KISAH ABRAHAM YANG MENARIK DI DALAM KITAB BIBLE

KISAH ABRAHAM YANG MENARIK DI DALAM KITAB BIBLE
Disusun oleh : Rahmanhadiq

Abraham adalah seorang yang dianggap telah melahirkan 3 agama besar dari keturunannya. Ketiga agama ini sama-sama mengklaim bahwa agama mereka yang diturunkan langsung dari Allah dengan bukti kitab yang mereka miliki. Apakah kitab PL dapat dijadikan bukti sebagai Taurat asli dari Allah SWT ?
Marilah kita buka hatinurani kita, kita buka pemikiran kita yang terbaik dan sejujurnya untuk menilai kebenaran kisah Abraham yang tertulis di dalam kitab Taurat atau Perjanjian Lama di dalam Bible. Disini kita hanya menggunakan hatinurani dan akal budi yang terdapat di dalam diri seorang manusia yang paling dalam untuk menilai sebuah kebenaran ataupun sebuah kepalsuan. Tentu saja kita tidak mungkin menerangkan secara historis, karena hal ini mustahil untuk dilacak dan kita tidak mungkin kembali ke zaman purba. Marilah kita bongkar secara logika dan hati nurani untuk membahas kebenaran ayat-ayat kitab suci Bible, lalu kita bandingkan dengan keterangan yang ada di dalam AL Qur’an. Karena kedua kitab tersebut dapat dijadikan sebagai rekam jejak yang paling otentik dan diakui oleh masing-masing penganutnya.
Saya akan coba analisa kebenaran kedua kitab tersebut dengan logika dan hati nurani saya demi untuk mendapatkan setitik kebenaran.
Kita mulai dari awal kisah perjalanan Abraham kenegeri yang dijanjikan oleh Allah sendiri.
1Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu ( Kej 12:1)
Allah menjanjikan negri (tanah) yang lebih baik bagi Abraham agar dapat melanjutkan kehidupan bagi anak keturunannya yang akan berkembang biak seperti banyaknya bintang-2 dilangit yaitu di tanah Kanaan itu ;
7Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. (kej 12:7)
17Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu (Kej 13:17).”
Kalau Ayat ini dari Allah, tentunya Allah tidak akan mengingkari janjinya, yaitu sebuah tanah yang lebih subur untuk menghidupi anakcucunya kelak. Tetapi apa yang terjadi ? Belum berapa lama Abraham menetap disana, masih belum melahirkan Istrinya Sarai, belum ada Ismael dan belum ada juga Ishaq, tenyata tanah yang dijanjikan oleh Allah tersebut mengalami bencana kekeringan dan kelaparan? Bukankah Allah sendiri yang menyampaikan perjanjiannya, bukankah tidak tertulis bahwa Abraham tidak berdo’a sebelumnya pada Allah, lalu kenapa Allah melanggar janjinya sendiri? Seorang manusia masih bisa memegang janjinya, tetapi Allah tidak konsisten dengan janjinya. Kenapa Allah memerintahkan Abraham meninggalkan tanah Leluhurnya yang lebih subur dibandingkan negeri Kanaan ini?
10Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu (kej 12 :10)”
Menurut logika dan akal budi yang baik dan benar , tidak mungkin Allah lebih rendah dari sifat manusia yaitu tidak dapat dipegang jinji-janjinya. Padahal Abraham sebelumnya tidak meminta Allah berjanji. Keterangan ayat ini seperti sebuah propaganda bagi umat Yahudi bahwa keturunan Abraham yang sudah dijanjikan tanah di daerah Kanaan itu.
Dari kitab kejadian ayat 10 diatas , maka wajar saja Abraham pergi meninggalkan tanah yang dijanjikan tersebut, karena tanah itu tidak ada harapan untuk anak cucunya. Bahkan Abraham berangkat meninggalkan negri itu, tanpa menanyakannya lagi pada Allah, tanpa meminta izin pada allah, tanpa memohon dihilangkan bencana itu. Sepertinya Abraham pergi tanpa pesan kepada Allah. Kemudian apa yang dialami oleh Abraham di negeri Mesir yang ternyata lebih kaya dan lebih makmur daripada tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham ? Menurut yang tertulis di dalam kitab Perjanjian lama yang dikira Taurat oleh Pendeta ini, ternyata Abraham melakukan sebuah tindakan yang sangat memalukan untuk ukuran seorang nabi yang akan menjadi contoh bapak dari seluruh bangsa dibumi ini.
Karena takut dibunuh oleh Fir’un, maka Abraham membuat siasat besar. Abraham menyuruh istrinya berbohong kepada Fir’un ;
12Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”( Kej 12:12-13)
Sepertinya Abraham sudah tidak punya pegangan hidup lagi sehingga dia tidak percaya lagi kepada Allah, dia ragu-ragu pada janji-janji Allah, dia menggantungkan nasibnya pada hasil siasat yang sudah direncanakannya dengan istrinya Sarai. Sepertinya Abraham lebih mementingkan jatah makanan daripada mati kelaparan. Sepertinya perjanjian lama menempatkan karakter Abraham lebih rendah dari seorang peminta-minta. Bahkan seorang pengemispun tidak akan sudi menggadaikan istrinya kepada orang lain. Apakah ini sebuah kitab suci yang menghormati seorang nabi. Apakah yang tertulis di dalam kitab perjanjian lama itu merupakan keterangan asli dari kitab Taurat?
Apakah yang dialami oleh Abraham selama di negri Mesir itu? Ternyata siasat yang dibuat oleh Abraham berjalan dengan mulus, bahkan Abraham dihadiahkan banyak hewan peliharaan , harta benda dan budak-2 laki dan perempuan.
16Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. (kej 12:16)”
Namun apa yang terjadi kemudian ? ternyata kebohongan besar Abraham sudah bocor ke tangan Fir’un, sehingga Abraham dipanggil untuk dinterograsi oleh Fir’un.
18Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: “Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? (Kej 12:18)
Kenapa Abraham baru mengaku setelah terdesak, bukankah seharusnya seorang calon bapak bangsa-bangsa tidak akan melakukan kehinaan yang memalukan tersebut? Kalau begini , apakah benar perjanjian Lama itu adalah kitab Taurat?
Lalu mengakulah Abraham , tetapi Abraham merasa tidak berdosa dan tidak melakukan penipuan. Abraham membela dirinya dengan mengatakan bahwa dia berkata benar, karena Sarai adalah adik tirinya ;
19Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? (kej 12:10)
Abraham tetap tidak bergeming untuk mengakui kebohongannya. Bagaimana seorang bapak banga-bangsa bisa bemain kata-kata serendah itu? Bukankah niatnya sebelumnya adalah untuk menghindari kematian demi mendapatkan jatah makanan dari raja manusia yang lebih ditakutinya dari pada Allah? Bagaimana keterangan ini bisa masuk kedalam Perjanjian Lama yang katanya adalah Taurat. Sepertinya perjanjian lama telah menempatkan seorang nabi sebagai karakter yang lebih rendah dari seorang pengemis, bahkan seorang perampok sendiripun tidak akan melakukan kelicikan seperti Abraham tersebut.
Tetapi ternyata raja manusia lebih baik dari pribadi seorang bapak bangsa-bangsa. Fir’un membebaskan Abraham tanpa syarat , serta menyerahkan semua barang , harta dan budak yang pernah diberikan pada Abraham. Cerita ini menempatkan Abraham sebagai manusia biasa , bukan sebagai bapak bangsa-bangsa. Kenapa kitab perjanjian lama menempatkan Abraham pada kondisi yang begitu buruk ? Jelaslah bahwa kitab perjajian lama bukan kitab taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Tidak mungkin Allah memilih Abraham sebagai nabi yang dijanjikan untuk mendapatkan kemualiaan itu, tetapi dihinakan di dalam catatan kitab PL.
Apa yang terjadi setelah Abraham tidak diterima lagi di Mesir yaitu setelah Abraham dideportasi oleh pemerintah Mesir dengan cara yang halus.
Setelah Abraham sudah kaya raya dari hasil peternakannya hadiah Fir’un, lalu Abraham bertanya kepada Tuhan kenapa dia belum juga diberi anak seorangpun ;
2Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” 3Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kej 15:2)
Keterangan ayat diatas menunjukan bahwa Abraham kuatir , apabila tidak punya anak maka hartanya yang banyak itu akan dinikmati oleh pembantu dan budak-budaknya. Abraham tidak tulus berdo’a kepada Allah, beliau hanya merasa ketakutan dan cemas kalau hartanya jatuh pada orang lain. Kemudian Allah menjawab permohonan Abraham ;
4Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.(Kej 15:4)”
Didalam keterangan ayat diatas, sudah ada ketentuan dari Allah kepada Abraham bahwa dia akan mendapatkan seorang anak, tetapi anak yang akan lahir tersebut tidak akan mempunyai hak-hak sebagai anak terhadap Bapaknya, artinya anaknya itu akan kehilangannya hak sebagai anak. Anak yang dimaksud oleh ayat ini adalah anak bibologis saja. Seorang anak tidak mempunyai hak terhadap bapaknya, sehingga kelak anak ini boleh dibuang tanpa diberikan haknya , begitulah ketentuan Allah yang berlaku untuk bapak segala bangsa ini. Sebuah ketentuan ayat yang aneh. Bagaimana mungkin Allah sendiri yang menciptakan perbedaan dalam hirarki sebuah keluarga. Artinya yang menciptakan perbedaan kasta dan perlakuan tidak adil di dalam keluarga bersumber dari Allah. Sepertinya Allah bukan merupakan sosok yang mampu berbuat adil dan memberikan contoh persamaan hak kepada umat manusia, khususnya kepada Abraham yang akan ditunjuk sebagai panutan bagi seluruh manusia. Ayat ini benar-benar ngawur. Tidak sejalan dengan pemikiran hatinurani manusia yang menyababkan perbedaan kasta di dalam kebudayaan manusia. Tentu saja umat Kristen dan Yahudi tidak mampu membantah ayat ini, karena tertulis atas firman Allah. Padahal kontek ayat ini adalah untuk menghalangi perdebatan dari umatnya. Hanya orang yang punya keberanian dan logika yang jernih mampu menentang ayat ini.
Bukankah peradaban manusia sepanjang sejarah terus berusaha memperjuangan persamaan Hak azazi? Tetapi keterangn PL ini bertentangan dengan perjuangan manusia beradab. Bagaimana Abraham memberikan contoh yang baik sebagai bapak bangsa-bangsa kalau dia sendiri tidak dapat berbuat adil di dalam keluarganya sesuai dengan perintah Allah ? jadi ketentuan ayat ini benar-benar cacat secara akal budi. Jelas bahwa ayat tersebut bukan buatan Allah , tetapi sebuah propaganda untuk membangga-banggakan sesuatu kaum.
Singkat cerita, Abraham pun mengawini seorang budak yang dibawanya sebagai hadiah dari Frir’un yang bernama Hagar. Pada masa kehamilnya , Hagar mendapat tekanan dari Sarai, istri tua Abaraham, karena tabiat hagar yang dipandang tidak menunjukan kesopanan sebagai pembantu dimata Sarai, sehingga Hagar sempat diusir. Hagar dipandang sebagai pembantu yang tidak lagi hormat kepada bekas majikannya sehingga membuat Sarai Iri dan tersinggung. Lalu Hagarpun diusir oleh Sarai ;
“4Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. ( kej 16:4)
PL tidak menjelaskan bentuk ungkapan memandang rendah yang diperlihatkan oleh Hagar kepada majikannya itu. Ketika Abraham menerima laporan dari istri tuanya Sarai, Abraham pun menyerahkan Hagar kepada keputusan Sarai ;
6Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik. (kej 16:6)
Setelah mendapat izin dari Abraham, maka Sarai langsung menindas bekas pembantunya itu ;
“6Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. (kej 16:6)
Pertanyaannya adalah ; perkataan dan penghinaan apakah yang dilontarkan oleh Sarai kepada Hagar sehingga Hagar memilih lebih baik pergi meninggalkan rumah suaminya dari pada tetap berada di tempat itu. Bukankah selama menjadi pembantu pada keluarga terhormat itu, Hagar masih mampu hidup bersama mereka? namun setelah dia dijadikan istri, Hagar justru memilih minggat dari rumah bekas manjikan tersebut. Tentu saja penindasan yang dialami Hagar lebih berat dirasakannya dibandingkan ketika dia masih menjadi budak, sehingga dia memilih lebih baik keluar saja. Bukankah seharusnya mereka memperlakukan Hagar lebih baik dari pada sebelumnya? Tetapi Abraham sebagai suami dari Hagar tidak menunjukan sifat keadilan dan kasih sayangnya sama sekali. Hal ini menunjukan bahwa Abraham dan istrinya Sarai tidak lebih baik dari manusia kebanyakan yang tidak pantas menyandang gelar Bapak dari segala Bangsa.
Bagaimana kitab perjanjian lama menceritakan kemelut rumah tangga dari seorang nabi yang tidak dapat mencerminkan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sekurang-kurangnya memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya memperlakuan seorang istri yang berasal dari kasta yang lebih rendah. Hal ini sama saja dengan penghinaan dan perbedaaan derajat dalam rumah tangga yang mulai dicetuskan oleh seorang Nabi dengan izin Allah. Begitulah yang diceritakan oleh Kitab Perjanjian Lama, sebuah kisah dongeng yang tidak menyentuh harkat keadilan dan kemanusiaan.
Ketika Hagar sudah jauh meninggalkan rumah tangisan itu, lalu datanglah malaikat Tuhan yang merasa kasihan kepada Hagar;
“9Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya (kej 16:9) “
Ternyata kedatangan Malaikat Tuhan tersebut bukan untuk menghibur kesedihan Hagar, tetapi menyuruh Hagar kembali kerumah majikannya. Kedatangan Malaikat Tuhan itu bukan untuk mencarikan jalan keluar seperti mencarikan penginapan atau tempat lain yang lebih baik. Tetapi justru menginginkan Hagar tersiksa lagi dan membiarkan saja tindakan tidak adil, dia dipaksa menerima nasibnya dengan pasrah tanpa boleh menunjukan sikap kritisnya. Nasibnya sudah ditentukan sebagai budak yang harus menerima nasib sebagi budak. Semua pihak telah merampas hak-hak seorang istri yang berasal dari kasta yang rendah. Bukan hanya Sarai saja yang memperlakukan Hagar sedemikian hina, tetapi Abraham juga, ditambah lagi Malaikat Tuhan yang tentunya sengaja dikirim oleh Tuhan untuk mencegah kepergian bekas Budak tersebut, dan ada lagi yang paling berkuasa untuk meniadakan hak-hak Sarah dan anaknya sebagai orang yang tertindas yaitu Allah, sebagaima yang telah disampaikan pada ayat di atas (kej 15:4).
Bagaimana mungkin ayat-ayat yang tidak menunjukan nilai moral yang dapat dicontoh tersebut berada di dalam Kitab Perjanjian Lama? benarkan Kitab perjanjian lama ini merupakan kitab Taurat yang asli. Sepertinya cerita ini tidak lebih dari sebuah dongeng yang tidak pantas diceritakan kepada anak didik karena akan merusak budipekerti mereka nantinya. Bahkan Malaikat Tuhan telah memberi gelar kepada calon anak Hagar itu dengan gelar “keledai liar” ;
12Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya. (kej 16:12)”
Artinya anak Hagar nantinya menjadi seorang yang suka berperang dan melakukan pertumpahdarahan, termasuk kepada saudara-saudaranya sendiri. Kitab Perjanjian lama ini menempatkan keturunan Abraham, dari Ismael sebagai keturunan bangsa penyamun yang dipandang rendah dan hina. Beginilah pandangan Kitab Suci Bibel yang sudah menanamkan bibit penghinaan dan merendahkan keturunan Abraham. Bagaimana mungkin sebuah kitab yang seharusnya tidak memberitakan sebuah bibit perbedaan ras dan bibit penghinaan kepada keturunan Abraham, ternyata benar-benar ada. Sepertinya kitab Perjanjian Lama ini merupakan sebuah propaganda untuk membangga-banggakan keturunan Abraham dari anaknya yang lain yaitu ishak. Jadi siapa sebenarnya yang menulis Kitab PL ini, kaum Yahudi atau Kaum Nasrani?
Akhirnya Hagarpun melahirkan anaknya dan diberi nama Ismael. Ketika Ismael Lahir umur Abraham sudah 86 tahun ;
15Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. 16Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.(kej 16:15-17)”

Ketika ismael berusia 13 tahun, atau ketika Abraham berusia 99 tahun, Allah datang menemui Abraham untuk mengadakan perjanjian ;
1Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (kej 17:1)”
Adapun isi perjanjian yang terpenting adalah ; seluruh keturunan Abraham yang laki-laki harus disunat pada umur 8 hari. Abrahampun menyunat anaknya Ismael pada usia 13 tahun, ketika perjanjian itu disepakati.
“13Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (kej 7:13) “
Ayat ini menampilkan sebuah perjanjian yang teguh dan kekal antara Abraham dengan Allah, yaitu perjanjian tentang disunat untuk seluruh keturunan Abraham yang laki-laki. Keterangan ayat dapat diterima sesuai dengan bukti-bukti yang ada. Bahkan Yeus pun disunat pada umur 8 hari. Tetapi ketentuan disunat ini sudah tidak berlaku lagi untuk selama-lamanya bagi penganut agama Kristen sekarang ini, padahal umat kristen masih mengaku sebagai keturunan Abraham.
2Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 3Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 4Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5:2)”
Ternyata Paulus menghapus hukum sunatan yang ada di dalam Taurat tersebut. Bahkan dia melarang hukum sunat itu dengan mengulanginya kalimatnya untuk memberikan tekanan dan ancaman sebanyak 2 kali; jika orang kristen yang bersunat maka dia wajib melaksanakan seluruh hukum Taurat sedangkan bagi yang tidak bersunat cukup Yesus menanggungnya. Begitu juga sebaliknya, jika umat Kristen mengharapkan kebenaran dengan menjalankan hukum Taurat, maka tidak ada harapan baginya untuk kembali pada kasih karunia Yesus.
Kalau umat nasrani tidak bersunat, lalu kenapa Yesus yang harus menanggung? Bukankah Yesus sendiri disunat ? bahkan Yesus menyatakan tidak melenyapkan satu titikpun hukum didalam kitab Taurat. Yesus disunat karena dia menghargai dan menghormati perjanjian Abraham dengan Allah tersebut, walaupun secara biologis Yesus bukanlah keturunan Abraham, karena Yesus lahir tanpa Bapak sehingga kelahiran Yesus akan menghapus jejak silsilah dari seluruh nenek moyangnya yaitu keturuan Abraham. Tetapi, Paulus yang tidak pernah disebutkan namanya di didalam Taurat, tiba-tiba membatalkan seluruh hukum-hukum Taurat. Sepertinya kitab pejanjian Lama dan Kitab perjajian Baru tidak dapat dipegang ketentuan-ketentuannya. Hal ini menunjukan bahwa kitab perjanjian Lama bukan Taurat dan kitab perjanjian Baru bukan pula kitab Injil.
Pada saat perjanjian sunatan itu, diwajibkan kepada Abraham beserta seluruh keturunannya, maka Allah menobatkan nama baru Abraham yang sebelumnya bernama Abram. Abraham berarti bapak sekalian bangsa. Begitu juga dengan Sarai sudah diganti namanya oleh Allah dengan Sara;
4″Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (kej 17:4).
“15Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya (kej 17:15).
Artinya Abraham dan Sara juga akan memiliki keturunan yang banyak .
Pada saat penobatan itu, pasangan dari Abraham dan Sarai masih belum memperoleh anak sama sekali. Tetapi penobatan itu sudah dilaksanakan oleh Allah. Sebuah pertanyaan yang menggelitik; kenapa Abaraham dan Sarah sudah dinobatkan sebagai bapak sekalian Bangsa padahal pada saat yang bersamaan, mereka belum punya anak sama sekali. Sebaliknya selama 13 tahun Abraham sudah menjadi Bapak dari istrinya Hagar, selama itu pula Allah tidak mengakui Abraham sebagai seorang Bapak. Sebuah perbedaan yang aneh sekali.
Sepertinya ayat ini sengaja dimasukkan dengan tujuan propaganda yang menunjukkan pengakuan yang syah dari sang pencipta. Jelas sekali ayat ini hanya menonjolkan sebuah perbedaan kasta dalam sebuah keluarga. Seolah-olah penulis kitab PL ini berlindung dibalik pengakuan Allah. Seolah-olah Tuhan sendiri yang mengakui “hanya Ishak yang belum lahir itulah anak Abraham”, sementara Ismael harus dibuang. Kenapa kitab PL banyak mengandung bibit perbedaan kasta. Apa mungkin Allah berada dibalik perbedaan kasta itu? Mustahil bukan ? Tentu saja umat Kristen dan Yahudi tidak mampu mebantah keterangan ini karena konteks ayat tersebut adalah Firman Allah.
Menjelang kehamilan Sara, Tuhan datang bertamu bersama 2 orang malaikat ketenda Abraham. Abraham menyuruh Sara dan beberapa pembantunya untuk menyiapkan hidangan yang terbaik yaitu berupa daging bakar dan roti;
“6Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!” 7Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. (kej 18:6-7)”
Setelah hidangan itu telah disajikan Abraham dihadapan tamunya, maka makanlah tamu-tamunya itu ;
“8Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan. (kej 18:8)’
Bagaimana mungkin Malaikat dan Tuhan, sama-sama menikmati hidangan yang disuguhkan oleh manusia, sementara tuan rumah hanya berdiri saja memandang tamunya sedang makan. Keterangan ini sangat sulit diterima dengan akal sehat. Apa mungkin Malakat dan Tuhan membutuhkan makanan yang dihidangkan oleh Abraham itu. Apa mungkin Malaikat dan Tuhan perlu makan agar tenaganya pulih dan segar lagi setelah makan untuk melanjutkan perjalanannya. Cerita yang tertulis di dalam Kitab perjajian Lama ini seperti sebuah cerita dongeng saja. Seperti cerita dongeng manusia zaman animisme dan primitif.
Tentu saja Al Qur’an membantah cerita khayalan ini ;
“ (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).(QS 51:28)”

Al qur’an memperbaiki cerita dongeng yang disampaikan oleh Perjanjian Lama itu. Dan menegaskan bahwa Abraham ketakutan ketika melihat gelagat dari tamunya tidak mau menjamah makanan yang disuguhkan oleh Abraham. keterangan dari Al Qur’an ini lebih masuk akal . keterangan Bible seperti dibuat-buat.
Bahkan keterangan bible yang mengatakan yang datang itu adalah Allah diantara Malaikat, diperbaiki oleh keterangan Al Qur’an. Sebenarnya yang datang itu hanyalah para malaikat saja;

” Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal (Qs Adz Dzaariyaat 51:24-25)”.

Masih banyak lagi yang tertulis di dalam Kitab perjanjian lama yang tidak realistis dan tidak bisa diterima logika berpikir sehat. Sepertinya Kitab perjanjian Lama ini merupakan catatan yang dikumpulkan dari cerita legenda yang digabung dengan cerita keagamaan.
Kita lanjutkan cerita kisah Abraham , dan kita akan temukan banyak lagi keterangan yang tidak masuk akal.
Pada saat menyantap jamuan dan hidangan bersama itu, Allah menanyakan tentang istri Abraham. Allah memberikan khabar bahwa istrinya akan hamil dan akan memperoleh anak tahun depan. Berita itu didengar oleh sarah di dalam tenda, lalu Sara tertawa merasa tidak percaya ;
“12Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua? (kej 18:12)”
Rupanya tertawa Sara terdengar oleh Allah, sehingga Allah balik bertanya pada Sara ;
“13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa? (kej 18:13)
Tetapi sara membantah bahwa dia tertawa ;
5Lalu Sara menyangkal, katanya: “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: “Tidak, memang engkau tertawa!”(kej 18:5)
Kenapa Sara menipu dirinya sendiri? bukankah Allah lebih tahu kalau Sara tertawa walau didalam hati sekalipun. Tetapi Sara menyangkalnya juga . Ini menunjukan bahwa Sara tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Tertawanya Sara bukan karena dia senang atau terkejut dengan berita kehamilan itu, tetapi Sara tidak mempercayai berita itu dan Sara mentertawakan berita dari Allah itu. Apakah karena ketidak jujuran Sara itu, maka anaknya diberi nama Ishaq (Ishaq = tertawa)? Cerita lelocon apa lagi yang dimasukkan kedalam kitab Perjanjian Lama ini. Tidak ada yang lucu ! Tetapi kenapa Sara ketawa?. Sepertinya pembaca diarahkan untuk mempercayai bahwa kata “Ishaq” artinya tertawa.
Ada-ada saja ide penulis Bible ini.
Pada acara perjamuan itu, Allah berpikir-pikir untuk menyampaikan sesuatu rencana kepada Abraham, yaitu rencana penghancuran negri Sodom dimana keponakan Abraham , “Lot” , tinggal disana.
“ 17Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?( kej 18:17)”.
Rupanya Allah bingung , seperti layaknya pikiran manusia. Tetapi anehnya lagi, kebingungan Allah ditulis didalam kitab PL. jadi siapakah yang megatakan Allah bingung ini? Atau siapakah yang menceritakan perasaan Allah di dalam kitab PL ini? Keterangan ini menempatkan Allah pada kemampuan dan tabiat yang sama dengan manusia, keterangan ini sama saja dengan melecehkan keputusan Allah. Sepertinya Allah mengalami keragu-raguan dalam mengambil sebuah keputusan. Apakah mungkin Allah bertanya dan meminta persetujuan dulu kepada Abraham? jelas cerita kitab PL merupakan hasil khayalan manusia bukan Tuhan yang membuat cerita ini.
Kemudian Allah memutuskan untuk memberitahu Abraham ;
“ 18Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (kej 18:18-19)”.
Kalau dibaca Konteks ayat diatas secara keseluruhan, maka kalimat diatas tidak menunjukan bahwa kata-kata itu berasal dari petunjuk Allah. Kelihatan kalimat tersebut merupakan pemahaman , pesan atau opini dari si penulis kitab. Kalimat “sebab Aku telah memilih dia,” ; kalimat ini ibarat kata-hati Allah yaitu Allah berkata-kata didalam pikirannya atau didalam hatinya sendiri. Padahal pada ayat sebelumnya, Allah belum menyampaikan pikirannya kepada Abraham, tetapi pembaca sudah mengetahui jalan pikiran Allah. Pembaca lebih dulu mengetahui jalan pikiran Allah dari pada Abraham. Cerita ini mirip sebuah skenario cerita detektif karangan SherlockHomes atau Nick Carter saja. Kenapa Allah harus menyampaikan sesuatu yang sudah ditetapkan sebelumnya kepada para pembaca, bukankah pembaca sudah mengetahui bahwa Allah sudah menetapkan Abraham sebagai bapak banga-bangsa dan janji-janji yang lainnya pada ayat sebelumnya?
Ini merupakan sebuah pembuktian kisah Abraham bukanlah Firman dari Allah SWT, tetapi merupakan skenario cerita yang dirancang untuk tujuan tertentu demi kebangga bangsa si penulis.
Seorang bapak bangsa-bangsa tentu saja harus memiliki sifat yang baik-baik seperti yang disampaikan oleh Allah didalam hatinya itu, seperti ; kebenaran, kejujuran, keadilan dan rasa kasih sayang. Tetapi keterangan ayat ini justru bertolak belakang dengan sifat Abraham yang kita ketahui pada ayat-ayat sebelumnya (pembohong, tidak adil pada istrinya Hagar , tidak mempunyai rasabelas kasihan pada istrinya Hagar yang lagi hamil sehingga dibiarkannya minggat, tidak melaksanakan sunatan pada orang lain selain daripada keluarga dan budak dirumahnya).
Apa yang akan disampaikan oleh Allah kepada Abraham?
20Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.”
Ternyata Allah menyampaikan berita tentang rencana untuk menghancurkan kota Sodom dan Gomora. Kenapa Allah hendak menghancurkan kota itu? Jawabannya terdapat pada tulisan ayat itu sendiri yaitu tentang gossip yang diterima Allah “banyak keluh kesah orang tentang Sodom”, sehingga Allah ingin membuktikannya sendiri “Baiklah Aku turun untuk melihat”. Apa benar Allah tidak mengetahuinya sama sekali, apa benar Allah harus turun untuk melihat langsung ke kota itu? Sepertinya keterangan ayat ini merendahkan kebesaran Allah , penulis kitab ini mengira kemampuan Allah sama saja dengan manusia. Jelas bahwa cerita ini merupakan pelecehan terhadap kebesaran Allah. Kitab perjanjian Lama tidak menghargai dan tidak menjunjung tinggi kebesaran dan keagungan Allah.
Ketika Abraham mendengar penjelasan Allah itu, maka tersentuhah hati nurani Abraham untuk menasehati Allah ;
23Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? 25Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? (kej 18:23, 25)
Ternyata ayat ini menjelaskan tentang sifat welas asih Abraham yang lebih baik dari pada Allah. Ternyata Abraham mempunyai pandangan lebih kasih dan lebih adil dari pada Allah, sehingga Abraham langsung menasehati Allah. Kenapa ayat ini mampu memperlihatkan kemampuan Abraham yang mempunyai belas kasihan kepada umat manusia? Bukankah terhadap istri dan calon anaknya sendiri dia abaikan sebelumnya? Bukankah PL menggambarkan sifat Abraham sebelumnya tidak sehebat ini? Bukankah seharusnya Allah yang lebih mengerti dengan keputusannya? Tetapi pada ayat ini Abraham lebih mulia dan adil daripada Allah. Kitab perjanjian lama ternyata tidak konsisten menggambarkan tentang karakter manusia dan kebesaran Allah. Benar-benar amburadul cerita di dalamnya.
Untuk mengurangi kemungkinan banyaknya orang baik yang ikut mati dikota itu, maka Abraham menawarkan sebuah solusi kepada Allah. Maka terjadilah peristiwa tawar menawar antara Abraham dengan Allah. Pada penawaran pertama, Allah menyatakan kalau kurang dari 50 orang di kota itu yang berbuat baik, maka Allah akan tetap menghancurkan kota itu ;

26TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (kej 18:26)
Tetapi angka itu terlau tinggi buat Abraham, maka Abraham mengajukan penawaran. Dalam hal ini Abraham berpikir keras bagaimana cara menurunkan angka hingga mencapai angka paling rendah ;
28Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Firman-Nya: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”( Kej 18:28)”
29Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.” 30Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.” 31Katanya: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” 32Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu. (Kej 18:29-32)”
Dari kontek ayat diatas, terlihat bahwa Abraham lebih pintar melakukan negosiasi perundingan dengan Allah. Abraham mengajukan penurunan secara bertingkat mulai dari 50 orang , dikurangi 5 menjadi 45, lalu dikurangi 10 menjadi 30, dikurangi lagi 10 menjadi 20 dan dikurangi lagi 10 hingga menjai 10. Maka perundingan itu menyepakati angka 10 sebagai keputusan akhir ;
32Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu (kej 18:32)
Ternyata Abraham sangat pintar mengakali jalan pikiran Allah. Abraham tidak langsung meminta penurunan angka dari 50 orang langsung menjadi angka 10 orang, tetapi Abraham mengajak Allah berdialoag sambil mengurangi angka itu sedikit demi sedikit. Kalau Abraham meminta langsung menjadi angka 10 tentu Allah akan menolaknya.
Terlihat jelas bahwa kitab perjanjian lama ini, menempatkan karakter Allah seperti seorang kakek tua jompo yang tidak pandai berhitung. Seorang kakek yang sudah pikun. Sehingga Abraham mengakali jalan pikiran kakeknya dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit.
Rasanya cerita picisan ini tidak pantas tertulis didalam sebuah kitab suci. Jelas sekali bahwa cerita ini bukan sebuah fakta, tetapi kisah dongeng dari pemikiran bangsa primitive.
Kemudian para Malaikat Tuhan sudah lebih dahulu sampai di kota Sodom. Mereka menemui keponakan Abraham disana yang bernama Lot. Ketika para malaikat berwajah elok rupa itu berjalan ditengah kota itu, kaum laki-laki yang mengidap penyakit kelainan sex (homosex) mengikutinya. Ternyata rumah Lot yang dituju. Maka berbondong-bondonglah kaum pria kota itu hendak mengambil dan berbuat tidak senonoh pada tamu Lot. Tentu saja Lot mengetahui rencana mereka yang hendak melecehkan tamunya. Lalu Lot menawarkan cara lain agar mereka tidak mempermalukan Lot dihadapan tamu-tamunya ;
7dan ia berkata: “Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. 8Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku.” (kej 19:7)
Dari diaolog cerita diatas, ternyata Lot memilih untuk menyerahkan 2 orang anak gadisnya kepada orang banyak yang ada didepan rumahnya dengan cara begitu saja. Di dalam ayat diatas tidak dijelaskan , apakah Lot mengajukan sebuah persyarat sebelum memberikan anak gadisnya kepada orang banyak itu. Kalau lot menyerahkan anak gadisnya tanpa persyaratan, berarti Lot memberikan kedua anaknya kepada segerombolan serigala yang akan melumat anak gadisnya. Rasanya tidak mungkin Lot menyerahkan kedua anaknya tanpa meyakini keselamatan anaknya terlebih dahulu. Padahal Lot mengetahui bahwa niat kaumnya adalah untuk berzina dengan tamunya. Kalau anaknya dilepas tanpa sebuah persyaratan , maka dapat dibayangkan anak Lot pun akan diperkosa secara beramai-ramai. Ini tidak masuk diakal. Artinya sama saja mencegah perbuatan maksiat dengan cara menawarkan maksiat baru, walaupun anak gadisnya rela menerima cara tersebut secara baik-baik. Tetapi mustahil anak gadis itu mau diserahkan kepada segerombol serigala rakus itu.
Singkat cerita, para malaikat pun menyelamatkan Lot dan keluarganya kecuali istrinya yang ikut mati pada bencana itu;
26Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam (kej 19:26)
Ayat ini menyatakan bahwa Istri Lot mati gara-gara dia menoleh kebelakang sehingga dia mati seperti tiang garam. Kalau istri Lot mati seperti tiang garam, bisa saja karena kedinginan atau bisa juga karena hembusan api yang sangat kencang dan panas. Tidak mungkin karena ditimpa bebatuan atau terlempar bergulingan. Besar kemungkinan kematian istri lot bukan karena dia menoleh kebelakang sehingga tidak sempat mengelak dari bencana itu. Kalau dia menoleh lalu kena lemparan batu maka dia tidak akan seperti tiang garam, tetapi tubuhnya akan hancur dan berdarah-darah. Jadi tidak bisa diterima akal sehat kalau istri Lut mati seperti tiang garam gara-gara menoleh kebelakang. Yang jelas Istri Lot tidak sempat lagi mengelak dan lari dari terpaan hujan debu panas atau api panas. Jadi bukan gara-gara terlambat mengelak karena menoleh kebelakang. Alasan ini seperti sebuah alasan yang dicari-cari untuk pembenarannya.
Kalau membaca cerita sebelumnya, penyebab kematian istri Lot tidak sesuai dengan hasil kesepakatan Abraham dengan Allah. Sebelumnya Allah telah berjanji akan menghancurkan kota sodom apabila hanya ada 10 orang saja yang baik-baik. Ternyata yang baik-baik hanyalah Lot dan 2 orang putrinya saja. Karena itu, dialah yang diselamatkan, sedangkan istri Lot tidak diselamatkan , kerana dia tidak termasuk orang yang baik-baik. Jadi jelaslah bahwa cerita Abraham didalam kitab perjanjian lama (PL) bukan merupakan kisah nyata , tetapi merupakan cerita karangan manusia yang hanya mampu mengira-ngira sesuai dengan cerita dan legenda pada masa itu. Ini dapat dibuktikan dari penjelasan di dalam cerita itu sendiri dimana satu nilai kebenaran dipatahkan oleh ketidak benaran yang lainnya, sebuah ilusi dibantah lagi oleh kebenaran yang lainnya. Jadi jelaslah bahwa kisah Abraham di dalam kitab perjanjian lama hanya rekaan pengarang atau penulisnya sesuai dengan tujuannya dan kebanggannya bangsanya semata.
Selanjutnya pergilah Lot bersama 2 orang anak gadisnya kesebuah Goa dan tinggallah mereka di dalam Goa itu.
30Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. (kej 19:30)
Alasan Lot tidak berani keluar dari goa karena dia dianggap trauma terhadap bencana yang mengerikan itu , begitu juga dengan kedua anaknya.
Tetapi kedua anak gadisnya itu mempunyai sebuah rencana masa depan yang sangat cemerlang. Dia ingin medapatkan anak, tetapi kaum laki-laki di kota Sodom sudah musnah. Anak gadis Lot juga tidak berminat lagi pada pria kota Sodom yang memiliki kelainan sex (homosex). Maka mereka berencana menggarap Bapaknya sendiri. Mereka yakin bahwa Bapaknya adalah lelaki jantan dan perkasa dibanding kaum homo di Sodom..
31Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.(kej 19:31)
Anak gadis Lot yang tertua mempunyai alasan yang cukup realistis untuk mendapatkan anak dari Bapaknya sendiri, sekaligus melanjutkan keturunan mereka juga.
Maka kedua anak perempuan itu berhasil mewujudkan impiannya untuk tidur dengan Bapaknya secara bergiliran dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun;

“34Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.” 35Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33-35)”.

Kemudian kedua anak perempuan Lot tersebut hamil dan melahirkan anak-anak bagi keduanya ;

“36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.

Kalau kita baca cerita kitab perjanjian lama ini, banyak sekali kejanggalan dan keanehan yang semuanya itu seolah-olah sudah dirancang untuk menghina dan memojokkan keturunan nabi Lot untuk kepentingan propaganda kebanggaan suatu kaum dan menghina kaum yang lainnya.

Diantara hal-hal yang janggal tersebut antara lain adalah;

– Lot dan keluarganya merupakan manusia-manusia terpilih yang diselamatkan oleh Allah dari bencana penghacuran kota Sodom akibat perbuatan sek menyimpang (homoseksual). Bahkan Lot bersedia menyerahkan putri-putrinya yang masih perawan dengan resiko apapun. Tetapi Bible mengatakan bahwa Lot dan putrinya sendiri telah melakukan perbuatan sek yang lebih menyimpang lagi dari pada kaumnya di Sodom yaitu melakukan hubungan sek dengan anak kandungnya sendiri. Keterangan Bible tersebut merupakan sebuah peghinaan terhadap nabi yang tidak mungkin melakukan hal tersebut. Sekiranya Lot melakukannya secara tidak sadar, karena mabuk habis meminum anggur, maka tentu Allah akan memberinya peringatan dan menyelamatkannya dari bencana tersebut karena Allah sudah pernah menyelamatkan Lot dari bencana yang lebih besar lagi dari itu yaitu dengan mendatangkan malaikat ke rumahnya.

– Tidak mungkin seorang pria yang sedang tertidur nyenyak sanggup melakukan hubungan sek dengan seorang wanita walau bagaimanapun seksinya wanita itu, karena setiap laki-laki terlebih dahulu harus membangkitkan hasratnya agar terjadi ereksi untuk sanggup melakukan penetrasi, apalagi bagi orang setua Lot tentu membutuhkan tenaga ektra untuk melakukannya. Lagipula menurut keterangan Bible pada kej 19:33 , Lot tidak mengetahui kalau anaknya tidur dekatnya;

“dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33) ”.

Namun selanjutnya, Bible menerangkan bahwa kedua anak gadisnya itu menjadi hamil dan melahirkan anak dan sekaligus cucu dari Lot ;

“36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.

Hal ini merupakan suatu keterangan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat dan akal budi manusia yang baik-baik.

– Lot tidak mungkin sudi bermabuk-mabukan bersama anaknya. Setelah anaknya memberi Bapaknya minuman anggur, tidak ada keterangan dalam Bible yang menjelaskan bahwa Lot menjadi mabuk dengan minuman anggur yang diberikan oleh anaknya itu, yang terjadi kemudian adalah dia tertidur dan tidak mengetahui kalau anaknya tidur bersamanya;

“ dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33)”.

Tetapi kenapa Bible mengatakan bahwa ; ““36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”. Ini merupakan skenario yang tidak dapat diterima oleh akal-budi , tetapi bisa saja ini merupakan sekedar cerita iseng dari penulis kitab PL dari penulis bangsa Yahudi, sehingga menambah urutan daftar kepalsuan Bible.
Apakah yang terjadi pada Abraham dan istrinya, ketika terjadi bencana di sosom dan gomora itu?
Pada saat bencana Sodom dan Gomora itu, terpakasa Abraham mengungsi ke tanah Negeb sebagai pengungsi .
Kembali Abraham mengulangi siasat penipuan yang sama. Mungkin Abraham tidak mempunyai siasat yang lainnya yang lebih jitu, sehingga dia menggunakan jurus lamanya untuk menaklukkan hati raja-raja.
“2Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: “Dia saudaraku,” maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. (Kej 20:2)”.
Kedatangannya ke negri Negeb bersama Istrinya yang cantik jelita menyebabkan raja dinegri negeb itu hendak mengambil Sarai sebagai istrinya.
Tetapi kembali kebohongan Abraham terbogkar, seperti biasa, raja Abimelekh meminta pengakuan Abraham. tetapi sebelumnya Abraham sudah diamankan oleh Allah. Allah menakuti-takui Abimelekh di dalam mimpinya supaya tidak mengawini istri seorang nabi.
“Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.” (kej 20:3)
Sebuah pertaanyaan yang menggelitik, kenapa Allah membela Abraham mati-matian padahal Abraham telah memberikan keterangan palsu karena takut kepada manusia dari pada Allah. Keterangan ayat ini tidak dapat diterima dengan logika akal budi. Bahkan Abimelekh merasa tertipu oleh Abraham sehingga Abimelekh membela dirinya kepada Allah padahal sebenarnya niat Abimemilekh lebih baik dari niat Abraham . Abimelekh ingin memeristri Sarai bukan menjadikannya Gundik;
“5Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.(Kej 20:5)”
Pada cerita diatas, istri Abraham berusia 85 tahun sementara Abraham 99 tahun. Secara akal budi dan logika , apa mungkin seorang raja yang terkenal dinegri Gerar yang besar, tergila-gila kepada seorang nenek-nenek. Apakah di Negeb itu tidak ada lagi wanita muda yang lebih cantik. Bukankah setelah rakyatnya mengetahui bahwa raja yang dibaggakan, ternyata kecantol pada istri seorang pengungsi. Apakah raja Abimelekh tidak merasa jatuh martabatnya setelah ketahuan jatuh hati pada istri seorang pengungsi? Secara akal budi, cerita ini bukan sebuah cerita kebenaran, tetapi sebuah cerita dongeng. Jadi tidak mungkin perjanjian lama adalah perkataan Allah yang tertuang di dalam Taurat.
Kemudian Abimelekh memanggil Abraham untuk diinterograsi.
9Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: “Perbuatan apakah yang kau lakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku (Kej 20:9).”
Dari dialog ayat tersebut diatas, dapat dinilai bahwa Abimelekh lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, ternyata Abimelekh tidak menunjukan ciri-ciri seorang raja yang jahat dan menakutkan. Tetapi Abraham lebih takut duluan kepada Abimelekh dari pada Allah sehingga dia lebih baik berbohong daripada terbunuh karena kelaparan. Bahkan dia seperti sengaja menyerahkan istrinya yang cantik sebagai umpan untuk mendapatkan hadiah sebagaimana sukses di mesir dulu.
Secara logika , tidak mungkin Abraham sehina itu sehinggga tidak berharga dimata raja Abimelekh. Ini bukan cerita yang sebenarnya sesuai dengan realita berpikir yang benar. Ini merupakan penghinaan dan fitnah kepada karakter seorang yang menjadi junjungan bagi semua umat beragama. Tentu saja seorang muslim akan menentang penghinaan kepada Nabi yang dimuliakan Allah ini. Orang musllim selalu mengucapkan shalawat kepada Abraham, tetapi kitab perjanjian lama malahan menghina Abraham. Penghinaan yang sangat biadab terhadap pribadi seorang nabi.
Selanjutnya Abimelekh meminta kejujuran Abraham dengan menyudutkan sebuah pertanyaan yang menohok kepribadiannya ;
“ 10Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: “Apakah maksudmu, maka engkau melakukan hal ini?” (Kej20:10)
Kemudian Abraham menjawab ;
“ 11Lalu Abraham berkata: “Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. (kej 20:11)”
Dari dialog ayat tersebut, ternyata Abraham sebelumnya hanya menduga gossip tentang kefasikan raja Gerar itu, sehingga Abraham kuatir kalau istrinya terbunuh karena istrinya yang cantik. Sepertinya alasan Abraham tidak masuk akal, tidak mungkin seorang nabi menjawab begitu. Sepertinya Abraham bukan seorang bapak bangsa-bangsa, tetapi seorang suami yang tidak bertanggung jawab, dia lebih mengutamakan keselamatan dirinya, sebaliknya dia menduga istrinya akan selamat karena kecantikannya. Kemudian apa selanjutnya jawaban Abraham ?
12Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. (kej 20:12)”
Dari dialog di dalam cerita tersebut, Abraham tidak mengakui bahwa dia berbohong, karena istrinya tersebut adalah adik tirinya. Apakah Abraham sebagai seorang nabi yang dimuliakan tidak memahami arti sebuah kejujuran? Ketidakjujuran adalah tidak sesuai antara niat dengan perbuatan. Walaupun Sarai adalah adik tirinya sekaligus istrinya, tetapi Abraham telah melakukan niat utama agar selamat dari dugaan yang menakutkannya. Kenapa seorang nabi harus bertindak berdasarkan dugaan-dugan yang belum tentu kebenarannya? Cerita kitab perjanjian lama tidak bisa diterima akal sehat. Cerita ini tidak lebih dari cerita dongeng belaka.
Tetapi yang lebih tidak masuk akal adalah keterangan Abraham selanjutnya dalam menyampaikan pembelaannya ;
“13Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku (Kej 20:13)”.
Ternyata yang menyuruh Abraham berkata demikian adalah Allah. Bagaimana mungkin Allah yang maha perkasa, yang semua makluknya tunduk kepadanya, seluruh alam tunduk kepada kekuasannya, ternyata didalam kisah ini, Allah memerintahkan Abraham berkata munafik kepada seorang raja. Rasa ketakutan Abraham tersebut sepertinya diperankan oleh Allah sendiri. Hal itu ini tentu tidak sesuai dengan keterangan sebelumnya yang menulis bahwa Allah juga yang datang kedalam mimpi Abimelekh supaya dia membatalkan perkawinanya dengan Sara.
Kenapa yang dituduh sebagai sutradara di dalam lakon cerita ini adalah Allah? Bukankah ini menunjukan bahwa Allah mengajarkan Abraham boleh berbuat tidak jujur dan berbuat munafik. Tentu saja ini sebuah pelajaran yang tidak baik bagi manusia untuk mencontohnya. ini benar–benar sebuah cerita fiktif yang tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Kemudian Sarai dikembalikan kepada Abraham dan mereka Abimelehk melepas kepergian mereka dengan memberi Abraham sejumlah harta berupa hewan ternak dan beberapa orang pembantu laki-laki dan perempuan ;
“4Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya (Kej 20:14)”.
Sebenarnya keinginan Abimelek memperistrikan Sarai adalah untuk mendapatkan keturunan, kerena sebelumnya raja Abimelehk tidak memperoleh satupun anak-anak dari istrinya . Maka setelah Araham dibebaskan, beliau memanjatkan do’a untuk kesembuhan rahim istri Abimelehk sehingga subur dan mempunyai anak-anak begitu juga dengan para budak-budaknya ;
“ 17Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak (Kej 20:17)”.
Sebuah pertanyaan yang menggelitik ; apakah masuk akal seorang Raja yang tidak mempunyai anak, kemudian menginginkan anak dari seorang wanita tua (nenek-nenek) yang suduh berumur 85 yang ternyata juga belum punya anak , walaupun Abimelehk tidak mengetahui Sara adalah istri Abraham? Jelas sekali bahwa cerita ini merupakan dongeng yang ditujukan untuk anak-anak sebelum mereka tidur.
Lagi pula kepergian Abraham dan istrinya Sara ke negri Negeb tersebut terjadi setelah peristiwa kehancuran Sodom, sehingga mereka sudah yakin akan mempunyai anak karena sudah menerima kabar dari Allah keteka bertamu di bahwah pohon terbantine di depan kemahnya. Tetapi mengapa Abraham begitu tega menyia-nyiakan kepercayaan Allah untuk memelihara kandungan istrinya?
Betapa teganya Abraham menggadaikan istrinya kepada Abimelehk demi mendapat jatah makan? Padahal istrinya Sara sedang hamil.
Kenapa Abraham dan istrinya masih bersandiwara sebagai kakak adik? Cerita ini benar-benar tidak masuk akal. Cerita dongeng. Apa begini kitab PL yang diklaim sebagai kitab Taurat yang dibangga-banggakan itu?
Setahun setelah bencana Sodom itu, Sara melahirkan anaknya yang diberi nama Ishaq. Ketika itu Abraham sudah berusia 100 tahun;
“5Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. 6Berkatalah Sara: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (kej 21:5)”
Menurut keterangan ayat diatas, jelaslah bahwa Sara menamakan anaknya dengan Ishaq yang berarti “ketawa” sebagai sebuah peristiwa yang tidak pernah lupa dari ingatan Sara ketika mendapat berita dari Allah dulu. Tentu saja ketika Ishaq lahir, ismael sudah berumur 14 tahun.
Ketika Ishaq sudah selesai disapih ( tidak netek lagi), maka Abraham mengadakan perjamuan dan mengundang tetangga dan orang-orang terpandang di daerah tersebut. Tentu saja acara seperti ini tidak akan pernah dinikmati oleh ismael sewaktu dia masih bayi dulu.
Namun sayang sekali, ismael bukannya menjauh dari acara agung tersebut , tetapi ismael justru mendekati ishaq dan bermain-main dengannya. Ismael dan ibunya Hagar tentu saja tidak pantas ikut bersama-sama dengan Ishaq di dalam pesta kebesaran keluarga terhormat itu. Akibat tindakan Ismael yang tidak menyadari kedudukannya, maka Sara merasa dipermalukan di depan tamu-tamunya ;
“8Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.” (kej 21:8)
Tentu saja Sara naik pitam menyaksikan anaknya Ishaq bermain-main di depan orang ramai bersama Ismael yang tidak berharga itu, lalu Sara menyuruh Abraham mengusir Hagar bersama anaknya yang dianggap sudah mempermalukan dia sebagai nyonya besar dirumahnya;
“10Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (kej 21:10)
Apabila ditanyakan kebenaran cerita itu kepada Pendeta Kriten, maka akan keluar sebuah jawaban dimulutnya bahwa “ itu adalah ketentuan yang sudah digariskan” sesuai dengan ramala-ramalan yang sudah di Firmankan Allah pada ayat-ayat sebelumnya. Ini adalah ramalan yang tepat dari kitab perjanjian Lama. Dan ramalan itu terbukti. Para ahli kitab Nasrani dan Yahudi serta para Pendeta Kristen sudah membungkam pertanyaan umatnya dengan jawaban “ramalan” dan “ketentuan Firman Allah”. Tidak seorangpun umat Kristen yang sanggup mempermasaalahkan ketentuan perbedaan kasta itu di dalam kitab PL.
Bagaimana mungkin kisah ketidakadilan itu lebih ditonjolkan di dalam sebuah kitab Suci. Jelas ini adalah sebuah propaganda untuk kemuliaan umat Yahudi dan Nasrani lalu mendiskriditkan keturunan Ismael. Tidak mungkin ayat itu berasal dari Allah yang maha pemurah , maha adil dan Maha bijaksana kepada umat manusia. Allah tentu tidak akan membeda-bedakan manusia berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat atau berdasarkan kekayaannya , tentu Allah hanya memandang nilai-nilai kebaikan seseorang.
Seharusnya PL harus menceritakan dan menulis apa kesalahan ibu dan anak itu sehingga mereka terusir, apa yang sudah diperbuat oleh ibu dan anak ini sehingga Sara dan Abraham tega memperlakukan keluarga sendiri sedemikian buruknya. Kalau tidak dijelaskan apa yang terjadi , maka ini sama dengan berbuat zalim kepada orang yang tertindas atau mengabarkan sebuah fitnah. Apakah Abraham dan Sarah mempunyai sifat begitu? Jawabannya tentu saja tidak! Jadi kenapa cerita mengharukan itu tertulis di dalam kitab suci? Jawabannya adalah karena ada tangan jahil yang mengerjakannya.
Bukan hanya Sara saja yang kesal dengan kelancangan Ismael, Abraham pun sebal ;
“11Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.(kej 21:11)
Bukan hanya Abraham dan Sara saja merasa malu akibat perbuatan anaknya, bahkan Allah setuju dengan keinginan Sara mengusir Hagar dan Ismael dari rumah mereka ;
“And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad, and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto her voice; for in Isaac shall thy seed be called (Genesis 21:12)”.
“12Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. (kej 21:12)”.
Ayat ini menunjukan bahwa Allah merestui kehendak Sara untuk membuang Ismael dan ibunya Hagar. Bahkan sekali lagi disampaikan oleh Allah bahwa anak Abraham yang sebenarnya adalah Ishaq, bukan Ismael. Kontek ayat tersebut adalah firman Allah yang menggunakan kata-kata “budakmu itu”; yang menunjukan bahwa status Hagar masih seorang budak walaupun sudah menjadi istri Abraham. Memang menyedihkan dan memprihatinkan sekali nasib ibu dan anak bekas budak itu. Mereka sudah ditakdirkan sebagai pembantu dari keluarga orang terhormat Abraham dan Sara. Benar-benar keji sekali keterangan ayat-ayat PL ini yang menempatkan cerita yang tidak dapat dicontoh untuk kebenaran dan budipekerti yang baik.
Apabila kisah ini diceritakan kepada anak-anak yang masih polos tentu mereka mengira bahwa Hagar dan Ismael adalah keluarga yang terbuang dan tidak berharga di depan Allah. Dan sampai dewasapun anak yang membaca kisah itu akan mencap keturunan Ismael sebagai keturunan orang-orang yang tidak berguna
Keesokan harinya Hagar terpaksa berangkat dari tempat terhormat itu ;
“14Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. (Kej 21:14)”
Ternyata Abraham benar-benar mengusir istri beserta anaknya sendiri. Betapa teganya Abraham melepas kepergian Hagar dan anaknya dengan harga yang sebegitu murah? , Bahkan kemudian mereka terdampar hingga ketengah gurun pasir. Apakah pantas Abraham dinobatkan sebagai bapak bangsa-bangsa? Tentu saja Allah terlibat dalam perlakuan yang tidak adil ini. Benar-benar sebuah cerita yang tidak dapat diterima oleh bangsa yang beradab.
Kemudian , menurut yang tertulis pada ayat diatas, Abraham melepas kepergian keturunannya hanya dengan sekantong roti dan sebotol air. Padahal Abraham adalah orang kaya raya yang terhormat. Jangankan dengan bekal semurah itu, bahkan dengan sepasukan kuda dan sejumlah kafilahpun dapat dibiayai oleh Bapak bangsa-bangsa ini. Padahal ketika mendengar keponakannya “Lot” ditahan oleh perampok dan dirampas hartanya, Abraham langsung menyerang penjahat itu dengan mengerahkan 318 orang pasukannya untuk membebaskan Lot ;
14Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej 14: 14,16)”.
Tetapi kenapa kepada anak dan istri sendiri diusirnya, tanpa pengawalan sama sekali, apalagi ketempat yang tandus dan gersang?
Setelah mencium anaknya, lalu Abraham meletakkan anak dan bekal itu diatas bahu Hagar. Ada tertulis “Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar “ ; Mungkin Abraham mengira anaknya masih kecil sehingga meletakkan anaknya di bahu Hagar.
Benar-benar tega Abraham melepas keluarganya pergi hanya dengan sebotol air dan sekantong roti. Tentu saja persediaan air dan bekal itu tidak cukup sehingga terpaksa Hagar membuang bayinya kedalam semak-semak;
“15Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. (kej 21:15-16)”
Ayat ini menunjukan bahwa Hagar benar-benar berangkat hanya berdua dengan anaknya. Lalu perhatikanlah kalimat “dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak “ dan “menangislah ia dengan suara nyaring “ pada ayat diatas. Ini menunjukan bahwa Ismael masih balita atau mungkin juga masih bayi.
Tetapi malaikat melarang Hagar membuang anaknya ;
“17Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. (kej 21:17) “
Perhatikan juga , ada tertulis “dari tempat ia terbaring “. Bahkan malaikat sendiri tahu anak itu masih balita. Lalu malaikat Tuhan menyuruh Hagar mengangat anaknya tersebut dari semak-semak itu ;
“18Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”(kej 21:18)
Perhatikan kalimat “angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia”. Ini berarti Ismael memang masih balita sehingga Hagar harus mengangkat dan membimbing anaknya untuk bisa berjalan lagi.
Menurut keterangan yang tertulis di dalam PL , seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pada saat Ishaq lahir, umur Ismael ketika itu sudah 14 tahun. Apabila umur Ishaq pada saat disapih adalah 2 tahun, maka pada saat diusir Bapaknya, Ismael sudah berumur 16 tahun. Apakah anak yang berumur 16 harus digendong oleh Hagar ketika dilepas oleh Abraham ? apakah anak yang berusia 16 tahun harus dibuang ke semak-semak ? apakah Hagar harus mengangkat anak yang sudah dia buangnya tadi dari semak-semak? Apakah anak berisia 16 tahun harus dibimbing oleh ibunya untuk dapat berjalan lagi?. Apa bukan sebaliknya, justru ismael yang masih kuat dan muda , membimbing ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan akibat perasaannya tertekan lahir dan bathin?
Jadi terbuktilah bahwa keterangan PL ini tidak dapat diterima dengan akal sehat, ceritanya ngawur, cerita PL tentang kisah Abraham hanya dapat disampaikan kepada anak kecil sebelum tidur, cerita PL tentang Abraham merupakan kisah dongeng yang tidak bermutu tetapi cerita jahat. Penulis Bible hanya mengarang-ngarang cerita yang tidak jelas sumbernya lalu dimasukkan secara sembarangan, sehingga manimbulkan banyak masaalah.
Sekarang kita kembali pada kisah tentang Ishaq yang sudah mulai besar , namun tiba-tiba Abraham mendapatkan perintah Allah agar dia mengobankan anaknya sebagai korban bakaran ;
“2Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.(kej 22:2)”
Kalau kita perhatikan ayat tersebut diatas, maka konteks ayat tersebut merupakan Firman Allah yang tidak dapat lagi digugat oleh umat nasrani dan Yahudi. Namun sebuah kalimat “anakmu yang tunggal”; tentu tidak dapat diterima dengan akal sehat. Apakah Allah lupa bahwa Abraham mempunyai 2 orang anak? Kalau manusia yang mengatakan Abraham hanya punya seorang anak saja, tentu hal ini dapat dimaklumi, namun kalau Allah yang berFirman , maka ayat ini sangat janggal sekali. Kalau Allah yang mengatakan bahwa Ishaq adalah anak Abraham yang tunggal , maka dugaan ayat (kej 18:32) tentang daya pikir Allah yang sudah pikun, tentu saja cocok dengan keterangan ayat ini. Artinya ayat ini mengira bahwa Allah itu seperti seorang kakek yang sudah sangat tua dan pikun sehingga dia lupa kalau Abraham sudah mempunyai anak sebelumnya. Artinya ayat ini tidak menghargai Allah yang maha kuasa, dan maha mengetahui segala sesuatu. Ayat ini benar-beanr menghina Allah sebagai sosok yang tidak tertandingi di seluruh jagat raya.
Kemudian terdapat pula kalimat “ yang engkau kasihi, yakni Ishak,”; sekali lagi hal ini membuktikan bahwa hanya Ishaq yang disayangi oleh Abraham , hanya Ishaq yang dianggap sebagai anak oleh Abraham dan Allah. Ismael benar-benar tidak berharga dimata Abraham dan Allah. Benar-benar ngawaur cerita PL tentang kisah Abraham ini. Ini bukan cerita fakta tetapi sebuah karangan untuk maksud membanggakan satu keturuan suatu kaum sedangkan yang lainnya dihina dan dilecehkan. Keterangan ini jelas bukan dari Allah SWT.
Kemudian berangkatlah Abraham bersama anaknya ishak kesebuah bukit/gunung bersama 2 orang pembantunya ;
“3Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (kej 22:3)”
Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari sampailah mereka dikaki sebuah bukit yang bernama Moria, disanalah mereka menambatkan kudanya. Abraham memerintahkan kepada pembantunya untuk menunggu di bawah bukit dengan alasan mau beribadah di atas bukit tersebut ?
“5Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”( kej22:5)
Pertanyaannya kenapa Abraham tidak berkata jujur kepada pembantunya bahwa dia akan mengobankan anaknya? Apakah Abraham takut kalau pembantunya itu akan mengatakan kepada istrinya Sara bahwa Abraham akan membunuh anaknya sendiri? kalau Abraham itu seorang nabi kenapa Abraham tidak mengajak pembantunya beribadah bersama-sama? Sepertinya Abraham tidak membawa agama apapun kepada umat Yahudi dan umat Kristen. Lalu kenapa Pendeta Kristen ini mengaku-ngaku sebagai umat nabi Abraham , apa tidak memalukan?
Suatu keanehan tambahan yang sangat menggelitik adalah, bahwa semua Pendeta Kristen yang menyatakan dirinya mengerti , memperkirakan bahwa ketika Ishaq hendak dikorbankan itu umurnya sekitar 14 tahun. Perkiraan ini cocok sekali dengan penggambaran dialog antara Bapak dan anak di dalam keterangan ayat kej 22: ayat 6 sampai ayat 9 diatas. Dari dialog ini menunjukan bahwa Ishaq berusia masih remaja, sebagaimana dia mambantu bapaknya mengangkat kayu bakaran, seperti anak yang polos menanyakan maksud pengorbanan itu, serta pertanyaan yang diajukan oleh Ishaq kepada Bapaknya yang menggambarkan bahwa dia masih tidak mengerti dan menunjukan bahwa Ishaq adalah yang baik.
Peryataan yang menggelitik adalah, ketika Ishaq berumur 14 tahun, ternyata dia sanggup berjalan jauh selama 3 hari dan 3 malam bersama bapaknya mengendarai keledai kemudian dia juga sanggup menolong bapaknya mengangkut kayu bakaran ke tempat pengorbanan ke atas gunung Moria seperti bunyi ayat berikut;
“.” 6Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.(Kej 12:6)”
Artinya ayat ini sangat kontradiktif dengan ayat sebelumnya, yaitu ketika Ibrahim mengusir anaknya yaitu Ismail beserta ibunya . Ketika itu Ismail juga sudah berumur sekitar 16 tahun. Tetapi pada saat keberangkatan Ismaill bersama ibunya, keadaan Ismail ketika itu masih seperti anak balita karena dia dibawa di atas pangkuan bahu Ibunya, serta dibuang di semak-semak lalu dia menangis dengan suara nyaring. Cerita Ismeil dan Ishaq pada usia mereka yang hampir bersamaan di dalam PL, sangat bertolak belakang dan aneh sekali. Kalau Ishaq berumur 14 tahun, maka dia sanggup membawa kayu keatas Gunung dan berjalan selama 3 hari 3 malam, tetapi sebaliknya ketika Ismail berusia 16 tahun dia tidak mampu berbuat apa-apa bahkan diceritakan kalau Ismail masih anak balita. Jangankan untuk berjalan dan mengangkut kayu mendaki gunung, untuk berjalan dari rumah saja Ismail harus dipangku diatas bahu ibunya, bahkan harus dibuang ke semak-semak. Benar-benar tidak adil dan tidak logis.
Bahkan ketika peristiwa pengorbanan yang diceritakan PL itu, usia Ibrahim sudah mencapai 114 tahun, yang sudah sangat tua bagaikani kakek-kakek. Namun di dalam cerita itu, kelihatan bahwa Ibrahim lebih kuat dan perkasa dibandingkan anak remaja remaja berusia 14 tahun. Ini terbukti dari kekuatan Ibrahim untuk mengikat Ishaq ketika hendak disembelih.
Cerita tentang perlakuan Ibrahim kepada Ismail dan kepada Ishaq sangat kontradiktif, tidak dapat diterima dengan logika yang benar, dan ceritanya benar-benar ngawur. Ini Cerita yang paling tidak masuk akal yang pernah saya baca, bahkan cerita detektif dari pengarang Sherlock-homes jauh lebih bermutu dari pada cerita fiktif murahan kitab Bible yang menjadi kitab pedoman untuk mereka yang menyatakan dirinya terhormat.
Sekarang kita lanjutkan kisah pengorbanan Ishaq di dalam PL Apa yang ada di dalam pikiran Ishaq setelah itu? Apakah Abraham akan memberitahu anaknya, kalau dia akan menyembelih dan membakar anaknya ?
Ikuti dan perhatikanlah dialog dibawah ini ;
“Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu (kej 22:6-7)
Menurut keterangan ayat diatas, ternyata Ishaq belum mengetahui juga kalau Bapaknya akan mengorbankannya.
Kenapa Abraham tidak berterus terang saja kepada anaknya ?, padahal mereka sudah berjalan beriringan selama 3 hari dan 1 hari untuk menaiki gunung itu. Jadi masih ada kesempatan Abraham untuk mendikusikan dengan anaknya. Sekiranya Abraham tidak tega mengatakan itu pada anaknya, lalu apa yang terjadi ketika Abraham akan menyembelih anaknya?
Saat-saat menjelang akan disembelih, Apakah ishaq dipaksa oleh Abraham? apakah ishaq tidak memberontak ketika Abraham akan mengikatnya? Bukankah ketika itu Ishaq bukan balita lagi, karena dia sanggup membawa kayu bakar keatas bukit dan sanggup mengendarai keledai selama 3 hari, sedangkan Bapaknya sudah berusia kekek-kekek?. Bisa saja Ishaq melakukan perlawanan kepada Bapaknya yang sudah tua dan lemah itu, karena dia tidak mengerti dan tidak mengetahui sebelumnya bahwa Abraham hendak menyembelihnya. Banyak sekali pertanyaan yang dapat diajukan apabila tidak terdapat kompromi sebelum pengorbanan itu terlaksana. Apakah pelaksanaan perintah Allah itu harus dilakukan dengan paksaan dan kekerasan?
Apakah jawaban Abraham ketika ditanya oleh anaknya ?
“8Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.”(kej 22:8)”
Kembali Abraham berkelit untuk tidak bererus terang, bahkan menyampaikan informasi yang salah. Pada ayat diatas Abraham mengatakan kepada Ishaq bahwa korban yang akan disembelih itu sudah disediakan oleh Allah. Tentu saja Ishaq senang mendengar jawaban Bapaknya.
Tetapi didalam kontek ayat ini, Abraham telah melakukan sebuah penipuan lagi. Abraham bukan tipe seorang Bapak yang dapat berterus terang dan berkata jujur kepada anaknya sendiri. Kalau sekiranya jawaban Abraham kepada ishaq bukan sebuah penipuan tetapi dia menyampaikan “apa adanya” kepada anaknya (korban itu sudah disediakan), maka itupun tidak dapat diterima dengan akal sehat. Artinya Abraham sudah mengetahui bahwa Allah hanya mencoba Abraham, Allah hanya ingin melihat kesetiaan dan kepatuhan Albraham kepada Allah. Tetapi Abraham sudah mengetahui maksud Allah itu. Abraham tidak perlu serius menghadapinya. Tidak mungkin Allah tega membunuh anak yang dijanjikanNYA sendiri. Sebaliknya Allah tidak mengetahui jalan pikiran Abraham.
Maka Abraham mengatakan kepada anaknya bahwa Allah yang akan menyediakan korban bakaran untukNYA. Hal ini berarti bahwa uji kesetiaan itu tidak berpengaruh terhadap pemikiran Abraham karena dia sudah menebak hasil akhirnya. Akibatnya Abraham akan melakukannya dengan kepura-puraan. Tetapi sebaliknya Allah tidak tahu kepura-puraan Abraham tersebut karena memang Abraham lebih pintar dari Allah. Atau setidaknya Allah tidak tahu pemikiran Abraham yang mampu menebak hasilnya.
Jadi terbuktilah bahwa kisah Abraham tentang mengorbankan anaknya Ishak, seperti sebuah cerita detektif karya Nick carter. Satu kebohongan ditutup oleh kebohongan yang lainnya. Seperti ; ketika Abraham tidak mau berterus terang kepada anaknya, maka dia terpaksa membohongi Allah dengan mengatakan bahwa Allah yang akan menyediakan domba itu untukNYA.
Artinya Abraham sudah melakukan kejahatan dosa sebanyak 6 kali berturut-turut ; pertama membohongi anaknya, kedua membohongi Allah, ketiga membohongi diri sendiri, keempat membohongi dua orang pembantunya , kelima menganggap ujian itu seperti main-main, keenam menganggap rendah kemampuan Allah.
Maka janganlah berbuat bohong karena kebohongan itu akan menambah kebohongan yang lainnya.
Selanjutnya bagaimana keadaan saat-saat penyeblihan itu? Perhatikan dialog Al Kitab Bible berikut ini ;

9Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.(kej 22:9)”

Kalau kita analisa ayat diatas, maka banyak sekali muncul pertanyaan yang menggelitik.
Pada saat Abraham dan Ishaq membuat tempat bakaran dan Mesbah, tentu masih ada waktu beberapa jam, jadi masih ada kesempatan bagi mereka untuk berdialog. Tetapi tahu-tahu Ishaq sudah diikat oleh Abraham.
Apa yang terjadi antara Abraham dengan Ishaq sebelumnya?. Apakah Abraham memaksa anaknya? Dengan cara apa Abraham mengikat anaknya? Apakah dipukul hingga pingsan sehingga mudah mengikatnya?
Kalau anaknya pasrah begitu saja , tentunya tidak mungkin, karena dia akan bertanya “ Bapak mau apa?” , dan tidak mungkin pula Abraham menjawabnya “ aku akan mengikat dan menyembelihmu” kerena Abraham sudah menjelaskan bahwa akan ada dombaNYA nanti.
Kalau sekiranya Abraham membohongi Ishaq dengan menyuruhnya berpura-pura diikat dan berkata “ kamu saya ikat dulu ya nak.. nanti Allah akan memberikan dombaNYA” ; maka Abraham kembali membohongi anaknya dan membohongi Allah. Pasti ketahuan Abraham dan anaknya main sandiwara dihadapan Allah.
Atau mungkin juga sebaliknya dimana Bapak dan anak ini Cuma berpura-pura hendak melakukan pengorbanan itu kepada Allah. Tentu akan bertambah kejahatan dosa Abraham, minimal 12 dosa lagi.
Kalau ini dilakukannya maka memang benar, bahwa Abraham adalah seorang penipu dan pembohong sehingga wajar PL menulisnya begitu.
Kemudian Abraham menyembelih anaknya dengan pisau dalam keadaan terikat. Kenyataan ini menimbulkan permasalahan baru lagi. Kalau Ishaq tidak pingsan tetapi pura-pura pingsan, maka tentu Allah akan mengetahuinya.
Atau mungkin juga Allah dapat dibohongi oleh kepura-puraan Ishaq dan Abraham.
Sebaliknya jika Ishaq tidak tahu kalau dia akan disembelih dengan pisau, maka artinya Ishaq dalam keadaan pingsan dimana hal ini menunjukan bahwa Abraham telah melakukan kekerasan sebelumnya pada Ishaq.
Apa yang terjadi setelah itu ? bacalah ayat berikutnya ;
11Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”(Kej 22:11)”
Ternyata Abraham lulus juga dari test uji kesetiaan itu. Allah tidak mengetahui apa terjadi pada pemikiran Abraham sebelumnya. Allah juga tidak menerangkan kenapa Abraham dinyatakan lulus. Apa yang menjadi penilaian bagi Allah sehingga Abraham dan anaknya dinyatakan lulus ujian besar.
Jadi jelaslah bahwa cerita PL tentang kisah Abraham bukanlah kisah nyata, tetapi cerita fiksi. Sepertinya cerita ini dibuat-buat untuk maksud yang terselubung. Tentu saja para Pendeta Kristen akan memberikan opini dan kesimpulan bahwa yang simaksud dengan “ DombaNYA” bukanlah domba yang sebenarnya tetapi “Anak ALLAH yang dikorbankanNYA” . Anak Allah itu adalah Yesus yang nantinya akan mati ditiang salib sebagai pengorbanan Allah sebagai anakNYA.
Perbedaanya peristiwa pengorbanan antara DombaNYA dangan pengorbanan anakNYA hanya terletak pada perbedan waktu dan perbedaan cara pengorbannya saja . Kalau DombaNYA dikobankan untuk Abraham, sedangkan anakNYA dikorbankan untuk orang-orang fasik yang hendak membunuhnya.
Begitulah Pemikiran Pendeta Kristen ini beropini dan berkesimpulan. Logiskah kesimpulan itu? Tentu saja tidak. Ini kesimpulan yang dibuat-buat dan dipaksakan, sehingga tidak mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan hatinurani.
Setelah kita membaca kitab Taurat versi Perjanjian lama, maka terbukalah kebohongan-kebohongan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Pendeta Kristen selama ini. Jadi benar bawa kepalsuan itu hanya bisa ditegakkan dengan kepalsuan juga.
Baru sebuah kisah yang kitab baca, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Pendeta ini, tetapi kita sudah dapat menyaksikan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan, pelecehan terhadap Umat manusia, pelecehan terhadap Nabi Besar Ibrahim, merendahkan Allah, melecehkan Allah, kisah Abraham seperti dongeng saja, cerita yang dibuat-buat untuk tujuan kebesaran suatu kaum tetapi menghina kaum yang lainnya.
Kita tidak perlu mempersoalkan kejanggalan itu, biarlah umat Kristen yang memikirkan dan menyimpulkannya sendiri.
Jadi kesimpulannya adalah kitab Perjanjian Lama bukanlah kitab Taurat seperti yang pernah diturunkan Allah kepada ustusanNYA yang Mulia Nabi Musa AS, tetapi sebaliknya Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang justru melecehkan Allah, RasulNYA dan tidak mengandung pelajaran yang baik.
Rasanya tidak akan adil kalau hanya menilai PL saja . Untuk itu marilah kita membahas kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al qur’an agar adil. Artinya saya tidak mempunyai niat untuk menjelak-jelekkan PL, tetapi hanya menyampaikan kebenaran semeta. Saya tidak mencari pembenaran tetapi berusaha mendapatkan kebenaran.
Memang Al Qur’an tidak menulis kisah Abraham sedetail PL. Perjanjian Lama menceritakan kisah Abraham sangat mendetail sehingga mirip dengan sebuah buku novel, tetapi didalam cerita itu banyak sekali kejanggalan dengan segala ketidak benarannya. Untuk itu kita tidak perlu mengisahkan kembali cerita Ibrahim itu sebagaimana detailnya kisah didalam PL.
Saya akan mengambil beberapa keterangan apakah ada keterangan di dalam Al Qur’an yang dapat membenarkan atau membuat lebih benar atau memperbaiki keterangan PL yang tidak semestinya itu.
Seperti yang sudah kita baca didalam PL, bahwa kisah Abraham banyak mengandung unsur ketidakadilan seperti membeda-bedakan keturunan Ibrahim yang berasal dari Ishaq dan keturunan Ibrahim yang berasal dari Ismael.
Ternyata al Qur’an tidak membeda-bedakan satupun diantara anak keturuan Ibrahim tersebut, semuanya sama dihadapan Allah . Hal ini diabadikan didalam surat Ali Imran ayat 84 ;
Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”(QS Ali Imran 3:184)”
Konteks ayat diatas adalah sebuah perintah yang disampaikan oleh Allah kepada seluruh umat Ibrahim melalui Muhammad bahwa hendaklah mengikuti semua ajaran Ibrhim yang diteruskan oleh anak cucu beliau. Artinya keturuan Ibrahim tersebut diperlakukan sama dihadapan Allah dan semua keturunan Ibrahim adalah pembawa petunjuk dari Allah.
Bahkan pada kalimat di akhir ayat , Allah menganjurkan umat Ibrahim dan Muhammad agar mengucapkan kalimat pengakuan sendiri supaya tidak akan membeda-bedakan atau memperlakukan keturunannya secara tidak adil.
Jadi ayat ini menekankan kepada manusia agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai persamaan hak-hak manusia. Akhirnya ayat ini ditutup dengan pernyatan agar berserah diri pada Allah. Berserah diri mempunyai cakupan yang sangat luas dan dalam. Seperti kesabaran dan keihklasan dalam menerima apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Memang ada orang yang lebih kaya, lebih makmur , lebih tinggi kedudukannya, lebih tinggi ilmunya, lebih tingi kemampuannya dan lain-lain sebagainya, tetapi itu semua tidak menjadikan kita harus iri, dengki, merendahkan seseorang atau terlalu tinggi menyanjung orang lain, tetapi serahkan semua urusan itu kepada Allah.
Hormatilah segala bangsa, suku, agama, pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Hanya Allah yang mengetahui siapa diantara orang-orang itu yang lebih baik disisiNYA. Bisa saja orang yang dipandang rendah oleh Manusia, tetapi disisi Allah mereka lebih tinggi, begitu juga sebaliknya. Ayat diatas mempunyai filsafat hidup yang tinggi nilainya kepada manusia yang beradab dan sebagai makluk yang berserah diri pada Allah.
Kembali Al Qur’an menyampaikan sebuah Ayat yang menghargai keturunan nabi-nabi terpilih kerutunan nabi Nuh, keturunan Ibrahim ( Ismael dan Ishaq) serta kepada keturunan Imran ( Maryam dan anaknya Isa As) ;
“ Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Ali Imran 3:33-34)”
Ayat diatas memperluas arti dari sebuah persamaan hak dan penghargaan kepada seluruh keturunan Nabi-nabi terpilih. Bukan hanya keturunan Ibrahim saja yang harus diperlakukan dengan adil, tetapi juga keturunan Imran yaitu Maryam yang akan melahirkan seorang Nabi yaitu Isa As. Jadi ketentuan persamaan dan penghormatan kepada semua nabi-nabi sudah diajaran di dalam Al Quran dan harus ditunaikan oleh umat islam sesuai dengan anjuran yang luhur dari ayat-ayat Allah didalam Al Qur’an.
Al Qur’an tidak pernah menceritakan tentang gossip, aib ataupun mencampuri urusan dalam rumah rumah tangga Ibrahim. Al Qur’an tidak pernah menceritakan tentang konflik yang terjadi di dalam rumah tangga Ibrahim yaitu hubungan yang tidak harmonis antara Sara dengan Hagar yang menyebabkan Hagar dan Ismail terusir dari tempat Ibrahim, seperti yang disampaikan oleh PL .
Al Qur’an menggambarkan sosok Ibrahim sebagai seorang manusia sangat peka perasaannya, dia sangat penyantun dan suka memberi apa yang dia miliki karena sifat pengiba dan rasa kasih sayang yang tulus kepada siapapun termasuk anak-anaknya bahkan Ibrahim akan selalu berdoa dan kembali ke jalan Allah ;
“ Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah (QS 11:75) “.

Al qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim adalah seorang yang dapat dijadikan panutan dan suri teladan bagi orang-orang yang bersamanya dan yang berada disekitarnya.

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ( QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Al Qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim bukanlah tipe orang yang suka berputus asa, tidak sabar , suka menyerah pada nasib ;
“ Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”55. Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat” (QS Al Hijr 15:55-56)”.
Ayat diatas merupakan dialog antara Ibrahim dengan Malaikat yang akan menyampaikan kabar gembira tentang anak yang akan lahir dari istrinya yang pertama yaitu Ishaq . Ketika Ibrahim dinasehati oleh Malaikat supaya jangan termasuk orang yang putus asa, maka secara spontan Ibrahim mengatakan bahwa orang yang tidak sabar itu adalah orang yang tersesat. Hal ini menunjukan bahwa Ibrahim bukanlah tipe seorang yang gampang menyerahkan nasibnya pada siapapun, dia temasuk orang yang sabar, setia sama istrinya dan seluruh keluarganya.
Ibrahim tidak takut kepada siapapun, Ibrahim mempunyai pendirian dan sikap yang tegas dalam mempertahankan keyakinan. Ibrahim hanya takut kepada Allah. Bahkan kepada Bapaknya, Ibrahim rela berpisah karena berbeda keyakinan ;
“ Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. (QS At Taubah 9:114) “
Ayat ini menunjukan bahwa Ibrahim bukanlah tipe seorang yang ragu-ragu pada keyakinannya dan dia rela berpisah dengan Bapaknya karena perbedaan prisip hidup. Ayat ini juga memperbaiki keterangan PL yang mengatakan bahwa Ibrahim berangkat bersama Bapaknya Terah. Sedangkan menurut Al Qur’an Ibrahim berpisah untuk selama-lamanya dengan bapaknya Aazar.
Bahkan Ibrahim tidak takut kepada seorang raja yang sangat berkuasa di dalam sebuah kerajaan ;
“ Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.( QS As Shafaat 37:97)”.
Ketika lidah api menjilati tubuhnya , Ibrahim tidak bergerming dan merasa takut sedikitpun juga. Menurut keterangan Al Qur’an, Ibrahim tidak takut kepada siapapun dalam hal mempertahankan kebenaran dan keyakinannya. Ibrahim hanya takut kepada kekuasaan dan hukuman Allah.
Bukan Allah yang mencari Ibrahim, tetapi Ibrahimlah yang menemukan Allah dengan Ilmu pengetahuannya. Ibrahim meyakini adanya sang pencipta alam semesta ini setelah melakukan survey yang cukup lama. Pada awalnya Ibrahim tidak percaya kalau berhala-berhala dan symbol-symbol ritual pemujaan di negrinya sebagai Tuhan yang diyakin oleh penduduk. Kemudian Ibrahim mencari sesuatu yang lebih berkuasa dari pada Berhala.
Bahkan pada awalnya Ibrahim menduga matahari, bintang-bintang dan rembulan lebih berkuasa dan sekaligus menciptakan alam semesta ini. Tetapi hasil penemuannya itupun tidak memberikan sebuah kesimpulan yang meyakinkan bagi Ibrahim. Akhirnya Ibrahim memperoleh kesimpulan yang tidak dapat dia bantah, bahwa seluruh alam semesta itu ada pemiliknya , ada penciptanya dan ada penguasanya yaitu Allah. Dan Ibrahim meyakini bahwa tidak ada lagi patung-patung, tidak ada lagi symbol-symbol ritual penyembahan, tidak ada kekuasaan Raja dan tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang lebih berkuasa dari sang pencipta seluruh alam beserta isinya. Dan sang pencipta itu adalah satu tidak ada lainnya, yaitu Allah SWT.
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan 78. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ((QS Al Ana’am 6:78-79)”
Keterangan ayat diatas adalah hasil akhir dari sebuah pencarian Ibrahim atas keyakinannya terhadap sang Pencipta seluruh Alam. Setelah keyakinannya mantap di dalam dadanya, maka dia menyampaikan jalan pikirannya itu kepada penduduk sekitarnya. Tetapi jalan pikiran Ibrahim tidak dapat diterima oleh seluruh warganya yang masih terkebelakang dan bodoh, mereka lebih percaya kepada Tahyul dan cerita bohong.
Begitu juga dengan Bapak Ibrahim Aazar yang tidak bisa menerima keterangan Ibrahim. Sehingga Ibrahim harus memutar otaknya , bagaimana cara menyadarkan penduduk yang sudah sangat bodoh itu. Beberapa kali Ibrahim membuat lelucon seperti ; mengajak patung-patung itu berbicara dan disaksikan oleh orang banyak lalu dia menampar dan memukul tubuh patung yang tidak mau mendengar perkataannya hingga Ibrahim kesakitan. Walaupun penduduk mengira Ibrahim melawak dan ada juga yang mengira dia gila, tetapi penduduk tetap saja menyembah patung-patung itu.
Ketika Ibrahim menyampaikan kebodohan mereka , merekapun marah dan menjawab bahwa mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh petua-petua mereka. Dan akhirnya Ibrahim mendapat ide akan menghancurkan patung-patung yang tidak berguna itu, dia ingin menyaksikan bagaimana reaksi para pemuja berhala itu apakah mereka sadar?. Maka pada saat rumah pemujaan sedang kosong , Ibrahim masuk kedalam ruangan. Disana terdapat banyak sekali patung dan ada satu yang paling besar. Kemudian Ibrahim berdiri didepan patung-patung kecil lalu bertanya ;
“ Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? (QS As Shafaat 37:91)”

Karena patung-patung itu tidak juga menjawab maka selanjutnya Ibrahim menghancurkan patung-patung itu ;
“ Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat)(QS As. Shafaat 37:93)”
Kemudian Ibrahim menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan palu dibahunya. Ibrahim ingin menguji kecerdasan penduduk. Kalau penduduk benar-benar bodoh maka mereka akan menuduh Dewa besar itulah yag memarahi dan menghancurkan dewa-dewa kecil-kecil karena ia tidak ingin disaingi. Tetapi kalau mereka mampu berpikir maka tentu mereka sadar bahwa tidak mungkin patung itu melakukannya. Atinya Ibrahim ingin memberi sebuah pelajaran dengan cara yang lain. Kenapa tuhan-tuhan dapat dihancurkan orang? Bukankah ini berarti manusia lebih berkuasa dari pada patung?.
Tetapi apa yang diharapkan Ibrahim, tidak dipahami oleh orang yang merasa lebih pintar dari patung itu. Kepintaran mereka tidak berguna bagi mereka, mereka tetap saja menyembah patung itu. Jadi siapakah yang lebih bodoh Patung atau manusia ?
Pada zaman millennium ini tidak ada lagi orang yang menyembah patung, kecuali orang gila. Tetapi model penyembahan berhala itu tetap saja terjadi hingga sekarang . Pada abad millennium ini, orang tidak menuhankan berhala, tetapi menuhankan pikiran, opini dan kesimpulan yang dibuat-buat.
Mereka memaksakan dugaan dan opininya lalu menyimpulkan menurut angan-angannya. Didalam pikirannya , mereka membayangkan Tuhan berubah menjadi Manusia, kemudian manusia itu menjema lagi menjadi Tuhan. Berarti tuhan itu tidak mungkin satu kerena sewaktu Tuhan membelah dirinya menjadi dua , maka terdapat dua tuhan yaitu Tuhan Bapak dan Tuhan anak, sehingga tuhan ini mempunyai 2 pribadi. 2 pribadipun belum cukup sebab tuhan bapak tidak berbicara yang berbicara adalah anaknya, maka ada satu tuhan lagi yaitu Firman. Selanjutnya Mereka menyimpulkan tuhan itu ada 3 unsur yaitu Bapak, anak dan Firman. Ketiga itu adalah satu tetapi tidak sama , dia memiliki 3 pribadi yang berbeda. Jadi kalau ada orang-orang yang mempercayai , meyakini dan mengikuti pendapat Pendeta ini , maka sama saja mereka telah menyembah berhala. Berhala itu bukan patung yang dapat dilihat tetapi pemikiran dan opini dari dalam pemikiran diri manusia itu. Jadi mereka sebenarnya sama saja dengan penduduk di zaman Abraham yang menyembah berhala dengan nalarnya. Patung-patung itu tidak kelihatan tetapi ada di dalam pikirannya.
Orang-orang di zaman Abraham bukannya menyadari kebodohan mereka , sebaliknya mereka membela patung-patung itu dan menghukum mati Ibrahim dengan membakar Ibrahim yang dianggap sebagai musuh berhala. Mereka merasa terhina sebab Ibrahim sudah melecehkan dan merusak sesembahan mereka.
Dengan keyakinan dan keimanan yang teguh itulah Ibrahim diselamatkan oleh Allah dari kezaliman yang dilakukan oleh Raja dan penduduk disana. Karena mukjizat itu, akhirnya Ibrahim meninggalkan kampung halamannya dengan aman tanpa gangguan. Jadi kepergian Ibrahim meninggalkan kampungnya disebabkan karena merasa bahwa beliau tidak perlu lagi berdialog dengan mereka. Maka sebenarnya ayat-ayat AL Qur’an memperbaiki keterangan PL yang mengatakan bahwa kepergian Abraham karena mendapat perintah untuk mendapatkan hadiah tanah yang dijanjikan.
Ibrahimpun berpisah dengan Bapaknya yang tidak mau ikut dengannya. Bapaknya memilih tetap bersama rakyat yang bodoh itu. Tetapi Ibrahim tidak pernah membenci Bapaknya, beliau sayang pada Bapaknya, kerena itulah dia menasehati orang tuanya. Tidak terdapat sebuah katapun yang tertulis di dalan Al Qur’an kalau Ibrahim pernah melecehkan dan menghina Bapaknya sendiri. bahkan Ibrahim memohon ampunan kepada Allah agar tidak menghukum Bapaknya ;
“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah (QS 60:4)”.
“ Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (QS 9:114) “.
Keterangan Ayat didatas menunjukan bahwa Ibrahim tetap mendo’akan Bapaknya karena dia telah berjanji, tidak akan berbuat durhaka. Tetapi setelah Ibrahim tidak mampu lagi meluruskan jalan pikiran Bapaknya, maka kata perpisahanpun tidak terelakkan. Di akhir kalimat, ayat ini menyatakan bahwa Ibrahim merupakan seorang yang mempunyai pribadi sangat peka , seorang yang penyantun, hatinya lembut dan sangat sayang kepada keluarganya. Jadi Al Qur’an melukiskan Ibrahim dengan pribadi yang sangat baik. Kepada Bapaknya saja dia sangat hormat dan santun apalagi terhadap anak istrinya. Keterangan al Qur’an ini bertolak belakang dengan penggambaran PL. Kembali al Qur’an mengoreksi keterangan PL yang mengatakan bahwa Abraham berangkat bersama Bapaknya Terah.
Akhirnya berangkatlah Ibrahim besama pengikutnya dan berjanji untuk berpisah selama-lamanya penduduk dan Bapaknya ;

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami menolak (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu karena permusuhan dan kebencianmu buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.. (QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Diawal ayat diatas , Allah memberikan arahan kepada Muhammad ( dan umat sesudah itu) bahwa kepribadian Ibrahim dapat dijadikan suri tauladan bagi orang-orang yang mau mengikutinya. Tentu saja suri teladan yang baik-baik , bukan seperti yang tertulis di dalam kitab Perjanjian Lama yang sudah dibahahas diatas. Namun di dalam prinsip ketuhanan, Ibrahim tetap teguh berkeyakinan. Beliau tidak mau menjual imannya dengan jatah makanan walaupun mati kelaparan. Ibrahim tidak perlu harus mengungsi ke Mesir , atau berpura-pura sebagai adik-kakak dengan istrinya demi takut dibunuh Fir’un dan Abimelehk.
Kemana tujuan Ibrahim selanjutnya?
“ Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (Qs Ash Shaaffaat 37:99)”.
Dari keterangan ayat diatas, kita mendapat sebuah petunjuk bahwa Ibrahim mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa Allah akan menolongnya di dalam Perjalananan nanti. Ditempat yang aman itulah Ibrahim akan menghadap (beribadah) Allah dengan membuat tempat beribadah.
Jadi Al Qur’an menerangkan bahwa kepergian Ibrahim dari kampung halamanya bukan karena diperintahkan oleh Allah kesuatu tempat yang dijanjikan. Kepergian Ibrahim terjadi akibat perbedaan prinsip dengan kebiasaan orang di kampungnya, sementara Ibrahim berada pada pihak yang mengalah sehingga dia memilih untuk mengungsi. Kalaupun Allah memberikan suatu tempat yang aman bagi Ibrahim untuk beribadah, itu bukan sebuah perjanjian yang disampaikan oleh Allah sebelum keberangkatannya.
Lain halnya dengan PL yang memerintahkan Abraham berangkat ketanah yang dijanjikanya untuk beranak cucu. PL tidak menjelaskan kenapa Abraham harus berangkat ketanah yang dijanjikan Allah tersebut. Penyebab berangkatnya Abraham tidak jelas dan tujuannya pun tidak tepat karena harus mengungsi lagi ke Mesir. Jadi sepertinya tujuan dari perjalanan Abraham yang tertulis didalam PL bernuasa kepemilikan tanah janjian yang dilatarbelakangi dengan perjanjian Allah.
Kenapa Allah harus menjanjikan Abraham tanah ke Kanan saja, bukankah bumi Allah masih cukup luas dan pada waktu itu manusia belum banyak sehingga masih banyak pilihan bagi Ibrahim mencari tempat yang baik dan aman.
Al Qur’an hanya menjelaskan bahwa Ibrahim sudah memasuki daerah yang aman dan diberkahi oleh Allah yaitu di Baitullah ;

“ Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (Qs Al Hajj 22:26) ”.
Kemudian diperkuat lagi oleh ayat berikut ;
Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia(Surat 21. AL ANBYAA’ – Ayat 71)”.
Ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan nabi Lut berangkat bersama-sama ke Baitullah tersebut. Mereka diarahkan oleh Allah menuju sebuah tempat yang aman di suatu tempat beribadah (baitullah) di Mekkah.
Ketika Ibrahim sampai disana, tempat itu masih merupakan semak belukar dan disana terdapat sebuah batu sebagai patokan untuk tempat beribadah ;
Disanalah Ibrahim mendirikan rumah ibadah (= Mezbah). Ibrahim meninggikan letak Batu tersebut sebagai tanda dari tempat ibadah tersebut. Batu itu dikenal dengan nama Asjar Aswad . Al Qur’an menyatakan bahwa disanalah rumah beribadah manusia yang pertama kali dibangun oleh Manusia ;
“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS Ali IMran 3:96)”.

Sebagai bukti bahwa Ibrahim pernah membangun tempat beribadah, di dalam Al Qur’an terdapat keterangan ;
“ Padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim (berupa telapak kaki); barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia (QS 3:97);”
Sampai sekarang bukti telapak kaki Ibrahim itu masih tersimpan dengan baik. Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan tentang kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Sementara PL tidak pernah ada tertulis bahwa Abraham pernah datang ke Mekah atau membangun Mezbah disana, bahkan tidak disertai bukti tentang mezbah yang pernah dibangun Ibrahim pertama kali sampai di negri Kanaan tersebut.
Bekas telapak kaki itu berukuran panjang 22 cm, lebar 11 cm dan dalamnya 10cm. makam itu merupakan bukti sejarah dari keberadaan Ibrahim di Baitullah Mekah ;

Jejak Telapak kaki Nabi Ibrahim di Masjidil Haram Mekah

Batu Asjar Aswad
Setelah selasai membangun rumah Ibadah tersebut dan membersihkanya, lalu Ibrahim dan rombongannya meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan Perjalanan dalam menyampaikan dakwahnya. Sementara Istrinya yang sedang hamil tidak ikut berangkat, dan Ibrahim berdoa kepada Allah semoga Allah melindungi Istrinya . adapun do’a Ibrahim ketika meninggalkan tempat Baitullah diabadikan pada sutar Ibrahim ayat 37 ;
“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS 14:37) “.
Ternyata doa Ibrahim dikabulkan Allah. Inipun telah menjadi bukti yang tidak terbatahkan hingga sekarang. Kota Mekah benar-benar menjadi pusat peribadatan untuk umat islam seluruh dunia. Puluhan Juta umat islam datang menunaikan ibadah Haji per tahunnya. Mekah menjadi kota besar yang tidak pernah sepi dari ritual ibadah dan semua persediaan makanan melimpah ruah di sana.
Kalau kita lihat kontek ayat diatas , al Qur’an memberi petunjuk “sebahagian keturunanku di lembah “ ; artinya ketika itu Ismael masih belum Lahir karena Ibrahim meningalkannya Istrinya dalam keadaan hamil dan menetap di dekat Baitullah, yang masih banyak semak belukarnya. Kemudian Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah supaya Allah melingdungi Istri dan calon anaknya. Tentunya Ibrahim meyakini bahwa Allah akan menolong dan melindungi keluarganya. Keyakinan Ibrahim tentu beralasan kuat , kerena beliau bersama rombongannya telah menyelesaikan pembangunan Baitullah tahap pertama untuk dijadikan tempat beribadah bagi pengikutnya, sehingga nantinya tentu ada musafir dan pengikut ajaran beliau yang datang mampir ketempat itu untuk beribadah. Sedangkan Ibrahim dan rombongan akan pergi mendatangi negri-negri yang berdekatan untuk menyampaikan dakwah dan mengabarkan bahwa tempat beribadah tersebut sudah ada di Mekkah. Dan memang sejarah membuktikan bahwa tempat tersebut (Baitullah) tersebut selalu dikunjungi oleh banyak musafir, kabilah, dan orang-orang yang beribadah di tempat itu.
Ayat ini memberikan petunjuk bahwa tidak ada unsur diskriminasi yang dilakukan oleh Ibrahim kepada anak istrinya dan tidak ada juga keterangan tentang kemelut rumah tangga beliau. Kisah ini berjalan seperti apa adanya dan tidak bisa direkayasa untuk maksud-maksud tertentu. Sepertinya kontek ayat ini membatasi manusia untuk merubah ayat itu sehingga ayat ini sangat kokoh untuk dimasuki cerita sisipan seperti yang tertulis di dalam PL.
Beberapa tahun kemudian Ibrahim kedatangan tamu yang ternyata adalah para malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan sesuatu ;
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?24 (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. 25 Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), 26 lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silakan kamu makan. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (QS 51:24-28) “.
Kalau kita baca keterangan ayat ini, ternyata sangat mirip dengan keterangan dalam kitab Perjanjian Lama. Hal itu menunjukkan bahwa Allah sudah menceritakannya kepada nabi sebelum Muhammad SAW. Namun kalau kita dalami terdapat beberapa perbedaan yang sangat prinsip.
– Pertama menurut Al Qur’an diantara tamunya itu tidak ada Allah , yang datang adalah untusan Allah yaitu para Malaikat sedangkan menurut PL ada Tuhan diantara tamu itu.
– Kedua Al Qur’an tidak menyebutkan jumlah malaikat sedangkan PL menyebutkan 2 orang Malaikat dan 1 Allah.
– Ketiga Al Qur’an menjelaskan tamu itu langsung menemui Ibrahim kerumahya sambil mengucapkan salam lalu dijawab oleh Ibrahim sambil mengatakan bahwa beliau tidak kenal dengan mereka , sedangkan menurut PL Abraham Tuhan dan Malaikat menampakan dirinya dari bawah pohon Terbantine lalu Abraham lari menyongsong penampakkan itu lalu meminta tamunya berkunjung ketendanya.
– Keempat menurut Al Qur’an tempat pejamuan itu di dalam rumah Ibrahim, sedangkan menurut PL pejamuan itu bertempat dibawah pohon didepan tenda tempat Abraham tinggal.
– Kelima Al Qur’an menjelaskan bahwa Ibrahim diam-diam menemui keluarganya (istrinya) supaya menyiapkan hidangan, sedangkan menurut PL Abraham meminta para tamunya makan dulu supaya segar lagi, setelah itu baru boleh berangkat. Lalu disetujui oleh Tuhan dan malaikat untuk mempersilahkan Abraham menyiapkan hidangan tersebut.
– Keenam Al Qur’an mengatakan bahwa Ibrahim hanya menghidangkan anak daging sapi gemuk yang dibakar, sedangkan menurut PL Abraham menghidangkan banyak jenis makanan sebagai hidangan yaitu roti yang diolah lengkap dengan prosedur pengolahannya (apakah dizaman itu sudah ditemukan prosedur pembuatan roti?) , dadih dan susu serta daging sapi.
– Ketujuh menurut Al qur’an Ibrahim mempersilahkan para tamumnya itu makan tetapi mereka tidak mau makan, sedangkan menurut PL hanya tamu-tamunya saja yang makan termasuk Allah sementara Abraham menyaksikan sambil berdiri.
– Ke delapan menurut Al Qur’an Ibrahim ketakutan dan merasa kuatir menyaksikan para tamunya tidak mau menyentuh makanan, sedangkan menurut PL Abraham tidak merasa apa-apa.
– Kesembilan Menurut Al Qur’an malaikat menenangkan perasaan Ibrahim supaya tidak takut karena Malaikat itu akan menyampaikan sebuah berita gembira untuk Ibrahim, sedangkan PL tidak menceritakan ketakutan Abraham pada tamunya.
– Kesepuluh Menurut Al Qur’an malaikat yang memberitakan bahwa Abraham akan medapatkan anak lagi, sedangkan menurut PL Tuhan langsung yang menyampaikannya pada Abraham.
Ternyata istri Ibrahim ikut menguping dan mendengar berita itu dari balik tirai ;
“ Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub.(QS 11:71)”.

“ Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul ( QS 51: 29) ”.

“ Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh (QS 11:72) ”.
Kalau kita baca keterangan Al Qur’an ini mirip dengan yang disampaikan pada PL. untuk membandingkannya , marilah kita baca keterangan di dalam PL ;
” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. 12Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” 13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? 15Lalu Sara menyangkal, katanya: “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: “Tidak, memang engkau tertawa!” (kej 18 :10,12,13,15)”
Kalau kita terliti lebih jauh ,maka banyak terdapat perbedan-perbedaan diantaranya ;
1. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim mendengarnya dari balik tirai di dalam rumahnya, sedangkan menurut PL dari pintu belakang tenda.
2. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim tersenyum dari balik tirai, sedangkan menurut PL istri Abraham tertawa di dalam hatinya.
3. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim datang menemui tamunya sambil berteriak dan menepuk mukanya , sedangkan menurut PL istri Ibrahim tidak datang menemui tamunya.
4. Menurut al Qur’an istri Ibrahim menemui tamu itu sambil mengatakan bahwa dirinya sudah tua begitu juga dengan suaminya dan dia juga mandul, tetapi menurut PL Tuhan yang bertanya langsung pada Sara kenapa dia tertawa .
5. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim menyatakan dirinya sendiri mandul dan sudah tua, sedangkan menurut PL Sara tidak mengakui bahwa dia tertawa mendengar berita tetapi Tuhan tahu bahwa dia tertawa, ketika ditanya baru dia mengatakan bahwa dia merasa tidak mungkin hamil tetapi dia tidak tertawa.
Setelah dibandingkan kedua ayat-ayat di atas antara Al Qur’an dengan kitab perhanjian Lama tentang dialog antara Ibrahim dan istrinya dengan tamu-tamu ita, maka kita dapat mengambil sebuah penilaian ;
1. Cerita di dalam Al Qur’an mengandung unsur kebenaran dibandingan dengan cerita di dalam kitab Pejanjian Lama.
2. Keterangan PL yang menulis adanya Allah diantara tamu itu, diperbaiki oleh Al Qur’an yang menyatakan bahwa tamu yang datang itu hanya malaikat utusan Allah kepada Ibrahim. Secara logika , tidak mungkin Tuhan harus datang untuk menyampaikan kelahiran anak Ibrahim dan tidak mungkin pula Tuhan atau Malaikat menikmati hidangan Manusia
3. Keterangan PL yang menulis bahwa istri Ibrahim tidak mengakui bahwa Dia tertawa, diperbaiki oleh Al Qur’an bahwa Istri Ibrahim tidak tertawa atau mentertawakan berita itu. Yang sebenarnya Istri Ibrahim merasa kurang yakin lalu menyatakannya kepada tamu yang datang itu. Menurut logika dan hatinurani, tidak mungkin Istri Ibrahim menipu Allah karena persoalan sekecil itu.
Setelah Ibrahim menerima berita gembira tersebut, lalu Ibrahim mempertanya- kan urusan lain yang lebih penting dari tamunya ;

“ Berkata (pula) Ibrahim: “Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan? (QS 15:57)”
“ Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut), 32 agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), 33 yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas (QS Az Zhaziraat 51:31-33)”.
Ayat diatas menunjukan bahwa para malaikat itulah yang ditugaskanoleh Allah untuk melaksanakan ketentuan yang sudah ditetap bagi mereka yang sudah melampaui batas ( perbuatan homosex ). Dan tidak ada ditemukan satu ayatpun di dalam Al Qur’an yang menyatakan telah tejadi perundingan atau proses tawar menawar antara Ibrahim dan Allah sebelum menghancurkan negeri itu. Keterangan al Qur’an lebih logis dari pada keterangan PL.
Allah (“ kata Kami”) menerangkan bahwa Dia sudah menetapkan keputusan menimpakan kehancuran pada kaum Lut ;
“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.
Allah mengatakan bahwa tidak satupun di negri itu yang beriman kecuali dalam sebuah rumah dan Allah menyelamatkan orang-orang bertawakal yang ada di dalam rumah tersebut.
Kalau kita membaca ayat ini saja seolah-olah kalimat “Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. “ ; seolah-oleh bermakna bahwa Tuhan dan Malaikat baru tahu setelah menyelidiki langsung ke tempat tersebut. Bagi orang yang tidak pernah membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang kisah Nabi Lut sebelumnya , maka tentu pikiran orang itu mengira bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa Allah baru tahu setelah datang langsung kota itu. Padahal keterangan ayat diatas adalah sebuah pernyataan pada saat-saat akhir dimana Allah memutuskan perkara hendak menghancurkan kota maksiat itu. Untuk itu marilah kita lihat keadaan kota maskiat itu sebelum kehancuran yang diterangkan oleh ayat-ayat Al Qur’an .
Kita mulai dari doa nabi Lut ;
“ (Lut berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan’ (QS Asy Sy’araa’ 26:169)”.
Perbuatan apakah yang dilakukan oleh penduduk ditempat nabi Lut ? Bahkan nabi Lut sering menasehati mereka ;
“ Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?”(Qs An Naml 27: 54)”
Perbuatan fahisyah (sejenis perbuatan maksiat) apakah yang telah mereka lakukan. Bahkan mereka melakukannya saling menyaksikan dan membiarkan?
Ternyata perbuatan Fahisyah itu belum pernah dilakukan oleh umat manusia sebelumnya ;
“ Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu , yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS Al A’raaf 7:80)”

Keterangan ayat diatas diperkuat lagi oleh ;
“ Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu”.( QS Al ‘Ankabiit 29: 28)”

Mengapa Lut berdoa kepada Allah agar keluarganya selamat dari perbuatan itu? Karena Lut tidak sanggup lagi memperingati mereka dan sebaliknya mereka mengancam Lut yang suka usil dan sok suci itu ;
“ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Lut dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” ( QS Al A’raaf 7:81-82)”
Apa yang disampaikan oleh Lut kepada mereka sehingga mereka melecehkan nasehat Lut bahkan menuduh balik beliau dan pengikut beliau sebagai orang yang pura-pura suci? Ternyata Lut memberi peringatan akan azab Allah kepada mereka ;
“ Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.(Surat 54. AL QAMAR – Ayat 36)”
“ Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih (QS Hud 11:89-90)”.
Apakah Lut tidak pernah menasehati mereka sebelumnya? Ternyata nabi Lut sering memberi nasehat-nasehat kepada mereka. Tetapi mereka benar-benar menolak dengan keras.
Ikutilah dialog dibawah ini yang mengisahkan tentang usaha Nabi Lut menyadarkan penduduk dikotanya ;
“Kaum Lut telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas( QS Asy Syu’araa’ 26:160-166)”.
“ Mereka menjawab: “Hai Lut, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir (QS Asy Syu’araa’ 26:167)”
“ Lut berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu ((QS Asy Syu’araa’ 26:168)”.
Tentu saja Lut tidak mungkin lagi menesahati mereka , maka Lut memanjatkan doa kepada Allah sebagaimana disampaikan pada surat Asy Sy’araa’ ayat 16 diatas tadi. Berkali-kali Lut menyampaikan dakwahnya untuk memperbaiki penyimpangan yang dialami oleh penduduk, tetapi mereka berbalik menyerang Lut.
Namun Lut yang masih sabar, menyampaikan pesannya yang terkahir tentang kedatangan azab yang akan ditimpakan kepada mereka apabila mereka masih begitu ;
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu (QS Hud 11:89)”.
Ayat ini menunjukan sebuah ungkapan kesabaran Lut yang sudah sampai batas, dia menyampaikan pesan , sekiranya mereka membenci dirinya lantaran pesannya itu, beliau dapat menerimanya. Tetapi kalau Tuhan yang mengutuk kelakuan mereka itu maka semuanya akan ditimpa azab oleh Allah, sebagaimana yang pernah dialami oleh umat nabi Saleh dan umat nabi Hud.
Tetapi ancaman nabi Lut itu tidak didengar oleh mereka , bahkan mereka menantang nabi Lut supaya memperlihatkan azab Allah tersebut ;
“ Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar ( QS Al An Kabuut29:29)”.
Tentu saja nabi Lut sangat sedih mendengar jawaban mereka , maka Lut memohon kepada Allah untuk disegerakan permintaan tersebut ;
“ Lut berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu (QS Al An’kabuut 29:30)”.
Tidak beberapa lama setelah permohonan Lut itu, datanglah beberapa orang Malaikat yang menyamar sebagai laki-laki berbadan bagus dan elok rupa. Mereka memasuki kota menuju rumah Lut . Benar saja ! disepanjang jalan banyak sekali mata laki-laki memandang penuh hasrat kepada serombongan malaikat yang berwajah tampan ini. Tentu saja bukan hanya laki-laki saja yang mengikuti langkah pria-pria tampan itu , jelas para wanita dikampung itu sangat ngiler untuk memiliki mereka. Lalu mereka berbondong-bondong mengikutinya menuju rumah Lut.
Begitu para malaikat itu sampai di rumah nabi Lut, beliau langsung merasa kuatir. Apakah yang dikuatirkan oleh nabi Lut ? Apakah nabi Lut mengetahui bahwa tamu yang datang tersebut adalah para malaikat? Ataukah beliau sudah berfirasat kalau para tamunya itu adalah malaikat yang akan mengabulkan doa beliau untuk menghukum orang-orang fashihah tersebut? Ternyata jawabannya ada pada ayat berikut ;
“ Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Lut, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.”(QS HUd 11:80)”
Menurut keterangan kedua ayat tersebut , berarti nabi Lut tidak mengenal para tamunya itu, yang dikuatirkan oleh beliau adalah kedatangan para tamunya yang berwajah elok rupa dan ganteng-genteng itu. Beliau kuatir kalau penduduk akan datang kerumahnya untuk mencelakakan tamu-tamunya itu.
Apa yang dikuatirkan oleh nabi Lut ternyata terjadi juga, suara derap langkah sudah mulai terdengar mendekati rumah beliau , suara langkah itu makin mendekat , suara ribut-ribut diluar rumahnya sudah jelas sekali bunyinya. Pasti mereka menginginkan tamu-tamu beliau ini. Beberapa saat kemudian pintu rumah beliau diketok . mereka ingin segera masuk . Tentu saja Lut tidak mau membuka pintunya. Maka terjadilah dialog dari rumah ke halaman;
“ Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, (QS 15:67-69) ” .

Keterangan diatas diperkuat lagi oleh surat Hud ayat 78 ;

“ Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (QS Hud 11:78)”.

Tentu saja Lut sudah mengerti kehendak mereka yang menginginkan tamu yang ada dirumahnya . Lut bertambah cemas, tetapi beliau tetap sabar. Beliau memperingati para serigala yang sudah kelaparan tersebut dan menjelaskan bahwa para pendatang itu adalah tamunya. Beliau memohon agar mereka menghormati beliau dan tamunya. Bahkan beliau masih sempat memberikan nasehat ;
“ Lut berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina (QS Al Hijr 15:68-69) “.
Tentu saja para serigala itu tidak memandang lagi terhadap Lut, mereka hanya menginginkan tamunya itu, mereka sudah kebelet bahkan mereka memperingatkan dan mengancam Lut ;
“ Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (QS Al Hijr15:70) “.
Akhirnya Lut mengajukan permohon dengan sebuah persyaratan. Lut menawarkan Anak Gadisnya untuk dikawini secara baik-baik.
“Lut berkata: “Inilah putri-putri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal) ( QS Al Hijr 15:71)”.
Tetapi dasar manusia serigala yang mengalami kelainan sex, mereka sudah tidak mampu lagi membedakan yang baik dan yang salah, yang manis dengan yang pahit, yang putih dengan yang hitam. Mereka sudah tidak dapat disadari lagi. Semua laki-laki kaum homosex itu sudah berkumpul di depan rumah beliau ;
“ Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki (QS 11:79) ”.
Jadi jelaslah bahwa mereka hanya menginginkan tamu itu. Padahal tamu yang datang itu bukanlah manusia, yang datang itu adalah roh yang berujud manusia. Tamu itu hanyalah bayangan berupa sosok manusia terindah yang belum pernah ada didunia. Sekiranya kaum homo itu mengetahui yang sebenarnya, tentu mereka akan ketakutan lalu lari berhamburan , terbirit-birit dan terkencing-kencing.
Lut merasa tidak mampu melawan orang-orang banyak tersebut dan lagi beliau merasakan kalau dirinya telah dikucilkan selama ini.
“ Lut berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan) (QS Hud 15:80).”
Bahasa yang digunakan oleh ayat ini sangat santun dan sopan sekali. Hal ini menunjukkan bahwa nabi Lut seorang yang sangat sabar dan sopan dalam berbicara. Sekiranya orang yang tidak sabar dan sering emosional, tentu kalimat tersebut tidak cocok baginya. Tentu orang itu akan mengeluarkan kata-kata kesal atau mengumpat seperti; “kalian jangan begitu ya ! Mentang-mentang kalian banyak, jangan berlaku seenak ya! Ntar aku lapor sama polisi ya ! “. Atau “ awas ya ! , nanti aku lapor sama Raja , rasain kalian nanti !”. Tetapi Al Qur’an menyampaikannya dengan cara tata bahasa yang sopan, santun dan ada kesan kesabaran dan kerendahanhatian serta ketegasan.
Maka pada saat yang genting itulah Malaikat menyampaikan sesuatu berita kepada nabi Lut ;
“ ..dan mereka (Malaikat) berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) (QS Hud 11:31).”
Mendengar pengakuan Malaikat itu, legalah perasaan beliau. Namun beliau sangat sedih mendengar penuturan tamunya, bahwa istrinya tidak akan diselamatkan. Ada apa gerangan dengan istri beliau ? Kesalahan apakah yang diperbuat oleh istrinya ?. Kenapa istrinya belum juga kembali? Mengapa malaikat ini akan meninggalkan istri tercintanya? Mengapa Malaikat ini tidak mau menyelamatkan istrinya?
Ternyata jawabannya terdapat pada surat At Tahrim ayat 10 ;
“ Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka) (QS At Tahrim 66:10)”.
Ayat diatas dapat digunakan sebagai petunjuk tentang karakter istri nabi Lut begitu juga istri nabi Nuh. Al Qur’an menyampaikannya dengan sebuah perumpamaan. Perumpamaan ini memberikan gambaran bagaimana sifat khianat seorang istri yang tidak diketahui oleh suaminya. Se-saleh apapun seorang suami belum tentu mampu merubah karakter istrinya , begitu juga sebaliknya. Seorang suami atau istri mungkin tidak tahu sama sekali bahwa pasangannya telah mengkianatinya. Dalam hal ini, Istri Lut digambarkan sebagai istri yang berkhianat kepada suaminya untuk berbuat maksiat, begitu juga dengan istri nabi Nuh. Artinya mereka hanya mampu menipu pasangannya tetapi tidak kepada Allah dan Allah yang menentukan balasan yang setimpal baginya. Dan kepadaNYa manusia berserah diri.
Surat Hud ayat 31 dan 80 memberi petunjuk bahwa pada waktu kedatangan Malaikat, istri Lut tidak berada dirumah untuk urusan yang tidak direhdhai Allah. Dan kalau dihubungkan dengan surat At Tahrim ayat 10, ternyata istri Lut termasuk kelompok pembuat dosa sebagaimana penduduk kota yang lainnya. Dan kalau dihubungkan lagi dengan surat AL A’raaf ayat 82 diatas, maka pantas saja orang-orang dikota itu menuduh Lut dan pengikut beliau sebagai orang-orang yang sok suci, karena ternyata istri beliau termasuk anggota kelompok mereka juga.
Setelah itu, malaikat menyuruh beliau segera meninggalkan rumahnya untuk pergi menyelamatkan diri besama pengikutnya dan keluarganya malam itu juga ;
Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (QS Hud 11:81)”.
Dari keterangan ayat di atas, memberikan petunjuk bahwa selagi nabi Lut menyelamatkan diri mencari tempat yang aman, para Malaikat itu memberikan hukukman dan ganjaran kepada para serigala kehausan darah itu. Pertanyaannya adalah hukuman apakah yang diberikan oleh Malaikat tersebut kepada manusia serigala yang sudah keterlaluan ini ?. Jawabannya ada pada surat Az Zummar ayat 37 yangberbunyi;.
“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Surat 54. AL QAMAR – Ayat 37)

Dengan dibutakan mata mereka semua , menyebabkan seluruh penduduk yang kesetanan itu tidak dapat keluar dari kampungnya itu hingga datanglah bencana yang sudah menunggu. Mereka hanya mampu menunggu nasib yang sudah ditentukan untuk mereka.
Akhirnya nabi Lut pergi jauh keluar kota berjarak sekitar semalam perjalanan , lebih kurang 30 – 40 Km.
Bencana itu terjadi pada saat subuh;
“Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Lut) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh (Surat 15. AL HIJR – Ayat 66)”.
Tentu saja Nabi Lut tidak membawa istrinya yang malam itu entah dimana berada dan lagi nasib istrinya sudah ditentukan mati dalam bencana itu.
Kembali kita ke surat Adz Dazaariyaat ayat 35 diatas ;
“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.
Hal ini menunjukan bahwa Lut dan pengikutnya selamat dari bencana besar itu. Pertanyaan dasar yang perlu diajukan adalah ; kenapa Allah harus memusnahkan manusia seluruh kota tersebut? jawabannya adalah karena semua orang-orang beriman sudah diselamatkan oleh Allah melalui utusanNYA yaitu Malaikat seperti pada kalimat di ayat tersebut ” Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”.
Pada malam terakhir itu , yang tinggal hanyalah orang-orang yang mengalami penyakit menular yang berbahaya bagi generasi berikutnya. Apabila orang-orang ini dibiarkan hidup lebih lama maka mereka akan menularkan sifat dan karakter mereka pada generasi berikutnya. Sehingga akan lahir generasi yang akan rusak lahir dan bathin.
Pada zaman Milenium ini, penyakit yang paling ditakuti dan berbahaya adalah penyakit menular yang disebut AIDS , penyakit ini ditularkan akibat prilaku homosex dan hubungan sex bebas. Penyakit menular ini dapat menghancurkan sistim kekebalan tubuh sehingga si penderita mudah terserang berbagai jenis penyakit lainnya dan akhirnya dia mati dalam keadaan sekarat.
Artinya; hukuman ini merupakan bentuk kasih Sayang Allah kepada umat generasi berikutnya dan supaya mereka tidak menularkan penyakit tersebut ke negeri-negeri lainnya.
Tentu kita dapat membayangkan bagaimana suasana di zaman purba itu, tentu saja ilmu kedokteran belum ada seperti sekarang ini. Apabila waktu itu berkembang wabah penyakit AIDS, spilis, Gonoore dan penyakit kelamin lainnya, maka ini benar-benar sebuah bencana yang belum ada obatnya dizaman itu.
Bukankah belum ada umat lain di dunia ini yang melakukan perbuatan terkutuk seperti itu sebelumnya ? Bukankah nanti wabah itu berasal dari kota terkutuk itu?. Kalau akibat perbuatan penduduk dikota itu sempat menghasilkan penyakit kelamin yang menular dan menyebar kebelahan negeri lainnya, maka siapakah yang akan mengobati mereka, apakah dukun-dukun zaman purba sanggup mengobati penyakit infeksi yang menular ? Bukankah pada zaman nabi Isa AS , berabad-abad setelah umat nabi Lut, wabah penyakit sampar saja tidak ada yang mampu mengobatinya, kecuali mukjizat Isa atas Izin Allah?
Bukankah dalam proses sterilisasi kuman-kuman penyakit menular (flu babi, flu burung, penyakit sapi gila dan lain-lain) , maka hewan inangnya juga harus dimusnahkan dengan cara dibakar lalu dikubur di dalam tanah?
Mungkin saja sudah mulai ada penduduk yang sakit , minimal sakit mental yaitu cinta sesama jenis yang akhirnya mereka akan punah, atau mungkin juga saat itu penyakit kelamin dan AIDS sudah menunjukkan gejala akan terjadi, kalau bukan yang berkuasa yang dapat mengatasinya lalu siapa lagi ? Mungkin jiwa Ibrahim dan kita sekalian sedih mendengar seluruh manusia didalam kota itu akan dimusnahkan, tetapi akan lebih gawat lagi apabila wabah kelainan mental dan penyakit menular berkembang dan mematikan penduduk dalam jumlah yang lebih banyak dan mengerikan.
Akhirnya penduduk yang tidak berguna itu terpaksa harus di sterilisasi secara alamiah dengan kehendak sang pencipta ;
“ Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, (QS Hud 11:82)”
Al Qur’an membantah keras pernyataan Kitab PL yang menulis bahwa Lut adalah seorang yang bejat yang telah berbuat zina dengan anaknya sendiri sehingga melahirkan anak sekaligus cucunya. Keterangan kitab PL ini benar-benar sebuah penghinaan, Fitnah dan gossip yang nyata.
Nabi Lut telah mencegah dan menentang habis perbuatan maksiat, lalu kenapa kitab PL menuduh beliau telah melakukan perbuatan yang lebih keji lagi. Benar-benar biadab tuduhan tersebut. Al Qur’an menulis bahwa Lut adalah seorang Nabi dan utusan yang sangat disayangi Allah;
“ Maka Lut membenarkan (kenabian) nya (QS AL Ankabuut 29:26)”.
Bahkan Allah mengabadikan Lut sebagai seorang Rasullullah ;
“Sesungguhnya Lut benar-benar salah seorang rasul” (QS Ash Shaaffaat 37:133).
Bahkan nabi Lut termasuk orang yang dilebihkan derajatnya diantara umatnya ;
dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya) (Qs Al An’aam 6:86)”,
Jadi banyak sekali ayat-ayat yang terdapat di al Qur’an yang dituduh mencontek kitab PL, ternyata justru memperbaiki dan membetulkan keterangan dari kesalahan yang sudah diperbuat oleh PL. Hal ini menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah hasil karya dari pegarang aslinya yang telah datang untuk merevisi keterangan-keterangan yang sudah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kita kembali kepada kisah Ibrahim. Kita akan baca bagaimana keterangan Al Qur’an ketika Ibrahim melaksanakan perintah Allah yaitu mengobankan anaknya. Al Qur’an tidak menyebutkan secara tegas nama anak Ibrahim yang di kurbankan. Hal ini memberikan kesan bahwa Al Qur’an tidak mengutamakan dan tidak mementingkan nama orang yang dikurbankan, tetapi lebih mengedepankan nilai dari pengorbanan Ibrahim kepada Allah.
Kita tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Ibrahim ketika dia diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri, apakah ini benar-benar perintah dari Tuhan? Apakah ini suara iblis? Apakah Tuhan tidak main-main dengan perintahnya? Kenapa ujian itu harus dengan membunuh anaknya yang dia peroleh ketika dia sudah tua? Bukankah selama ini dia sering memberikan kurban yang sangat banyak dari domba, unta serta keledainya kapada Tuhan? Apakah kurban yang dia berikan selama ini masih belum cukup bagi Tuhan? Bagaimana kalau sekiranya anaknya tidak bersedia dikurbankan? Bagaimana dengan Istrinya, apakah dia percaya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di dalam dada apabila kita membayangkan diri kita sebagai Ibrahim.

Al Qur’an menjelaskan bahwa, bukankah ujian yang diberikan Tuhan itu merupakan konsekwensi dari ucapan Ibrahim yang dulu pernah diikrarkannya kepada Tuhan ;

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (QS Al Baqaraah 2:131)”.

Kemudian Allah menagih janji Ibrahim untuk melaksanakan satu perintah Tuhan ;

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya (QS Al Baqaraah 2:124)”.

Dan ketika perintah itu disampaikan Allah kepada Ibrahim melalui mimpinya, Ibrahim tidak lantas membawa anaknya untuk disembelih, namun mendiskusikannya terlebih dahulu ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS 37:102)”.

Al qur’an menerangkan bahwa ujian yang dilaksanakan oleh Ibrahim benar-benar sebuah ujian yang sungguhan, bukan sebuah pembohongan atau rekayasa seperti yang disampaikan di dalam kitab PL.

Al Qur’an menjelaskannya dengan sangat serius bahwa Ibrahim benar-benar melaksanakannya dengan penuh keyakinan serta penyerahan diri yang tulus untuk melaksanakan perintah Allah ;

“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Ash Shaffaat 37:105)”.

“ Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (QS Ash Shaffaat 37:106)”.

Al Qur’an tidak menunjuk siapa anak Ibrahim yang dia kurbankan. Berbeda dengan keterangan PL yang sangat detail menguraikannya, tetapi jelas-jelas mengandung unsur kesalahan yang sangat fatal untuk diterima dengan akalbudi manusia. Keterangan kitab PL seperti sebuah propaganda menyanjung tinggi anak Abraham yang bernama ishaq, tetapi mengabaikan penalaran dan hati nurani. Al Qur’an juga tidak memberikan data umur anaknya yang dikurbankan itu, tetapi Al Qur’an memberikan sebuah petunjuk bahwa umur anak itu sekitar dia mampu membantu Bapaknya bekerja seperti; mengangkat kayu, mengambil air dan suruhan ringan lainnya.
Walaupun Al Qur’an tidak memberikan data-data pengorban anak Ibrahim dengan lengkap, tetapi keterangan Al Qur’an ini mengandung hikmah bahwa Al Qur’an tidak memberikan peluang kepada manusia untuk melakukan perdebatan atau mempersoalkannya. Al Qur’an hanya memberikan tanda-tanda terhadap siapa yang dikurbankan Ibrahim, tugas manusialah untuk menyelidikinya. Al Qur’an tidak melarang dan tidak pula menganjurkan kepada siapapun untuk menyelidiki kejadian tersebut karena makna utama dari pelaksanaan kurban itu adalah unsur ketaqwaan Ibrahim.

Mengenai siapa yang dikurbankan oleh Ibrahim, Al Qur’an hanya memberikan sedikit petunjuk penting yaitu, ketika itu anaknya sudah sanggup bekerja atau dapat membantu pekerjaan Bapaknya ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim,(QS Ash Shaffaat 37:102)”.

Seseorang boleh memprediksikan kalau seorang anak laki-laki dapat membantu Bapaknya bekerja setelah berumur 8 hingga 14 tahun. Artinya anak itu belum cukup umur untuk dikawinkan atau beristri dan dia masih dibawah pendidikan dan pengawasan Bapaknya. Kemudian Al Qur’an memberi petunjuk tambahan bahwa anaknya itu sudah dapat diajak berdiskusi.

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS Ash Shaffaat 37:102)”.

Artinya anak tersebut sudah akil baliq (pubertas) dan anak yang berumur akil baliq adalah sekitar 12-15 tahun dimana anak ini sudah mulai dewasa dan mampu menggunakan nalarnya untuk menilai sebuah kebenaran akalbudinya. Kalau anak seumur ini, biasanya dapat diajak bertukar pikiran yang ringan-ringan lalu dia dapat mengambil sebuah keputusan berdasarkan logikanya dan kebersihan hatinuraninya.
Sekiranya Ishak sudah lahir ketika itu, maka tentu saja Ishak harus sudah berumur sekitar 12 sampai 15 tahun, sedangkan Ismael akan berumur lebih tua lagi dari Ishak atau mungkin juga Ismael sudah mempunyai istri. Sekiranya waktu Itu Ismael sudah matang, dewasa atau sudah beristri, maka keterangan ayat 37:102 tersebut tidak beraku bagi Ismael.

Persoalan akan muncul apabila umur Ismael dan Ishak tidak berbeda jauh (misalnya 2-3 tahun), karena akan muncul masaalah bagi Ibrahim bagaimana menjatuhkan pilihan diantara kedua putranya itu. Sebaliknya jika selisih umur Ismail dengan Ishak terpaut 10 hingga 13 tahun atau Ishak belum lahir , maka keterangan ayat 37:102 tersebut tidak berlaku kepada Ishak karena ketika itu umur Ishak berkisar antara 1-2 tahun dimana dia masih belum bisa diajak berdiskusi oleh bapaknya dalam mengambil keputusan yang sangat rumit tersebut.

Kalau kita menilai kepribadian Ibrahim yang digambarkan oleh Al Qur’an diatas, maka kita sangat berkeyakinan bahwa Ibrahim adalah seorang Bapak yang berbudi luhur, seorang yang sangat bijaksana, seorang bapak yang penuh kasih sayang kepada keluarganya, seorang yang adil dan teguh dalam mempertahankan keyakinannya. Jadi seandainya Ibrahim sudah mempunyai 2 orang anak, kemudian datang perintah untuk mengorbankan anaknya. Maka Abrahim akan mengalami goncangan bathin yang sangat hebat. Bagaimana dia harus memilih anaknya yang akan dikorbankan , karena di dalam keterangan ayat Al Qur’an tidak ada perintah untuk memilih salah seorang anaknya. Dan tentu Ibrahim akan bertanya lagi kepada Allah, siapa anak yang harus dikurbankan?

Kalau sekiranya anak Ibrahim sudah 2 orang waktu perintah itu diturunkan maka beliau akan bertanya kepada salah seorang anaknya. Itupun tidak mungkin dilakukan kepada anak-anaknya , karena salah seorang anaknya masih sangat kecil untuk diajak bicara. Sekiranya kedua anak itu berusia hampir sama , misalkan selisih 1-2 tahun, maka dengan rasa keadilan yang dimiliki oleh Ibrahim maka tentu dia akan mengorbankan kedua anaknya tersebut. Bahkan kalau selisih umur anaknya 10-13 tahun sekalipun, beliau dengan keadilan dan ketegasannya akan mengorbankan keduanya. Ibrahim tidak akan memilih-milih diantara anaknya, karena yang penting dan paling utama bagi Ibrahim adalah menjalankan perintah Allah.

Jadi kalau kita hubungan dengan keterangan yang ada di dalam Al Qur’an dan kita hubungan dengan kecerdasan kita berpikir serta akalbudi yang kita miliki, maka ketika perintah itu turun, Ibrahim baru mempunyai anak satu orang yaitu Ismael. Karena itu lebih memudahkan Ibrahim dalam melaksanakan perintah itu dan tentu tidak akan menimbulkan pertentang dan pertanyaan-pertanyaan yang aneh aneh kalau anaknya sudah 2 orang pada persitiwa itu.

Dan sekiranya kita hubungkan dengan keterangan kitab PL, anggap saja keterangan PL tentang data-data umur Ibrahim dan kelahiran anak-anaknya benar. Maka seharusnya yang dikurbankan oleh Abraham di bukit Moria itu bukanlah Ishaq tetapi itu adalah Ismael.
Sebelumnya kitab PL telah banyak melakukan kebohongan-kebohongan tentang anak yang dikorbankan itu, diataranya tentang kalimat “anaknya yang tunggal” yang tidak dapat diterima akalbudi (kecuali kalau Ishaq belum lahir), keterangan tentang ketidakadilan Abraham kepada anak-anaknya, tentang kebohongan Abraham menyampakan kalimat “korban bakaran bagi-Nya “ dan lain-lain yang menimbulkan banyak kejanggalan dan keanehan.
Dimana kitab PL menutupi sebuah kebenaran dengan kebohongan dan terus melakukan kebohongan-kebohongan lagi, sehingga keterangan Bible tidak bisa diterima akal sehat. Keterangan yang ada di dalam kitab PL sangat berbelit-belit, seperti seorang terdakwa yang menceritakan alibinya di dalam sebuah “laporan berita acara penyelidikan (BAP)” yang disampaikannya pada acara pengadilan yang tidak adil.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga menjadi renungan dan pemikiran bagi mereka yang mempunyai hati-nurani yang bersih dan jujur. Semoga Allah memberikan petunjuk Nya. Amien.

About rahmanhadiq

penulis buku islam pencari kebenaran islam cinta perdamaian menolak kekerasan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s