlelap dalam tidur, mereka sudah bangun untuk mendirikan shalat menemui Tuhannya. Kemudian saya mulai bertanya-tanya tentang apa itu Tuhan?, Apa itu roh kudus?.

Masalah Trinitas pun tak luput saya tanyakan kepada seorang pendeta. Bahwa 3 dalam satu itu tidak mungkin. Bahwa sangat aneh ketika Tuhan menjelma dalam bentuk manusia, tapi masih ada lagi Tuhan di atas sana. Ini sama halnya ada 3 Tuhan. Meskipun Pendeta itu mengajariku beranalog bahwa Trinitas itu seperti menggambarkan seorang ayah. Bisa jadi, ayah itu adalah seorang ayah, seorang pekerja kantoran sekaligus ketua RT. Jika seorang ayah berada di tempat dan waktu yang berbeda maka ia akan menjadi orang yang berbeda. Padahal Tuhan tidak terikat waktu dan tempat. Itu semua tidak masuk akal, bentakku pada diri sendiri. “Kamu memang keras kepala! ”, kata orang tua saya ketika saya mulai berdalih macam-macam tentang Trinitas. Sejak saat itu pula saya merasa bahwa saya memang beda.

Saya tertarik pada Islam sekitar tahun 1997. Saat itu saya bertemu seseorang yang mengubah imej saya tentang Islam dan pengikutnya. Bahwa tidak semua orang Islam itu manusia rendahan dan bodoh yang Tuhannya tuli karena butuh Adzan yang teriak-teriak untuk bisa mendengar. Bukan secara kebetulan saya bertemu dengannya. Ia menjelaskan Islam dengan alasan yang lebih masuk akal dari seorang pendeta yang tidak bisa menjelaskan masalah Trinitas hal paling mendasar dan utama dalam Kristen.

Dia menjelaskan bahwa kita sekarang hidup di era Muhammad, yang mana era Yesus (era Isa dalam Islam-red) sudah selesai dan diperbarui agar bisa relevan sepanjang masa hingga sekarang ini. Ia mengatakan bahwa akan sangat lucu karena kita tidak akan diterima dalam segala hal jika hidup dalam era yang salah. Perkataannya itu membuatku berpikir dan merenung setelah ia pula membuat saya tertegun dengan ajakan untuk menikahinya.

Bahkan Natal tahun 1998 saya sudah tidak lagi fokus dengan agama Kristen saya. Benak selalu menjerit,

“Tuhan…, dimana engkau? Kemana ketentraman saya sekarang ini? Kenapa saya jadi bimbang? ”

Bahkan ketika saya mendapat insiden kecil saat mobil yang saya kendarai tidak beres, saya sempat berpikir,

“Kalau saya tadi mati, saya akan pergi kemana? Saya sudah bukan lagi Kristen karena tidak pernah ke Gereja, tidak baca doa, tidak pula baca Injil. Di Islam? Padahal saya belum Islam. Saya belum percaya dengan Islam. Saya mati akan kemana? “ Saat itu pula, Adzan maghrib terdengar mengiringi pertanyaan dalam hati kecil.

Saya ingat, saat itu bulan Januari, saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Mohon petunjuk agar mampu menyingkap kebenaran dengan doa dan kesungguhan. Kemudian, di malam ketiga saya melihat sosok wicaksana duduk dengan baju putih bersih di depan saya.

Bayangan ini terlihat beberapa kali hingga saya mengkonsultasikan kepada seorang kawan HMI tentang hal ini. Awalnya dia tidak percaya dan sempat curiga jangan-jangan ini sekedar permainan. Tapi ketika melihat kesungguhan diri saya, dia malah menganjurkan saya ke Masjid Nur Hidayah untuk menceritakan lagi hidayah yang saya dapat ke seorang ustadzah. Saya masuk Islam di Februari, dan Juni 1999 adalah bulan dimana saya menikah dengan pria yang mengenalkan saya dengan Islam.

Beberapa tahun berselang, suami saya mendadak sakit dan akhirnya pergi menemui Allah SWT, tepatnya tanggal 18 Agustus 2003. Ketika itu, saya sangat pilu, sedih dan sendirian dalam menghadapi itu semua. Sejak perceraian dengan suami saya yang pertama, anak saya ikut dengan orang tua saya di Lombok. Saya ingin agar dia balik ke Solo dan hidup bersama saya dalam Islam. Tapi yang saya dapat hanyalah, “Kalau kamu tidak mau balik ke Kristen, maka segala yang telah saya berikan padamu adalah hutang, dan kamu harus mengembalikannya segera!” Anak saya disandera, dan saya dibebani dengan hutang yang seharusnya tidak saya bayar.

Alhamdulillah, saya bisa membayar sejumlah uang yang diminta orang tua saya, berkat bantuan seorang Ustadz – dosen perguruan tinggi Islam ternama di Solo dan beberapa rekan yang tergabung dalam Forum Arimatea. Tapi, anak saya tidak dikembalikan kepada saya.

Anak saya malah datang lewat telepon, di suatu malam bulan Ramadhan dan bertanya, “Mama berat ke Islam atau berat anak?” Saya terperanjat kaget. Saya katakan kalau saya memilih Islam. Dan ia menjawabnya lagi dengan jawaban yang menyayat, “Ohh, jadi Mama itu orang yang tega terhadap anaknya, dan memilih Islam daripada anak.” Setelah mengulangi pertanyaan yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula dari diri saya, maka ia memutuskan hubungan anak dan ibu diantara kami berdua. Telepon ditutup dengan kata-kata terakhirnya, “Semoga Ibu Dewi (bukan panggilan “Mama” yang selama ini ia memanggil ke saya) bahagia dengan agamanya yang baru itu! ”

Malam itu saya menangis. Kesedihan bercampur dengan rasa lega dan gelo. Kenapa anak semata wayang yang tadinya ingin saya kembalikan ke Islam, kini lepas dari tangan saya. Saya malam itu hanya bisa berkata, “Jangankan lepas dari kamu, Nak. Kehilangan nyawa pun mama siap. Kamu, harta benda, buat mama itu tidak ada apa-apanya.” Saya masuk Islam karena saya melihat kebenaran di dalamnya.
Ibu Dewi mengatakan bahwa keimanan itu seperti emas yang membutuhkan proses dan ujian yang akan ditempa sebelum menjadi perhiasan berharga. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan rohani Ibu Dewi dan perjuangannya menegakkan Islam yang mengingatkan kita akan perjuangan orang-orang terdahulu. [Na/fosmil ]

= = = =

KEPALA BIARAWATI MASUK ISLAM

Dilahirkan di Surabaya, tanggal 30 Juli 1954, dengan nama kecil Han Hoo Lie, kemudian menjadi Irena Handono. Hidup dilingkungan keluarga berada yang taat beragama Katolik di Surabaya Jawa Timur. Aktifitasnya di Gereja mendorongnya terpilih sebagai Ketua Legio Maria. Lembaga Katolik lain yang pernah digelutinya adalah Biarawati, Seminari Agung ( Institut Filsafat Teologia Katolik ) dan Universitas Katolik Atmajaya Jakarta. Ketertarikan dan keterlibatanya secara sungguh sungguh dalam dunia pemikiran khususnya perbandingan agama membuatnya dapat menerima cahaya Kebenaran Islam.
Tahun 1983 Masjid Al-Falah, Surabaya menjadi saksi sejarah. Dihadapan KH Misbach , seorang pahlawan dan Ketua MUI Jawa Timur saat itu dan di saksikan oleh seluruh Jama’ah, Irena Handono berikrar memasuki Agama Islam dengan mengucapkan dua kalimaty syahadat. Sejak saat itu semua atribut dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama sebelumnya ditanggalkan dan dihilangkan.
Jika sebelumnya adalah taat di atas nilai Katolik, kini taat di atas nilai Islam. Hidupnya dipersembahkan dalam jalan dakwah, mengajak umat agar bangga menjadi Muslim dengan menjalankan semua perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Sempurnanya rukun Islam ditaati ketika pergi haji pada tahun 1992, kemudian menjadi pembimbing haji enam tahun kemudian.
Kesungguhanya dalam dakwah diwujudkan melalui beberapa lembaga yang bisa menyalurkan visi dan misi hidupnya, diantaranya ICMI,PITI, AL-Ma’wa (Pembina Muallaf ) Surabaya, Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Muhtadin Jakarta,Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf ( FKLPM ), Forum Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi (FORGAPP), Lembaga Advokasi Muslim (LAM),Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) dan (MAAI) Majlis Ilmuwan Muslimah se Dunia Cabang Indonesia.
Irena Center melengkapi semua lembaga yang pernah didukungnya, secara formal di daftarkan ke Notaris Syarif Tanujaya, SH dan diproklamirkan di Jakarta pada tanggal 3 Oktober 2004. Dari lembaga ini diharapkan agar Islam bisa lebih di membumi dan menjadi rahmat bagi manusia dan seluruh alam.
Lihat aktivitasnya di :
http://www.irenahandono.or.id/

PENDETA ROMA MASUK ISLAM

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.
Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’ala, pasti Dia Azza wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan dapat dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmati Islam. Semoga Allah merahmati Syaikh kami Al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan.
“Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan As-Sunnah”.
Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah.:
“Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya”.
Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik dan kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seseorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’ala.
Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) “semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-

Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (Nasrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.
Ibrahim (dulu bernama Danial) “semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan keistiqomahan- menceritakan :
Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.

Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku.
Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaannku, akan tetapi tetap saja belum sempurna

Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama. Ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudara-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka
Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke Ad-Dir [1] disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.

Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu Ad-Dir ke Ad-Dir yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan Ad-Dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu Ad-Dir tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.
Setelah itu, saya memutuskan untuk berkelilng ke berbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat terkesan, sehingga saya mencintai.
Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi Syi’ah. Keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka memfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.

Semua diskusi tersebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.
Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju kedalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang tebuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.
Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku, Alhamdulillah.
Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke Ad-Dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah Ad-Dir di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan Ad-Dir tersebut.

Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari Ad-Dir, setelah itu saya menuju Al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju Al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman dan Al-Quds, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.
Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.
Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah ku-kumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.
Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris. Akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari Taurat dan Injil.
Kemudian saya putuskan untuk kembali ke Al-Quds, karena saya yakin bahwa Al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju Al-Quds. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan Al-Qur’an, Injil dan Taurat, kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan Al-Qur’an dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan Al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘Alaihis salam yang asli

Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang da’i dari teman-temannya para da’i.

Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilan perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, karena didalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran
Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya Fadhilatusy Syaikh Hisyam Al-Arif Hafidhohullah, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.
Setalah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaannku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.
Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan.

“Asyhadu An Laa Ilaha Illallahu Wa Anna Muhammadan Rasulullah”.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.
Maka serta merta saudara Amjad memeluku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas ke-Islamanku, kemudian kami sujud syukur sebagaimana ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi [2] dan berangkat ke Masjid Al-Aqsho untuk menunaikan shalat dhuhur.
Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jama’ah shalat dengan syahadat, yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bepaknya para nabi, yaitu Ibrahim Alaihis sallam yang melakukan khitan pada usia 80 tahun.[3]
Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan As-Sunnah.
[Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc dari majalah Ad-Da’wah As-Salafiyah “ Palestina edisi Perdana, Muharram 1427H halaman 21-24]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No 3 Edisi 27 – Shafar 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
__________
Foote Note
[1]. Ad-Dir = Istilah untuk gereja yang terpencil di pedalaman.
[2]. Sebagaimana hadits Qoish bin Ashim, beliau menceritakan : “ Ketika beliau masuk Islam. Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara” [HR An-Nasari, At-Tummudzi dan Abu Daud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa no. 128]
[3]. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “Al-Qoduum” (nama alat atau tempat)” [HR Al-Bukhari 3356 dan Muslim 2370]
====

RAHMAT PURNOMO MANTAN PENDETA :
UJUNG PENCARIAN MEMPEROLEH RAHMAT ISLAM
Ia adalah seorang laki-laki keturunan, sang ayah Holandia dan ibu Indonesia dari Kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya. Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan tinggi pada agama kristen yang bersekte protestan, bapaknya juga demikian, namun ia bersekte Pantikosta. Sedangkan ibunya sebagai pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang dakwah di sebuah Gereja Bethel Injil Sabino.
Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit pun untuk menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan menulis.
Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca buku Profesor Doktor Ricolady, seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu seorang dajjal yang tinggal di tempat kesembilan dari neraka. Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya sebagai agama.
Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk berdakwah selama tiga hari tiga malam di Kecamatan Dairi, letaknya cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku, lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya? “  Aku menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”
Namun, ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat Kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”
Aku mempelajari keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS berbicara apa tentang Al-Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di dalamnya sebagai berikut,
“Sesungguhnya Isa Al-Masih bernasab kepada Ibrohim dan kepada Daud’” (1-1),
lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata,

“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33).
Dan Injil MARKUS berkata,
“Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1).
Dan yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia berkata,
“Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1).

Makna dari nash ini dia pada awalnya adalah Al-Masih dan Al-Masih di sisi Allah, maka Al-Masih adalah Allah.

Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah? Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah didapatkan dalam Al-Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang lainnya?’ Pasti tidak! Kenapa? Karena Al-Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan awal yang dida‘wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?
Ini Injil MARKUS berkata,
“Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al-Masih) mereka menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah “Dengarkan wahai Bani Israil! Rabb Tuhan kita adalah Rabb yang Esa.” (12: 28-29).
Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu, maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?
Kemudian, aku lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada Injil YOHANNES nash-nash yang menunjukkan doa dan ketundukan Isa Al-Masih ‘alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dan doa? Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku doa yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash doanya:
“Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang hakiki, dan berjalanlah Al-Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4).
Ini do’a yang panjang, yang akhirnya berkata,
“Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).

Doa ini menggambarkan pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil MATHIUS (15:24) di mana ia berkata,
“Aku tidak diutus, melainkan pada kaum di rumah Isra’il yang sasar.”

Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan bahwa,  “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan Allah kepada Bani Isroil. “
Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab “ya”. Kemudian, jika kita katakan padanya, “Akan tetapi 3 juga = 1?”. Tentu dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah Esa tidak ada serikat baginya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah yang menancap di jiwaku sejak kecil, yakni: tiga dalam satu, dengan apa yang diakui Isa Al-Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan bahwa sesungguhnya Allah itu Esa/satu. Kemudian, aku cari lagi dari kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan. Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini:
“Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9).

Sungguh perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al-Ikhlash firman Allah Ta’ala,
“ Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian “tiga dalam satu”  tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.
Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku, aku menemukan pada hizqiyal sebagai berikut,
“Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak ‘ ” (hizqiyal: 18: 20-21).

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini apa yang dikatakan Al-Qur’anul Karim pada masalah ini,
“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain “
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya Majusi.”
Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang ada/datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?
Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari kuletakkan Injil dan Al-Quran di depanku, kutujukan pertanyaan pada Injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil. Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al-Quran telah bercerita tentangnya,
“Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya: ““sungguh Al Quran telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikit pun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam,
“Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6).

Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil BARNABAS, berbeda dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat, seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al Quran Al Karim.
Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163),
“Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian, kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72),
“Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru! Saat Muhammad datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al-Masih menjawab: Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi dan Rasul-rasul, yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya sebagai satu bukti.
Setelah ini semua, aku berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi padanya, saat ini tidak ada di hadapanku, kecuali Islam. (Lihat kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqoddim).

Para pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu “alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.
Pertama: manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman,
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).

Kedua: Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman, ;
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah: Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu (mau) masuk Islam? “ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).

Ketiga: Aqidah tauhid adalah fitroh manusia. Allah berfirman,
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf: 172-173).

Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah berfirman,
“ Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu. Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).

Kelima: Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman,
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan (tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”. Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).

Walhamdulillahi robbil alamin.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Diambil dari Buletin Al-Wala’ wal-Bara’
= = = = =

SITUA OJEK HUTAGAOL (H ABD. RAZAK H) :
MENEMUKAN KEBENARAN DALAM ISLAM

Saya, ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.
ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H. Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama Situa Oak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah, sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian saya menunaikan ibadah haji.
Keluarga kami sangat taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil, papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau, ia sering memarahi saya.
Proses awal saya masuk Islam, melalui pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan dengan kitab suci Al-Qur’an. Temyata Al-Qur’an lebih konsisten, baik dalam redaksi maupun ajarannya.
Di antara perintah (ayat) Injil yang tidak dipatuhi umat Kristen adalah soal keharusan memakal kerudung bagi kaum wanitanya, termasuk perintah tak boleh memakan daging babi, seperti tertuang dalam Injil Matius 5:17 dan Imamat 11: 7. Umat Kristen tak mempedulikan larangan ini. Lain halnya dengan Islam yang selalu menaati perintah tersebut.
Lalu masalah teologi, yakni konsep ketuhanan yang sangat membingungkan dan tak masuk akal, yaitu mengenai masalah trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Jadi, menurut saya, falsafah Kristen itu sudah tak dapat dipercaya.
Saya juga memperhatikan munculnya aliran (sekte) yang ada di dalam agama Kristen Misalnya, ada pendeta di Guyana, Amerika Latin, yang memerintahkan jemaatnya untuk melakukan bunuh diri massal, dengan tujuan ingin bertemu Tuhan Ini menurut saya tak masuk akal. Tapi dalam Islam, seperti di pesantren-pesantren atau di majelis-majelis taklim, tak pernah ada hal semacam itu.
Sebab itu, saya bertekad untuk mendalami Islam lebih jauh. Dan, ternyata Islam memberikan cakrawala berpikir lebih rasional. Sehingga Islam itu bisa dikaji dan didiskusikan seperti mengenai masalah haram, makruh, halal, dan lainnya. Islam itu juga tak mengenal dogma-dogma.

Saya juga teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami — mungkin tidak ada orang yang percaya. Ceritanya terjadi ketika saya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar menyuruh saya untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat. Perintah ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.
Saya waktu itu dalam keadaan sadar. Saya tak mengerti, apakah suara itu suara jin atau apa. Tapi, saya berpikir keras. Setelah proses mengkaji itu, mungkin ini perintah Allah kepada saya. Kejadian ini seringkali muncul ketika saya sedang dalam keadaan susah.
Saya mengibaratkan kejadian yang selalu mendadak ini sebagai ilham kepada saya. Apa yang selama ini saya anggap gaib, ternyata dapat saya rasakan. Hingga akhirnya saya memilih Islam sebagai pegangan hidup.
Sebulan kemudian, saya menjalankan ibadah umrah yang dibiayai oleh Haji Darmanto. Selesai umrah, saya banyak belajar mendalami Islam dengan bimbingan Ustadz Drs. H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan Yayasan Pendidikan Muallaf. Saya juga terus mendalami Islam di yayasan pendidikan Islam serta pesantren-pesantren lainnya.
Cobaan Iman
Setelah masuk Islam, banyak pula cobaan yang menimpa saya. Di antaranya waktu kembali dari ibadah umrah, saya ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan atas pengaduan orang tua saya. Dan ternyata, penangkapan itu dipimpin oleh ipar saya sendiri. Tapi akhirnya persoalan selesai dan semuanya telah saya maafkan.
Sedangkan orang tua saya sekarang ini masih belum bisa memaafkan saya. la belum juga mau menjumpai saya, walaupun saya sudah melakukan kompromi dengan berbagai pihak untuk mengadakan pertemuan itu. Tapi, sampai saat ini belum berhasil. Mudah-mudahan Allah bisa memberikan hidayah kepadanya.
Saya juga mengalami cobaan dalam hal ekonomi. Dulu, saya seorang kontraktor yang sukses dan hidup sangat kecukupan. Tapi, sekarang ini saya diuji Allah, dengan dihilangkan sebagian dari harta yang saya miliki. Sekarang saya hidup sederhana.
Saya cukup pusing dengan sikap anak-anak saya yang tidak mau menerima kenyataan ini. Mereka selalu bertanya, “Mengapa dulu sebelum ayah masuk Islam hidup kita berkecukupan, bisa punya mobil mewah, bisa beli apa yang diinginkan. Tapi sekarang, setelah ayah masuk Islam hidup kita menjadi susah?”
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat saya sedih. Bagaimana saya harus menerangkan kepada anak-anak saya itu? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Hanya bisa memohon kepada Allah dan selalu berzikir dan terus berusaha. Karena anak-anak saya belum bisa menerima Islam, sedangkan istri saya sudah dapat menerima dan sudah saya islamkan.
Saya terus berusaha membuktikan kepada anak-anak kami bahwa sebenarnya Islam itu tidak membuat orang jadi melarat. Allah juga membuktikannya kepada saya melalui rezeki yang tak diduga-duga. Ini saya yakini sebagai anugerah Allah kepada saya. (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/).

= = = =

HANDOKO MATAN AKTIVIS GEREJA :
HIDAYAH ITU DATANG LEWAT MIMPI

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga ia mengubah keadaannya sendiri. Itulah yang dialami Handoko. Karena kegigihannya yang kuat untuk mencari kebenaran sejati, akhirnya Allah membukakan pintu hidayah Islam. Berikut penuturannya.
AKU lahir di Surabaya tahun 1974 dengan nama Handoko (34). Meski bukan remaja lagi, aku merasa masih berusia 16 tahun. Baru 16 tahun aku merasa hidup, tepatnya tahun 1991 ketika kalimat syahadat mengalun merdu dari kedua bibirku. Masa-masa mencari kebenaran sejati sangatlah berarti. Terlalu dalam untuk dikisahkan, terlalu indah untuk dikenangkan. Aku tumbuh di lingkungan Nasrani. Aku diangkat sebagai anak oleh donatur gereja. Semasa kecil aku begitu penurut, rajin ke gereja dan mengkaji Injil. Seiring berjalannya waktu aku tumbuh menjadi remaja yang kritis. Kecerdasan otakku membuatku mengugat agama turunan yang telah diwariskan kepadaku.
Kisah ini bermula ketika aku mendapati segerombolan waria. Dalam pandangan umum mereka adalah makhluk yang berdosa karena menyalahi kodrat Tuhan. Padahal, kalau waria itu bawaan sejak lahir siapa yang salah? Apakah ia tidak bisa masuk surga? Bukankah Tuhan telah menciptakan makhluknya seperti itu? Kenapa Tuhan tidak jadikan semua makhluk di dunia ini baik? Mengapa Tuhan yang Mahapencipta telah menciptakan manusia dengan kelainan genetik sementara ada banyak manusia sempurna? Benarkah Tuhan itu adil? Di mana letak keadilan itu?

MIMPI ANEH
Pertanyaan itu selalu berlalu-lalang di benakku manakala senyap malam rembulan pasi mengantar tidurku. “Tuhan jika benar Kau Mahapenyayang, sayangilah aku yang ragu. Tunjukkanlah kebenaran kepadaku! Pintaku dengan penuh pengharapan.”
Lama aku merenung dan berdoa namun hidayah belum juga tiba. Aku percaya Tuhan itu ada tapi aku tak percaya dengan semua ajaranNya. Aku pun mulai putus asa. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menganut ajaran agama apapun. Setelah 6 bulan hidup dengan kehampaan, kutemukan jawaban segala keraguan. Aku atheis, tidak bertuhan.
Tatkala aku tertidur nyenyak. aku bermimpi diangkat dari tanah kemudian di bawa ke langit dan dijatuhkan ke bumi entah oleh siapa aku tak mengenalnya. Di hadapanku muncul dua jenazah yang dimasukkan ke dalam kubur. Suasana senja, serba oranye, aku mengigil ketakuatan. Perasaanku bercampur tidak karuan. Di padang mahsyar itu, aku melihat bumi dan langit. Aku melihat 2 jenazah. Sebuah simbol suami istri kelak akan mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya. Aku melihat neraka. Aku lari ketakutan. Muncullah sosok pria sepuh memberhentikan lariku. “Nak kau takut, maukah kau tidak takut?” tanyanya.
“Aku ingin tidak takut” jawabku.
“Kalau kau ingin tidak takut maka pelajarilah Alquran”. Tiba-tiba aku terbangun dari tidur. Nafasku belum teratur. Aku masih mengigil ketakutan. Larut malam dan deras hujan Maret yang menusuk keheningan menjadi saksi bahwa aku mendapatkan hidayah Allah yang telah lama kunanti-nanti. Sejak saat itu aku bertekat memeluk Islam dan memperdalam Islam.

BANTUAN DIHENTIKAN
Sebagai anak gereja aku wajib menunaikan ibadah layaknya orang Kristen. Namun, karena keyakinanku telah berpindah, otomatis takkan kuinjakkan kaki lagi ke gereja. Akibatnya, pengurus gereja menghentikan semua beaya hidupku, termasuk beasiswa. Aku pun keluar dari STM PGRI 2. Aku melanglang buana mencari ketenangan hati. Aku sadar akan datang suatu hari, ketika semua mulut dikunci dan kesempatan untuk memperbaiki diri takkan ada lagi. Selagi nyawanya masih bersemayam diraga, aku berjanji akan mengapai rida-Nya. Aku tak peduli meski harus hidup terlunta.
Sebagai permulaan, aku belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah dari teman lama di SMP 10 Surabaya yang bernama Rahmat. Setelah Fasih, aku rajin mengikuti pengajian-pengajian di masjid. Aku bahkan sering mengadakan kunjungan ke pesantren-pesantren untuk memperdalam Islam.

Aku mengunjungi salah satu pondok pesantren di Pasuruan untuk memperkokoh agamaku yang masih tergolong rapuh. Selain itu, aku juga belajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda 3 bulan. Tak lupa aku mengikuti pengajian yang ada di masjid-masjid terdekat, belajar agama melalui buku yang kupinjam dari teman-teman remaja masjid, membaca tabloid Islam, dan buku apa saja sampai sekarang. Tentunya, sambil bekerja serabutan.
AL QU’RAN VS INJIL
Datanglah seorang wanita aktivis gereja untuk mengembalikan aku kepada agama nasrani. Kubiarkan saja ia memaparkan apa dan bagaimana Injil itu. Lambat-laun aku justu menawarkan tafsir Alquran sebagai bandingan untuk diskusi. Wanita itu pun menyetujui. Lama-kelamaan kami terbiasa berdiskusi. Dalam kondisi seperti itu, aku mengatakan bahwa aku seorang muslim. Alangkah kagetnya wanita penginjil yang bernama Puji Utami.
Setelah membandingkan dan mengkaji Islam lebih dalam, wanita yang kritis itu menemukan bahwa Yesus bukan Tuhan, Yesus manusia. Puji utami akhirnya mangakui Islam sebagai satu-satunya agama yang paling benar. Tepat 17 Januari 2007, ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Alhamdulillah, setelah berjuang untuk mendapatkan cinta sejati, cinta kepada Rabb, kini aku telah mendaptakan bingkisan dari-Nya sebuah kado yang istimewa, wanita muslimah telah siap menjadi pasangan tulang rusukku. Akhirnya, aku menyunting Puji.
Sesungguhnya di balik kesusahan, akan ada kemudahan. Sekian lama kuarungi hidup dengan kesabaran dan ketabahan. Akhirnya, anugerah dari Allah bertubi-tubi menghampiri kami. Usai menunaikan Sholat Jum’at, HP-ku berbunyi. Aku tak menyangka yang menelpon adalah Bapak Teguh Wibowo, SH, direktur PT. Cahaya Addin Abadi. Aku diminta kerja di tempatnya. Sepontan aku mengucapkan syukur kapada Allah Yang Maha Pemurah atas limpahaan anugerah. Kini, di usia yang semakin matang aku ingin terus mematangkan ketauhitan. Bahkan aku tak lupa mengemis kepada Allah agar selamat dunia dan akhirat. 04/mg/tabloidnurani.com
= = = =

ANAKKU DIRAMPAS KARENA “AKU MEMILIH ISLAM”

Kalau bukan karena kemurahan Allah, sudah gila aku menghadapi liku-liku perjalanan nasib. Murka keluarga, cacian sanak kerabat, cemoohan teman, memberondongku tanpa ampun. Bak anjing kurapan pembuat onar, ali disiksa sadis. Bahkan selembar selembar nyawa ini nyaris hilang. Muaranya satu, karena aku masuk Islam.
Mulanya memang aku seorang Katolik taat. Orangtuaku pimpinan dewan gereja. Mereka terpandang dan sangat dosegani. Bukan status sosialnya saja yg membuat pamor tersohor, tapi juga kekayaan yang kami miliki. Banyak orang menjuluki kami tuan tanah. Gemilang kemewahan membuat pribadiku keras hati. Apa saja mauku selalu ingin dituruti. Tapi, lama lama hatiku meradang. Tanpa tahu penyebabnya, aku kerap dilanda perasaan resah. Bosan. Tidak bersemangat.
Persaan tak karuan itu kontan berpengaruh pada seluruh kegiatanku. AKu jadi suka bolos sekolah dan malas kegereja, Sampai guru dan teman teman mencapku anak nakal. Padahal sebenarnya aku sering menyendiri. Ingin mencari jati diri.
Hingga suatu saat, aku disadarkan pada sebuah takdir yang harus kuterima. Aku seringkali didatangi mimpi mimpi aneh. Keanehan mimpi itulah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam hidupku.
HIDAYAH LEWAT MIMPI
Lelaki paruh baya berbaju dan bersorban putih dengan selendang hijau tiba tiba muncul dalam mimpiku. Dia menanti dipertigaan jalan yang biasa kulewati menuju gereja. “Nak, jalan kamu bukan kesitu!” tegurnya. Lalu dia tunjukkan sebuah jalan lurus yang bercahaya. Setiap kali mau melangkah, ada telapak tangan bertuliskan Lafaz Allah.
Ugh.. untung cuma mimpi. Sebagai orang Katolik, aku khawatir dengan mimpi ini. Namun ternyata malam malam berikutnya, mimpi yang sama terulang lagi. Sejak saat itulah aku dilanda perasaan aneh. Semacam dis-orientasi. Aku enggan bersekolah. Ke gereja pun tidak sama sekali. Anehnya aku malah penasaran terus mengenal Islam.
Mimpi senada terus mendatangi selama setahun lebih. Bahkan suatu ketika, setiap mau tidur, di dalam kamarku sering kudengar orang sholawatan, qasidahan, serta segala ritual lain yang biasa dikerjakan umat Islam. Penasaran, lalu kutanyakan pada orang seisi rumah, apakah mereka mendengar seperti yang kudengar. Ternyata tidak. Malah ketika kuceritakan mimpi-mimpi anehku, mereka mengatakan bahwa mungkin leluhurku yang beragama Islam sedang kangen padaku.
Aku tak digubris. Sementara mimpi anehku datang lagi. Kali ini aku dikasih jubah putih. “Pak, saya kan Katolik, bagaimana mungkin saya Shalat?” tanyaku. Lelaki itu lalu mengajakku ketanah lapang. Disana banyak sekali orang berpakaian serba putih. Oleh lelaki itu aku diajarkan membaca Al-Qur’an, dituntun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Herannya dengan pasrah kurelakan diriku melakukan semua itu.
“Pegang tongkat ini nak, bimbing orang-orang itu pergi Haji!”, pesanya. Hatiku dilanda ketakutan luar biasa. Tak lama kudengar azan. Badanku bergetar menggigil. Setelah azan, dalam mimpi itu kubaca surah Yaasin.
Apa sebenarnya maka mimpi itu? Dalam mimpi aku diajarkan membaca Al-Qur’an, begitu terjaga benar benar bisa kubuktikan bahwa aku bisa. Subhanallah… Hatiku yang lusuh kontan terang.

Ada perasaan pedih jika aku meninggalkan shalat. Sementara kalau tidak kegereja, hati ini biasa biasa saja. Perasaanku kini gampang melunak, mudah tersentuh, padahal sebelumnya sangat egois. Hati jadi lembut. Mengapa bisa hanya dengan mempelajari buku-buku Islam aku berubah seperti ini? Sekonyong konyong aku menjadi pribadi penuh santun dan menghormati orang lain.

BABAK AWAL PENYIKSAAN ITU
Sejak itu kudalami Islam. Kubeli buku buku tuntunan ibadah, beberapa kaset ceramah K.H. Zainudin MZ yang waktu itu jadi trend, serta sebuah jilbab. Tentu saja kegiatan baru itu ini kulakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sangat menikmatinya. Maka lama-kelamaan sudah bisa kulaksanakan sholat, puasa, bahkan berjilbab.
Syahdan aku menjadi muslim sebelum aku benar-benar sah sebagai seorang muslim. Inikah hidayah itu?

Interesku akan jilbab ini memicu tindakan yang lumayan ekstrim. Alu sering datang ke mesjid layaknya seorang muslimah. Aku ingin bertanya pada orang-orang disana tentang tata cara gerakan sholat. Aku tahu tindakan ku bakal menuai resiko besar. Kalau sampai penyemaranku sampai terbongkar, aku pasti dibunuh.

Tapi kawan, tidak bisa kugambarkan perasaan ini ketika aku telah mengenal Islam. Ketika aku membawa AL-Qur’an, Tasbih, Yaasin, hatiku tenang. Relung hatiku syahdu.

Untuk mempelajari Islam lebih lanjut, kudatangi sanak kerabat yang muslim. “Bisa gila aku kalau sampai tidak bisa masuk Islam, kak!” kataku kepada mereka. Malangnya, reaksi mereka diluar dugaanku. Tak satupun yang percaya bahwa aku ingin masuk Islam. Mungkin karena keluargaku termasuk keluarga Katolik berpengaruh, mereka tak mau ambil resiko jika harus menampungku.

Serapat rapat bangkai ditutup pasti akan tercium juga. Saat pembagian raport, ‘aktivitas baruku’ akhirnya terbongkar. Pasalnya pihak sekolah memberitahu orangtuaku bahwa aku nunggak bayar SPP berbulan-bulan. Belum lagi aku sering bolos sekolah. Aku di interogasi. Aku bersikukuh tidak menceritakan aktivitasku yang sedang mendalami Islam.
Hingga suatu ketika aku berpapasan dengan teman kakakku dijalan. Dia mengamatiku penuh selidik. Sebab waktu itu aku sedang berjilbab. Jujur aku gugup. Takut ketahuan. Ternyata benar firasatku. Saat tiba dirumah, aku langsung babak belur dihantam oleh kakakku yang kebetulan seorang tentara.
Masya Allah. Inilah awal petaka itu. Seperti orang kesurupan , tubuhku dihujani pukulan dan tendangan. Aku roboh. Sepatu laras dengan tubuh besarnya menginjak tubuhku yang tak berdaya. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh Tuhan. Sakit sekali. Darah bereceran. Aku pingsan. Bibirku robek. Badanku biru lebam.
Celakanya tidak satupun yang mau melindungiku. Malah mereka menggeledah kamarku. Mereka temukan semua “simpananku”, Al-Qur’an, buku-buku tuntunan ibadah, tasbih, sajadah. Mendapatkan itu semua, kakakku yang kejam makin blingsatan menyiksaku.
Allahui Akbar. Tubuhku tak kuat lagi. Tapi hei, anehnya nyaliku ini sama sekali tak ciut. Semakin keras sikasaan menimpaku, semakin aku merasa punya kekuatan.
“Ananda ingin masuk Isam…” pintaku lirih dengan suara parau.”Gila kamu! Sinting!! Otakmu sudah tidak waras!! teriak saudara saudaraku. Bak pencuri yang tertangkap basah, aku jadi bulan bulanan. Yaa Allah! Tolong aku!
MALAIKAT PENOLONG
Mereka menduga aku dipengaruhi oleh seseorang. Untuk anak sebayaku yang sedang ranum begini, jejaka mudalah yang jadi sasaran curiga mereka. Dikiranya aku sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda muslim. Padahal pacaranpun aku tidak pernah.
Sejak peristiwa itu aku dikurung. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, mereka menegorku, Pukulan bak suguhan makanan. Dalam satu minggu, kadang lebih dari 20 kali kakakku menyiksaku. Tapi masya Allah, semakin aku ditekan begitu, keinginanku masuk Islam malah semakin kuat. Ketenangan dan kedamaian yang kutemukan dalam Islam membuatku mudah berbesar hati.
Satu satunya cara agar aku lepas dari cengkeraman keluarga adalah keluar dari rumah. Kuutarakan pada keluarga bahwa aku ingin melamar kerja disebuah perusahaan besar. Padahal yang terpikir olehku adalah melamar jadi pembantu. Entah kenapa mereka membiarkan aku melenggang.

Jauh dari rumah kurasakan kebebasan nyata. Tapi aku belum juga melaksanakan niatku untuk masuk Islam. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria. Dia seorang Intel. Kayaknya bertemu kawan lama, kuceritakan keinginanku masuk Islam dan penyiksaan keluarga.
Dia sangat terkejut. Sadar akan bahaya yang mengintaiku setiap saat, dia menawarkanku untuk pergi kekapmpung halamannya. Disana aku ditempatkan disebuah pondok pesantren. Dan atas bombingan tokoh agama setempat akhirnya aku dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

MEREKA MERAMPAS ANAKKU
Rupanya lelaki yang menolong itu ditakdirkan Allah menjadi suamiku. Beberapa bulan kemudian kami menikah. Dan tak lama kami dikaruniai anak. Aku hamil. Melihat kebahagiaan ini, menyarankan agar aku silaturahmi mengunjungi orang tua dan sanak keluargaku. Mungkin dengan kehadiran anakku nanti hati mereka lunak.
Aku pulang seorang diri karena suami sedang ditugaskan keluar daerah. Begitu sampai dirumah, ternyata drama penyiksaan itu kembali disuguhkan. Aku dikurung hingga waktu melahirkan. Kondisiku yang berbadan dua ternyata tidak mengibakan hati mereka. Bahkan ketika aku berhasil melahirkan, anakku langsung direbut.
Kawan, hati ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya. Tak boleh aku berdekatan dengan anakku. Bahkan untuk menyusui sekalipun. Selama aku tidak mau ke gereja tak akan ada kesempatan menimang anakku.
“Apa kamu bisa besarkan anak padahal kamu kere!” Begitu jawaban saudara saudaraku jika aku meminta anakku. Hatiku remuk redam.
Mereka kembali mengejekku, menertawakanku. “Rasain, siapa suruh masuk Islam!” Kesalahan sedikit yang kubuat selalu dijadikan senjata oleh mereka untuk mengintimidasiku. Bahkan saat anggota keluarga yang lain yang melakukan kesalahan, tetap kesalahan dituduhkan padaku. Mereka ciptakan jarak, sepertinya aku ini tak pantas berada ditengah tengah mereka.

Sampai suatu ketika ada kesempatan untuk kali kedua, aku kembali berhasil kabur. Walau harus kutinggalkan anakku. Kelak jika Allah mengizinkan aku akan menjemputnya.
Saat itu sedang ramai ramainya orang mendaftarkan diri sebagai TKW. AKu ikut mendaftar dengan harapan bisa dibawa pihak perusahaan pergi jauh.
SUAMI SELINGKUH
Aku kembali ke kampung halaman suamiku. Namun mertuaku kecewa karena tak bisa melihat cucunya. Sementara suami yang sedang tugas di rantau tak juga kembali. Malah kudengar kabar suamiku selingkuh. Aku berusaha sabar. Apapun yang terjadi. Alhamdulillah, akhirnya rumah tangga kami selamat. Bahkan tak berapa lama kami dikarunai beberapa anak.
Namun itu tak lama. Suamiku kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Dia jarang pulang. Sering menginap dirumah kos wanita simpanannya. Padahal aku sedang hamil lagi. Ya Allah, semoga ujian ini menjadi jalan agar kau tambah sayang padaku!.
Aku jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Aku berusaha tak mau tahu walaupun tahu. Namun aku tak mau dibuat bimbang, apakah suami menceraikanku atau tidak. Akhirnya, kutemui suami ditempat simpanannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kudapati suami sedang tidak berbaju dengan perempuan itu. Dan teganya dia mengusirku sambil menjatuhkan talak.

Sempat kupikir, mungkin suami begini karena aku tak kerja (lantaran hamil). Memang penghasilanku cukup lumayan. Bahkan dari hasil kerja kerasku bisa kubangun rumah, beli kendaraan, tanah, ternak sampai menyekolahkan saudara-saudara iparku.
Aku tetap ingin mempertahankan rumah tanggaku. Subhanallah. Allah Maha Mendengar. Suamiku sadar kembali. Tapi inipun tak lama. Suamiku selingkuh lagi. Parahnya kini dia jadi tukang pukul. Tidak ada ujung pangkalnya, dia sering memukuliku. Dia tidak mau menyentuhku. Bahkan dengan tegas dia mau tinggal dengan simpanannya. Yang sangat menyakitkan, dia membawa anak anak kerumah kontrakan itu.
Dihadapkan pada persoalan sebesar in, beruntung kepalaku tetap dingin. Perasaanku tetap tenang. Tidak mudah tersulut emosi. Aku sendiri heran, mengapa aku bisa sekuat ini.
Ketika kuputuskan mendatangi suamiku, rasa cemburu dan amarah bisa kutekan. Malangnya, dia malah menjatuhkan talak, memaki dan menempelengku.
Yang kusesalkan, ulah suamiku kali ini didukung bapak mertua dan saudara-saudaranya. bahkan bapak mertua rela menceraikan ibu mertuaku gara-gara ibu mmebelaku.
Suamiku semakin gila. Kini dia berani membawa simpannnya kerumah. Bahkan berbuat mesum dikamar. Kutemukan suami sedang berzinah. Seketika itu juga aku pingsan. Dan disaat aku tak sadar, mereka sedang siap-siap kabur. Menyadari situasi yang membahayakan anaknya, bapak mertua membantu kabur sambil membawa anak-anakku. Aku heran, kenapa mertua mendukung anaknya dalam kemaksiatan?
Begitu siuman muka dan badanku dihantam ketembok. Sampai bibirku sobek. Saat itu juga dia jatuhkan talak tiga. Aku berusaha mengiba agar dia jangan menceraikanku. Namun ia menjawabnya dengan tendangan. Ya Allah, kuabdikan diri ini untuk mereka, suami dan keluarganya. Karena kuanggap orangtuaku telah tiada. Namun tak satupun peghargaan diberikan atas pengorbananku.
Tak kusangka tanpa sepengetahuanku rumah dan harta bendaku telah dibalik nama atasnama suami dan nama saudara saudaranya. Aku diusir. Setelah sebelumnya mereka mengeroyokku. Semua pintu rumah ditutup. AKu dicekik. Aku megap megap teriak minta tolong. Oh teganya mereka melakukan ini, padahal aku sedang hamil lagi. Mirisnya mertuaku tak percaya. Ia menuduhku bahwa itu bukan janin cucunya.
Aku bingung mau kemana. Untuk beberapa saat aku hidup dari belas kasihan orang lain. Hingga akhirnya aku lari kepondok pesantren.
Tak berapa lama kudengar kabar suami meninggal. Ia tewas tertembak saat sedang bertugas. Allah memisahkan kami saat kami belum berbaikan. Tapi sudah kuikhlaskan semua kelakuannya. Tidak ada kebencian sedikitpun terhadap dia. Kuanggap dia sedang tersesat dan harus dibimbing. Akupun berusaha berpikir positif. Kalau dia hidup hanya akan terus menerus berbuat dosa, lebih baik dia diambil Allah.
Masa melahirkan semakin dekat. Aku tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk pihak pesantren. Dengan berbagai pertimbangan, kucoba telpon kerumah. Tak diduga respon mereka baik. Bukan seperti yang kubayangkan. Mereka berjanji tidak akan menyiksaku jika aku pulang.

LEPAS DARI MULUT HARIMAU, KEMBALI KE MULUT BUAYA
Sambutan hangat benar-benar kurasakan saat kakiku kembali menginjak rumah. Terima kasih, ya Allah, mereka tulus menerimaku. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi belum genap sebulan, penyiksaan gila itu terulang lagi. Bahkan kini lebih sadis.
Aku tidak diberi makan, Kalaupun dusuguhi makanan, makanan itu makanan haram, seperti daging babi atau anjing. Dua anakku telah berhasil dibaptis. Sementara yang belum terus dibiasakan ke gereja.
Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. “Kakak dan adik saya nggak, sama mama?” tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. “Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita”.
Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. “Ya Allah… ingin sekali kugenggam tanganMU..”. “Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!”

YA ALLAH TOLONG KAMI
Kabur sedari dulu kurencanakan. Tapi penjagaan ketat membuatku tak berkutik. Lagi pula aku bingung mau kabur kemana? Tetapi kalau tidak lari mereka akan membaptis anak anakku. Aku khawatir akidah anak anak akan terkikis.
“Allahu Akbar.. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat” membukakan jalan. Sehari sebelum dibaptis, hujan besar terus menerus. Dari pagi kemalam, hingga pagi lagi. Semua penghuni rumah terlelap. Biasanya mereka tidur diruang tengah sambil mengelilingi anak anakku. Tapi malam itu mereka masuk kamar masing masing.
Kuajak anakku tiga orang. Sementara yang dua tidak bisa. Tak mungkin mereka kubawa lari semua, berjalan selama berkilo-kilo menuju kerumah saudaraku yang Islam. Sayangnya tidak satupun yang mau menerima kami, karena mereka tahu kondisi pengawasan terhadapku semakin gawat. Mereka takut keluargaku yang terpandang dan punya pengaruh besar itu mengamuk.

Yang bisa mereka lakukan hanya memberi sumbangan ala kadarnya. Saat itu juga terkumpul dana 300 ribu rupiah. Aku disuruh kerumah saudara yang ada di pulau seberang.

Maka malam itu juga kami ke dermaga. Malangnya kapal baru berlayar dua hari lagi. Oh jadi selama itu kami harus bermalam di dermaga.
Perasaan haru dan bersalah tak bisa kututupi melihat ketiga buah hatiku. Yang kelas kelas 3 & 1 SD, serta yang berumur 1.5 tahun. Kami bertahan hidup dengan makan seadanya. Beruntung kedua anakku yang bersekolah sudah biasa puasa, sehingga dua bungkus nasi sudah cukup untuk makan sehari.
Pelarianku kepulau seberang ini ternyata tak bisa bertahan lama. Kabar tentang keluargaku yang tahu akan keberadaanku membuat saudaraku dipulau itu panik. Mereka tahu dari daftar nama penumpang. Apa susahnya bagi kakakku tang tentara itu menyelidiki keberadaanku??

Akhirnya kuputuskan untuk kembali kerumah mertua. Apapun resikonya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menyelamatkan aqidah anak-anakku. Meski mertua kejam kepadaku, tapi tidak kepada cucu-cucunya.
Adapun pekerjaanku disebuah LSM Internasional kini sudah berakhir. Rupanya atasanku dekat dengan tanteku yang Katolik. Bosku membujuk agar aku kembali lagi ke Katolik. Aku ditawari rumah mewah dengan wilayah domisili dibeberapa negara hebat didunia. Bahkan dia akan membuat asuransi pendidikan buat anak-anakku agar dapat bersekolah sampai level tertinggi.

Biarlah kesengsaraan menggelayutiku. Toh kedua tangan dan kakiku masih berfungsi. AKu akan cari kerja lagi. Aku ingin dapat tempat tinggal agar cepat bisa berkumpul dengan anak-anakku.

Nun jauh dilubuk dasar hatiku terselip perasaan rindu dapa orang tuaku. Demi Allah, aku masih menyayangi mereka meski aku disisihkan dan dicampakkan. Yang aku inginkan hanyalah pengertian mereka akan keputusanku memilih islam.
Pernah kucuci kaki kedua orangtuaku dan kuminum air basuhannya. Tapi mereka bergeming. Dan akupun sama. Tak sejengkalpum kuubah pendirianku dan kembali keagama lama. Walau harus kehilangan segala-galanya, aku rela. Aku tak rela jika Islam tercerabut dariku lalu aku meninggal dalam keadaan murtad, tanpa menyebut nama Allah, tanpa zikir Laa Ilaaha Illa Allah… Aku tidak rela.

= = = =

PENDETA YAHUDI ITUPUN BERSYAHADAT

Awalnya, kedatangan Shimon, seorang Rabbi Yahudi di Islamic Forum membuat curiga. Siapa sangka, Shimon justru tertarik Islam dan mengucapkan syahadat.
Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu ingin lebih mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku kenali sama sekali. Salah satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut pendek yang terurus rapih. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak memperhatikan dengan seksama tapi terlihat cuwek.
Aku sangka bahwa orang ini adalah seorang Muslim karena wajahnya mengekspresikan persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan siang itu. Tapi, nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik dengan penjelasan saya itu.
Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum terdahulu. Merujuk pada kata-kata “kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum” (sebagaimana telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), saya kemudian merujuk kepada beberapa fakta sejarah puasa umat-umat terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat saya intens menjelaskan ayat ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.
“Yes Brother!” sapa saya. “Can I say something?” tanyanya. Tentu dengan senang saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena tiba-tiba masuk ke kelas ini tanpa permisi. “I feel I did some thing impolite”, katanya. “Oh no, this forum is open for every person, and doesn’t require any registration. You are in the right place on the right time”, jawabku.
“What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is your name?”, tanyaku. “Sorry, I am Shimon!”, jawabnya.
Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat lancar dan seolah berceramah dia bersungguh-sungguh menjelaskan sejarah dan makna puasa dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan penjelasan itu, hampir semua yang hadir terkejut. Melihat situasi itu, sayapun bertanya: “Sorry Brother, are you a Muslim or not? And why do you know a lot about Judaism?”.
Sedikit gugup dia kemudian mengatakan: “Imam, actually I am a Rabbi. I was ordained Rabbi two years ago”. Mendengarkan penjelasannya itu rupanya membuat banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the Forum for non Muslims ini ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). Apalagi dalam penjelasannya tentang puasa itu seperti mendakwahkan ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga kalau-kalau dia datang untuk sebuah misi.
Saya kemudian menyapah dengan ramah dan mengatakan: “Welcome to our class sir!”. Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan kepadanya bahwa saya sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-pendeta Yahudi, seraya menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New York . Mendengarkan nama-nama itu, rupanya cukup mengagetkan bagi dia. “All those are very respectful Rabbis!” katanya. “Yes, I am fortunate to have known them and be known by them!” kataku.
Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelasannya mengenai puasa di agama Yahudi. “It’s almost similar to ours. The only thing that you guys keep changing it throughout the history”. Mendengar itu, nampaknya dia setuju dan hanya mengangguk.
Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang ingin tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, penjelasan mengenai puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya tiba sesi tanya jawab.

Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan waktu masih ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan untuk menjelaskan agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Quran dan sejarah. Bahwa memang Al-Quran menyinggung secara gamblang sikap orang-orang Yahudi terdahulu, mulai sejak nabi Ya’kub hingga nabi-nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat nabi Musa A.S.

Sejarah pergulatan politik, agama, kultur dan budaya antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah S.A.W di Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum Kristen. Bagaimana penguasa Islam di Spanyol memberikan “kesetaraan” (equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian Yahudi dari pengusiran dan “inquisasi Spanyol” kaum Kristen di Spanyol.

Penjelasan-penjelasan saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh Shimon. Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan sebenarnya kebanyakan buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat Yahudi itu justeru ditulis oleh mereka yang non Muslim dan bahkan mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya bahkan mengutip pernyataan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara interfaith di PBB tahun lalu.
Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-tiba Shimon sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, mengangkat tangan. “Yes Brother, any comment?”, pancingku. “Yes, I think what you just said, for us Jews, are well known”, katanya. Dia kemudian berbicara panjang lebar mengenai upaya penyembunyian fakta-fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui bahwa bagi mereka yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya kepada risalah terakhir dan nabinya.

Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda: “If so, do you consider yourself a genuine Jew or not”. Dia sepertinya tertawa, tapi nampaknya karena kepribadian dia yang memang kurang tersenyum dan nampak seperti cuwek, dia menjawab: “To be honest with you, I believe that this is the religion of Moses”. He came with the same mission that Mohamed brought around 15 centuries ago”, tegasnya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi: “So you believe that Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is the true teaching of God?”, tanya saya. Dengan tenang dia menjawab: “I am sure about that. But I really don’t know what to do”.
“Brother Shimon”, basically you are a Muslim. What you need to do is simply you need to formalize your faith with the presence of witnesses”, jelasku.
Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum tapi melihat raut wajahnya dia sepertinya cuwek. Tapi karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti tidak serius, tapi memang itulah kepribadiannya. Tiba-tiba dia bertanya: “And how to do that?”. Saya menengok pada peserta lainnya yang juga ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab: “Brother, it’s very easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and Messenger. Are you ready?” tanyaku.
Setelah dengan mantap menjawab “yes”, saya kemudian mengatakan kepada peserta lainnya yang hampir semuanya muallaf, “be witnesses for Allah!”. Maka, dengan suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi mengucapkan “Syahadaaten”, diikuti kemudian oleh pekikan takbir para peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita itu. Dan Ramadan kemarin adalah awal Ramadan baginya dengan puasa penuh secara Islam.
Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon mendekati dan berbisik: “I don’t know if this is an appropriate question to ask”, katanya. “What is that?”, tanyaku. “Who was that lady sitting to your right side, and is she married?”, tanyanya. “Why is the question?” tanyaku lagi. “I think it is the time for me to be serious in my life. I need a wife”, katanya serius.
“Ok Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. But let me know next week”, jawabku. “Sorry Imam if that is considered inappropriate to ask”. “Oh not at all. It is in fact an important thing to ask. And believe me, it is also my responsibility to help you in this regard. We will talk next Saturday about it”, kataku sambil meninggalkan kelas.
Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan dijadikan da’I yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin!
New York , 29 Oktober 2007
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di http://www.hidayatullah.com

= = = =

PENDETA KRISTEN :
MENGAPA SAYA MASUK ISLAM ?
M. ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik)
http://swaramuslim.com/ebook/more.php?id=2526_0_11_0_M

BAGAIMANA SAYA MENGENAL ISLAM
Sejarah ibarat roda, selalu berputar dan berputar. Demikian pula dengan manusia. Apa yang baru dihari ini, akan usang dikeesokannya, apa yang baik hari ini, belum tentulah baik kemudiannya. Dunia penuh dinamika dan romantika. Sayapun penuh dengan dinamika dan romantika. Pada tahun 1964 saya naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, entah suatu kesengajaan yang sudah diatur oleh Tuhan ataukah bagaimana, tetapi yang jelas saya telah duduk berdampingan dengan seorang yang mengaku bernama Haji Mahmud, yang tertarik oleh ketekunan saya membaca injil.
Akibatnya berdialog, dan dalam dialog itu ia memberikan pada saya “Sebuah ajaran Islam,” yang bunyinya:  “Kul huallahu Ahad, Allahus samad, Lam yalid walam yulad, Walam yakun lahu kufuwan Ahad, “ yang artinya: Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnva Allah itu Esa tempatmu bergantung. Ia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Ia tiadalah mempunyai tandingan.”
Haji tersebut menerangkan, bahwa Islam bukan hanya sekedar Agama, tetapi juga suatu risalah, suatu ideologie dan suatu falsafah, yang cocok untuk sega]a bangsa dan golongan. Islam tidak mengenal diskriminasi, dan jabatan, dan pangkat, itulah sebabnya dalam mesjid hanya dipakai tikar, dan dalam sambahyang semua ummatnya harus tunduk hingga mukanya ke bumi tanpa memandang dia itu apa dan siapa.
DORONGAN SAYA UNTUK MENYELIDIKI INJIL
Kalimat-kalimat Lam yalid Qalam yulad, benar-benar merupakan kalimat pendorong pada saya untuk menyelidiki apa sebenarnya Islam itu. Itulah sebabnya saya lalu dihinggapi penyakit “memborong” buku-buku Islam, baik itu karangan Prof. Dr. Hamka, Sallaby, Ashiddiqy, Imam Ghozali, Rosyidi, maupun kepada Al-Qur’annya sendiri, yaitu tafsirannya, dan kitab hadits-hadits. Iman saya kepada Kristen makin lama makin luntur. Satu persatu dogma dogma Kristen tidak dapat saya terima lagi. Pertanyaan hati saya tentang Tuhan itu tiga tetapi satu; juga tentang Yesus itu manusia dan Yesus itu juga Allah, tentang dosa keturunan. Salib dstnya satu persatu terjawab dalam Al-Qur’an secara jelas. Dan untuk ini saya kira karena saya mengadakan penyelidikan pengulangan terhadap Injil. Sudah tentu bukan penyelidikan secara dahulu lagi yang mendasarkan pembacaan kepada sola fide, tetapi penyelidikan baru, yaitu dengan menggunakan ratio, dan menggunakan kitab suci yang lain (Taurat & Qur’an) sebagai bahan pembanding.
MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL DAN NABI ALLAH
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa Yesus disamping mengajarkan tentang keesaan Tuhan, Hukum Taurat, Cinta kasih dan Kebenaran, maka jangan lupa pula bahwa Yesus juga mengajarkan tentang “Akan datangnya Dia, sesudah aku.” .  Didalam Perjanjian Baru pemberitaan ini sangat jelas kalimat-kalimatnya dan bahkan didalam Perjanjian Lamapun tiada ketinggalan. Baiklah, kita baca sekarang didalam Perjanjian Baru dahulu, yaitu dalam Injil Yahya 14: 16-17:
“Aku, Yesus akan memintakan kepada Allah, supaya kamu diberinya Paraclet yang lain, supaya tinggal diantara kamu selama-lamanya. Yaitu Rokh Kebenaran, maka isi dunia ini tiada mengenalnya, adapun kamu ini kenal akan dia, karena dia ada tinggal bersama-sama dengan kamu selamanya.”
Jelas saya kira, bahwa nabi Isa akan mengirimkan Dia, Rokh Kebenaran, yang akan dikenal oleh murid-muridnya. Didalam kata-katanya yang asli, maka yang dipakai Isa bukannya Rokh Kebenaran ataupun Rokhulkudus, tetapi ia menggunakan istilah Paraclet. Paraclet atau Para-Cletos artinya ialah Yang Ikhlas atau Yang Terpuji. Kata-kata atau ayat inilah yang kemudian ditafsirkan oleh orang-orang Kristen dengan istilah Rokhulkudus, sebagai penggenap bagi oknum Allah yang ketiga.
Benarkah Paraclet berarti Rokhulkudus? Untuk mengkaji persoalan tersebut, baiklah kita lanjutkan pembacaan kita pada Injil Yahya 16:5-14 yang bunyinya:
5. Tetapi sekarang itu Aku pergi kepada Dia yang menyuruh Aku. Tiada seorangpun diantara kamu yang bertanya kepadaku: Hendak kemana?
6. Oleh sebab Aku mengatakan kepadamu perkara itu, penuhilah hatimu dengan duka-cita.
7. Tetapi Aku ini mengatakan yang sebenarnya kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jika Aku undur daripadamu, karena jika Aku tiada undur, tiada juga penghibur itu akan datang kepadamu, tetapi jikaIau aku pergi kelak, Aku akan menyuruhkan Dia kepadamu.
8. Setelah Dia datang akan menerangkan isi dunia ini dari hal dosa, dan kebenaran dan hukuman.
9. Dari hal dosa, sebab tiada orang percaya akan Daku. 10. Dari hal keadilan, sebab Aku pergi kepada Bapa dan tiada kamu melihat Aku lagi.
11. Dan dari hal hukuman, sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan.
12. Maka banyak perkara bagi yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang tiada kamu boleh menanggung akan dia.
13. Melainkan apabila ia datang, yaitu Rokh Kebenaran, maka ia akan membawa kepada segala jalan kebenaran, karena tiadalah Dia berkata-kata daripadaku atas dari Yesus ini sehingga olehnya bolehlah kami mengetahui rahasia-rahasia yang sebenarnya. Dengan perkataan lain yang susunannya lebih sederhana tetapi tidak pula menyimpang dari isinya maka dapatlah disusun sebagai berikut:
a. Kalau Isa tidak pergi maka dia tidak datang (ayat 5)
b. Nabi itu amat penting, sehingga olehnya Isa akan pergi (ayat 7)
c. Nabi itu datang membersihkan dunia ini dari dosa (ayat
d. Nabi itu datang menempelak dunia sebab manusia tidak percaya Isa lagi (ayat 9)
e. Nabi itu menghukumkan seluruh dunia (ayat 11)
f. Nabi itu berkata-kata karena diperintah (ayat 12)
g. Ia mengabarkan perkara-perkara yang akan datang dan kebenaran kebenaran (ayat 13)
h. Ia memuliakan Yesus (ayat 14)
i. Dia mengambil apa yang dipunyai Isa yaitu kerasulan dan kenabiannya (ayat 14)

====

MARIA CHRISTIN MAMAHIT :
DISIKSA KARENA MASUK ISLAM

Saya terlahir di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sejak kecil saya dididik dan dibesarkan di lingkungan masyarakat dan keluarga kristiani yang taat, khususnya Kristen Protestan. Apalagi papi saya, Drs. Edward Mamahit, seorang pendeta dan pensiunan ABRI. Sebagai seorang pendeta, papi sering memberikan siraman rohani di gereja. Sebagai anaknya, tentu saja saya dituntut untuk mengikuti papi setiap kali diadakan kebaktian.
Semula nama saya Maria Christin Mamahit. Saya adalah alumnus Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, mengambil Jurusan Teknik Sipil. Saya lulus dengan meraih gelar insinyur. Pada tahun 1984, saya hijrah ke Jakarta. Di kota ini saya menikah dengan seorang Aria bernama Albert Pepa, yang juga penganut Kristen. Sejak menikah saya tinggal di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Dari perkawinan itu, saya memiliki empat orang anak yang masih kecil-kecil.
Sebetulnya saya mengenal Islam cukup lama. Sebelum menikah, diam-diam saya telah mempelajari Islam dengan membandingkan kitab suci Al-Qur’an dan terjemahannya dengan Kitab Perjanjian Lama serta Perjanjian Baru, tanpa sepengetahuan suami dan keluarga.
Rupanya ayat suci AlQur’an yang saya baca telah mengguncangkan iman kristiani saya. Sungguh, ketertarikan saya pada Islam kian menggebu-gebu, hingga saya mencoba urttuk mendalami ajaran Islam lebih luas lagi.
Setelah saya banding-bandingkan, saya lantas menarik kesimpulan bahwa ajaran Islam ternyata agama yang mulia dan diridhai Tuhan. Tidak hanya itu, Kitab Injil Perjanjian Baru yang selama ini menjadi pegangan umat kristiani, ternyata telah direkayasa dan banyak kebohongannya. Yang jelas, saya sudah mendalami kristologi selama empat tahun. Sedangkan Kitab Perjanjian Lama, menurut saya, ada sebagian ayatnya yang hampir sama dengan Al-Qur’an, seperti pernyataan bahwa agama terakhir adalah agama Islam.
Masuk Islam dan Disiksa
Karena bersemangat, secara spontan saya mengungkapkan keinginan untuk masuk Islam di depan suami saya. Mendengar kata-kata saya itu, saya lihat wajah suami saya seperti mendengar halilintar di siang bolong. Betul saja dugaan saya itu. Suami saya murka besar.
Tanpa belas kasih sedikit pun, ia menghujamkan pisau dapur ke tubuh saya sebanyak lima tusukan. Di depan anak-anak saya yang masih kecil, suami saya seperti orang kerasukan setan. Ia mencabik-cabik tubuh saya. Ya Allah…, seketika tubuh saya roboh dan berlumuran darah. Sementara masyarakat yang menyaksikan kejadian itu hanya diam terpaku.
Singkat cerita, saya tetap meneguhkan tekad untuk masuk Islam, walaupun saya tahu suami dan papi saya akan membenci. Pada tanggal 30 Mei 2000, di Masjid Jami Al Makmur, Klender, Jakarta Timur, saya bersama. kedua anak saya yang ketiga dan keempat resmi masuk Islam. Nama saya yang semula Maria Christin diganti menjadi Siti Khadijah.
Apa yang terjadi setelah saya masuk Islam? Sepulang ke rumah, suami lagi-lagi menganiaya saya. Badan saya disiram air panas, hingga kulit sekujur badan melepuh kesakitan. Sedangkan telinga putri saya yang masih kecil, usia enam tahun dicengkeramnya keras-keras.
Sejak itu saya pisah dengan suami. Saat itu, saya tak tahu ke mana harus berteduh, hingga saya harus singgah dari masjid ke masjid. Terakhir di sebuah masjid bersejarah di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Papi yang mendengar kabar saya masuk Islam, sudah tak lagi menganggap saya sebagai anaknya.Tetapi, saya tetap menganggap beliau sebagai papi saya.
Setelah dua kali percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh suami terhadap saya, maka saya menuntut keadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hingga akhirnya suami saya dinyatakan bersalah oleh hakim dan dikenai sanksi hukuman dua bulan penjara. Tapi, sebelumnya saya pernah diancam oleh pengacara suami agar saya mencabut tuntutan saya ke pengadilan.
Meski saya disiksa oleh suami dan tidak diakui lagi oleh keluarga sendiri, demi Allah, saya tak gentar dan takut mati. Apa pun rintangan, ujian, dan cobaan yang saya hadapi, saya tetap menjadi muslim sebagai jalan hidup saya sampai mati. Sebab, agama yang paling mulia dan diridhai Allah adalah agama Islam. Sungguh, saya tak ingin tersesat selamanya.
Akhirnya, saya dengan kedua putri saya bergabung di Yayasan Anastasia Yogyakarta, sebuah yayasan yang didirikan para mualaf untuk mendapatkan pembinaan dan pendalaman Islam labih jauh lagi. Pak Kudiran, adalah seorang mantan pendeta yang mengajak saya untuk bergabung di Yayasan ini. Di Yayasan ini, saya ingin menjadi seorang mubalighah, insya Allah. Saya hanya mohon doa dan para pembaca. (Adhes/Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

====

GEREJA PAROKI ITU SELALU PENUH JAMAAH SETIAP HARI JUM’A
Sebuah gereja Paroki Our Lady of Assumption di Ponzano, setiap hari hari Jumat dipenuhi para jamaah, tapi bukan jamaah Kristiani yang menghadiri misa, tapi jamaah Muslim yang akan menunaikan salat Jumat.

Gereja itu memang berubah menjadi “masjid” setiap hari Jumat, karena digunakan warga Muslim di kota Ponzano-kota yang terletak dekat Venice, Italia-untuk salah Jumat berjamaah. Di Ponzano terdapat sekitar 11. 500 orang dari 232 keluarga imigran yang kebanyakan berasal dari Afrika Utara dan Eropa Timur.

Pastur Keparokian, Don Aldo, 69, sudah sejak dua tahun lalu memeberikan sebagian ruang gerejanya untuk digunakan sebagai tempat salat Jumat bagi warga imigran muslim. Setiap hari Jumat, tempat itu dipenuhi sekitar 200 warga Muslim. Tapi di bulan Ramadhan, jumlah warga Muslim yang datang ke tempat itu untuk beribadah bisa mencapai 1.000 – 1.200 orang.
“Mereka (warga Muslim) meminta izin pada Saya untuk menggunakan ruangan itu, dan saya bilang boleh saja, ” kata Pastur Don Aldo.
“Tidak ada gunanya bicara soal dialog keagamaan, tapi membanting pintu di depan muka mereka. Bagaimana mungkin kami menutup pintu buat mereka, ” sambungnya.
Sikap Pastur Don Aldo, bukan tidak menuai protes dan kritik dari para jamaahnya, bahkan dari para uskup dan pendeta di lingkungannya. Namun Pastur Aldo beralasan ia tidak perlu meminta izin pada keuskupan untuk berbuat baik pada orang lain.
“Lagipula saya lebih tua dari para uskup itu dan saya adalah profesor yang mengajar mereka di seminari. Bahkan jika saya dilarang, saya tidak mematuhi mereka, ” kata Pastur Aldo mempertahankan keputusannya.

Bahkan ia mengatakan, “Umat Islam yang salat lebih baik daripada umat Kristen yang tidak pernah berdoa. Kalau Anda bilang saya seorang rasis, Anda salah. ”

Sejak Pastur Aldo memberikan izin sebagian ruang gereja paroki digunakan sebagai tempat salat Jumat warga Muslim, ia mengaku banyak menerima surat dan email yang mendesak agar Pastur Aldo “tetap berkumpul dengan komunitasnya.” Di antara surat yang diterimanya ada yang berbunyi, “Orang-orang ini adalah para imigran, kemudian mereka meminta tempat dan mengusir kita. ”
Suara protes juga dilontarkan publik. Wakil Presiden federasi para politisi sayap kiri, Luca Zaia meminta keuskupan untuk menjelaskan posisi gereja dalam masalah ini, agar tidak menjadi preseden buruk dalam sejarah Venice. Zaia beralasan, di beberapa negara Muslim, umat Kristen tidak dizinkan untuk beribadah dengan bebas.
Komentar juga dilontarkan oleh seorang warga seperti dikutip harian La Reppublica. “Yang paling menyedihkan, gereja Our Lady of Assumption jamaahnya lebih banyak pada hari Jumat dibandingkan hari Minggu. Mudah-mudahan pastor Aldo tidak ikut masuk Islam, ” tukasnya.
Meski demikian, mayoritas warga masyarakat Ponzano menyatakan mendukung apa yang dilakukan Pastor nya, satu hal yang unik di tengah gencarnya penolakan kalangan anti-Islam di Italia terhadap warga Muslim. (ln/Islamicity/eramuslim).
YAHYA SCHROEDER : DIANGGAP GILA SETELAH MENEMUKAN ISLAM
Sebelumnya, ia menikmati hidup dengan hura-hura. Pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan. Pokoknya “happy.” Tapi ia dianggap “gila” setelah menemukan Islam
Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs http://www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesama saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.
Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman.
Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. “Mereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,” ungkap pemuda murah senyum itu. Na’uzubillah!.

Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.

“Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab. Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.

Masa remaja penuh ceria
Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy, “ ujar Yahya mengenang.
“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,’ sambungnya.
Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.
Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.
Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. “Ceritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.”
“Di rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: “Nak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.” Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.”
Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.”Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.
“Operasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” kenang Yahya.
“Dokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: “Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.” Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.
“Kecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,”ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.

Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.
“Kecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.”

Mengucap dua kalimah syahadah
Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.

“Ada teroris”, “Usamah bin Laden datang,”  “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.
“Aku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya
Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!
“Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang.
“Mereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,” imbuhnya.
Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. kongkow-kongkow; lalu ada kelompok punk; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya.
“Kecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang “cool. ” Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,” kisah Yahya.
Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya.
“Bukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. Amiin,” harapnya sembari berdoa.
Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang muallaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.
“Tujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah. [zulkarnain jalil (Aceh)/www.hidayatullah.com]
sumber Photo : http://www.friendster.com/photos/45098069/1/933401031
====

TAUBAT KUMPUL KEBO, STEVE EMMANUEL MASUK ISLAM

Jakarta Sabtu (24/5/2008) Steve Emmanuel resmi memeluk agama Islam. Setelah menjadi mualaf, Steve mengubah namanya menjadi Yusuf Iman.
Dibimbing pentolan FPI, Habib Riziq, Steve Emmanuel membaca dua kalimat syahadat dan ikrar mualaf. Prosesi tersebut disaksikan oleh puluhan orang dari wartawan, anggota FPI, dan pengacaranya.

“Senang, bahagia, merasa excited.Sebentar lagi mau bulan puasa, mungkin ini jadi awal yang baik untuk saya,” ujarnya usai resmi menjadi Yusuf Iman.
Soal nama yang dipilihnya Steve mengaku terinspirasi penyanyi terkenal Cat Steven. Ketika Steven menjadi mualaf, ia mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Sebelum mantap mengucap syahadat menurut Steve ia sudah berkonsultasi dengan sang ibu. Selain itu berbagai buku tentang Islam dan agama lainnya.
“Godaannya banyak banget. Seperti ketika teman-teman saya sampai dengan kemarin, masih menelpon saya, menanyakan, Steve loe yakin loe mau pindah agama,” celoteh Steve menirukan pertanyaan temannya.

Usai prosesi berlangsung, Andi Soraya, kekasih Steve datang ke tempat tersebut. Andi terlihat bahagia melihat pria yang pernah dekat dihatinya itu kini telah menjadi mualaf.
(fta/rac/detikhot)

Niat Jadi Mualaf, Steve Emmanuel Izin Ibu
Steve Emmanuel rupanya tak main-main saat menyatakan ingin jadi mualaf. Sebelum akhirnya memeluk Islam melalui bantuan pimpinan FPI, Habib Rizieq, Steve pun minta izin dulu pada ibundanya.

“Steve sudah minta izin sama orangtuanya dan ibunya juga paham, ibunya mengerti lah,” jelas kuasa hukum bintang sinetron ‘Siapa Takut Jatuh Cinta’ itu, Milano Lubis, saat dihubungi detikhot melalui telepon, Jumat (23/5/2008).
Menurut Milano saat ini Steve masih memeluk agama Kristen. Ibunya juga menganut agama yang sama, malah seorang misionaris.
Steve yang keinginannya jadi mualaf tak direspons teman hidupnya Andi Soraya, akhirnya meminta bantuan pihak lain. Ia kemudian dibimbing pengacara Indra Shanun Lubis.
Indra menyarankan Steve menjadi mualaf lewat bimbingan Pimpinan FPI Habib Rizieq. Mengapa Habib Rizieq?

“Kita mencari orang yang besar, biar ada pengaruhnya ke Steve, biar Steve tergugah,” jelas Milano.(eny/eny/detikhot)

Steve Emmanuel Tobat Kumpul Kebo

Jakarta Memeluk agama Islam, Steve Emmanuel membacakan ikrar. Salah satu janjinya, tak lagi tinggal dengan wanita yang bukan istrinya.
“Mulai saat ini, tidak akan minum-minuman keras, tidak pakai narkoba, tidak akan tinggal dengan orang yang bukan muhrim saya, kecuali dalam ikatan pernikahan,” ucap Steve yang kini berubah nama menjadi Yusuf Iman dalam ikrar yang diucapkannya di Markas FPI Jl. Petamburan 3, Jakarta Barat.

Habib Riziq pentolan FPI membimbing Steve membacakan ikrar tersebut. Setelah Steve resmi beralih kepercayaan, Habib Riziq meminta masyarakat agar tak lagi melihat dosa-dosa masa lalu kekasih Andi Soraya itu.
“Saya tidak akan mau mengungkit masa lalu Yusuf. Biarkanlah itu berlalu,” tukas Habib Riziq.

Soal status anak yang lahir dari hubungannya dengan Andy Soraya, menurut Habib Steve tetap harus bertanggungjawab terhadap anak tersebut. Walau secara status anak tersebut adalah anak ibunya, tetapi Steve alias Yusuf tetap punya kewajiban secara moral.
Setelah membacakan ikrar, rencananya Steve akan dikhitan. Proses tersebut akan dijalaninya di sebuah klinik di kawasan Menteng.
“Deg-degan pasti ada. Takut dan sakit pasti ada, sekarang kan udah ada laser. Jadi nggak terlalu sakit. Kalau anak kecil bisa masa orang gede nggak,” cetus Steve eh Yusuf sambil tersenyum.(fta/rac/detikhot)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The brave boys

THe Brave Boys

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Puisi ini aku persembahkan untuk Husni Mubarak

Hai Husni Mubarak
Kau terlalu lama tiggal di Barak
Kau bungkam rakyatmu yang berteriak
Kau tidak peduli Rakyatmu kau Palak
Kau biarkan utang negrimu semakin membengkak
Tetapi hartamu semakin membludak
Kau hidup begitu Tamak
Kau biarkan Rakyatmu hidup dibawah lapak
Tetapi kau sendiri hidup mewah di rumah berlapis Perak
Kau seperti tidak punya Akhlak
Hatimu keras seperti biji Salak
Kau terlihat begitu Galak
Kau mau rakyatmu kau tembak
kau mau berkuasa hingga beranak pinak
Apapun keingian rakyatmu pasti kau tolak
Sekarang darah rakyatmu sudah semakin bergejolak
Sudah saatnya kini kau tidak punya Hak

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TERIMA KASIH TELAH HADIR DISINI

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment